Kerendahan Hati

2016-11-20 - Pdt. Tumpal H. Hutahaean

1 Petrus 5 : 5. 5

1 Petrus 5 : 5. 5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."

Amsal 11 : 2. 2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati. (When pride comes, then comes disgrace, but with the humble is wisdom). Bila diterjemahan dari kalimat bahasa Inggris, maknanya menjadi “ketika kecongkakan itu memimpin, akan mendatangkan satu aib atau hal yang memalukan, tetapi dengan kerendahan hati akan datang hikmat.” Bagian ini mengingatkan kita Mazmur 37 : 11. Di sana pemazmur mengingatkan kepada kita orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri, dan orang yang rendah hati akan selalu disertai oleh Tuhan.

Pendahuluan

Dimana ada kerendahan hati, di sana ada hikmat dan damai.
Ternyata aspek kerendahan hati adalah sesuatu yang sangat penting. Mengapa? Karena dengan kerendahan hati kita bisa mematikan aspek keegoisan kita. Hal ini berkaitan dengan jemaat yang berada di dalam kesulitan dan penganiayaan dan Petrus mengatakan engkau harus melayani (ayat 1 – 4). Sikap yang kedua setelah engkau melayani adalah jangan lupa belajar rendah hati antara satu dengan yang lain. Itu menjadi penekanan yang penting dari Petrus untuk jemaat di tempat-tempat penganiayaan dan tempat-tempat yang sulit.

Apakah setiap orang Kristen pasti memiliki karakter rendah hati?
Setiap orang Kristen harus memiliki karakter rendah hati. Di dalam sejarah, tokoh yang paling terkenal berbicara tentang kekudusan dan kerendahan hati yang pertama adalah Andrew Murray. Andrew Murray mengatakan, orang yang rendah hati adalah orang yang menunjukkan telah memiliki perubahan dalam Kristus. Jadi artinya adalah orang yang sungguh-sungguh dalam Kristus pasti perlahan lepas, perlahan terjadi perubahan karakter oleh karena pekerjaan Allah Roh Kudus dalam hatinya dan salah satu yang di garap adalah kerendahan hati. Hal ini memberitahu kepada kita bahwa ternyata Andrew Murray tidak melepaskan antara kerendahan hati dengan kekudusan. Mengapa? Karena orang yang mengejar kekudusan dan mementingkan kekudusan pasti akan menghasilkan buah kerendahan hati yang akan dia hidupi, karena dia tahu kesombongan itu adalah dosa, kesombongan itu adalah buah iblis. Di sini nyata bahwa Tuhan bisa memakai satu tokoh yang terkenal dalam sejarah Gereja yaitu Andrew Murray.

Mengapa karakter rendah hati sangat penting dalam kehidupan orang Kristen?
Apa yang rasul Petrus ingin tekankan bagi jemaat di Asia Kecil ketika menghadapi penganiayaan demi penganiayaan, bukanlah mengasihi diri, bukan minta belas kasihan orang lain, dan bukan untuk mendapatkan satu privilege khusus. Justru ayat 1 – 4 mengajarkan kepada kita untuk mereka boleh setia di dalam melayani menjadi fellow elder senantiasa. Yang kedua, untuk mereka belajar bagaimana yang muda menghormati yang tua, dan bagaimana bersama-sama menjadi satu di dalam ikatan Gereja, ikatan pelayanan, ikatan relasi dengan luar, mereka harus punya aspek kerendahan hati. Jadi di sini kerendahan hati sangat penting karena menunjukkan kita sungguh-sungguh anak Tuhan yang sejati, kita sungguh-sungguh sudah digarap oleh Allah Roh Kudus, dan kita sungguh-sungguh menyadari betapa diri kita ini tidak ada apa-apanya. Kita belajar melihat hal ini penting dalam kehidupan komunitas Gereja, karena dimana karakter rendah hati hadir, disitu damai hadir. Jadi jika dimana kita hadir tidak ada damai mungkin kita membawa keegoisan kita, mungkin kita mau diri kita dianggap lebih penting daripada orang lain, disitulah maka damai tidak terjadi.

