Gembalakanlah Kawanan Domba

2016-11-13 - Pdt. Tumpal H. Hutahaean

1 Petrus 5 : 1 – 4

Melanjutkan eksposisi 1 Petrus 5 : 1 – 4 , di dalam pasal yang terakhir ini rasul Petrus mengajak kita bagaimana melayani Tuhan dengan baik, dan bagaimana sikap seorang pemuda harus kuat ketika menghadapi tantangan zaman, rongrongan iman, mereka harus memiliki penguasaan diri, kewaspadaan dan hati untuk melayani Tuhan, serta bagaimana rasul Petrus mengajak kita bersikap submissive, surrounder, terus mau berdoa, percaya akan kedaulatan Tuhan, dan percaya akan pertolongan Tuhan.

Bagian ini sesuai dengan tema hari ini yaitu tentang penggembalaan domba-domba Allah yang Tuhan percayakan kepada kita. 1 Petrus 5 : 1 – 4. 1 Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.  2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.  3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.  4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.

Yohanes 21 : 17. 17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Pendahuluan.

1. Jabatan apa yang paling mulia dihadapan Allah Tritunggal? Jabatan yang paling mulia adalah ketika kita sungguh-sungguh mau dipakai Tuhan menjadi fellow elder atau tua-tua pada konteks saat itu. Elder disini bukan berarti orang yang berumur tua, tetapi orang yang sudah matang imannya, orang yang sudah matang pikirannya, orang yang sudah teruji segala kesetiaan dan pengorbanannya untuk hidup bagi Tuhan.
2. Mungkinkah ada orang yang berpura-pura ikut-ikutan menjadi pelayan Gereja? Mungkin. Kenapa bisa ikut-ikutan? Karena mungkin dia dekat di dalam komunitas orang-orang yang melayani Tuhan. Apakah dia mengerti pelayanan untuk panggilan? Belum tentu. Apakah dia mengerti substansi pelayanan? Belum tentu. Mungkinkah orang ikut-ikutan karena ada unsur yang lain? Mungkin. Tetapi menjadi pertanyaan, mungkinkah orang ikut-ikutan nanti kelak bisa mengerti itu menjadi satu panggilan khusus untuk dia dan itu mulia dihadapan Tuhan? Mungkin.  Tetapi mungkinkah orang ikut-ikutan itu akhirnya dilindas oleh waktu, diuji oleh waktu dan dibuang oleh waktu dan akhirnya dia baru tahu hidupnya sejati di dalam Tuhan atau tidak? Mungkin.
3. Menjadi pertanyaan kita mengapa jabatan fellow elder itu penting di Gereja? Disini kita akan belajar ketika rasul Petrus menutup suratnya dalam bagian yang pertama dalam pasal yang ke 5 ternyata dia menekankan pelayanan. Hidup jemaat Tuhan ada dalam penderitaan, hidup jemaat Tuhan ada dalam kesulitan, hidup jemaat Tuhan dalam siksaan batin dan fisik tetapi menarik dalam bagian ini Petrus tetap menekankan kewajiban kita sebagai anak Tuhan menjadi fellow elder, menjadi tua-tua yang melayani Tuhan, menjadi anak-anak Tuhan yang boleh sungguh-sungguh bertahan ditengah kesulitan, bertahan ditengah-tengah gelombang hidup tetap memberitakan dan mencahayakan Kristus di dalam kehidupan kita.

Pembahasan.

