David Brainerd

2015-07-20 07:40:40

David Brainerd, seorang misionaris dari Amerika mengatakan:
“Sorgaku adalah menyenangkan Allah, dan memuliakan Dia dan memberikan segalanya kepada Dia dan sepenuhnya mengabdi pada kemuliaanNya: itulah sorga yang kurindukan, itulah agamaku dan itulah kebahagiaanku dan senantiasa demikian … Aku bukan pergi ke sorga untuk ditinggikan, tetapi untuk meninggikan Allah.“ (Katekismus Singkat Westmister, 204, penerbit momentum).

Sejak membaca kutipan dari catatan harian David Brainerd (20 April 1718 – 9 Oktober 1747) di Katekismus Westmister, saya terinspirasi dan terdorong. Kutipan pendek tersebut membuat saya merenungkan kembali apa artinya menjadi seorang Kristen sejati, apa artinya menjadi pelayan Tuhan di dunia ini. Dan saya jadi tertarik untuk membaca lebih lanjut tentang cerita hidup dari seorang hamba Tuhan yang luar biasa ini. Mungkin bisa dikatakan bahwa tidak ada tulisan biografi tentang Brainerd yang lebih lengkap dan dengan dasar pengenalan yang luar biasa dekat dibandingkan dengan tulisan Jonathan Edwards (5 Oktober 1703 – 22 Maret 1758) yang berjudul: The Memoirs of The Rev. David Brainerd. Selain tentunya karena kemampuan menulis dari hamba Tuhan puritan Amerika Jonathan Edwards ini. Ia juga pernah menjadi hamba Tuhan dimana Brainerd kecil bergereja di Northampton. Bahkan ketika kuliah di Yale University, Edwards juga pernah berkotbah di sana. Selain itu ternyata Edwards juga mendukung perkembangan dari Yale University untuk membangkitkan pemuda-pemuda dengan kualitas pendidikan tinggi. Dan Brainerd pun membaca banyak tulisan dari Edwards. Salah satu bukunya yang begitu menginspirasi sehingga Brainerd terus menganjurkan buku itu dibaca banyak orang Kristen yaitu A Treatise Concerning Religious Affections (1746). Mereka saling mengenal ketika hadir di upacara wisuda di Yale tahun 1743. Edwards berkotbah saat itu. Brainerd menyukai kotbah dan pandangan teologis dari Edwards. Dan Edwards begitu terkesan dengan pengabdian pribadi, pengertian rohani dan kerendahan hati dari Brainerd. Sejak itulah mereka saling mengenal satu sama lain. Di hari-hari terakhirnya Brainerd tinggal di rumah Edwards. Dan Brainerd memberikan segala catatan pribadinya kepada Edwards yang kemudian dijadikan sumber biografi tulisannya. 

Siapa David Brainerd? Ia dikenal sebagai salah satu misionaris Amerika ke suku Indian dan menginspirasi banyak orang khususnya para hamba Tuhan dan misionaris seperti Henry Martyn, William Carey dan lain-lain. Perlu diingat bahwa ia menjadi misionaris bukan sebagai pelariannya atau pun ketidakmampuannya di bidang lain. Ia menjadi misionaris karena meresponi panggilan Tuhan dimana ia disadarkan akan pentingnya injil keselamatan bagi manusia berdosa. Secara akademis, tidak diragukan lagi ia adalah salah satu mahasiswa terbaik di Yale University pada zamannya. Pada umur 20 tahun, ia melanjutkan studi di Yale University. Awalnya ia tidak ingin melanjutkan karena ia kuatir apakah ia bisa menjalani kehidupan rohani yang ketat di perguruan tinggi nanti. Namun dalam catatan hariannya dinyatakan bahwa ia bersyukur karena dalam perguruan tinggi tersebut Tuhan mengungkapkan hal-hal indah dari kasihNya. Yang mendukakan ia adalah ketidakpedulian dan apatisme rohani dari rekan-rekannya. Di tahun terakhirnya 1741, terlihat bahwa kecerdasan dan ketekunan belajarnya membawa dia mendapat ranking tertinggi di kelasnya dan itu berarti ia memiliki prospek yang cerah. Tinggal menunggu waktu dimana ia akan dinyatakan sebagai lulusan Yale yang terbaik saat itu. Namun ia dikeluarkan. Salah satu penyebab tidak langsungnya yaitu kebangunan rohani yang terus berlangsung di Amerika. Kebangunan rohani ini sudah berjalan antara 1730-1740 melalui KKR besar yang diadakan oleh para hamba Tuhan yang begitu dipakai Tuhan seperti Jonathan Edwards (1734), Jonathan Dickson di Newark (1738), John Seccumb di Harvard (1739) dan George Whitefield (1739). Brainerd begitu digerakan oleh kebangunan rohani tersebut. Sampai-sampai ia jatuh pada kesalahan dimana ia pun mengecam dengan pedas orang-orang Kristen yang mengaku Kristen namun terus dalam dosa dengan. Ketika seorang dosen bernama Whittelsey tergerak untuk memimpin doa chapel mahasiswa di Yale University, Brainerd berkomentar bahwa Whittelsey kurang urapan. Sejak itulah kemudian ia bermasalah dengan perguruan tinggi tempatnya studi dan akhirnya ia dikeluarkan. Kemudian hari, Brainerd menyadari ini sebagian memang kesalahan dari dia juga. Sejak itu ia menjadi cenderung melankolis dan tertekan mengingat hilangnya status kemahasiswaannya.

