Memandang Allah Sebagai Sumber Berkat

2017-01-08 - Pdt. Tumpal H. Hutahaean

1 Petrus 5: 10 - 11

Hari ini kita akan melanjutkan eksposisi 1 Petrus 5: 10 - 11. Hari ini saya mengambil tema memandang Allah sebagai sumber berkat. Ini bagian terakhir daripada plot yang terakhir dan minggu depan kita masuk ke final yang terakhir untuk bagaimana surat ini bisa terkirim dan siapa yang mengirimkan.


Mari kita membaca 1 Petrus 5: 10 – 11. 10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. 11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.


Dalam ayat 10 ini Petrus mengajak jemaat di dalam Asia kecil untuk memandang kepada Tuhan Yesus. Kapan seseorang biasanya memandang Tuhan Yesus? Disaat sulit, disaat lemah, disaat sakit, disaat ada masalah baru kita lihat Tuhan. Tetapi apakah mungkin kita bisa melihat Tuhan dalam segala situasi tidak hanya waktu susah saja? Bisa. Maka dari itu Tuhan menghajar kita apabila kita terlalu asyik dalam kesenangan dan kenikmatan hidup, sehingga lupa bagaimana bergumul dengan Tuhan lupa membaca Alkitab, lupa bagaimana kita bergumul dengan Tuhan untuk hidup bagi Tuhan, lupa kita memperjuangkan nilai-nilai Tuhan, lupa bagaimana kita membangun karakter kita berdasarkan nilai Alkitab, lupa bagaimana harusnya kita melayani Tuhan, dan cara Tuhan supaya kita balik kepada Tuhan, Tuhan buat kita sampai titik nol, atau sampai kita mendapatkan pukulan yang keras dalam usaha kita, dalam keluarga kita, dalam nilai kerja kita, dalam nilai ekonomi kita, baru kita memandang Tuhan. Maka dari itu bapak ibu sekalian jangan memandang Tuhan dikala susah saja, namun juga ketika senang.


Namun sampai kapan kita harus memandang Tuhan Yesus? Sampai kita bertemu Tuhan. karena satu hadiah yang terbesar di surga kita akan bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus. dan pada waktu kita hidup jikalau kita diijinkan masih memandang Tuhan Yesus di dalam kebenaran-Nya melalui firman, memandang Tuhan Yesus melalui pekerjaan dan pelayanan-Nya ada jiwa-jiwa yang bertobat akhirnya kembali kepada Tuhan, dan kita mencicipi satu pemandangan gerakan rohani yang besar itu namanya anugerah. Dan disinilah kita belajar setiap hari kita memerlukan memandang Tuhan, memandang Tuhan di dalam firman-Nya, memandang Tuhan di dalam nilai kemuliaan-Nya, bukan hanya berkat-berkat fisik, tetapi satu berkat yang menunjukan Tuhan menyetir akan setiap perjalanan spiritual kita, berkat Tuhan yang memampukan kita memuliakan Tuhan itu jauh lebih penting, bukan memuliakan diri melalui hal-hal yang bersifat lahiriah, itu adalah satu nilai pelajaran teologis yang salah.


Sekarang kita kembali kepada pesan Petrus di dalam 1 Pet 5:9-10, mengapa dalam ayat ini Petrus berbicara mengenai pentingnya memandang kepada Tuhan? Ada tiga alasan. Pertama, karena kita tahu jemaat di Asia Kecil mengalami kekuatiran demi kekuatiran karena pekerjaan mereka terganggu, usaha mereka terganggu, rasa aman mereka terganggu, kenyamanan mereka terganggu, selalu hidup ada kekuatiran, selalu hidup ada ancaman, selalu hidup mengalami satu bentuk disudutkan dan dibuat susah. Kedua, kita tahu bahwa mereka mendapatkan serangan-serangan setan yang mengganggu selalu kehidupan mereka, seolah-olah mereka tidak mempunyai satu damai yang mereka nikmati. Ketiga, mereka tidak bisa menikmati satu kenyamanan relasi karena ada penderitaan demi penderitaan, ada dukacita demi dukacita. Didalam keadaan yang menekan ini maka penting untuk mendapatkan solusi. Dan Petrus mengatakan solusinya adalah memandang kepada Tuhan. Jadi ini artinya engkau kuatir, engkau menghadapi serangan setan, engkau menghadapi penderitaan jangan lihat kekuatiran itu, jangan lihat serangan setan itu, jangan lihat penderitaan itu, tetapi pandanglah Tuhan Yesus yang telah memanggil engkau kepada kemuliaan-Nya sebagai sumber kasih karunia.