Kita mungkin bertanya apa artinya fellow elder? Ketika kita melihat pemakaian bahasa Yunani gembalakanlah domba-domba-Ku, apakah di sini artinya gembala adalah pendeta? Apakah disini penggembalaan hanya vicaris atau penginjil? Ternyata di dalam konteks 1 Petrus 5, ditekankan fellow elder adalah kita, yaitu sesama orang-orang yang melayani Tuhan, Apa artinya? Artinya bagian yang pertama kita disebut vicar of Christ, kita adalah wakil-wakil Kristus. Sehingga ditempatkan dimanapun juga, kita harus bermental sebagai vicaris atau wakil Kristus. Bagaimana kalau ada anak Tuhan gagal menjadi saksi Kristus melalui pekerjaan, melalui studi, melalui keluarga? Saat itu engkau bersedih hati. Mengapa? Karena Kristus yang sudah mati menebus engkau, yang sudah tinggal di dalam engkau, engkau sedihkan karena hidupmu menjadi batu sandungan melalui prilakumu, melalui nilai kinerjamu, melalui nilai studimu. Jadi di sini kita diajarkan pada waktu kita menjadi fellow elder carilah dan kejarlah semangat untuk kita sungguh-sungguh menjadi wakil Kristus. Yang kedua kita adalah witness of Christ. Kita bersaksi tentang siapa Kristus melalui tingkah laku kita, mulut bibir kita bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Di dalam konteks ini Petrus memberikan nasihat karena dia adalah pemimpin Gereja pada saat itu. Dia menceritakan bahwa dia adalah saksi Tuhan dan bagaimana dia punya pengalaman bersama-sama dengan Kristus di taman Getsemani. Di dalam bagian ini Petrus berani memberikan nasihat. Pertanyaan kita, mengapa rasul Petrus memberikan nasihat? Disini kita bisa melihat Petrus ingin memberikan sesuatu yang terbaik. Dia menjadi pimpinan Gereja pada saat itu, seperti Paus dalam konteks sekarang ini. Dia mau setiap orang itu sadar jangan sampai hidup kita akhirnya tersesat, jangan kita seperti srigala berbulu domba, jangan kita menjadi pemimpin yang dualism, setengah srigala, setangah domba, dan kita adalah orang-orang yang sudah mendapatkan penebusan daripada Kristus, kita harus siap menghadapi tantangan dan penganiayaan dengan jujur dihadapan Tuhan. Petrus sebagai pimpinan Gereja menasihatkan sesamanya yaitu fellow elder agar Gereja-Gereja pada saat itu dan fellow elder seluruh umat Tuhan boleh berdiri teguh menghadapi penganiayaan demi penganiayaan dengan iman yang selalu bercahaya bagi Tuhan.

