Hidup Bagi Allah (Teladan Rohani)

2016-08-14 - Pdt. Tumpal H. Hutahaean

1 Petrus 4 : 6

Kita akan melanjutkan pembahasan dari 1 Petrus 4 : 6, Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.

Saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan, hal apa yang tidak dapat kita ulangi di dalam hidup ini? Pertanyaan ini mengingatkan kita akan pentingnya menjadi orang Kristen yang memiliki kualitas keteladanan. Jangan kita menjadi orang Kristen yang kurang memiliki sifat keteladanan. Jika waktu sudah lewat, maka kita tidak mungkin kembali ke masa lampau. Kita perlu menyadari bahwa waktu itu penting, bahwa waktu itu adalah anugerah Tuhan, dan kita harus sungguh-sungguh menggunakan setiap waktu yang ada. Pada bagian sebelumnya (1Pet 4:2-4), Rasul Petrus mengingatkan bahwa dahulu jemaat sudah begitu banyak menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, sekarang orang lain heran melihat kemaat tersebut. Kenapa mereka heran? Karena jemaat sekarang berani tampil beda, sekarang jemaat mau hidup bagi Tuhan. Terjadi perubahan hidup yang besar dari jemaat.

Kesempatan yang Tuhan berikan untuk berbuat sesuatu yang menyatakan kemuliaan Tuhan, jika sudah lewat, maka kita tidak akan bisa kembali lagi untuk menebus itu. Kita bisa menginjili orang, tetapi kita tidak menginjili. Kita tahu orang itu berdosa tetapi kita biarkan, sampai orang itu mati akhirnya kita baru menyesal. Namun penyesalan secara nilai rohani membuat kita akan punya satu perubahan, penyesalan secara rohani membuat kita menjadi orang Kristen yang berani tampil beda dengan resiko apapun juga, yang penting hidup kita mau hidup bagi Tuhan. Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Pertanyaan kedua, pernahkah kita juga memikirkan, hal-hal apa yang mungkin di dalam hidup ini yang akan selalu tercatat di surga? Hal itulah yang seharusnya kita kejar dalam hidup kita, supaya apa yang kita kerjakan tercatat di surga yang bersifat kekal. Seluruh hidup kita, baik studi kita, baik nilai kerja kita, baik nilai aktivitas rumah tangga kita dan dimanapun kita berada; pernahkah kita memikirkan hal-hal apa saja yang menyenangkan Tuhan yang harus aku kerjakan? hal-hal yang menyenangkan Tuhan, yang membuat Tuhan dipermuliakan, itu yang seharusnya aku kejar, itu yang harus menjadi identitasku, dan disitulah aku berani tampil beda untuk menyatakan semua itu.

Pertanyaan ketiga, pernahkah kita memikirkan pada waktu kita kelak akan mati apa yang akan kita tinggalkan di dalam dunia ini yang bersifat kekal, sehingga orang boleh mengenang kita sebagai orang yang baik, orang yang punya pengorbanan, orang yang mempunyai jiwa hidup takut akan Tuhan, orang yang sungguh-sungguh punya tapak tilas iman yang luar biasa. Melalui 1Pet 4:2-4, kita bersyukur, di dalam Tuhan kita diberi kesempatan seperti jemaat di Asia Kecil yang dahulu sudah banyak membuang waktu hidup melakukan hal-hal yang bersifat cemar, namun sekarang tidak mau lagi kompromi dengan dosa. Perubahan ini membuat sekeliling kita heran karena kita tidak mau lagi mencoba tawaran dunia. Dari bagian ini kita diajarkan untuk mementingkan satu nilai yang ketika kita tinggalkan akhirnya orang bisa belajar melihat Tuhan, bukan melihat neraka, bukan melihat kelicikan kita, bukan melihat kejahatan kita, bukan melihat kompromi kita terhadap dosa, tetapi melihat Tuhan melalui kenangan hidup kita.