Pertanyaan teologis apakah kita bisa memandang Tuhan? bukankah di dalam Perjanjian Lama dikatakan setiap manusia mungkin bisa memandang Tuhan, itu yang dikatakan Keluaran 33: 19 – 20. Tetapi dalam bagian itu pun dikatakan memang setiap manusia tidak bisa melihat wajah Tuhan. Namun dalam Perjanjian Baru Kita bisa melihat Allah. Dalam Yohanes 1 : 1 dikatakan Allah itu adalah firman, dan firman itu adalah Yesus Kristus, dan melalui Yesus Kristuslah kita bisa melihat kemuliaan Tuhan. jadi disini berarti memberitahu kepada kita bahwa hanya melalui Anak Tunggal daripada Allah yang tercatat dalam Yohanes 1 : 18 kita bisa melihat Allah. Ini berarti untuk memandang kepada Allah berarti memandang kepada Tuhan Yesus Kristus. Dan juga ini berarti untuk memandang kepada Allah berarti juga melalui berjumpa dengan kebenaran di dalam Alkitab, karena Tuhan Yesus adalah Firman.
Berikut adalah berapa contoh memandan kepada Allah dikala sulit yang tercatat di dalam Alkitab. Pertama, Ayub. Sekarang kita tanya apa yang paling penting daripada peristiwa Ayub? Yaitu sikap Ayub kepada Tuhan. disitulah kita baru tahu nilai seseorang dalam nilai Ketuhanannya diuji disaat-saat titik nol. Istri Ayub mengajak Ayub untuk menghujat Tuhan. Ayub bilang masakan kita mau mengikut Tuhan hanya menerima yang baik-baik saja, menerima hal seperti ini kita tidak mau. Jadi disitu kita baru tahu Ayub punya konsep kedaulatan Tuhan dengan benar. tetapi walaupun dia punya konsep kedaulatan Tuhan dengan benar tetap dia mengalami kesedihan, tetapi dia mengalami satu bentuk kehancuran hati karena semua anak-anaknya meninggal, harta yang dia miliki habis, tetapi Tuhan hanya melihat iman Ayub yang murni dan Tuhan tidak menyayangi daripada hartanya. Disini kita belajar ketika kita memandang Tuhan, Tuhan akan senantiasa memberikan sumber kasih karunia-Nya kepada kita. Dan kita juga dapat melihat Ayub tetap memandang kepada Alah di saat susah.


Kedua, dalam 2 Korintus 2 : 9. Paulus adalah seorang hamba Tuhan yang luar biasa, hidupnya begitu taat bagi Tuhan, tetapi kenapa sampai dia mati dia punya penyakit disekitar pinggang. Dalam konteks kedokteran sekarang itu seperti sakit kanker atau tumor dipinggang. Dan dia punya kelemahan dimata selalu bernanah. Kita bertanya kenapa Tuhan ijinkan itu? Paulus berdoa tiga kali supaya penyakit itu sembuh, ternyata Tuhan bilang tidak. yang luar biasa sikap dari Paulus menghadapi daripada semua penderitaan itu tetap setia bagi Tuhan. kenapa? karena dia mengerti perkataan ini: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu”. Justru dalam kelemahanmulah engkau akan melihat kekuatan-Ku, justru dalam sakit penyakitmulah engkau akan melihat daripada kasih karunia-Ku. Ketika menghadapi sakit, Paulus tetap memandang kepada Allah.


Mari kita belajar seperti sikap Ayub, mari kita belajar seperti daripada sikap Paulus, mari kita belajar seperti sikap jemaat di Asia Kecil tidak marah kepada Tuhan, tidak marah kepada orang lain, justru sebaliknya mereka memandang Tuhan sebagai sumber kasih karunia.


