Kerendahan Hati (II)

2016-12-04 - Pdt. Tumpal H. Hutahaean

1 Petrus 5 : 6 - 7

Hari ini kita akan melanjutkan tema yang kedua yaitu tentang kerendahan hati. Kita akan melihat daripada 1 Petrus 5 :  6 - 7. 6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.  7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.


Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan, mengapa karakter kerendahan hati sangat penting untuk membentuk diri kita? Ini dikarenakan Alkitab melihat bahwa kerendahan hati merupakan suatu nilai esensi karakter yang paling pokok yang harus kita pelajari daripada Yesus Kristus. Maka dari itu Paulus pada Filipi 2:1-11 menyuruh kita harus meniru pribadi Yesus Kristus.


Pertanyaan saya bagi bapak ibu, mungkinkah kerendahan hati bisa dipelajari secara lahiriah? Jawabannya bisa. Karena dalam dunia sekuler banyak dilatih cara bersikap rendah hati misalnya saja dalam public relation, begitu banyak orang-orang yang bekerja berhadapan dengan orang-orang di luar maka mereka dilatih dalam bersuara bagaimana nadanya, bagaimana senyumnya, bagaimana dalam menyapa, kelihatannya punya aspek sopan. Namun apakah mereka sungguh-sungguh memiliki kerendahan hati, dan juga menghargai setiap orang dengan tulus? Jawabannya belum tentu.
Maka dari itu di sini kita belajar bahwa kerendahan hati  yang asli bukan berasal dari lahiriah saja atau sekuler melainkan karena seseorang sudah ditaklukan oleh Kristus, apabila hidup kita sudah ditaklukan oleh Kristus maka kita tidak akan melihat hidup kita lagi sebagai something atau everything melainkan nothing dihadapan Tuhan. Karena kita sadar bahwa seluruh hidup kita hanya anugerah Tuhan. Sehingga ketika kita melihat Tuhan kita melihat bahwa Tuhanlah yang something dan everything dalam kehidupan kita. Ketika kesadaran ini ada dalam hidup seseorang maka dia akan memiliki kerendahan hati yang asli.


Menjadi pertanyaan buat kita semua, apakah benar perkataan yang mengatakan bahwa kerendahan hati adalah ibu dari kesuksesan?  Jawabannya adalah benar. Karena Tuhan membenci orang yang congkak, maka Tuhan akan menghajar orang-orang yang sombong. Tetapi Tuhan mengasihi orang yang rendah hati, dan siapa yang memiliki kerendahan hati dia akan memiliki bumi, dan siapa yang memiliki kerendahan hati dia akan terus dipelihara oleh Tuhan. Oleh sebab itu, banyak tokoh Kristen seperti Andrew Murray, John Calvin dan orang-orang puritan yang menekankan aspek kerendahan hati. Sehingga orang rendah hati melihat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa tetapi berani melakukan pekerjaan Tuhan yang ada apa-apanya, melihat diri lemah tetapi berani melakukan pekerjaan Tuhan yang besar. Disini kita bisa lihat bahwa kerendahan hati itu adalah suatu kekuatan untuk kita mendapatkan penyertaan Tuhan.


Lalu, mungkinkah orang yang rendah hati makin lama makin rendah hati tetapi imannya makin hancur? Jawabannya tidak mungkin. Karena kerendahan hati menunjukan bahwa iman seseorang hidup, dan orang yang imannya hidup selalu menunjukan kerendahan hati dalam perilaku setiap hari. Jadi antara iman dan kerendahan hati tidak mungkin bisa dipisahkan.


Kemudian dalam 1 petrus 5:6-7 apa maksudnya “rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat”? Disini Petrus ingin mengajarkan bahwa kita sebagai manusia tidak boleh sombong sebab tangan tuhan yang kuat yang menopang engkau maka kekuasaan pemerintah apapun juga , kekuasaan manusia apapun juga, kekuasaan militer apapun juga tidak bisa merebut jiwamu dari pada tangan-Ku. Ini berarti menunjukan kepada kita betapa hebatnya Tuhan kita yang bisa memelihara jiwa kita, betapa hebatnya Tuhan kita yang bisa menjaga seluruh kehidupan kita secara fisik. Dan walaupun kita tahu Tuhan mengijinkan Ayub dicobai oleh setan secara fisik, tetapi jiwanya tidak. Setan bisa diijinkan dalam batasan tertentu boleh dia sungguh menyentuh akan setiap lahiriah kita, fisik kita, tetapi jiwa kita tidak mungkin bisa dikuasai oleh setan, jiwa kita tidak mungkin bisa dikendalikan oleh kuasa manapun juga. Karena hidup kita dijaga hanya oleh tangan Tuhan yang kuat. Maka dari itu jangan sombong, tapi harus rendah hati.