Kembali kita membaca ayat 6 untuk kita memperdalam bagian ini. 1Pet 4:6: Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.
Kita pernah diakhir kotbah Minggu lalu, kita bertanya untuk apa Tuhan Yesus memberitakan Injil kepada orang yang sudah mati? Apakah orang yang sudah mati menunjukan orang yang memang mati dalam suasana hades? Apakah mati ini berkaitan dengan ayat 5, mati yang menunjukan sesuatu yang bersifat masa lalu? Pada waktu jaman dimana Petrus hidup, dia pernah berkotbah, dia pernah memberitakan Injil secara pribadi lepas pribadi, dan orang yang mendengarkan berita itu sekarang sudah mati. Apakah disini artinya memberitakan Injil kepada orang yang sudah mati secara rohani? Artinya orang itu pada waktu hidup diberitakan Injil menolak, dia mati secara rohani, pada waktu akhirnya dia sungguh-sungguh mati mendapatkan satu nilai kesempatan untuk dia akhirnya hidup secara roh bagi Allah, atau ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mati, jadi benar-benar Injil diberitakan di hades kepada orang-orang yang sudah mati, dan kita percaya memang ini sungguh untuk orang yang sudah mati, supaya roh mereka dapat hidup menurut kehendak Allah.

Ada dua macam tafsiran teologis tentang ayat 6 ini secara umum:

1. Penginjilan kepada orang yang sudah mati secara jasmani. Pengertian ini terjadi apabila ayat ke 6 ini ditafsirkan secara harafiah seperti yang di-pegang oleh William Barclay. Dia percaya sekali satu konsep yang disebut second chance, satu kesempatan kedua yang diberikan kepada orang-orang yang mati. Sekarang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan sikap kita? Kita pasti tidak setuju dengan hal ini. bagaimana mungkin hanya dua sumber daripada 1 Petrus 3 : 18 – 20 dengan 1 Petrus 4 : 6 langsung gugur semua konsep dan pengajaran dari konsep Yesus Kristus tentang keselamatan. Jikalau kita menerima konsep second chance (kesempatan kedua) berarti kita percaya ada aspek purgatori (konsep api penyucian dalam ajaran katolik, dimana orang percaya dibersihkan dari dosa-dosanya sehingga akhirnya bisa masuk ke sorga). Kedua konsep ini, baik purgatori maupun second chance, berarti kita percaya ada keselamatan setelah orang itu mati baik melalui doa orang-orang yang mengasihi dia ataupun melalui pemberitaan ini. Tentu kedua konsep ini bertentangan dengan Alkitab

Alasan apa yang membuat kita tidak setuju?
Pertama, mari kita baca cerita Lazarus dan orang kaya dalam Lukas 5:25-26, terdapat jurang pemisah antara yang hidup dan yang mati. Yesus Kristus menceritakan ada jurang pemisah untuk orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup. Bagian ini menceritakan kepada kita bahwa orang kaya tersebut menyesal di hades, tetapi tidak dapat merubah statusnya. Kenapa? Karena orang itu mati di dalam dosa, Lazarus mati di dalam Tuhan. Jadi seseorang itu masuk surga atau neraka ditentukan pada waktu mereka hidup. Jadi di dalam bagian ini surat Petrus ditulis bukan mengubah konsep keselamatan bahwa keselamatan dapat diberikan kepada orang yang sudah mati.

Alasan kedua, Penghakiman Kristus tergantung pada waktu seorang dia hidup. Disini kita belajar, penghakiman Tuhan langsung diberikan berdasarkan standar pada waktu orang itu hidup. Jikalau orang itu hidup berdasarkan takut akan Tuhan, menerima Yesus, orang itu tidak akan dihakimi. Kenapa tidak dihakimi? Karena Kristus sudah mati untuk orang itu, Kristus sudah memuaskan murka Tuha atas dosa-dosa kita dengan rela mati di salib. Jadi orang yang menerima Yesus tidak akan mendapatkan penghakiman. Tetapi siapakah yang mendapatkan penghakiman? Adalah orang-orang pada waktu hidup mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus dan tidak mau hidup bagi Allah di dalam situasi apapun juga. Di dalam 2 Korintus 5 : 10 dengan jelas dipertegas, orang akan dihakimi berdasarkan standar pada waktu dia hidup. Hal ini memberitahu kepada kita bahwa penghakiman terakhir (final judgement) ditentukan dari kualitas orang hidup orang itu. Ini berarti bahwa hidup itu serius, karena seluruh perbuatan kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan pada waktu kita bertemu dengan Tuhan.

