Its Not About Me (Bag. 1)

2015-01-22 17:30:49

Penulis : Max Lucado
Penerbit : Yayasan Gloria

Tujuan kehidupan bukanlah untuk memuliakan diri sendiri. Berusaha menjadikan kehidupan ini berpusat pada diri hanya akan menjauhkan kebahagiaan dari kita. Dunia yang kita diami adalah dunia yang berpusat pada diri sendiri sehingga menghancurkan apa yang semestinya baik. Pernikahan hancur karena salah satu atau kedua belah pihak berfokus pada kebahagiaan pribadi. Ada banyak orang sukses hancur karena kesuksesan membuat mereka merasa tidak membutuhkan masukan dari orang lain. Dan bagi sebagian orang, masalah kehidupan menjadi sangat berat karena mereka menganggap kehidupan ini berpusat pada diri mereka.

Ketika kita mengalihkan pusat kehidupan kita dari diri kepada Kristus, maka perubahan besar pun akan terjadi. Alkitab banyak memuat contoh tokoh yang hidupnya dimerdekakan ketika mereka berpusat pada Tuhan. Kita juga akan dimampukan untuk melihat bahwa rencana Tuhan sungguh menakjubkan dan mengalami kepenuhan hidup!

Bab 1 : Mengubah Kehidupan yang Egois
Bumi bukanlah pusat alam semesta, sama seperti kita bukanlah pusat kehidupan ini. Dalam sejarah, pernah ada masa dimana orang-orang percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta, bumi adalah pusat segala sesuatu bahkan mataharilah yang mengitari bumi. Sejarah berubah ketika Nikolaus Kopernikus menjelaskan bahwa mataharilah yang menjadi pusat alam semesta. Fakta ini terus diingkari oleh orang-orang saat itu, bahkan ketika Galileo mengungkapkan hal yang sama, ia harus mendapat hukuman mati.

Pada masa itu orang-orang “besar” tidak mau diremehkan. Lucunya, saat ini kita pun masih bersikap seperti itu. Kita mengganggap kitalah pusat kehidupan ini, padahal sebenarnya Allah telah menunjukan bahwa Kristus lah pusat kehidupan ini (Efesus 1:20-22).

Ketika Tuhan memandang ke pusat alam semesta, Dia tidak memandang kita. Kita hanyalah planet-planet kecil. Kita dihargai, dianggap penting, sangat dikasihi TAPI bukan pusat alam semesta ini. Dunia tidak beredar mengelilingi kita. Kenyamanan kita bukanlah prioritas Tuhan. Tuhan ada bukan untuk mewujudkan hal-hal besar kita. Sebaliknya, kitalah yang ada untuk mewujudkan hal-hal besar bagi Dia.

Seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, kita juga ada untuk memantulkan kemuliaan Kristus. Tujuan kita bukan untuk mengambil kemuliaan bagi diri sendiri, melainkan memantulkan kemuliaan itu kembali kepada Kristus. Ketika kita salah memahami arti posisi kita, kita akan cenderung untuk menuntut dan bersikap egois. Sebaliknya ketika kita memahami posisi kita dan memerankan peranan kita dengan baik, maka kita akan akan mengutamakan Tuhan dan kehendak-Nya dalam setiap tujuan kita. Ketika kita mengalami penderitaan, kita tidak akan meragukan keberadaan Tuhan, justru kita akan menjadikan penderitaan tersebut sebagai sarana Tuhan untuk memenuhi tujuan-Nya. Kehidupan yang berpusat pada Tuhan akan berhasil dan menyelamatkan kita dari hidup yang sia-sia.

Satu-satunya cara untuk mengubah hidup yang berpusat kepada diri menjadi berpusat kepada Kristus adalah dengan cara merenungkan akan Dia, bersaksi tentang Dia dan selalu bercermin kepada Kristus (2 Kor3:18).

