Dosa dan Kebudayaan

2017-02-26 08:59:42

Judul : Dosa dan Kebudayaan
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Penerbit Momentum (Institut Reformed/STEMI)
Tebal : iv + 80 halaman
Cetakan : Ke-4 (2007)
Transkrip dan Terjemahan: Eunice Liauw

Seberapa jauhkah kita mengerti akan fakta kejatuhan dalam kebudayaan manusia? Siapakah sebenarnya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu? Selain mandat Injil, apakah panggilan orang Kristen dalam kebudayaan? Inilah yang dibahas dalam buku ”Dosa dan Kebudayaan”. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti dan bersifat mengajak pembaca untuk berpikir serta menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang diungkapkan sehubungan dengan manusia, dosa, dan kebudayaan. Diharapkan setelah membaca buku ini, pembaca benar-benar menyadari nilai dirinya sebagai manusia dan bertekad bersandar pada kuasa Roh Kudus untuk mengembalikan segala kemuliaan kepada Allah.

Manusia berbeda dengan binatang, karena manusia memiliki sifat budaya dan sifat agama. Kedua sifat ini bukan produk alam karena budaya bersifat menaklukkan alam dan agama bersifat melampaui alam. Kedua sifat ini berasal dari Allah karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan dengan demikian hanya manusialah yang dapat berespon kepada Allah. Manusia berespon secara ekternal terhadap wahyu umum Allah melalui aktivitas budaya dan secara internal melalui aktifitas agama. Manusia berkewajiban (i) selain mengontrol dan mengatur alam tetapi juga untuk memperbaiki alam; (ii) melimitasi diri sehingga menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap alam, diri sendiri, orang lain dan Allah; (iii) beribadah dan takut kepada Allah.

Manusia, di dalam keberdosaannya, berusaha untuk mendefinisikan apa itu manusia, misalnya manusia adalah seperti apa yang dimakannya, manusia adalah apa yang dipikirkannya, manusia adalah apa yang dikatakannya, manusia adalah apa yang diperbuatnya. Namun manusia sebenarnya adalah gabungan dari rancangan yang di dalam dirinya, yang memimpin seluruh aktifitasnya dan kehidupan yang di luar dirinya, merupakan ekspresi tingkah laku etika dan aktifitasnya. Penulis memberikan contoh perbedaan gaya hidup orang Timur dan orang Barat. Kota-kota di Timur banyak debu karena mereka menghilangkannya dengan menyapu, memindahkan debu dari tempat sendiri ke tempat lain, dengan pemikiran yang penting rumah sendiri bersih, tidak peduli orang lain. Namun kota-kota di Barat tidak banyak debu karena mereka menghilangkan debu dengan cara disedot lalu dibuang ke pembuangan, dengan pemikiran debu harus dibersihkan dengan tuntas. Pemikiran ini dipengaruhi oleh kekristenan, Tuhan Yesus datang untuk menanggung dan menyelesaikan dosa bukan memindahkan dosa ke tempat lain. Ini menunjukkan bahwa rancangan, yang internal, menentukan jalan, yang eksternal.

Judul : Dosa dan Kebudayaan
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Penerbit Momentum (Institut Reformed/STEMI)
Tebal : iv + 80 halaman
Cetakan : Ke-4 (2007)
Transkrip dan Terjemahan: Eunice Liauw

Seberapa jauhkah kita mengerti akan fakta kejatuhan dalam kebudayaan manusia? Siapakah sebenarnya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu? Selain mandat Injil, apakah panggilan orang Kristen dalam kebudayaan? Inilah yang dibahas dalam buku ”Dosa dan Kebudayaan”. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti dan bersifat mengajak pembaca untuk berpikir serta menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang diungkapkan sehubungan dengan manusia, dosa, dan kebudayaan. Diharapkan setelah membaca buku ini, pembaca benar-benar menyadari nilai dirinya sebagai manusia dan bertekad bersandar pada kuasa Roh Kudus untuk mengembalikan segala kemuliaan kepada Allah.

Manusia berbeda dengan binatang, karena manusia memiliki sifat budaya dan sifat agama. Kedua sifat ini bukan produk alam karena budaya bersifat menaklukkan alam dan agama bersifat melampaui alam. Kedua sifat ini berasal dari Allah karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan dengan demikian hanya manusialah yang dapat berespon kepada Allah. Manusia berespon secara ekternal terhadap wahyu umum Allah melalui aktivitas budaya dan secara internal melalui aktifitas agama. Manusia berkewajiban (i) selain mengontrol dan mengatur alam tetapi juga untuk memperbaiki alam; (ii) melimitasi diri sehingga menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap alam, diri sendiri, orang lain dan Allah; (iii) beribadah dan takut kepada Allah.

Manusia, di dalam keberdosaannya, berusaha untuk mendefinisikan apa itu manusia, misalnya manusia adalah seperti apa yang dimakannya, manusia adalah apa yang dipikirkannya, manusia adalah apa yang dikatakannya, manusia adalah apa yang diperbuatnya. Namun manusia sebenarnya adalah gabungan dari rancangan yang di dalam dirinya, yang memimpin seluruh aktifitasnya dan kehidupan yang di luar dirinya, merupakan ekspresi tingkah laku etika dan aktifitasnya. Penulis memberikan contoh perbedaan gaya hidup orang Timur dan orang Barat. Kota-kota di Timur banyak debu karena mereka menghilangkannya dengan menyapu, memindahkan debu dari tempat sendiri ke tempat lain, dengan pemikiran yang penting rumah sendiri bersih, tidak peduli orang lain. Namun kota-kota di Barat tidak banyak debu karena mereka menghilangkan debu dengan cara disedot lalu dibuang ke pembuangan, dengan pemikiran debu harus dibersihkan dengan tuntas. Pemikiran ini dipengaruhi oleh kekristenan, Tuhan Yesus datang untuk menanggung dan menyelesaikan dosa bukan memindahkan dosa ke tempat lain. Ini menunjukkan bahwa rancangan, yang internal, menentukan jalan, yang eksternal.

Sumber:

http://www.buletinpillar.org/resensi/dosa-dan-kebudayaan#hal-1

http://www.buletinpillar.org/resensi/dosa-dan-kebudayaan#hal-2