Titik mula panggilannya ini dimulai dalam pertobatannya. Secara moral, ia memang tidak melakukan suatu kejahatan yang luar biasa. Malahan bisa dikatakan ia adalah seorang yang “baik-baik saja”. Namun suatu di tahun 1738, ketika ia sedang berjalan-jalan untuk berdoa seperti kebiasannya, ia tiba-tiba diliputi rasa gentar akan murka Allah. Yang membuat dia takut yaitu dia tidak bisa mencapai kualitas yang ditentukan oleh Tuhan Allah. Sejak itu, ia terus melakukan kesalehan seperti berpuasa, berdoa, membaca alkitab dan terus mengintropeksi diri. Namun ia tetap tidak menemukan kedamaian sejati. Ia menjadi sangat menyadari akan keberdosaannya. Setidaknya ada 3 hal yang terus dia renungkan dan membuat dia begitu bergumul yaitu: tuntutan tinggi hukum Allah, kenyataan hanya iman dapat membawa keselamatan, dan kedaulatan Allah. Ia berusaha memenuhi hukum Allah tapi semakin berusaha ia semakin sadar bahwa ia tidak mampu. Ia juga tidak dapat memahami apa itu iman dan bagaimana memperolehnya. Dan paling sulit dia terima yaitu kedaulatan Allah bahwa keselamatan sepenuhnya tergandung pada Allah (ia merenungkan Roma 9:11-23).

Pada tahun 1739, ketika ia terus merenungkan pergumulannya, ia secara bertahap disadarkan bahwa keselamatan itu diluar kemampuannya sendiri. Dan segala yang dilakukannya seperti berdoa, berpuasa dan kewajiban-kewajibannya didasarkan pada kepentingan sendiri dan tidak untuk kemuliaan Tuhan. Ia menyadari bahwa apa yang kita lakukan tidak bisa memaksa Tuhan atau menjadi penyebab Tuhan menyelamatkan kita. Akhirnya, 12 Juli 1739, hatinya terbuka dan disadarkan bukan tentang Trinitas tapi Kemuliaan Ilahi. Ia menjadi kagum dan bersukacita karena Allah begitu agung dan mulia. Ia sampai tidak lagi memikirkan tentang keselamatannya sendiri dan hampir tidak menyadari kalau ada manusia seperti dia. Ia sampai pada tahap dimana ia melihat dirinya “nothing” di hadapan Allah yang mulia. Sejak “kemuliaan yang tak terkatakan” itu kerinduannya untuk mempermuliakan Penebusnya tidak pernah pudar sampai akhir hidupanya.

Pada musim semi tahun 1742, untuk kedua kalinya ia menumpang di rumah seorang pendeta, Jedediah Mills, seorang lulusan Yale dan hamba Allah sejati. Di sinilah ia melanjutkan kesalehannya: membaca, berdoa, berpuasa dan merenung. Ia mencatat pada 11 mei, “saya tak sanggup hidup di tengah keramaian. Saya rindu untuk menikmati Allah sendirian.” Pada 14 april, “Jiwaku rindu bersekutu dengan Kristus dan ingin mematikan kebejatan dalam diriku, terutama kesombongan rohani.” Lagi 27 april, “Oh Penebusku yang manis! Siapa yang kumiliki di sorga kalau bukan Engkau? Dan tak ada satu pun di dunia yang kuinginkan selain Engkau. Seandainya aku mempunyai seribu nyawa, jiwaku dengan sukarela akan menyerahkan semua itu sekaligus untuk dapat berada bersama Kristus.” Pada 18 juni, “Jiwaku mendambakan kesucian hidup dalam pengabdian penuh pada Allah senantiasa.” Pada masa-masa itulah di suatu sore, ia begitu tergerak dan sungguh-sungguh berdoa bagi perluasan kerajaan Kristus antara orang-orang kafir. Hasratnya untuk menyebarkan injil Tuhan ke orang Indian pun semakin bertumbuh.