-Bagian Pertama : Merenungkan Tuhan-

Bab 2: Perlihatkanlah Kiranya Kemuliaan-Mu Kepadaku
Perjalanan menuju Kanaan masih panjang.  Kepada Musa, Tuhan bahkan sudah menjamin akan membimbingnya. Tapi ketika Tuhan mengizinkan Musa untuk meminta satu permohonan, Musa tidak menyia-nyiakannya. Walaupun ada banyak hal yang dapat diminta Musa, tapi dia meminta yang paling istimewa: melihat kemuliaan Tuhan (Kel 33:18).

Tuhan mengabulkan doa Musa. Setelah pertemuan Musa dengan Tuhan terjadi, Alkitab mencatat wajah Musa menjadi bercahaya bahkan orang Israel tidak tahan memandang wajahnya yang berkilauan itu. Ada kemuliaan Tuhan yang tercermin di wajah Musa.
Tidak ada yang lebih berharga selain kemuliaan Tuhan. Kita telah keluar hidup yang berpusat pada diri ketika apa yang kita rindukan bukanlah perkara-perkara dari Tuhan, atau berkat-berkat-Nya, melainkan Pribadi Tuhan sendiri. Kemuliaan Tuhan.

Selama kita hidup, pasti akan ada banyak pergumulan. Namun ketika kita seperti Musa yang dengan tulus hati memohon untuk melihat kemuliaan Tuhan di tengah pergumulan hidup kita, maka perubahan besar pun akan terjadi. Tuhan akan mengubah ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran  kita menjadi sebuah keyakinan iman ketika kita melihat kemuliaan Tuhan itu.

Bab 3 : Promosi Diri Tuhan
Kemuliaan Tuhan adalah prioritas Tuhan. Tuhan ada untuk memperlihatkan Tuhan. Mengapa ada langit? Karena untuk memperlihatkan kemuliaan Tuhan (Maz 19:2). Mengapa Tuhan memilih bangsa Israel? Untuk kemuliaan-Nya (Yes 43:7). Mengapa orang bergumul? Untuk kemuliaan Tuhan ( Yes 48:10-11 ; Maz 50:15). Setiap tindakan di surga adalah untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.

Apakah hal itu egois? Mengapa Tuhan memamerkan diri-Nya sendiri?
Ilustrasi ini akan membantu kita untuk membantah dugaan bahwa Tuhan itu egois. Ketika kita terapung-apung di tengah lautan yang dingin dan gelap.  Lalu ada seorang nahkoda kapal penyelamat yang datang, namun kita tidak dapat melihatnya. Apa yang kita harapkan dilakukan oleh orang itu? diam saja? Tidak mengatakan apa-apa? Berlalu begitu saja melewati kita yang nyaris tenggelam? Tentu tidak.

Kita akan berharap orang itu akan berteriak dengan suara yang nyaring. Dalam istilah Alkitab, kita ingin Dia memperlihatkan kemuliaan-Nya. Tuhan tidak menyatakan kemuliaan-Nya demi kebaikan-Nya. Kita butuh menyaksikan kemuliaan-Nya itu demi kebaikan kita. Dalam penyakit kita, rasa kesepian kita, tekanan keluarga atau semua hal yang menjadi pergumulan kita ini, kita tetap bisa menunjukan kemuliaan Tuhan.

Bab 4 : Perbedaan Yang Kudus
Allah adalah Allah yang Kudus. Tidak ada seorang pun dan sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Ketika Yesaya memandang sekilas kemuliaan Tuhan, ia langsung menyadari kenajisannya - keberdosaannya. Begitupun dengan kita. Ketika kita melihat Allah yang kudus, kita pun akan menyadari kenajisan dan ketidaklayakan kita.

Tapi penglihatan itu tidak berfokus pada Yesaya, melainkan kepada Tuhan dan kemuliaan-Nya. Belas kasihan Tuhan menguduskan Yesaya (Yes 6:6-7), juga menguduskan kita. Ketika Yesaya menerima belas kasihan Tuhan, ia pun menerima pengampunan dosa dan Tuhan mengarahkan kembali hidupnya. Begitupun dengan kita. Ketika kita melihat kemuliaan Tuhan, kita pun akan menjadi orang yang berbeda.