Kita perlu memiliki kesedihan jikalau melihat orang-orang  hidupnya kompromi tanpa Tuhan, hidupnya akhirnya mencemarkan diri, maka kita perlu menegur orang-orang itu untuk kembali kepada Tuhan. Kita perlu memiliki kasih yang aktif kepada orang-orang yang jauh dari Tuhan. Kita ini adalah orang yang sedang di didik oleh Tuhan, kita adalah orang-orang yang sedang dimurnikan oleh Tuhan, harusnya kita hidup semakin selaras dengan Tuhan. Jadi disini mengajarkan kepada kita bahwa program penginjilan itu dikerjakan pada waktu orang itu hidup. Di dalam bagian ini jelas sekali kita tidak menerima konsep  second chance, kita tidak menerima konsep adanya keselamatan setelah orang itu mati.

2. Kita percaya bahwa pengijilan dalam bagian ini telah dilakukan kepada orang yang hidup, namun mereka sudah mati pada saat surat ini ditulis, kepada orang-orang yang percaya kepada pemberitaan Injil dan hidup sungguh-sungguh untuk Tuhan bukan orang yang mendengar injil namun tidak percaya. Injil yang didengarkan tanpa dipercayai tidak akan membawa kepada keselamatan. Bagian ini menyatakan pada waktu Rasul Petrus hidup, dia memberitakan Injil, dan orang yang diberitakannya, akhirnya percaya kepada Tuhan, namun orang yang percaya ini akhirnya mati (mati dalam penganiayaan, mati martir, dll) mendahului Rasul Petrus. Namun Rasul Petrus tahu sekali orang-orang itu rela menjalankan imannya dengan benar dalam penderitaan demi penderitaan membuktikan dia hidup bagi Tuhan. Mereka memiliki keteladanan rohani yang luar biasa ditengah-tengah penderitaan. Di dalam konteks inilah rasul Petrus mengajarkan kepada jemaat di Asia Kecil dalam 1 Petrus 4 : 6 bahwa keteladanan rohani itu menjadi satu penghiburan bagi kita. Biarlah engkau boleh kuat mengalami penderitaan ini, dan lengkapilah pikiranmu dengan terus dipersenjatai dengan pikiran seperti Kristus menghadapi penderitaan dengan kesabaran dan penguasaan diri. Di dalam bagian ini rasul Petrus mengambil contoh teladan orang-orang sudah mendahului engkau, dan orang-orang itu matinya tidak sia-sia, karena mati mereka adalah mati dalam Tuhan, orang itu matinya meninggalkan satu keteladanan rohani, jiwa mereka diserahkan kepada Tuhan, dan jiwa mereka boleh sungguh-sungguh berkenan kepa-da Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih dalam Tuhan, disinilah kita mengerti secara konteks rasul Petrus sedang berbicara kepada orang-orang yang sedang menderita karena dianiaya, jadi ini memberitahu kepada kita maksud daripada 1 Petrus 4 : 6 tidak lain adalah satu kata-kata penghiburan, tetapi objeknya adalah keteladanan orang-orang yang sudah mati mendahului mereka. Menceritakan teladan rohani dari orang-orang yang mati secara iman, karena hidup bagi Allah. Iman diuji melalui penderitaan itu adalah sesuatu yang paling sejati, iman diuji melalui kesuksesan dan kekayaan itupun bisa melihat kesejatian iman seseorang.

Ternyata orang yang  beriman akan memiliki satu nilai akhir yang hidupnya indah, walaupun kata Rasul Petrus orang itu sudah dihakimi secara badani. Kenapa mereka dihakimi secara badani? Karena orang-orang tidak percaya di Asia Kecil menganggap orang-orang percaya ini adalah orang yang salah. Ini mengajarkan kepada kita bahwa iman harus kita perjuangkan sampai titik akhir nafas sampai kita bertemu dengan Tuhan, jangan kita kalah karena sakit penyakit, jangan kita kalah karena penderitaan, jangan kita kalah karena hal-hal yang ditawarkan dunia ini. Jadi mari menangkanlah dirimu berdasarkan iman. disinilah Rasul Petrus ingin kuatkan jemaat di Asia Kecil hidup bagi Allah itu adalah keindahan bagi hidupmu. Disini maka kita belajar ternyata dunia ini adalah dunia orang berdosa, tetapi kita akhirnya belajar pentingnya keteladanan rohani ,karena kelak kita akan mati, tetapi orang bisa mengenang kita dari jejak rohani yang kita tinggalkan, kita adalah orang yang agung, kita adalah orang yang mulia. Disini kita bisa melihat mereka adalah orang yang beriman, hidup bagi Allah ditengah-tengah masyarakat yang tidak beriman, mereka mengalami penghakiman secara badani karena dihukum oleh orang-orang yang tidak mengerti, mereka tidak menggerutu kepada Tuhan, mereka tetap setia bagi Tuhan. Ini menunjukan kepada kita mereka memiliki iman yang hidup.

