Peperangan Rohani (I)

2016-12-11 - Pdt. Tumpal H. Hutahaean

1 Petrus 5 : 8

1 Petrus 5 : 8. 8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.


Melalui ayat ini Petrus mengingatkan kepada jemaat untuk selalu menjaga diri. Namun apa yang membuat orang Kristen seringkali lengah dan tidak berjaga-jaga? Seringkali itu dikarenakan, cepat puas, malas, damai palsu, dan terjerat setan.


Mengapa kita dapat cepat puas diri? apakah orang Kristen tidak boleh cepat puas diri? bagaimana dengan panitia Natal kemarin mungkinkah mereka cepat puas diri? mungkin. pertanyaan kita lebih lanjut, bagaimana kita menikmati keberhasilan namun tidak cepat puas diri? Caranya adalah mengucap syukur untuk setiap pertolongan dan penyertaan Tuhan, karena apa yang kita kerjakan dapat berhasil oleh karena Tuhan memakai kita yang lemah. Kesadaran ini akan menjaga dari cepat puasnya diri. Berhati-hatilah dengan puas diri, karena kepuasan diri akan menggilas kita, dan akan membuat kita jatuh dalam dosa.


Mengapa kita cepat malas? Malas adalah ketika kita terlalu menyayangi diri dan kita tidak mau berinteraksi dengan kehendak Tuhan. Ketika kita berhenti mencari kehendak Tuhan maka kita akan berpikir bahwa kehendak kita lebih besar dari pada kehendak Tuhan, dan cara berpikir ini akan membuat kita menjadi orang yang malas. Sedangkan kalau kita memikirkan kehendak Tuhan maka itu akan membuat kita lebih rajin dan berjuang.
Mungkinkah kita terjebak damai yang palsu? Di dalam bagian ini Yohanes Calvin melihat bahwa pada waktu kita sudah merasa berjuang mencapai satu titik yang tertinggi daripada perjuangan kita, kita rasa saat itulah ada keindahan, ada keberhasilan, ada kesuksesan, kita merasa nyaman dan damai. Tetapi ketika kenyamanan itu membuat kita akhirnya terlalu membiarkan diri, membuat kita tidak lagi berbuat apa-apa untuk Tuhan, dan membuat kita tidak lagi punya greget untuk kita boleh di pakai Tuhan dengan lebih, saat itulah kita sedang menikmati damai yang palsu.


Untuk dapat berjaga-jaga maka sebagai orang Kristen kita tidak boleh terjebak dalam hati yang cepat puas, kemalasan, kedamaian palsu, dan juga jerat setan. Sebelum masuk ke dalam pembahasan lebih lanjut kita akan mundur untuk melihat pengajaran Petrus yang berelasi dengan 1 Pet 5:8.
Dalam konteks ayat sebelumnya 1 Petrus 5:1-4 ada empat yang ingin Petrus ajarkan kepada kita. Pertama, Layani domba-domba Allah yang dipercayakan kepada engkau. Engkau sebagai pelayan lakukanlah pelayanmu dengan baik, jikalau engkau sebagai pengurus, uruslah Gereja dengan baik. Jikalau engkau sebagai aktivis, maka aktiflah dalam pelayanan Gereja dengan baik. Jikalau engkau sebagai jemaat biasa, maka juga melayani dengan rajin. Orientasi kita melayani adalah orientasi untuk tubuh Kristus menggenapkan kerajaan Tuhan. Jadi bukan mengasihani diri, bukan melayani diri, melainkan kita harus keluar lebih mementingkan melayani domba-domba Allah yang ada disekitar kita.


Kedua, kita lihat dari ayat yang ke 5 dimana disitu rasul Petrus mengajarkan anak-anak muda tunduklah kepada orang-orang yang lebih tua, jangan sombong, jangan membantah, jangan memberontak, dengarkanlah seruan daripada suara orang-orang yang lebih tua daripadamu, dengarkanlah seruan daripada orang-orang yang lebih tua yang mengajarkan satu kebaikan, didikan, keimanan dan lain-lain, jangan berontak, jangan cepat marah, jangan cepat menyangkal, tundukkanlah dirimu, hargai mereka di dalam nilai kasih.