Pada 19 November 1942, ia menerima surat dari Ebenezer Pemberton dari New York yang meminta dia untuk bekerja diantara orang Indian. Lembaga ini memang merupakan lembaga yang mempunyai fokus misi penginjilan. Lembaga ini mengirim surat kepada Brainerd atas usulan dari Aaron Burr yang mengenal Brainerd berbeban pada orang Indian. Pada bulan itu juga, Brainerd pergi mengunjungi beberapa temannya yang kemungkinan besar tidak dilihatnya lagi. Ia menjual semua barang miliknya dan bersiap menjalankan misi kepada orang Indian. Selama hidupnya Brainerd pergi ke beberapa ladang misi: Kaunaumeek (1743-44), Cabang Sungai Delaware (1744-45), Crossweeksung (1745-46), Daerah Susquehanna (1744-46), Cranberry (1746-47).

Kaunaumeek (1743-44)
Sebelum ke Kaunaumeek, ia berkunjung ke rumah John Sergeant yang adalah seorang misionaris berpengalaman. Ia menginap di sana selama 2 hari. Ia meminta pentunjuk-petunjuk dalam berbagai aspek penginjilan kepada orang Indian. Kemudian ia menuju Kaunaumeek berbekal beberapa potong pakaian, makanan dalam perjalanannya, sebuah kamus ibrani dan hati yang melimpah dengan kasih Allah dan jiwa-jiwa abadi. Dengan berkuda sejauh 20 mil, melewati daerah pendalaan yang sangat liar, ia sampai ke pondok orang Indian.

Pelayanannya dimulai 10 April 1743. Setiap hari ia bangun pagi-pagi, pergi keluar dan meluangkan waktu yang cukup lama untuk berdoa dan saat teduh di hutan. Sesudah itu ia pergi melayani. Ia mencatat bahwa orang Indian pada umumnya tenang ketika mendengar kotbah, ada juga yang terlihat prihatin dengan jiwanya, dan ada juga yang sambil bercakap-cakap. Ada seorang yang menyatakan bahwa hatinya menangis sejak pertama kali ia mendengar Brainerd berkotbah. Setelah beberapa kali melayani, ia menyadari betapa sulit tugasnya. Pada 16 April, ia mencatat keputusasaannya bahwa ia kuatir tidak ada suatu pun yang berfaedah yang dapat dilakukannya bagi orang Indian. Salah satu kendalanya yaitu komunikasi. Ia sangat membutuhkan penerjemah yang mengerti istilah-istilah Kristen. Karena memang ada kata-kata dalam pengertian Kristen sulit diterjemahkan ke bahasa Indian: Tuhan, Juruselamat, keselamatna, pendosa, keadilan, penghukuman, iman, pertobatan, pembenaran, adopsi, pengudusan, anugerah, kemuliaan, sorga dan banyak kata-kata penting lainnya. Ketika diterjemahkan cenderung memiliki arti lain seperti lahir baru yang diterjemahkan sebagai “hati dijadikan baik,” masuk dalam kemuliaan disebut “dijadikan lebih senang.” Ia pun menemukan orang yang bisa dipekerjakan sebagai penterjemah yaitu Wauwaumpequunnaunt yang oleh John Sergeant sudah diajari menterjemahkan. Ini menjadi pertolongan yang berarti baginya. Selain itu, ia tertekan karena kesepian dan kekurangan di ladang misi. Dalam suratnya kepada John, saudaranya, ia menuliskan betapa kurang makanannya dan banyak kesulitan lainnya seperti berjalan kaki sejauh 1,5 mil hampir setiap hari. Ia terus berdoa agar Tuhan menguatkannya dalam penderitaan penginjilan itu. Bahkan dia melihat bahwa penderitaan itu baik baginya: “aku tertindas itu baik bagiku, agar aku bisa sepenuhnya mati terhadap dunia ini.” Ia juga menuliskan: “aku puas dengan keadaanku dan berserah seutuhnya pada Tuhan. Dalam doa aku menikmati kebebasan besar, dan aku memuji Tuhan untuk keadaanku saat ini seolah-olah aku seorang raja, dan aku dapat merasa puas dalam keadaan apa pun. Terpujilah Allah.”