Berikutnya, Mengapa memandang Kristus merupakan hal yang penting? Yohanes Calvin mengatakan ini sangat penting. Kenapa memandang Tuhan sangat penting? Karena ini adalah sesuatu yang menunjukan nilai ibadah kita. Apabila engkau memandang Allah maka Allah akan hadir dalam seluruh hidupmu. Ketika engkau menyadari Allah itu hadir membuat kita tidak berani berbuat dosa, ketika Allah itu hadir menyadarkan kita, kita adalah orang yang sudah ditebus bagi Tuhan, kita tidak boleh lagi hidup untuk diri, kita tidak boleh lagi hidup untuk kepuasaan kita, kita tidak boleh lagi hidup untuk setiap nafsu kita, karena kita sudah menjadi milik Tuhan. disini berarti ketika engkau bisa terus memandang Tuhan di dalam kesulitan, di dalam kerjamu, dalam nilai potensimu, dalam nilai usahamu itu namanya ibadah.


Ketika memandang kepada Allah maka cara pandang kepada dunia dari pada orang itu juga akan berubah dalam dua hal.
1. Dia akan menyadari apapun yang terjadi dalam kehidupan kita adalah kedaulatan Tuhan. Jangan marah dengan situasi yang membuat engkau sulit, jangan marah dengan nilai peperangan rohani yang kau hadapi dalam pekerjaan, dalam usaha dan lain-lain, jangan marah ketika engkau mendapatkan penderitaan. Sadarilah Tuhan adalah pencipta, Dia mengatur segala sesuatu yang berdaulat untuk segala sesuatu, maka engkau percayalah semua ada dalam nilai kedaulatan Tuhan, tugas kita adalah taat untuk memuliakan Dia melalui penderitaanmu, melalui sakit penyakitmu, melalui kesulitanmu, dan bukan minta dibelas kasihan dan yang lain-lain.


2. Dia akan melihat segala kebaikan, keberhasilan kesuksesan, dan penderitaan adalah berkat dari Tuhan. Jadi jangan melihat kalau berkat itu hanya kebaikan dari Tuhan, jangan lihat berkat itu adalah keberhasilan dan kesuksesan, dan jangan lihat penderitaan itu adalah kutuk. Justru rasul Petrus mengatakan keberhasilan dan kesuksesan adalah berkat, tetapi ingat, ikut Tuhan pun dapat berkat ketika kita menderita bagi Tuhan. Dan penderitaan itu harus dirubah menjadi sukacita ketika engkau melihat penderitaan itu bagi Tuhan, dan engkau menghadapinya sebagai orang yang berbahagia karena engkau mendapatkan anugrah menderita bagi Tuhan.


Maka menjadi pertanyaan renungan terakhir. Kenapa Tuhan membiarkan penderitaan terjadi supaya kita melihat kepada Tuhan? Disinilah rasul Petrus ingin mengajarkan jemaat di Asia Kecil, semua kekuatiranmu, semua penderitaanmu, semua peperangan rohanimu tidak lain adalah untuk supaya engkau lebih cemerlang lagi hidup bagi Tuhan dan jangan takut Tuhan akan memperlengkapi engkau, dan dalam terjemahan yang lebih tepat Tuhan akan menyempurnakan engkau. Kedua Tuhan akan meneguhkan engkau, ketika engkau mulai goyah akan imanmu menghadapi kekuatiran hidup, peperangan rohani dan penderitaan itu Tuhan akan meneguhkan melalui firman-Nya dan Tuhan akan menguatkan engkau melalui penyertaan-Nya, dan Tuhan akan mengokohkan engkau melalui daripada seluruh hidup-Nya yang akan siap berperang bagi engkau. Didalam bagian ini Tuhan ingin menyatakan siapakah yang memiliki kuasa kekal di dunia ini, Allahlah yang memiliki kuasa sampai selama-lamanya.


Khotbah minggu ini akan ditutup dengan perkataan berikut yang harus diingat bapak ibu. Ketika engkau sedang berbahagia katakanlah puji Tuhan, ketika hidupmu dalam kesulitan carilah Tuhan, ketika situasi diam ingatlah untuk kita memuji Tuhan, ketika hidupmu ada dalam satu kelemahan atau sakit percayalah kepada Tuhan. Disini mengajarkan kepada kita Allah kita adalah Allah yang berkuasa untuk memelihara kita, untuk menjaga kita, untuk mengokohkan kita, untuk memakai kita untuk selalu hidup bagi Tuhan. Amin.


(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—JT)