Bagian yang kedua, namun secara kerohanian mereka adalah orang-orang yang telah hidup bagi Allah. ini adalah kesimpulan 1 Petrus 4 : 6, dari apa yang dilihat oleh Rasul Petrus sendiri, mereka memiliki kerohanian yang hidup, dan mereka adalah orang-orang yang sungguh sudah hidup bagi Tuhan. Jadi marilah kita belajar dari orang-orang seperti itu. kalau kita melihat ini semua hal apa yang bisa kita maknai untuk kita belajar? Hal yang bisa kita maknai untuk kita belajar adalah apa yang harus engkau pikirkan jikalau engkau akan mati, kenangan apa yang harus engkau tinggalkan untuk orang disekitarmu? Bukan harta, bukan kenikmatan, karena semua bersifat sia-sia, yang paling berharga yaitu warisan iman. Didiklah anakmu sampai takut akan Tuhan, karena permulaan iman dimulai dari hati yang takut akan Tuhan, permulaan hikmat juga dimulai dari hati yang takut akan Tuhan, haus akan kebenaran. Warisan iman itu adalah sesuatu yang harus kita pikirkan. Disini 1 Petrus 4 : 6 memberitahu kepada jemaat di Asia Kecil, belajarlah dari orang-orang yang sudah mendahuluimu, orang itu sekarang memberikan warisan iman kepada kita semua. Jadi di dalam bagian ini saya percaya sekali ketika warisan rohani diceritakan oleh Rasul Petrus untuk orang-orang yang mempunyai keteladanan rohani, mereka hidup bagi Tuhan, tidak kompromi dengan siksaan, mereka rela mati bagi Tuhan, mereka punya kekuatan jiwa di dalam selain iman mereka punya interaksi dengan Tuhan, maka engkau harus punya nyanyian rohani, engkau harus punya kekuatan itu.

Apakah upah yang diterima oleh mereka ini?
Jikalau kita bisa melihat dalam seluruh bagian itu di dalam 1 Petrus 4 : 6 secara roh mereka sekarang hidup dalam kehendak Allah, itu adalah satu kata-kata yang indah. Jadi disitu menjelaskan kepada kita bahwa mereka mati tidak sia-sia karena mereka ada ditangan Tuhan yang mulia, mereka ada ditangan Tuhan yang kekal.

Disinilah kita belajar bagaimana sebetulnya inti dari seluruh bagian ini dikembalikan lagi dalam pasal 4 ayat 4, 5 dan 6. Bagaimana seharusnya kita punya sikap yang benar menghadapi fitnahan, menghadapi orang tidak suka dengan kita? Jangan dendam, jangan marah, jangan menghakimi melainkan milikilah kelemahlembutan, hormat dan hati nurani yang murni, dan serahkanlah semuanya itu kedalam kedaulatan Tuhan, dan buktikan engkau punya hidup yang saleh. Disini berarti mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita sungguh-sungguh hidup takut akan Tuhan, kenapa? Karena setiap manusia akan tiba waktunya tahta pengadilan Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah. Jadi biarlah setiap orang yang melakukan apapun yang merugikan kita, ingat kita ada pembela yang agung yaitu Tuhan Yesus, kita punya Tuhan yang akan meminta pertanggungjawaban setiap orang yang hidup. Jadi disitu kita percaya akan kedaulatan dan keadilan Tuhan.

Jadi sebagai kesimpulan maka kita gabungkan disini, didalam ayat 4, 5 mementingkan hidup bagi Allah dalam situasi apapun. Hidup bagi Allah membuat kita tidak kompromi dengan dosa karena kita fokus untuk Tuhan. Bagian yang kedua ternyata ayat 6 mengajarkan kepada kita, keteladanan rohani kita, jikalau hidup kita punya komitmen sampai rela mati karena Injil. Itu mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita punya komitmen seratus persen bagi Tuhan. Disini maka kita lihat indahnya hidup. Hidup bagi Allah membuat kita tidak kompromi terhadap dosa, hidup sampai rela mati karena Injil membuat kita tidak akan marah kepada Tuhan dalam situasi apapun juga, disiksa, mengalami kesulitan, kita tidak akan bersungut-sungut kepada Tuhan karena kita rela mati karena Injil. Amin.

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—HG)