Dalam suratnya kepada john, ia menuliskan:
“Seluruh dunia ini bagi saya ibarat ruang hampa udara yang kosong dan luas sekali, dimana tidak akan diperoleh sesuatu pun yang didambakan atau setidaknya yang dapat memuaskan dan saya rindu untuk mematikan semua keinginan ini hari lepas hari; sekalipun saya tidak memperoleh penghiburan itu dari perkara-perkara rohani yang sangat saya dambakan. Kesenangan duniawi yang timbuh dari ketenaran, kekayaan, penghormatan, dan kenikmatan daging adalah jauh lebih buruk dari pada tanpa kesenangan sama sekali. Kiranya Tuhan melepaskan kita dari segala kesia-siaan. … Tak ada yang lebih kondusif bagi hidup Kekristenan daripada memanfaatkan waktu yang berharga dengan ekerja keras, rajin dan setia. Jadi marilah kita dengan setia mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita melalui providensi ilahi, dengan sekuat tenaga jasmani dan kemampuan jiwa kita. Mengapa kita harus hanyut dalam keputusasaan karena pencobaan dan kesulitan yang harus kita hadapi di dunia? Maut dan kekekalan ada di depan kita; beberapa lemparan gelombang lagi dan kita akan dihempaskan ke dunia roh, dan kita berharap oleh anugerah yang tak terbatas, kita akan masuk dalam sukacita yang tak lekang oleh waktu dan istirahat dan damai kekal.” (David Brainerd: Misionaris bagi suku Indian amerika, Surabaya: Momentum. 2006, hal. 39-40)

Menjelang musim semi 1744, semakin sedikit orang indian tinggal di Kaunaumeek. Hal ini karena banyak orang kulit putih merampas tanah mereka dan mendesar mereka pindah. Brainerd pun menyatakan bahwa ia akan pergi juga. Hal ini membuat orang-orang Indian yang dilayaninya menjadi sedih dan berusaha membujuknya tetap tinggal. Brainerd pergi karena lembaga misi akan mengutusnya ke tempat yang lain yaitu Cabang Sungai Delaware.

Cabang Sungai Delaware (1744-45)
Pada tahun 1744, ia pernah setidaknya 2x (gereja atau lembaga yang berbeda) diminta menjadi hamba Tuhan di Sheffield, Massachusetts dengan jaminan yang begitu besar. Namun ia memutuskan untuk kembali ke ladang misi kepada suku Indian. Ini merupakan ladang misinya yang baru dari lembaga misi sebelumnya. Ia memasuki pedalaman begitu jauh dari tanah kelahirannya itu sendirian. Saat itulah ia mengingat bahwa banyak juga anak-anak Tuhan yang pernah melakukan perjalanan yang begitu jauh sedemikian demi injil. Dan di alkitab sendiri, Abraham juga diutus Tuhan untuk pergi ke tempat ia tidak mengetahuinya. Ini menjadi penghiburan baginya. Di daerah misi yang baru ini, orang Indian hidup berpencar-pencar. Ini juga yang menjadi tantangan pelayanannya sehingga ia pergi ke beberapa tempat ketika pelayanan karena tidak bisa mengumpulkan di satu tempat. Selain itu, semangatnya sempat kendur karena belum menemukan penterjemah tapi ia terus melayani. Ia tetap menjaga disiplin rohaninya seperti berdoa dan bersaat teduh setiap harinya.

Pada juni 1744, koresponden yang mengutus Brainerd memutuskan untuk mentahbiskannya. Ia berkuda 2 hari lamanya ke Newark dimana pentahbisannya akan dilaksanakan. Sebelum ditahbiskan ia harus mengikuti ujian lalu kotbah dari ayat yang ditetapkan yaitu Kis. 26:17-18, ujian lagi tentang pengenalan praktis kekristenan dan kotbah saat pentahbisan. Ia pun akhirnya ditahbiskan. Pada 24 juni, tubuhnya begitu lemah dan hampir tidak sanggup berjalan namun ia tetap kembali melayani di antara Indian di Cabang Sungai Delaware.

Semakin ia melayani, semakin besar kerinduannya agar Kristus menegakkan kerajaanNya di tengah orang Indian. Keberadaan rakyat dalam kebutaan rohani dan kemerosotan moral justru memperkuat tekadnya untuk berjuang demi keselamatan mereka. Pada 6 juli 1744, Ia menuliskan: “Tahun lalu, saya rindu untuk bersiap-siap masuk ke dalam alam kemuliaan dan cepat-cepat meninggalkan dunia ini; tetapi belakangan ini segenap pemikiran saya tertuju kepada pertobatan orang kafir dan untuk tujuan ini saya ingin tetap hidup.” Pada 21 juli, “ saya rindu sekali agar Tuhan mendapat nama bagi diriNya di antara orang kafir. … saya tidak memiliki konsep tentang sukacita dari dunia ini; saya tidak peduli diman atau bagaimana saya hidup, atau penderitaan apa yang harus saya alami, asalkan saya dapat memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.”