Pembahasan

Apa artinya yang muda harus tunduk kepada yang tua? Di dalam budaya-budaya Indonesia ada budaya yang begitu kaku dimana yang tua tidak boleh ditegur oleh yang muda, dan bahkan orang tua pun tidak boleh mendengar nasehat daripada anaknya. Jika anak memberikan nasehat, maka dianggap oleh budaya, orang itu sebagai anak yang kurang ajar. Pertanyaan kita apakah Alkitab mengajarkan demikian? Ketika kita tunduk, kita melihat Alkitab memberitahu kepada kita dalam 1 Timotius 5 : 1 janganlah engkau keras terhadap orang yang tua. Apa artinya? Artinya mengajarkan kepada kita anak muda harus memiliki hati yang siap diajar, hati yang bisa menerima setiap masukan-masukan daripada orang yang tua. Di sinilah kita belajar, pada waktu kita sebagai orang yang muda, milikilah kelembutan hati pada waktu orang yang sudah tua berbicara kepada engkau. Tetapi selanjutnya apakah kita boleh menegur? Ternyata boleh. Tegurlah dia sebagai bapak. Jadi misalnya ada sesuatu yang salah dari seorang yang sudah tua, aspek yang kedua sebagai orang yang muda boleh menyampaikan teguran tetapi dengan sopan, dengan hormat, dengan penuh kasih, karena dia kita menghormati dia sebagai orang tua. Alkitab mengajarkan kepada kita hukum relasi adalah hukum edukasi. Engkau berelasi dengan yang muda, engkau berelasi dengan yang tua, yang tua berelasi lagi dengan yang paling tua, saling menegur untuk karakter kita lebih baik lagi menjadi pengikut Tuhan. Saling menegur untuk iman kita lebih baik lagi dalam kita mengikuti Tuhan. Saling menegur supaya kita menggunakan waktu ini lebih baik lagi dalam situasi yang sulit agar kita boleh terus mengutamakan Tuhan. Aspek yang kedua contohnya adalah sikap hormat Musa kepada Miriam dan Harun. Musa yang paling muda, Miriam dan Harun adalah kakak. Dan di dalam catatan kita dapat melihat Musa tidak pernah mengecewakan Miriam walaupun dia pemimpin. Musa tidak pernah mengecewakan Miriam dan Harun walaupun dia punya kuasa penyertaan Tuhan. Tetapi apa yang terjadi di dalam Bilangan 12:1–16? Miriam dan Harun ditegur Tuhan karena iri kepada Musa. Penyakit iri terlihat di sini dan itu bukan penyakit dari anak Tuhan. Apa beda iri, ingin dan butuh? Iri adalah sesuatu yang kita harapkan namun tidak kita dapat, dan waktu kita melihat orang lain mendapat kita gelisah dan mau, akhirnya kita mencurigai setiap orang yang melakukan itu. Sedangkan ingin adalah sesuatu yang kita lihat itu baik, sesuatu yang kita lihat itu mungkin memuaskan hati kita, itu ingin. Tetapi kalau butuh adalah sesuatu yang kita mau capai sesuai dengan yang natural yang Tuhan mau dan Tuhan pimpin. Jadi di dalam bagian ini ketika kita ingin, haruskah kita dipuaskan? Tidak. Tetapi jika anak kita memang butuh seragam sekolah, butuh alat-alat sekolah, butuh untuk dia punya fungsi mobilitas di dalam penggunaan kendaraan dan telepon genggam dan yang kita belikan itu adalah sesuatu yang butuh, boleh tidak? Boleh, karena itu adalah sesuatu yang pokok. Di sini kita melihat Miriam dan Harun iri dan ingin seperti Musa. Pertanyaannya wajar tidak? Tidak wajar. Hati-hati! Adik kakak pun dalam hal rohani bisa iri-irian. Kenapa akhirnya Miriam dan Harun dihukum Tuhan? Karena aspek iri. Jadi iri hati bisa membuat awal kehancuran.