Bab 5: Hanya Sementara
Kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara. Berbeda dengan Tuhan yang ada sudah dari kekal sampai kekal. Tuhan mengerti awal dan akhir hidup kita karena Dia tidak memiliki awal dan akhir. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus menceritakan penderitaan-penderitaan, kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Namun demikian, bagi Paulus, semua itu adalah penderitaan ringan yang hanya berlangsung sementara.
Begitupun seharusnya kita menyadari atau memandang kehidupan kita. Kesusahan kita hanyalah sementara, dan tidak ada bandingannya dengan kebahagiaan yang luar biasa dan abadi yang telah disediakan Tuhan.

Jika kehidupan ini “hanya sementara”, seharusnya kita dapat bertahan menanggung tantangan apapun. Kita bisa saja dianiaya, tapi itu hanya sementara. Kita bisa saja kesepian, tapi itu hanya sementara. Kita bisa saja sakit, tapi itu hanya sementara. Kita bisa saja bergumul, tetapi itu hanya sementara. Ingatlah bahwa kehidupan ini bukan berpusat pada kita, dan juga bukan berpusat pada masa kini.

Bab 6 : Tangannya Yang Tidak Berubah
Segala sesuatu pasti akan berubah, cepat atau lambat kita akan mengalami perubahan atau keadaan yang berubah. Biasanya, perubahan akan disertai dengan rasa takut, rasa tidak aman, kesedihan, stress dan sebagainya. Tapi kita tetap tidak bisa menghindari perubahan itu.

Sebagian orang, ada yang tidak mau menggunakan kesempatan karena takut gagal. Tidak mengasihi, karena takut kehilangan. Itu bukanlah ide yang baik. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memandang kepada Allah. Allah adalah Pribadi yang tidak berubah, dapat dipercaya, dapat diandalkan. Pendapat Tuhan tidak berubah. Pandangan-Nya tentang apa yang benar dan apa yang salah terhadap kita sama seperti terhdap Adam dan Hawa. Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Cara pandang kita bisa berubah, tapi Alkitab tidak bisa berubah : Allah membenci dosa dan mengasihi pendosa. Merendahkan orang sombong dan meninggikan orang yang rendah hati. Tuhan menghukum yang jahat dan menghibur orang yang hancur hati. Allah tidak pernah berubah dan rancangannya dari kekekalan tidak akan berubah sampai kekekalan. Lalu apa hubungannya dengan kita? Jawabannya, ketidak berubahan Allah inilah yang membuat kita selalu memiliki pengharapan dalam setiap situasi yang kita alami.

Bab 7: Kasih Tuhan yang Besar
Kasih Tuhan kepada kita begitu besar. Tuhan bisa memberikan kita apa saja, tapi Dia memberikan sesuatu yang lebih berharga, yaitu Dirinya sendiri. “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Tuhan” (Efesus 5:2). Ini adalah penyerahan diri yang sempurna. Tuhan mengasihimu dengan kasih yang sempurna.

Apa kaitan “hidup yang tidak berpusat pada diri saya” dan kasih Tuhan yang sempurna? Jika kehidupan ini tidak berpusat pada diri saya, apakah  Tuhan memedulikan saya? Inikah kasih? Jika segala sesuatu berpusat pada diri kita, maka segala sesuatu bergantung pada kita. Allah Bapa menyelamatkan kita dari beban seberat itu. Meskipun kita berharga, kita tetap tidak esensial. Kita penting, tapi bukan tidak tergantikan.Tuhan mengerti keterbatasan dan kelemahan kita, itu sebabnya dunia ini tidak bersandar pada kita. Karena Tuhan mengasihi kita, maka kehidupan ini tidak berpusat pada diri kita. Allah telah membuktikan kasih-Nya. Tidak ada alasan untuk kita meragukan kasih Allah.