Dalam pelayanan ini juga ia sering berhadapan dengan para guru-guru kepercayaan dikenal sebagai powwow. Mereka dipercaya memiliki kuasa-kuasa gelap dan ajaran-ajaran yang jauh dari kekristenan. Ini merupakan peperangan rohani yang dihadapi Brainerd. Namun tetap ia bersandar pada keyakinan besar akan kuasa Allah. Bersandar pada kuasa Allah tidak berarti ia diam saja. Tapi ia terus melakukan berbagai hal supaya orang Indian bertobat khususnya doa. Karena pertobatan adalah sesuatu yang di luar kuasa manusia dank arena hanya Allah saja yang sanggup melaksanakan pekerjaan ini, ia bergumul berjam-jam dalam permohonan syafaat. Ia terbiasa berdoa sendiri di hutan dan memohon agar Allah menyatakan anugerah keselamatan kepada orang Indian. Namun sampai tahun terakhir misinya yaitu 1745, ia belum memenangkan satu petobat pun. Walaupun memang banyak orang Indian mulai meninggalkan ritual-ritual kepercayaannya dan bahkan dengan serius dan berkaca-kaca mendengarkan kotbahnya tentang Kristus. Saat inilah ia mulai menganggap dirinya sebagai beban dari lembaga misinya. Ia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri bila tidak juga mempertobatkan orang Indian pada misi berikutnya.

Crossweeksung (1745-46)
Di tahun inilah banyak pertobatan dari orang Indian melalui pelayanannya. Seperti seorang perempuan yang sakit bersalin, ia sudah menanti-nantikan begitu lama akan peristiwa pertobatan dari orang Indian. Ia keluar menabur benih yang mahal sambil menangis dan sekarang ia pulang dengan bersorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. Pada periode inilah bisa dikatakan pelayanannya paling berhasil mempertobatkan orang Indian. Banyak orang Indian yang bertobat dan mau menjadi pengikut Kristus di Crossweeksung.

Ia tiba di crossweeksung pada 19 juni 1745. Ini pun tempatnya sangat terpencar. Bedanya mereka sangat terbuka untuk mendengarkan injil yang disampaikannya. Mereka serius dan penuh minat dan tidak cenderung menentang dan mencari-cari kesalahan sebagaimana dilakukan oleh orang Indian di tempat lain. pendengar pertamanya terdiri dari para wanita dan anak-anak. Mereka begitu tertarik hingga menempuh perjalanan 15 mil dalam satu hari untuk menceritakan pada orang-orang lain mengenai pria kulit putih yang menyampaikan tentang injil Kristus ini. Gerakan ini seperti api yang menjalar sampai ke setiap penjuru. Tiga hari sesudah kedatangannya ada sekitar 30 orang datang. Ketika 2 juli ia harus kembali ke Cabang Sungai Delaware, banyak mereka yang sangat mengharapkan kedatangannya kembali. Dan ia pun berjanji akan datang kembali mengajarkan tentang Kristus di Crossweeksung.

Ketika kembali ke Cabang Sungat Delaware, ia melihat buah-buah sulung dari tuaian diantara orang Indian. Roh Allah bekerja dengan nyata dan hasil jerih lelah selama 2 setengah tahun mulai muncul.  Ini dimulai dari seorang petobat bernama Moses Finda Fautaury yakni sebagai penterjemah Brainerd. Ia bertobat pada agustus 1744, dimana penyesalannya begitu kuat atas dosanya dan sampai menyadari bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa menolongnya. Ia menyadari bahwa hanya Allah yang mampu menolongnya, ia pun menjadi seorang Kristen.

Dari juli sampai dengan agustus 1744, sekembalinya ia ke Crossweeksung, ia melihat bagaimana Tuhan menyatakan anugerahnya mempertobatkan orang-orang Indian yang dilayaninya. Banyak orang Indian seperti tertusuk anak panah dari Yang Mahakuasa dan menangis untuk memohon pengampunan. Pertobatan mereka seperti air bah yang begitu deras menerjang dan tak terbendung. Ada seorang wanita Indian setelah mendengar kotbah, ia terbaring sambil berseru: “Guttummaukalummeh wechaumeh kmeleh Ndah” berarti “Kasihanilah aku dan tolong aku untuk memberikan hatiku padaMu.” Brainerd mengatakan ini merupakan manifestasi kuasa Allah yang cukup untuk meyakinkan seorang atheis akan kebeanran dan kuasa dan pentingnya firman Allah. Pada 25 agustus, ia membaptiskan banyak orang Indian yang bertobat tersebut. Sejak itulah sungguh-sungguh nyata pemeliharaan Tuhan atas umatNya. Banyak orang Indian setiap kali mendengarkan kotbah Brainerd yang terus terdorong untuk mohon ampun dan hidup suci. Siapa yang dapat membayangkan bahwa suatu daerah yang prospeknya begitu buruk, tempat iblis bersemayam dapat berubah menjadi ajang pencurahan air mata pertobatan dan kasih kudus? Nubuat Yesaya 41:18-20 digenapi di daerah liar New Jersey.