Apa yang diinginkan Petrus dengan nasihatnya? Petrus memberitahu kepada mereka biarlah antara jabatan dan kelakuan jangan terjadi suatu perbedaan. Kita menjadi umat Tuhan salah satunya diuji keimanan kita ketika menghadapi kesulitan, ketika menghadapi akan cobaan, ketika akan menghadapi penghakiman, ketika hidup kita semuanya lancar, hidup kita akan diuji. Maka di dalam situasi ini jangan kita sampai punya kelakuan yang beda antara jabatanmu sebagai fellow elder dengan nilai kesaksian hidupmu karena kita tahu pengalaman Petrus  di dalam Yohanes 21 : 17, dimana akhirnya Petrus diingatkan oleh Tuhan Yesus engkau adalah orang yang harus berubah di dalam Tuhan. Tuhan Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, apakah engkau sungguh mengasihi Aku? Pada waktu yang ketiga, Petrus menangis. Dia menjawab, Engkau tahu Tuhan akan kedalaman hatiku, Engkau tahu Tuhan akan segala sesuatu bahwa aku sungguh mengasihi-Mu. Kenapa Petrus perlu tiga kali ditanya? Karena dia pernah tiga kali menyangkal Tuhan Yesus. Jadi kenapa terjadi perbedaan? Ketika Petrus ditanya oleh seorang wanita setelah penangkapan Yesus, bukankah dia murid Tuhan? Bukankah engkau dari salah satu pengikut Dia? Petrus jawab, Bukan, saya tidak kenal orang itu. Disitulah kita baru tahu bagaimana antara hidup kita yang sudah disebut vicar of Christ atau witness of Christ ketika diperhadapkan dengan tantangan dan ancaman, kita cari aman, Petrus cari aman, playing save. Petrus punya pengalaman itu, sehingga di dalam perjalanan waktu, dia mengerti apa yang aku tahu tentang Kristus, apa yang aku hidupi tentang Kristus, dan apa yang harus aku mengerti tentang Kristus dalam hidupku biarlah semuanya transparan. Ada aspek integratif, ada aspek yang bersifat to be being, sesuatu yang bersifat terus menerus dan ada nilai being life. Jadi dalam bagian inilah Petrus tidak mau lagi ada kesenjangan antara apa yang dia tahu tentang Kristus, dengan apa yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari ditengah kesulitan. Petrus mengingatkan jemaat di Asia Kecil yaitu waktu engkau mengerti tentang Tuhan, hidupi apa yang kau mengerti tentang Tuhan dan lakukan dalam seluruh hidupmu ditengah-tengah kesulitan apapun juga. Jangan cari aman, jangan cari korban, harus berani jujur dihadapan Tuhan, berani menyatakan engkau adalah anak Tuhan yang sejati. Ketiga, kenapa nasihat ini penting? Kita tahu sendiri ketika Yesus berkata dalam Matius 23 : 14, disitu Yesus memberikan satu penekanan kemarahan kepada orang-orang Yahudi, kepada orang-orang farisi, dan disebut oleh Yesus mereka adalah orang-orang munafik. Kenapa munafik? Karena mereka double standart. Kenapa mereka double standart? Karena mereka dualism, tidak transparan, tidak sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran, play save, dan selalu kompromi. Karena itu Yesus marah dan berkata engkau sudah menelan banyak kaum janda, engkau sudah banyak merugikan kaum janda dengan tipuanmu, dengan doa-doa dan nasehatmu, celakalah engkau, hukuman yang paling berat akan ditimpakan kepadamu. Kenapa? karena mereka adalah wakil Kristus. Mereka seharusnya menjadi wakil-wakil Allah ditengah Gereja, ditengah pemerintahan, tetapi mereka justru merugikan nama Tuhan, dan disitu Kristus mengatakan penghakiman akan tiba untuk engkau. Jadi disini ketika kita menjadi fellow elder, atau vicar of Christ atau witness of Christ, ingat jangan sampai kita menyedihkan hati Tuhan, jangan sampai kita double standart, hidup kita harus transparan dimanapun kita berada dan di dalam situasi apapun buktikan kita adalah anak Tuhan yang sejati. Jadi di dalam konteks ini Petrus tetap mengkaitkan dengan 1 Petrus 4 bahwa penghakiman itu dimulai di keluarga Allah itu sendiri. Di sini berarti pada waktu kita mendapat anugerah melayani Tuhan itu semua harus dikerjakan dengan maksimum, dan jangan sampai kita dihukum oleh Tuhan. Kesimpulan dalam bagian ini adalah rasul Petrus memberikan nasehat supaya mereka yaitu fellow elder  sadar akan “KEWAJIBANNYA”. Alkitab mengajarkan kepada kita dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru yaitu kewajiban, satu nilai responsibility. Itu berarti menjelaskan dan ditekankan bagaimana hidup kita dicipta oleh Tuhan, kita hidup untuk memuliakan Tuhan, kita hidup untuk menyenangkan Tuhan. Tetapi zaman sekarang banyak berubah, banyak hak dan kewajiban tidak lagi ditekankan. Disinilah kenapa dunia sekarang kacau, karena dunia mengalami krisis identitas dan manusia mentuhankan diri karena lupa kewajiban, lupa responsibility. Alkitab mengajarkan kita agar punya aspek responsibility pada waktu kita diberikan kebebasan sebagai bukti kita punya iman. Melalui Perjanjian Baru kita ditekankan lagi bagaimana hidup berkarakter Kristus ditengah situasi apapun juga, itu berarti juga menekankan responsibility. Kita harus memperbaharui karakter kita setelah hidup dalam Kristus tidak boleh sama dengan dunia ini, hidup benar ditengah-tengah situasi yang tidak benar, itu pun menekankan satu responsibility itu sendiri. Kita belajar bagaimana ketika kita mementingkan bagian kita sebagai fellow elder, Petrus katakan itu adalah pekerjaan yang mulia. Disini kita harus menghargai Kristus yang sudah mati menebus kita, mendorong kita untuk melayani Tuhan, dan pada waktu engkau menerima pelayanan itu, itu pekerjaan yang mulia, harus kita jaga baik-baik dan harus kita buktikan kita adalah pelayan yang layak disebut pelayan yang setia.