Ketiga, kita juga belajar bagaimana akhirnya diajarkan dalam hukum relasi dengan sesama yaitu hukum kerendahan hati. Jangan engkau melihat orang berdasarkan nilai posisi, jangan engkau melihat orang berdasarkan nilai kekayaan, jangan engkau melihat orang berdasarkan kepopuleran dan lain-lain, rendahkanlah dirimu kepada tangan Tuhan yang kuat ketika engkau menghadapi kesulitan demi kesulitan, ketika engkau harus berelasi dengan siapapun juga. Ini mengajarkan kepada kita aspek humility adalah satu nilai rahasia kenapa Tuhan sayang sama kita. kalau semua jemaat disini rendah hati Tuhan sayang kepada kita, kenapa setiap keberhasilan kita itu mengajarkan kepada kita untuk melihat Tuhan yang membuat kita berhasil. Itu berarti menunjukan kepada kita bagaimana keberhasilan kita harta kita, kekayaan kita, nama baik kita dikembalikan untuk kita lebih efektif di pakai oleh Tuhan, maka Tuhan akan terus pakai kita untuk kemuliaan Dia. Dan dikatakan dalam bagian itu Tuhan sangat marah, Tuhan sangat tidak suka dan Tuhan sangat tidak mengasihi orang-orang yang congkak, orang-orang yang sombong.


Keempat, menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan. Kekuatiran tidak boleh lebih besar daripada Tuhan. Karena Tuhan kita Tuhan yang kuat, Tuhan yang besar. Disitu kita diingatkan serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Allah supaya kita hidup bukan karena kuatir, tetapi kita hidup karena firman, karena kehendak Tuhan dan karena kebenaran yang mau kita hidupi.


Menjadi pertanyaan bagaimana sebagai jemaat kita bisa terus melakukan empat hal di atas di dalam hidup kita?  Petrus memberikan jawabannya di dalam ayat 8 ini. Supaya kita konsisten menjadi anak Tuhan di tengah-tengah dunia yang gelap dan cepat berubah ini dia mengajarkan kepada kita milikilah kewaspadaan iman atau selalu berjaga-jaga. Contoh nyata untuk sikap berjaga-jaga ini adalah Nehemia pasal 7 dan 8. Bagaimana ketika Nehemia ingin bangun tembok Yerusalem ada orang-orang yang tidak suka akan menyerang bahkan akan membunuh daripada Nehemia. Maka Nehemia mengatur segalanya dengan indah. Ada tim yang berdoa, ada tim yang membangun, ada tim yang menjaga untuk membawa pedang, ada tim yang menyiapkan semua alat-alat dan perlengkapan yang dibutuhkan. Jadi semua berlangsung dengan baik dalam pertolongan Tuhan.


Menjadi pertanyaan bagi kita semua bagaimana kita bisa memiliki sikap berjaga-jaga seperti Nehemia? Disinilah kita membutuhkan pedang Roh daripada Allah sendiri yaitu firman. Kita diajarkan dalam Efesus 6 bagaimana kita harus punya ketopong keselamatan, kita harus punya kerelaan untuk penginjilan, berkasutkan kaki yang rela untuk pelayanan, bagaimana kita punya ikat pinggang yang kuat untuk menunjukan kita bersandar kepada firman, untuk setiap saat kita punya persiapan peperangan rohani, bagaimana kita punya ketopang untuk menghindari panah daripada si setan, dan bagaimana setiap kita punya pedang yaitu firman yang hanya mengalahkan kuasa. Setan tidak takut dengan rumah kita yang besar, setan tidak takut dengan perlengkapan-perlengkapan rumah kita yang indah, setan paling takut dengan firman yang intinya menceritakan Kristus yang sudah menang atas kuasa maut. Disini mengajarkan kepada kita bagaimana aspek peperangan rohani ini mengajarkan supaya kita tahu kita bukan berperang dengan daging, kita bukan berperang dengan apa yang kelihatan yaitu manusia, tetapi sesungguhnya kita sedang berperang dengan penguasa-penguasa di udara, dengan roh-roh jahat yang mungkin ada disekitar kita. Kita punya iman setan tidak akan mengganggu kita, oleh karena itu ini penting sekali untuk kita selalu punya aspek peperangan rohani.