Dari sini kita dapat belajar empat karakteristik dari kebangunan rohani:
1. Berasal dari sumber ilahi. Brainerd pernah mengatakan: “saya rasanya tidak berbuat apa-apa, dan memang tidak ada yang bisa diperbuat kecuali berdiri tetap dan melihat keselamatan dari Tuhan, … tampaknya Allah bekerja sendirian dan saya rasa tidak ada alasan untuk menganggap pekerjaan ini berasal dari manusia.”
2. Bersifat rasional. Dimana tidak terdapat fenomena seperti orang yang kejang tubuh, pingsan dan lain-lain. Orang Indian yang bertobat memiliki kesadaran akan kefasikan hati dan perbuatan mereka dan takut akan murka Allah. Hanya sedikit yang memang mengalami gangguan mentap seperti penglihatan, kerasukan dan imajinasi. Yang menggugah mereka adalah doktrin mengenai kerusakan manusia dan perlunya kelahiran kembali dan keutamaan Kristus.
3. Kebangunan rohani ini praktis dalam perwujudannya. Orang yang bertobat sungguh menyatakan perubahan hidup dalam keseharian mereka.
4. Berdampak permanen. Orang-orang yang sudah menjadi Kristen tersebut tetap menjadi Kristen ketika ia harus meninggalkan mereka karena kesehatan yang memburuk. Pelayanannya kemudian diteruskan oleh John, saudaranya.

Daerah Susquehanna (1744-46)
Pelayanan di Daerah Susquehanna dilakukan pulang pergi ke Cabang Sungai Delaware, kadang ia juga kembali ke Crossweek. Pada 2 Oktober 1744, dia memulai perjalanannya bersama Moses Finda Fautaury (penterjemahnya), 2 orang Indian dan James Byram, seorang pendeta. Mereka pergi ke Daerah Susquehanna. Ini merupakan perjalanan yang paling sulit dan berbahaya. Mereka harus melewati gunung-gunung yang tinggi, ngarai-ngarai yang dalam, dan bukit batu terjal. Di tengah perjalanan kaki kuda yang dinaikinya patah, dan terpaksa membunuhnya karena tidak ada tempat atau rumah terdekat untuk dijadikan tempat istirahat. Ia pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hingga malam tiba, mereka belum menemukan perumahan untuk istirahat maka mereka beristirahat di atas tanah dan tidur dengan tenang di tengah dinginnya malam. Atas kemurahan dan perlindungan Allah mereka dapat terus melanjutkan perjalanan hingga ke ladang misi. Mereka sampai di Opeholhaupung dimana terdapat 12 rumah orang Indian. Mereka pun menyampaikan injil Kristus. Orang Indian bersemangat mendengarkan dan juga mau mengajukan keberatan akan injil tersebut. Ketika Brainerd harus pergi, orang Indian tersebut ingin kemblai mendengarkan pengajarannya akan injil Kristus. Ketika ia kembali lagi, ia pergi juga ke perkampungan yang lain sehingga injil Tuhan semakin tersebar. Yang terakhir yaitu Shaumoking. Mereka diterima ramah di sini namun mereka kesulitan dalam bahasa. Selain itu, orang Indian di sini begitu memperihatinkan bagi Brainerd karena mereka masih saja melakukan tarian dan pesta-pesta penyembahan berhala. Ditambah lagi orang kulit putih yang berdiam dekat tempat tersebut menjual minuman keras kepada mereka sehingga banyak dari mereka menjadi pemabuk. Setelah 2 minggu melayani di tempat ini dengan penuh tekanan demikian, akhirnya ia kembali pulang ke tempat pelayanan lainnya.

