Joseph Kam

2015-04-17 19:33:07

[MASA MUDA]
Kam dilahirkan pada bulan September 1769. Ayahnya bernama Joost Kam, seorang tukang pangkas rambut, pembuat rambut palsu, dan pedagang kulit di s'Hertogenbosch, Belanda. Kakeknya berasal dari Swiss. Peter Kam, kakeknya tersebut, datang ke Belanda sebagai tentara sewaan dan di Belanda menikah dengan seorang gadis Belanda. Keluarga Kam adalah anggota gereja Hervormd (Reform) yang setia, tetapi suasana rumah tangga mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka memunyai hubungan dengan kelompok Herrnhut di Zeist.

Ketika dewasa, Kam membantu usaha ayahnya di bidang perdagangan kulit. Walaupun telah timbul keinginan dalam hatinya untuk memberitakan injil kepada orang yang belum percaya, namun Kam tetap memendam panggilan ini bertahun-tahun karena orangtuanya ingin ia melanjutkan usaha mereka.
Pada tahun 1802 ayah dan ibunya meninggal. Usaha perdagangan kulit merosot, dan pada akhirnya kegiatannya dihentikan. Joseph mencari pekerjaan lain, yaitu menjadi pesuruh pada Mahkamah Nasional. Pada tahun 1804 Joseph menikah, namun istrinya meninggal pada waktu melahirkan anaknya yang pertama. Sang anak meninggal pula beberapa bulan kemudian.
Tekad Kam menjadi pengabar Injil sudah bulat, ia pun melamar ke Nederlandsch Zending Genootschap (NZG - Badan Misi Belanda) pada tahun 1807.

[PELAYANAN KE MALUKU]
Pada tahun 1815, Gereja Protestan Indonesia (GPI) kekurangan tenaga pendeta, maka gereja negara itu mengadakan kerjasama dnegan lembaga PI, yaitu NZG. Beebrapa pekabar Injil ututsan NZG diangkat menjadi pendeta atau pemdeta-pembantu GPI, salah satunya Joseph Kam yang kemudian diangkat menjadi pendeta kota Ambon dan seluruh Indonesia Timur menjadi wilayah pelayanannya. Posisinya ini membuat dia menjadi satu-satunya orang yang berhak melakukan pelayanan sakramen, mulai dari kepulauan Sangir di Utara hingga Pulau Wetar dan kepulauan Tanimbar di Selatan.

Kam tidak hanya memelihara jemaat-jemaat yang sudah ada dari zaman VOC, tetapi terus menginjili orang-orang yang belum percaya. Dalam perjalanannya ia tinggal di tempat jemaat selama dua hari, Biasanya setelah berlayar sepanjang malam (atau setelah berangkat pukul 6 pagi, kalau di daratan), pagi-pagi ia disambut di pantai laut (atau di perbatasan Negara) oleh seluruh penduduk negeri. Lalu dia diantar ke sekolah diiringi  oleh nyanyian Mazmur, untuk meninjau anak-anak. Pada sore harinya Kam memeriksa calon-calon sidi dan menangani perkara-perkara disiplin gereja. Lalu pada malam hari diadakan kebaktian. Dalam kebaktian ini pula ia membabtis anak-anak ataupun juga orang dewasa yang baru masuk Kristen, anggota-anggota baru disidi, perkawinan-perkawinan diberkati dan jemaat dipersiapkan untuk perayaan Perjamuan Kudus.

Merasa pelayanannya belum efektif, maka Kam membuka sekolah pendidikan guru dengan maksud memperoleh guru-guru yang  lebih baik untuk melayani skeolah dan jemaat di Maluku (1819). Kam menampung dan membimbing juga pekabar-pekabar injil yang baru tiba di Ambon dan mengtuus mereka ke daerahnya masing-masing. Kam juga mendirikan percetakan di halaman rumahnya sendiri, sehingga ia bisa memperbanyak buku katekismus dan buku khotbah-khotbah untuk membantu pelayanan para hamba Tuhan. Kam juga memesan banyak Alkitab untuk kemudian disebarkan ke wilayah-wilayah pelayanannya.

Tidak hanya di Maluku, Kam juga menjadi berkat di Minahasa. Ia mengunjungi jemaat di sana dan juga mempersiapkan Hellendoorn, Riedel dan Schwarz, orang-orang yang kemudian merintis gereja di Minahasa. Kam terus melayani jemaat sampai akhir hidupnya. Kam menderita sakit parah dalam perjalanannya ke Maluku Tenggara, sehingga ia terpaksa kembali ke Ambon. Segala usaha untuk menyelamatkan jiwanya tidak berhasi, akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 18 Juli 1833 setelah 20 tahun lamannya melayani di Maluku.

Ditengah kemerosotan kehidupan gerejawi di Maluku, kehadiran Kam membawa pemulihan besar sehingga ia diberi julukan “Rasul Maluku”.