Apa kewajiban daripada fellow elder? Yaitu melayani. Melayani apa? Gembalakanlah kawanan domba Allah. Yesus berkata Akulah Gembala yang agung, Akulah Gembala yang baik, Aku memberikan nyawaku untuk domba-domba-Ku, dan setiap domba-domba-Ku mendengar akan suara-Ku, mengikuti akan pimpinan-Ku. Akulah Gembala yang baik. Kita orang-orang yang sudah ditebus minimal kita harus bisa menggembalakan diri kita. Jika kita mau dijadikan fellow elder, tetapi kita tidak bisa menggembalakan diri kita, masih banyak masalah yang belum kita bereskan dalam diri kita, masih banyak sifat keburukan kita yang belum dihancurkan, inilah tugas yang harus kita bereskan bahwa hidup kita yang sudah ditebus oleh Kristus kita harus menang atas dosa. Hidup kita harus senantiasa bisa kita gembalakan, jiwa kita harus bisa kita gembalakan seperti Daud berkata kepada jiwanya, hai jiwaku kenapa engkau tertekan, kenapa engkau tertindih dengan beban berat, bangunlah dan bangkitlah. Ini berarti Daud sedang berbicara untuk dirinya dalam konteks menggembalakan dirinya, maka kita percaya sekali firman adalah penggembalaan untuk hidup kita dengan tepat sesuai dengan 2 Timotius 3 : 16, firman baik untuk menyatakan kesalahan kita, firman baik untuk mengajar kita, firman baik untuk memperbaiki kita, firman baik untuk mendidik kita dalam kebenaran. jadi kalau kita mau sungguh-sungguh menjadi fellow elder yang baik, gembalakan dirimu, supaya hidup kita jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain dan menjadi berkat untuk rekan sesama kita. Kehadiran kita harus punya dampak terhadap orang-orang disekitar kita. Kita disebut fellow elder, wakil Tuhan, saksi Tuhan, tugas kita adalah ketika kita melayani mereka kita harus memberikan makanan rohani. Di dalam istilah Yunaninya itu mengingatkan kepada kita, kita harus pelihara mereka, kita harus melindungi mereka. Jadi disini menunjukan kepada kita domba adalah binatang yang lemah, dia perlu dituntun, tetapi yang luar biasa domba punya kepekaan telinga, salah satu binatang yang punya kepekaan telinga adalah domba, dan dia bisa tahu ketika gembalanya membunyikan loncengnya. Jadi kalau kita disini sebagai fellow elder, dan kita ketika menggembalakan kawanan domba disekitar kita ingatlah berikan firman yang baik untuk mereka.

Bagaimana kita bisa menjadi fellow elder yang baik? Rasul Petrus mengatakan kita harus punya karakter yang baik. Konteks di dalam setiap penafsir mengatakan rasul Petrus tahu pada saat itu ada orang-orang fellow elder yang karakternya tidak baik, melayani Tuhan karena terpaksa, bukan karena kerelaan. Kenapa kita harus melayani Tuhan karena kerelaan? Karena kita sudah ditebus oleh Kristus. Jikalau kita sudah diberi kesempatan untuk melayani Tuhan pasti kita relanya luar biasa, karena disitulah kita sadar inilah yang bisa aku berikan kepadamu Tuhan karena Engkau sudah menebus aku, maka wajar bagiku memberikan kepintaranku, pengalamanku, tenagaku, uangku untukmu Tuhan. Jadi kalau semua dikerjakan dengan rela pasti terasa ringan. Di sini kita belajar, ketika kita sadar Kristus adalah Juruselamatku, aku harus melayani Dia, pada waktu engkau menjadi fellow elder harus rela, jangan terpaksa, tetapi engkau aktif sendiri menggerakkan dirimu. Kedua, karakter yang buruk suka cari keuntungan. Orang yang cari untung ini adalah orang yang sangat-sangat berdosa. Orang seperti ini tidak akan melayani Tuhan dengan punya aspek kesetiaan dan pengabdian. Tetapi fellow elder memiliki pengabdian, punya kesetiaan, kelak nanti kalau kita bertemu dengan Tuhan Yesus kita akan dipanggil hai hamba-hamba-Ku yang setia mari pulanglah. Yang ketiga rasul Petrus katakan karakter yang buruk adalah suka memerintah, jiwanya bosi. Rasul Petrus disini tidak menempatkan dirinya sebagai pemimpin Gereja, melainkan sesama penatua aku menasehatkan kamu. Jadi menunjukkan jangan di Gereja itu seperti bosi karena Gereja adalah milik Tuhan. Di Gereja bosnya adalah Yesus Kristus, kepalanya adalah Yesus Kristus, kita semuanya adalah fellow elder. Maka dituntut disini adalah karakter yang baik daripada fellow elder adalah punya keteladanan, punya nilai contoh yang baik dalam segala hal, dan kalau kita pernah belajar daripada surat Yakobus, kita jelas sekali konsep kinerjanya adalah waktu kita hidup bekerja buktikan jangan banyak omong, jangan banyak perintah, buktikan engkau punya iman, punya nilai wujud iman, kerja, melayani, ada orang susah berikan solusi. Jadi disini Alkitab mengajarkan kepada kita nilai keteladanan itulah suara yang paling efektif untuk kita menyaksikan siapa diri kita. Ada lagi dalam pengamatan saya kelemahan daripada fellow elder dan karakter yang baik. Banyak orang statusnya adalah fellow elder tetapi suka malas. Amsal sudah mengatakan kalau kita malas harus belajar dari semut, jadi kalau ada fellow elder suka malas biasanya karakternya tidak suka pengorbanan. dia tidak mau berkorban tenaga, waktu dan uang. Kita tidak demikian, karena Yesus mengajarkan gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Dan aspek yang kedua karakter yang buruk suka kekuasaan, jadi dia mau terus tampil dalam posisi-posisi yang penting. Biasanya orang seperti ini tidak suka ketaatan dalam berdoa, doa pagi, doa Penginjilan, ikut KKR regional, ikut Penginjilan pribadi, tidak suka. Tetapi kalau untuk kekuasaan, mengatur, dia sangat hebat dan itu yang dia mau. Menjadi pertanyaan, apakah Tuhan suka dengan orang seperti ini? Tidak. Kenapa? Karena Gereja tidak butuh orang-orang seperti ini, karena Gereja butuh orang-orang yang melayani dengan kerendahan hati. Yang ketiga adalah orang yang suka pujian, jadi terus mau tampil dimana nanti orang-orang bisa puji dia dan terlihat hebat, dan orang seperti ini tidak suka kritikan.