Di Crossweek, ia melayani di gereja yang kebanyakan orang Indian dan semakin hari semakin banyak. Ia pun mulai memikirkan tentang pelayanan misinya. Ia memikirkan bagaimana jikalau ia berkeluarga dan melayani di tempat yang tetap yaitu Crossweek. Sampai suatu ketika ia mengambil keputusan sebagaimana dicatat dalam buku hariannya:

“Namun kini pemikiran-pemikiran ini (untuk menetap dll) hancur berkeping-keping, bukan dengan paksa, melainkan dengan pilihan sukarela; sebaba saya merasa bahwa Allah telah bekerja dalam hidup saya untuk mempersiapkan saya untuk hidup dalam kesendirian dan penderitaan dan bahwa saya tidak akan kehilangan apa-apa dalam hal yang terkait dengan dunia, jadi saya tidak rugi apa pun bila saya melepaskan semua keinginan itu. Bagi saya adalah baik bila saya miskin, tanpa rumah dan keluarga dan tanpa kenyamanan hidup yang dinikmati umat Allah yang lain untuk mana saya bersukacita bagi mereka. Namun, bersamaan dengan ini saya melihat begitu banyak dari kemuliaan kerajaan Kristus dan begitu kuat kerinduan untuk memperluasnya di dunia sehingga hal ini menelan semua pemikiran saya yang lain dan membuat saya rela bahkan bersukacita untuk menjadi musafir yang sendirian di padang belantara sampai akhir hayat saya, asalkan saya boleh mengambil bagian dalam pekerjaan yang indah dari Penebus saya yang agung. Sekarang saya berikrar untuk mempersembahkan jiwa saya kepada Allah untuk melayani Dia sepenuhnya. Segenap pikiran dan kerinduan saya menyerukan, ‘ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi; utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara; utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan dunia dalam pelayanan bagiMu untuk memperluas kerajaanMu.’ Pada waktu yang sama, saya merasakan sekilas nilai kenyamanan duniawi: namun ini tak berarti apa-apa dibandingkan dengan nilai kerjaan Kristus dan pemberitaan InjilNya. Perkampungan yang tenang, tempat tinggal yang tetap, persahabatan yang lembut, yang saya harap akan saya nikmati bila say amemilih keadaan itu, kelihatan sangat berharga bagi saya bila dipertimbangkan secara tersendiri; namun bila dipandang dalam perbandingan ini seolah-olah tak ada artinya. Dibanding dengan nilai berharganya perluasan kerajaan Kristus, semua itu sirna ibarat cahaya bintang pada saat matahari terbit. Sekalipun kehidupan yang nyaman tampak berharga dan menyukakan bagi saya anmun saya mepersembahkan diri saya seutuhnya, tubuh dan jiwa, dalam pelayanan kepada Allah dan demi perluasan kerajaan Kristus; kendati itu berarti saya akan kehilangan semua yang lain, saya tak dapat berbuat lain, sebab saya tidak dapat dan tidak mau memilih yang lain. Atas pilihan saya sendiri, saya terpaksa mengatakan, ‘selamat berpisah, teman-teman dan kenyamanan duniawi, juga yang paling saya kasihi, bila Tuhan memintanya: selamat tinggal, selamat tinggal; saya rela menghabiskan hidup saya sampai saat terakhir dalam gua-gua dan celah-celah gunung di bumi bila dengan demikian kerajaan Kristus dapat diperluas.” (David Brainerd: Misionaris bagi suku Indian amerika, Surabaya: Momentum. 2006, hal. 78-9)

Pada 12 agustus, ia meninggalkan Cranberry bersama enam orang indian Kristen yang dipilihnya dari antara jemaatnya untuk membantu dia dalam pekerjaan antara jemaatnya untuk membantu dia dalam pekerjaan ini. Ketika sampai di Shaumoking, ia menlanjutkan perjalanan ke utara. Namun tubuhnya semakin lemah. Begitu lemahnya hingga sepertinya ia tidak bisa berada di tengah udara terbuka pada malam hari. Sehingga ia memanjat sebuah pohon pinus dan dengan pisaunya ia memotong beberapa dahan untuk membuat tempat bernaung dari embun; namun tetap ia basah kuyup. Pada 4 september, ia kembali ke Shaumoking dan melayan di sana. Banyak orang Indian yang begitu mendapat berkat dari pelayanan dan mengalami pertobatan. Sampai 11 september, ketika tubuh sangat lemah, ia memutuskan untuk kembali ke Cranberry.

Cranberry (1746-47)
Inti doctrinal dari ajaran Brainerd tercatat dalam bagian penutup buku hariannya: keberadaan dan kesempurnaan Allah, kewajiban umat manusia untuk mengasihi dan menghormati Dia, keadaan manusia yang sarat dengan dosa dan ketidakmampuan mereka menyelamatkan diri sendiri bahwa perbuatan baik ataupun reformasi lahiriah tidak dapt membawa manusia ke dalam perkenanan Allah; mutlak perlunya seorang Juruselamat; betapa melimpah dan kayanya kasih karunia Ilahi dan langkah yang harus diambil oleh setiap orang berdosa untuk memperoleh pengampunan dari Allah melalui Kristus. Ia juga menekankan Pribadi Kristus dan karyaNya.

