Its Not About Me (Bag. 2)

2015-01-22 17:33:45

 

Penulis : Max Lucado
Penerbit : Yayasan Gloria

-Bagian Kedua : Mempromosikan Tuhan-

Bab 8: Cermin – Cermin Tuhan
Ada seorang perwira Amerika bernama G.R Tweed. Sudah tiga tahun dia bersembunyi dan bertahan hidup di sebuah daerah yang diduduki Jepang. Sampai suatu ketika, dia melihat sebuah kapal. Tweed tidak melewatkan kesempatan itu. Dengan sebuah cermin kecil yang dimilikinya, ia memantulkan sinar matahari ke arah kapal. Begitulah dia mengirimkan sandi morse untuk meminta bantuan. Tweed akhirnya selamat.

Seperti cermin di tangan Tweed, begitupun seharusnya kita di tangan Tuhan. Kita harus memantulkan pesan Tuhan (2 Korintus 3:18), bukan pesan diri kita sendiri.
Ada banyak versi bahasa Alkitab untuk menerjemahkan kata “katoprizo”. Ada yang menerjemahkan “memandang seperti di dalam cermin” dan ada juga yang “memantulkan seperti cermin”. Keduanya benar, dan keduanya bisa digunakan.

Ketika Musa memandang Tuhan di gunung Sinai, secara otomatis ia mencerminkan Tuhan pula. Kemuliaan yang dilihatnya adalah kemuliaan yang Ia terima. Memandang membuatnya berubah. Berubah membuatnya bisa memantulkan. Hal yang sama juga terjadi dalam hidup kita. Panggilan kita adalah menjadi cermin Tuhan. Ketika kita memandang Tuhan, beranikah kita berdoa agar kita seperti Musa yang mencerminkan kemuliaan Tuhan? Kita menjadi cermin kemuliaan Tuhan ketika hal-hal yang kita lakukan membuat orang lain melihat keberadaan Tuhan dengan jelas.

Bab 9 : Pesan yang Saya Sampaikan Berpusat pada Dia
Sebelum berkembangnya teknologi telegraf, orang di Amerika mengirim pesan melalui jasa kurir berkuda. Gaji kurir itu begitu besar, karena mereka mempunyai tanggung jawab yang besar pula. Mereka harus menentukan rute tercepat, dan menyampaikan pesan dengan cepat dan tepat. Hal yang serupa menurut Paulus juga kita alami sebagai orang Kristen. Kita ada untuk menyampaikan “pesan” (Roma 1:14 ; 16 ).

Paulus ada untuk menyampaikan pesan berita Injil. Bagaimana orang mengingat dirinya itu perkara sekunder. Namun saat ini, kita cenderung bersikap sembarangan dengan pesan itu. kita bahkan cenderung suka menyisipkan kalimat-kalimat tertentu demi kepentingan kita. Kita berfokus pada diri, terlalu memikirkan apa yang akan orang pikirkan tentang diri kita, dan bukan tentang Tuhan.

Tuhan tidak membutuhkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya. Kita tidak memenuhi syarat, tapi dijadikan-Nya utusan yang berguna. Kita diangkat sebagai duta karena kebaikan-Nya, bukan karena kepandaian kita. Kita yang dipercaya untuk memberitakan injil, janganlah sekali kali mencari tepuk tangan, tetapi kita harus mengarahkan tepuk tangan itu kepada yang berhak. Karena pesan kita adalah tentang pribadi Tuhan.

Bab 10 : Keselamatan Saya Berpusat pada Dia
Anugerah Allah tidak bergantung pada apapun juga. “Tuhan membenarkan kita dihadapan hadirat-Nya atas dasar iman kita, yaitu berharap hanya kepada Kristus saja” (Filipi 3:9 FAYH). Paulus memberitakan anugerah yang murni : tanpa campuran, tanpa perubahan, tanpa tambahan.

Iman kita harus berdasar pada anugerah yang murni, tidak ada tambahan, perubahan atau campuran apapun. Ketika kita menganggap keselamatan dapat dicapai dengan usaha sendiri, maka kita telah meremehkan dosa dan menyepelekan keselamatan kita itu.
Dosa adalah sesuatu yang serius dan tidak bisa kita selesaikan sendiri dengan kekuatan kita, entah itu moral, baptisan atau kehadiran dan keaktifan kita di gereja sekalipun. Keselamatan yang telah kita dapatkan menunjukan belas kasihan Tuhan, dan karya Tuhan semata. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ngingat dosamu” (Yes 43:25).