Apa yang membuat anak muda pintar?
Mazmur 119 : 98 – 102. 98 Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.  100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. Jadi dalam bagian ini kita belajar bagaimana seharusnya anak-anak muda yang menjadi pengikut-pengikut Tuhan, bagaimana kita bisa berubah karakternya, bagaimana kita punya hikmat daripada Tuhan dan hidup kita boleh dipakai Tuhan dalam pekerjaan, dalam usaha, dan dalam aspek-aspek yang lain. Perintah Tuhan membuat aku lebih bijaksana daripada musuh-musuhmu, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Ini berbicara tentang bagaimana Daud menghidupi firman Tuhan. Di dalam filsafat pendidikan Unesco, learning to know, learning to understanding, learning to be, learning to live together. Di dalam 4 filsafat tahapan Unesco ini semuanya bersumber dari Alkitab. Alkitab pun mengajarkan kepada Timotius, bahwa apa yang sudah engkau tahu, yang aku ajarkan kepadamu, ajarkanlah itu juga kepada orang lain yang layak untuk engkau percayai (2 Timotius 2:2). Jadi pengetahuan tidak boleh dikudeta, pengetahuan tidak boleh dikuasai oleh dirimu sendiri, karena pengetahuan akan firman mengandung iman, maka dibagikan untuk orang lain. Mengapa banyak anak-anak muda dan kita yang cepat maju? Karena kita selalu mau menjadikan firman menjadi bagian dari hidup kita. Ayat selanjutnya: 101 Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.  102 Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku. Perhatikan, kenapa anak-anak muda bisa maju? Karena berkomitmen tidak mau menyimpang dari jalan Tuhan. Apa artinya? Tidak mau menyedihkan hati Tuhan karena dosa, tidak mau mengecewakan orang tua yang sudah Tuhan beri, tidak mau mengecewakan guru-guru di Gereja, di sekolah yang sudah mengajar aku. Jadi kunci untuk kita bisa dipakai Tuhan adalah kita punya komitmen tidak mau jatuh dalam dosa, karena kita memegang firman Tuhan dan tidak mau kompromi. Komitmen menyimpan hukum Tuhan ada di dalam hatinya. Di dalam hukum Tuhan pasal 1 – 4 membicarakan hukum kekudusan dengan Tuhan secara vertical. Dari pasal 5 – 10 membicarakan hukum kekudusan bersifat horizontal. Kenapa kita bisa menjadi pintar? Kenapa kita bisa menjadi berhikmat? Karena kita menyimpan hukum Tuhan, hukum kekudusan Tuhan 1 sampai 4 dalam hati kita dan kita hidupi, dan 5 sampai 10 hukum horizontal kekudusan kita hidupi. Mari kita belajar, kalau ini ditempel di kamar anak-anakmu, di kantormu, mengingatkan kita bagaimana seharusnya kita hidup sekolah iman itu lebih penting.

Selanjutnya Alkitab mengajarkan rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain. Dalam terjemahan LAI ini kurang tepat, dalam terjemahan yang asli memakai istilah dalam bahasa Inggris clothe, jadi Clothe yourselves, all of you, with humility toward one another, for "God opposes the proud but gives grace to the humble." Kata kenakanlah jubah, kenakanlah pakaian daripada dirimu di dalam bahasa Yunani memakai evgkombw,sasqe, ini menunjukan satu verb aorist, sesuatu yang kita di dalam seluruh hidup kita, identitas kita, dalam hati kita, kita harus menjadi orang yang rendah hati. Ini bukan berbicara pakaian secara lahiriah, ini berbicara kenakanlah pakaian itu, kenakanlah dirimu dengan kerendahan hati. Jadi ini menggambarkan apapun yang diikat dengan simpul dan digunakan untuk pakaian seorang budak. Kalau kita bandingkan ini nanti dengan Yohanes 13 semuanya jelas memberitahu kepada kita identitas kita sebagai anak Tuhan. Pakaian hati kita adalah rendah hati. Jadi dimanapun engkau berada ingat harus ada aspek kerendahan hati.

Apa itu pelayanan kerendahan hati?
Dalam bagian Yohanes 13 menceritakan kepada kita, Yesus mencuci dan membersihkan kaki murid-murid-Nya dengan tangan-Nya dan dengan kain yang ada ditubuh-Nya. Mengapa? Karena dalam konteks Yohanes 13 Yesus menceritakan orang yang sudah mandi tidak perlu lagi dibersihkan, tetapi ada bagian tubuh yang perlu dibersihkan yaitu kaki. Jadi pada saat itulah Yesus memberikan yang terbaik kepada murid-murid-Nya. Pelayanan kerendahan hati adalah pelayanan sikap hati. Pelayanan sikap hati yang melihat diri tidak ada apa-apanya, dan melihat orang lain itu lebih penting.

