Ernst Ludwig Denninger

2015-04-17 19:35:05

Lahir(*) di Berlin, 04-12-1815 / Meninggal(+) di Batavia (Sekarang:Jakarta), 27-03-1876

[MASA MUDA]
Tidak banyak diketahui tentang masa kecil Denniger, selain pekerjaan awalnya sebagai soerang pembersih cerobong asap. Ia menikah dengan Sophie Jordan pada 11 Oktober 1847, Bahkan foto Denninger sekeluarga sampai hari ini belum ditemukan atau diarsipkan, kendati pernah dicetak/diperbanyak. Denniger diketahui telah mengikuti pendidikan Seminar Misi RMG (Rheinische Missions Gesselschaft) thn 1844 – 1847, kemudian diutus sebagai misionaris ke Borneo (Kalimantan).  Pelayanan di sana tidak bisa terlalu lama karena Pangeran Al Hidayat pada tahun 1859 berusaha mengusir dan membebaskan Borneo Selatan dari pengaruh Bangsa Kulit Putih.Denniger dan misionaris yang lain kemudian mengungsi ke Jawa. Kemudian pengurus RMG menyuruh mereka menjadi missionaris di Tanah Batak, tetapi karena istrinya sakit, maka terpaksa mereka harus tinggal di Padang sementara waktu. Karena penyakit istrinya sangat parah, maka putrinya pun terpaksa datang dari Jerman untuk merawat ibunya.

[KE TANAH NIAS]
Dalam pimpinan Tuhan, Denniger mulai berkenalan dengan orang-orang dari sebuah suku yang berbeda dengan yang pernah ditemuinya sebelumnya, dan stasiun misi belum ada di daerah mereka. Suku ini menetaep ke Padang setelah merantau dari pulang asal mereka (Pulau Nias), yang dikenal sebagai “Ono Niha”. Denniger tertarik dengan kelompok suku ini dan mulai mempelajari kebudayaan mereka.  Rasa cintanya semakin besar dan ia berhasil mengadakan kontak dengan orang Nias untuk bersiap-siap menuju daerah asal suku tersebut.  Tercatat, Denniger tiba di Pelabuhan Gunungsitoli pada Rabu 27 September 1865, pk. 09.00.

Denniger mengajar dan mendirikan sekolah pertamanya di sebuah rumah di Gunungsitoli. Hal ini dilakukannya karena pada saat itu suku Nias belum memiliki tatanan baku tata Bahasa sebagaimana orang di luar Nias telah mengenal baca-tulis. Dibantu seorang teman dari Belanda yang tinggal di Batavia, ia membuat buku sebagai bahan pelajarannya. Pada 1874, Denniger kemudian lantas menerbitkan terjemahan Injil Lukas dalam Bahasa Nias dengan bantuan pemuda-pemuda setempat.

Dibantu rekannya, Krammer, Denniger membuka Pos perkabaran Injil di Dahana.  Untuk memfasilitasi penginjilan, mereka melakukan pendekatan melalui pendidikan. Mereka menghimpun dan mengajar beberapa pemuda setempat. Pendekatan ini menjadi cikal bakal berdirinya Sekolah Keguruan di Nias. Usaha Pekabaran Injil banyak kesulitan, seperti pengaruh agama suku yang sangat kuat, gangguan keamanan, pengayauan, wabah penyakit, keadaan geografi dan lain-lain. Daerah yang dicapai hanya di sekitar Gunungsitoli saja, dengan 3 Pos Pekabaran Injil yaitu Gunungsitoli, Ombõlata, dan Dahana. Walaupun banyak kesulitan yang dialami serta jangkauan Pekabaran Injil yang dapat dicapai tidak begitu luas, namun dalam periode ini telah berhasil dibaptis sebanyak 699 orang (148 orang di Gunungsitoli, 348 orang di Ombõlata dan 203 orang di Dahana). Juga diantara mereka telah dipilih beberapa orang menjadi penatua.

Pada tahun 1875, kesehatan Denninger sangat parah. Karena keadaan demikian, Denninger dipensiunkan dan dikirim ke Batavia. Pada 27 Maret 1876, Denninger meninggal dunia.
Pekerjaan Tuhan tidak berhenti. Rekan-rekan Denninger melanjutkan perjuangan pekabaran Injil di Pulau Nias.walaupun pertumbuhan gereja di sana lambat, Hingga tahun 1900, ketika pemerintah kolonial Belanda masuk, pertumbuhan gereja di sana berlangsung lambat sekali. Baptisan pertama dilakukan pada 1874. Sekitar 15 tahun kemudian (1890), jumlah orang Kristen yang telah dibaptis baru mencapai 706 orang. Jumlah ini bertambah hingga 20.000 orang pada 1915. Dari 1915-1920 komunitas Kristen di Nias mengalami kebangunan rohani yang besar, sehingga terjadilah pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 1921 sudah 60.000 orang dibaptiskan – pertambahan sejumlah 40.000 orang hanya dalam waktu lima tahun. Pada tahun 1936 Sinode BNKP yang pertama dibentuk dan hingga tahun 1940 dipimpin oleh seorang misionaris Jerman. Kebangunan rohani berikutnya (1938-1942, 1945-1949) melahirkan pertumbuhan umat Kristen di Pulau Nias dengan sangat pesat. Gereja ini merupakan faktor yang penting dalam berbagai segi kehidupan masyarakat di pulau itu. Gereja ini boleh dikatakan mempersatukan masyarakat Nias menjadi satu kesatuan etnik dan bahasa. Bahasa Nias utara dijadikan bahasa Alkitab dan Gereja. Alkitab lengkap dalam bahasa Nias diterbitkan pada 1913.