Bagaimana Menurut Calvin kebahayaan Gereja? Menurut Calvin kebahayaan adalah ketika gereja menjadi tempat “self esteem”. Kenapa demikian? Karena kita tahu bagaimana Calvin pada waktu membangun Jenewa 3 tahun dia harus di usir karena orang-orang pada saat itu tidak suka dengan adanya konsep firman menerangi kekuasaan pemerintah, menerangi tata tertib daripada hidup-hidup yang benar pada saat itu. jadi kita tahu konsep daripada konsistori yang dibangun oleh Calvin ditolak sampai dia terbuang, tetapi setelah itu dia tahu betapa itu penting maka pemerintah pada saat itu memanggil Calvin kembali, dan dia melayani 25 tahun di Jenewa, jadi totalnya 28 tahun. Kenapa pada saat itu terjadi kekacauan di Jenewa? Karena salah satunya banyak pemuka, pemerintah mencari self esteem, mencari penghormatan yang tidak pada tempatnya, mencari aktualisasi diri yang tidak pada tempatnya. Maka ketika Gereja menjadi tempat self esteem untuk orang dapat pujian dan pengakuan, dapat kehormatan, bukan menyatakan Tuhan yang dipermuliakan, bukan menyatakan Tuhan yang harus kita tinggikan, tetapi diri orang itu terus yang mau dapat pujian, saat itulah menurut Calvin melihat gereja akan kacau. Jadi di dalam bagian ini apa yang sudah dialami oleh Calvin ketika membangun konsep konsistori di Jenewa itu menyadarka kita. Hal ini juga dilihat oleh surat Petrus, hati-hati Gereja bukan tempat wadah untuk self esteem. Kenapa ini penting? Karena kita tahu Gereja hanya untuk melayani Tuhan. Kalau Gereja hanya untuk melayani diri dan bukan Yesus Kristus, Gereja itu akhirnya menjadi tempat pamer kehebatan orang-orang. Apakah iman jemaat terbangun? Tidak. Jadi di dalam bagian ini mari kita melihat Gereja adalah milik Tuhan. Ketika kita masuk terhisap menjadi eklesiologi (Gereja), kumpulan orang-orang suci untuk melayani Tuhan, mari kita menekankan bahwa kita melayani Tuhan bukan melayani diri, bukan melayani organisasi, bukan melayani kepentingan hobiku, tetapi aku melayani Tuhan pemilik Gereja.

Mengapa karakter fellow elder ini penting? Karena Petrus mengatakan jikalau Gembala yang Agung itu datang Dia akan memberikan kepada kita mahkota kemuliaan. Setiap kita mahkotanya akan berbeda satu dengan yang lain. Apa yang membedakan? Sesuai dengan seluruh fellow elder kita. Kalau dalam hidupmu engkau bisa mempertanggungjawabkan nilai vicar of Christ mu, witness of Christ mu dengan baik, dan banyak jiwa engkau menangkan, mahkotanya beda, dan hanya Tuhan yang tahu. Marilah kita bisa menyenangkan Tuhan dengan hidup kita dan banyak menggunakan waktu dalam setiap kesempatan, tenaga kita untuk kelak kita disebut orang yang setia dan kita akan mendapatkan mahkota kemuliaan pada waktu Kristus akan datang.