Bagaimana supaya kita bisa menjadi pelayan yang rendah hati?
26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;  28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26-28). Definisinya dikatakan menjadi pelayanmu, diakonos. Ini menggarap sikap hatimu. Jadi kalau kita dinamai diakonos berarti kita datang ke Gereja bukan untuk dilayani, melainkan kita memang mau melayani, jadi kita tidak pernah melihat diri kita penting, kita melihat diri kita nothing, yang lain itu penting, dan God is everything. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang rendah hati bukan yang jalannya lemah gemulai, melainkan sikap hati yang melihat dirinya adalah diakonos. Yang kedua, “dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”. Dari kata diakonos lebih dalam lagi menjadi doulos. Jadi doulos adalah hamba kebenaran, hamba Tuhan disebut doulos, orang yang dipanggil menjadi murid Tuhan disebut doulos, orang yang dipanggil untuk memberitakan firman Tuhan disebut doulos. Jadi doulos adalah hamba kebenaran, doulos adalah hamba Tuhan, alat kemuliaan Tuhan. Jadi kalau kita mau menjadi pelayan yang rendah hati, ingat, dahulu engkau adalah budak dosa, dahulu kamu budak kecemaran, sekarang di dalam Kristus kamu menjadi doulos-doulos Tuhan, di dalam Kristus kamu menjadi hamba kebenaran, hamba kesucian, yang lebih tinggi lagi kamu menjadi hamba Tuhan. Jadi disini mengajarkan kita, waktu kita melayani dalam kerendahan hati, ingat hidupmu ditebus Yesus Kristus, hidupmu adalah milik Tuhan. Maka ketiga, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Dari kata diakonos, doulos, sekarang dunai. Itu memberitahu kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup mau memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Jadi kalau Kristus sudah memberikan yang terbaik kepada kita, yaitu diri-Nya mati menebus dosa-dosa kita, maka disini dikatakan engkau jangan puas kalau engkau menjadi diaken, engkau jangan puas kalau engkau menjadi doulos, engkau harus menjadi orang yang dunai, orang yang terus memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Maka orang yang rendah hati, orang yang melihat sikap hati selalu mau menjadi diaken, melayani, bukan menuntut untuk dilayani. Kedua, dia menjadi hamba karena dia teringat dahulu aku hamba dosa, aku hamba kecemaran, aku hamba setan, sekarang aku sudah ditebus oleh Yesus Kristus, aku sudah diperbaharui, maka mentalmu adalah melayani dalam bentuk sukacita, melayani dalam memberikan yang terbaik karena kita sudah hidup bagi Tuhan. maka yang ketiga diingatkan berilah terus aspek yang terbaik untuk Tuhan. itu yang disebut namanya pelayanan kerendahan hati.

Mengapa Allah menentang orang-orang sombong dan memberikan kasih karunia kepada yang rendah hati?
Terjemahan yang lebih benar adalah Allah memberikan kasih karunia, bukan hanya sekedar Allah mengasihi orang yang rendah hati. Mari kita membaca Amsal 3 : 33 – 34. 33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya.  34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.  35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh. Yakobus 4 : 6 juga berbicara hal yang sama karena sumbernya dari bagian ini. Mengapa rumah kita kadang-kadang tidak ada damai? Karena kutuk Tuhan ada di dalam rumah orang fasik, ada dosa kefasikan di dalam rumah kita, ada dosa kesombongan di dalam rumah kita, jadi rumah kita bukan menjadi rumah yang diberkati oleh Tuhan. ayat selanjutnya “tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya”. Jadi marilah kita menggarap rumah kita menjadi rumah dimana kita menjadi murid kebenaran. maka di ayat 34 apabila ia menghadapi pencemooh, Tuhan akan mencemooh orang itu, Tuhan akan menghina orang itu. kenapa rasul Petrus penting menggarap ini untuk jemaat di Asia Kecil yang hidupnya susah dan hidupnya di aniaya ternyata tidak lain supaya mereka terus menunjukan kualitas karakter perubahan mereka dan menikmati kesulitan itu di dalam anugerah dan penyertaan Tuhan.

Jadi kotbah hari ini sangat penting untuk kita disadari bahwa orang-orang yang sombong hanya akan mendatangkan satu kehinaan, hal yang memalukan, tetapi kita yang rendah hati kita akan memiliki hikmat dari Tuhan, seperti apa yang kita pelajari dari Mazmur 119. Biarlah setiap kita terus teringat diri kita adalah orang yang pertama mendapatkan belas kasihan Tuhan. Tuhan mau menjadi sama dengan kita, itu menunjukan Kristus sangat merendahkan diri-Nya karena kasih-Nya untuk kita, dan biarlah setiap kita mau terus  belajar untuk menjadi rendah hati.