Di Cranberry, ia menjadi gembala sidang dimana harus melayani kebutuhan rohani dan jesmani jemaat Indian. Ia memikirkan apa yang harus diajarkan, metode bagaimana, bagaimana membina jiwa-jiwa, bagaimana menerapkan prinsip-prinsip kekristenan pada masalah-masalah ekonomi, domestic dan sosial, dan banyak lagi. Setelah jemaat Indian tersebut mencapai tingkat pengertian yang lebih baik mengenai kekristenan. Ia memutuskan untuk membimbing melalui Katekismus. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan doktrinal  dan membahas setiap bagian dengan lebih dalam. Banyak orang Indian Kristen tersebut ternyata siap akan pengajaran seperti demikian.

Dalam bulan juni 1746, Brainerd membuat laporan mengenai Indian sebagaimana diminta oleh lembaga misinya. Secara ringkas dari laporan tersebut menyatakan: (1) Orang Indian memiliki sikap menolak kekristenan yang telah berakar. Bahkan menentang dan membenci nama Kristus. (2) Kendala bahasa merupakan hal yang penting dalam pekabaran injil. Karena setiap suku Indian bisa memiliki bahasa yang berbeda. (3) Situasi yang tidak nyaman, tingkah laku liar dan cara hidup orang Indian yang tidak menyenangkan menjadi tantangan dalam pekabaran injil. (4) Kesulitan terakhir yaitu perlawanan dari orang-orang kulit putih sendiri. Bahkan ada yang mencoba menfitnah Brainerd agar tidak diterima di tengah-tengah orang Indian.

Pada 9 Oktober, setelah sakit paru-paru yang berkepanjangan dan dirawat di rumah Jonathan Edwards, ia meninggal. Selama sakitnya, tidak sedikit pun ia mengeluh. Bahkan ia terus bersiap jikalau Tuhan memanggilnya. Ia ingin segera bertemu dengan Tuhan, melayani dan menyenangkanNya dalam tubuh yang sempurna. Pada bulan Februari tahun berikutnya, Jerusha, anak Jonathan Edwards yang juga adalah perempuan yang dikasihi Brainerd meninggal karena penyakit yang sama.

Banyak orang yang begitu kagum dan terinspirasi dari pelayanan misi David Brainerd. Namun Brainerd juga adalah seorang yang sangat menekankan doktrin yang dipercayanya dalam setiap pelayanannya yaitu ajaran Calvinis. Ia dan Jonathan Edwards merupakan pemegang kental tradisi Puritan. Ia menyadari bahwa Allah memanggil dia bukan untuk berhasil melainkan untuk setia. Apa yang dia lakukan untuk Tuhan di dalam setiap pelayanan bukanlah menjadi penyebab ia dibenarkan atau diselamatkan. Karena keselamatan semata-mata anugerah Tuhan. Demikian juga pelayanan yang dia kerjakan adalah semata-mata karya Allah. Seperti yang ditulisnya pada 3 Februari 1745: “Saya merasakan kedamaian dalam jiwa saya dan saya tahu bahwa seandainya tidak seoarang pun dari orang Indian bertobat oleh pemberitaan saya dan semuanya menuju penghukuman, namun saya tetap diterima dan mendapat pahala atas kesetiaan saya; sebab saya yakin, Allah yang memampukan saya untuk itu.”

ia begitu mementingkan kemuliaan Tuhan daripada kebaikan bagi manusia maka ia tak pernah menggunakan metode-metode yang tidak alkitabiah untuk memikat orang indian dan ia tak pernah menurunkan standar praktis atau pun doktrinalnya dengan maksud menjaring lebih banyak petobat. Sebagaimana orang Puritan, ia tidak menganggap doktrin kedaulatan Ilahi bertentangan dengan pemberitaan injil. Tanggung jawab atas dosa terletak pada manusia dan dosa manusia semakin berat bila menolak tawaran rahmat Allah.

Kristus memilih orang-orang kudusNya melalui “dapur kesengsaraan” untuk memurnikan rohani mereka. Pencari mutiara harus menyelam ke dasar lautan yang dalam. Penambang menemukan batu permata pilihan jauh di bawah permukaan tanah, dimana tekanan bumi yang amat besar mengubah unsure karbon menjadi batu berlian yang berharga. Hal yang sama berlaku di alam rohani. Dalam lembah kelam dan curam, TUhan membuat diriNya berharga bagi umatNya dan mengerjakan anugerah yang langka dalam hati mereka. (David Brainerd: Misionaris bagi suku Indian amerika, Surabaya: Momentum. 2006, hal. 112)

1 Kor. 1:21
Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan injil.

 

Disadur dari David Brainerd: Misionaris bagi suku Indian amerika, Surabaya: Momentum. 2006