Bab 11: Tubuh Saya Berpusat pada Dia
Alkitab menyatakan bahwa tubuh kita adalah Bait Allah (1 Kor 6:19). Karena itu kita tidak boleh menggunakan tubuh ini untuk memuaskan nafsu, menarik perhatian, dan sebagainya. Sebaliknya, kita harus menggunakan tubuh kita untuk menghormati Tuhan. “Serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13). Tubuh kita adalah alat di tangan Tuhan, ditetapkan untuk melakukan pekerjaan-Nya dan bagi kemuliaan-Nya.

Orang Kristen di Korintus menghadapi masalah tentang hal ini. Filsafat mereka memisahkan tubuh dari roh. Bersenang-senanglah dengan tubuh. Hormatilah Tuhan dengan roh. Hari Sabtu untuk bersenang-senang, memuaskan hasrat liar kita, tapi hari Minggu untuk beribadah. Paulus menentang hal ini.

Tubuh dan roh tidak dapat dipisahkan. Tubuh bukanlah mainan. Tubuh adalah suatu alat. “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuh kamu semua adalah anggota (tubuh) Kristus?” (1 Kor 6:15). Tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari pekerjaan Tuhan, karena itulah mengapa peralatan kerja milik Tuhan harus dipelihara.

Memelihara tubuh berarti memiliki pola hidup sehat. Cukup makan, istirahat dan berolahraga. Tidak hanya itu, kita juga harus menjauhkan diri dari percabulan. Tuhan tidak anti seks, tapi seks di luar (pernikahan) rencana Tuhan hanya akan melukai jiwa.
Tubuh kita adalah milik Tuhan, peliharalah. Tubuh kita adalah bait Tuhan, hargailah. Muliakanlah Tuhan dengan tubuhmu.

Bab 12: Pergumulan Saya Berpusat pada Dia
Setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Ketegangan di rumah. Tuntutan di sekolah. Kata-kata yang menyengat dan tawa yang meremehkan. Bagaimana kita menjelaskan tentang keadaan itu? apakah Tuhan tidak tahu tentang pergumulan kita? Apakah Tuhan kewalahan? Terlalu sibuk sehingga tidak bisa menolong kita? Atau apakah Tuhan sedang marah? Sama sekali tidak.

Jangan menganggap penderitaan di dunia ini akibat amarah Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat, karena itu ada tujuan dibalik setiap penderitaan atau pergumulan kita.
“Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku” (Maz 50: 15). Melalui pergumulan yang kita alami, mungkin justru kita bisa mengarahkan orang lain untuk melihat Yesus. Mengamati iman kita yang bersinar ketika melewati suatu krisis kehidupan mungkin akan membawa seseorang datang kepada Kristus.

Tuhan akan memakai apapun untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Langit dan bintang. Sejarah dan bangsa-bangsa. Bahkan orang dan masalah. Jika kita memiliki pemikiran ini, maka penderitaan akan menjadi sebuah tugas kecil bila dibandingkan dengan upahnya. Daripada menggerutu karena masalah kita, lebih baik kita menyelidiki dan merenungkannya, dan yang terpenting memakai masalah itu untuk kemuliaan Tuhan.

Bab 13: Kesuksesan Saya Berpusat pada Dia
Kita adalah agen surga untuk mempromosikan Tuhan dalam setiap area kehidupan kita. Kesuksesan kita dimaksudkan untuk mencerminkan Tuhan. Karena dari Tuhanlah kesuksesan kita itu.

“Haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Tuhanmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud untuk meneguhkan perjanjian yang telah diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini” (Ulangan 8:18).

Tuhan memberkati Israel untuk memperlihatkan kesetian-Nya. Ketika orang asing melihat tanah pertanian yang subur di Tanah Perjanjian, Tuhan tidak menginginkan mereka berpikir tentang si petani, tetapi tentang Dia yang menciptakan si petani. Kesuksesan mereka seperti papan iklan yang mempromosikan Tuhan.

Hal yang sama juga terjadi dalam hidup kita. Tuhan mengizinkan kita unggul agar kita dapat memperkenalkan Dia. Kita dapat memastikan satu hal : Tuhan akan memampukan kita untuk menguasai satu hal dengan bai. Ini prinsipnya, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan” (Amsal 22:4).

Banyak orang yang melupakan Tuhan setelah sukses. Tapi ketika kita mengetahui tujuan dari kesuksesan yang Tuhan berikan kepada kita, maka kita tidak melupakan Tuhan. Sebaliknya, kita akan makin memperkenalkan Tuhan melalui kesuksesan kita. Kenyamanan, uang dan harga diri hanyalah bonus yang kita terima dan bukanlah alasan mengapa kita bekerja dengan baik. Kita bekerja dengan baik karena untuk kepentingan Tuhan. Intinya, kesuksesan kita tidak berpusat pada apa yang kita lakukan. Kesuksesan itu berpusat pada Tuhan, pada kemuliaan-Nya saat ini dan masa depan.