Menjadi pertanyaan renungan lanjutan bagi kita supaya bisa lebih berjaga-jaga. Apa yang dapat memikat kita akhirnya kita jauh dari Tuhan? apa yang bisa memikat kita akhirnya kita tidak fokus lagi hidup bagi Tuhan?
Disini saya melihat dan mari kita baca satu per satu. Yang pertama adalah kesenangan, yang kedua ketenangan, yang ketiga kenikmatan, yang keempat kepopuleran, yang kelima kemahsyuran, yang keenam kemalasan, yang ketujuh kesedihan. Semuanya ini boleh saja ada dalam kehidupan kita, yang penting ada batasannya, ada limitnya, jadi jangan berlebihan dan jangan terikat. Jadi disini hati-hati, setan bisa memprogram apapun dengan segala cara dan strateginya membuat kita jauh daripada setan. Setan sangat tahu kelemahan kita. Jadi dalam bagian ini ketika kita berjaga-jaga saat  itulah saya percaya Allah Roh Kudus akan memberikan kekuatan kepada kita untuk berkata tidak untuk setan, dan saat itulah engkau menang. Bagaimana berkaitan dengan kita di Natal ini? kita akan menjadi lilin yang terang di tengah kegelapan. Ini menunjukan kepada kita memang dunia sudah gelap, maka Kristus datang sebagai terang untuk menerangi kegelapan dan kita adalah lilin-lilinnya. Secara fenomena kita melihat tetapi ingat dunia ini sudah dikuasai oleh setan. Jadi kita sedang berperang melawan kuasa-kuasa si jahat. Maka Petrus dalam konteksnya juga berbicara penting untuk kita punya kesadaran penting untuk kita senantiasa berjaga-jaga. Jadi 2 hal ini tidak bisa dipisahkan, engkau sadar secara iman siapa dirimu dihadapan Tuhan, engkau sadar punya nilai kewaspadaan secara iman itu akan membuat kita punya nilai peperangan iman.


Di dalam bagian ini saya percaya rasul Petrus pernah mengalami sendiri rasanya jatuh karena tidak berjaga-jaga, sehingga perkataan berjaga-jaga itu sangat membekas dalam lubuk hatinya yang terdalam. Yesus pernah berbicara kepada Petrus berjaga-jagalah, Saya akan berdoa. Ternyata apa yang tercatat dalam Matius 26 : 40 – 43 disitu tercatat Petrus tertidur. Dan apa yang dikatakan Tuhan? mari kita baca ayat 41. 41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah"  (Mat 26:41). Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan, pertanyaan kita, Tuhan Yesus sudah berbicara kepada Petrus berjaga-jagalah, tetapi dia tetap tidur, Tuhan Yesus kembali tetapi dia tetap tidur, kenapa? Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani dalam keadaan yang sungguh-sungguh karena Dia tahu akan menggenapkan keselamatan bagi umat manusia, Dia masuk dalam suasana yang berat pada saat itu, tetapi kenapa Petrus masuk dalam suasana yang tenang, dalam suasana yang bisa menunjukan kepada dia kenikmatan untuk tidur? Disaat itulah baru kita mengerti Petrus tidak mengerti kehendak Tuhan, dia tidak terhisap dalam karya Tuhan, dia tidak terhisap dalam peperangan rohani itu, sehingga Yesus boleh berdoa di taman Getsemani dengan sesuatu yang sangat serius, tetapi dia tetap tidur karena dia tidak mengambil bagian dalam pergumulan itu.


Bagaimana kita bisa tetap terlibat dalam pergumulan sehingga tidak mengulang kesalahan Petrus? Disini kita diajarkan ketika Gereja kita sedang disibukan melakukan pekerjaan Tuhan, ketika setiap weekend kita lebih fokusnya untuk mencari jiwa untuk memenuhi Gereja ini dan diri kita sendiri melayani Tuhan, saat itulah engkau akan terhisap dalam peperangan rohani, saat itulah engkau akan terhisap dalam pergumulan dan engkau akan punya nilai untuk waspada secara rohani.


Menjadi pertanyaan terakhir, bagaimana caranya Tuhan menjaga kita tidak ditelan oleh setan yang seperti singa? Pertama, Tuhan memberikan diri-Nya bagi kita supaya bersandar, ketika setan membuat kawatir. Kedua, memberikan kepastian penyertaan-Nya ketika setan membuat orang takut akan rumahnya, anak-anaknya, istrinya. Tuhan akan memimpin kita, memimpin pekerjaan kita, usaha kita, pendidikan anak-anak kita, keluarga kita. Keempat, Dia menerangi kita sehingga kita dapat berjalan didalam kehendak Tuhan ketika setan kasih kekacauan. Kelima, Tuhan akan memberikan pengampunan dosa ketika kita gagal setia, karena setan akan memanfaatkan itu untuk menghancurkan kita melalui rasa bersalah. Keenam, Engkau diberikan ketenangan. Ketujuh, Tuhan berikan kekuatan untuk melawan godaan setan. Dan terakhir dia memberikan kita kenyamanan. Akhirnya kita bisa tidur, kita bisa menyerahkan anak-anak kita, kita bisa menyerahkan suami kita, kita bisa menyerahkan istri kita, kita bisa menyerahkan totalitas pergumulan kita, kita bisa menyerahkan masalah kita kepada Tuhan, dan kita serahkan itu semua kepada tangan Tuhan yang kuat, saat itulah engkau merasakan kenyamanan dari Tuhan yang begitu luar biasa.


(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—JT)