Ternyata tangan Tuhan yang kuat ini juga di catat di dalam Keluaran 13 : 9. Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu; sebab dengan tangan yang kuat TUHAN telah membawa engkau keluar dari Mesir (band, Ul 3:24, 9:26). Dan di dalam ayat ini “tangan yang kuat” dikaitkan dengan sikap ibadah kita dihadapan Tuhan. Didalam budaya Yahudi ada yang namanya shel-yed, yaitu bagaimana pada waktu orang-orang Yahudi beribadah tangan mereka harus diikat dengan kain hitam sampai setiap jari-jarinya, dan pada waktu mereka berdoa mereka harus ingat shel-yed, supaya mereka sadar bawah aku berdoa karena aku punya Allah yang kuat, aku berdoa karena punya Allah yang tangan-Nya perkasa yang bisa memimpin umat Tuhan keluar daripada Mesir menuju tanah Kanaan. Jadi mereka percaya sekali ada tangan Tuhan yang tidak kelihatan namun nyata penyertaan-Nya melalui kehidupan umat Tuhan. dan tanda yang kedua adalah tefilin, diikat di dahi. Pada waktu diikat di dahi di taruh satu kotak didepannya, dan kotak didepannya seperti gambar daripada bait Allah, dan itu diikat. Kenapa perlu diikat? Karena di dalam kotak itu seperti tempat daripada tabut yang didalamnya terdapat sepuluh perintah Allah. jadi disitu kita belajar orang harus senantiasa suci dalam pikiran, suci dalam nilai emosinya, suci dalam nilai tindakannya. Jadi Petrus ketika dia ingin mengatakan kepada Jemaat di Asia Kecil “rendahkanlah dirimu kepada tangan Tuhan yang kuat” dia ingin meminta jemaat untuk menyikapi semua penderitaan dan tekanan dengan sikap ibadah, yang terlihat dari pikiran, emosi, dan sikap yang sesuai dengan Firman Tuhan. Dan sikap ibadah ini menunjukan bahwa seseorang rendah hati dihadapan Tuhan.


Setelah kita melihat apa yang Petrus maksudkan dalam ayat ini, menjadi perenungan bagi kita kembali mengapa kerendahan hati itu penting?  Karena ketika ada masanya suasana sangat menyenangkan dan kita mendapatkan maka pujian dari manusia bisa membuat kita berdosa apabila tidak memiliki kerendahan hati. Sebab pujian dari manusia bisa membuat kita lupa diri, jadi bagian kita bukan untuk kita sombong, namun bagian kita adalah merendahkan hati dalam situasi apapun juga, karena nanti akan tiba waktunya dalam waktu Tuhan kita akan ditinggikan oleh Dia. Di dalam Filipi 2 : 1 – 11 yang dikatakan oleh rasul Paulus, Yesus pada waktu hidup seperti direndahkan, seperti dipermalukan, dihina, dipukul sampai mati di kayu salib, seolah-olah Tuhan tidak berbuat apa-apa untuk Dia, seolah Yesus tidak punya kuasa apa-apa. Tetapi ingat segala sesuatu ada waktunya, dan melalui peristiwa saliblah kita baru mengerti tujuh perkataan salib yang begitu agung, dan melalui kematian Kristus itulah justru karena kasih-Nya ingin menebus dosa-dosa kita, seluruh penderitaan seharusnya diberikan kepada kita, tetapi Kristus emban semua  itu di kayu salib karena kasihnya kepada kita. tetapi apakah Kristus dikalahkan oleh salib kematian? Tidak. Hari yang ketiga dia bangkit, membuktikan kepada kita bahwa kristus punya nama yang berkuasa karena alam maut tidak mungkin mengendalikan Dia, alam maut tidak mungkin mengikat daripada Yesus. Demikian pun dengan kita, mungkin suatu ketika kita seperti dipermalukan oleh orang-orang, tetapi ingat segala sesuatu ada waktunya, nanti Tuhan akan nyatakan siapakah kita. Dan setelah itu dikatakan nanti di dalam kekekalan setiap lutut akan bertelut, setiap lidah akan mengaku siapakah Yesus Kristus.


Kalau kita memiliki kerendahan hati maka ketika ada ancaman, kekuatiran, keterbatasan, kita akan menyerahkan semua itu kepada Tuhan sebagai sumber pemelihara jiwa dan hidup kita. Seperti apa yang Tuhan Yesus katakan pada Mat 6:25-34. Namun apakah kekuatiran pasti hilang? Tidak mungkin. Pemazmur Daud saja yang setia masih memiliki kekuatiran (Maz 27:1-13), namun dalam kekuatiran Daud tetap memuji dan menyembah Tuhan. jadi iman mendahului daripada apa yang terjadi di depan, jadi bukan tuntut dulu apa yang terjadi baru kita beriman, itu salah. Jadi disini kita melihat melalui bagian ini bahwa tangan Tuhan itu hebat, tidak kelihatan, tetapi pada waktu kita beriman Dia akan bekerja melampaui akal dan pikiran kita.


(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—HG)