D. L. Moody

2015-01-22 17:24:18

Dwight Lyman Moody lahir di sebuah kota bernama Northfield pada 5 Februari 1837. Dia merupakan anak keenam dari 7 bersaudara, lahir dari pasangan Edwin dan Betsy Holton Moody. Ayahnya meninggal pada saat Moody berusia 4 tahun sehingga keadaan keuangan keluarganya merosot semenjak itu. Namun, sekalipun tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal, berkat kerja keras Ibunya, Betsy, dan bantuan dari seorang unitaris lokal, Oliver Everett, keluarga Moody mampu menjalani tahun-tahun sulit dalam keluarga mereka. Semenjak masih kecil, Moody dan saudara-saudaranya telah mengikuti sekolah minggu di gereja setempat. Bukan hanya itu, Ibunya juga mengumpulkan mereka untuk bersama-sama membaca alkitab dan berdoa.

Rencana Tuhan untuk kehidupan Moody tersingkap ketika dia bekerja di sebuah toko sepatu milik pamannya. Pada 21 April 1855, seorang guru sekolah minggu Moody dulunya, Edward Kimball mengunjungi Moody ketika dia sedang bekerja. Disana, Kimball memberitahu kepada Moody mengenai kasih Kristus dan kasih yang Kristus ingin untuk Moody berikan juga kepada-Nya. Pada saat itu Moody memutuskan untuk percaya pada Yesus Kristus. Moody kemudian mendaftarkan diri untuk bergabung dengan Gereja Mount Vernon Congregational. Namun, karena keterbatasan pengetahuan teologi Moody, panitia penguji memutuskan untuk menunda permohonannya. Penginjil terkenal di masa depan ini harus menunggu 10 bulan sampai akhirnya diterima sebagai anggota. Setelah itu Moody pindah ke Chicago, dimana dia mulai meraup keuntungan sebagai pedagang sepatu. Suatu kali ketika sedang berjalan, Moody melihat anak-anak miskin yang tinggal di lingkungan kumuh dan dia pun terbeban sehingga kemudian dia mengumpulkan anak-anak tersebut untuk bersama-sama ke gereja. Lalu dia menyewa sebuah bangunan dan mulai  membuka kelas sekolah minggu.

Seorang guru datang kepada Moody dengan kabar bahwa dia menderita penyakit tuberculosis dan masa hidupnya sudah sangat singkat. Guru ini begitu sedih karena tidak ada satupun muridnya yang bertobat. Moody pun menawarkan untuk mengunjungi setiap anggota sekolah minggu dan menginjili mereka. Dalam waktu beberapa hari, semua murid-murid itu bertobat. Ketika Moody melihat bagaimana murid-murid ini mengucapkan selamat tinggal kepada guru mereka yang sekarat, Moody begitu terharu dan dia memutuskan untuk meninggalkan bisnis nya dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk mengabarkan injil. Fakta bahwa Moody tidak pernah mengenyam pendidikan formal teologi tidak menjadi hambatan akan pelayanannya. Sekolah minggu yang dia bangun bertumbuh menjadi yang terbesar di kota dan dari sana berkembang sebuah gereja. Dengan pecahnya perang saudara (civil war), Moody bergabung dengan Christian Commission. Secara berkala dia mengunjungi tempat dimana pasukan perang tinggal dan juga perkemahan para narapidana. Dia juga aktif di Youth Ministry Christian Association (YMCA).

Pada tahun 1867, Moody memulai perjalanan pertamanya ke Eropa, diikuti oleh perjalanan-perjalanan ke Inggris yang kemudian menghasilkan begitu banyak jiwa yang berespon pada undangan injil. Karena begitu banyak yang hadir pada KKR nya di London pada 1875, ketenaran Moody sudah tersebar sampai ke Atlantik, dan dia kemudian kembali ke Amerika sebagai penginjil yang paling dicari di dunia.

Setelah itu sampai pada menjelang kematiannya, Moody menyelenggarakan KKR di kota-kota di USA. Orang-orang dari segala golongan masyarakat memenuhi hall-hall terbesar untuk mendengarkannya. Selain melakukan pelayanan penginjilan, Moody juga melayani dalam bidang Pendidikan Kristen, antara lain “The Northfield School” yang didirikan pada tahun 1878 dan “The Moody Bible Institute” yang didirikan pada tanggal 1889. Moody juga merupakan pemimpin di World Student Christian Federation dan Student Volunteer Movement yang dimana melaluinya ada banyak anak muda pergi sebagai misionaris ke berbagai pelosok dunia.

Moody menyelenggarakan KKR di Kansas pada tanggal 1899 dimana pada saat itu kesehatannya mulai merosot sehingga memaksa dia untuk kembali ke rumahnya di Northfield. Pada tanggal 22 Desember, dengan keluarga yang mendampinginya di samping tempat tidurnya, dia membisikkan, ”Tuhan memanggilku, aku harus pergi”. Tidak lama kemudian Moody pun kembali kepada Bapa di Surga.

Kualitas dalam diri Moody juga mungkin dimiliki oleh kita. Talenta dan panggilan kita mungkin berbeda-beda, namun sumber kekuatan kita semua sama. Maka melalui satu jaminan ini kita bisa bersukacita bahwa Tuhan akan menggunakan orang yang bersedia untuk dipakai. Henry Varley, seorang teman dekat Moody pernah mengatakan kepadanya, “It remains to be seen what God will do with a man who gives himself up wholly to Him” dan jawaban Moody adalah “Well, I will be that man”.

“Faith gets the most; love works the most; but humility keeps the most”

BIBLIOGRAPHY
Torrey, R. (1992). Why God Used D.L. Moody. USA: World Wide Publications.

Rosell, G. (1999). Commending the Faith : The Preaching of D.L. Moody. Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publisher, Inc.