Kemerosotan Iman Salomo (1 Raja-Raja 10:23-25; 11:1-13)

Kemerosotan Iman Salomo (1 Raja-Raja 10:23-25; 11:1-13)

Categories:

Khotbah Minggu 1 November 2020

Kemerosotan Iman Salomo

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang kemerosotan iman Salomo. Pada kesempatan berikutnya kita akan membahas tentang kejatuhan Salomo dalam dosa. Jadi ada kemerosotan, kejatuhan, dan hukuman Tuhan kepada Salomo. Kita akan melihat 1 Raja-Raja 10:23-25. Salomo menjadi raja yang paling berhikmat dan paling kaya. Banyak orang ingin mengunjunginya dan memberikan persembahan. Kita juga akan melihat 1 Raja-Raja 11:1-13. Mencintai itu tidak salah, namun mencintai banyak perempuan itu salah. Ia lebih mencintai para istrinya daripada Tuhan. Ia melakukan apa yang jahat, tidak seperti Daud, ayahnya.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Setiap manusia dalam hidupnya membutuhkan kenyamanan dan ketenteraman. Kita membutuhkan dua hal ini dalam segala aspek. Namun sampai batasan apa kita boleh menikmati kenyamanan dan ketenteraman ini? Mengapa Salomo jatuh dalam dua hal ini? Apakah orang Kristen tidak boleh kaya dan berkuasa? Boleh. Apakah orang Kristen tidak memiliki kenikmatan? Boleh. Namun di mana batasannya? John Calvin mengajarkan tentang hidup yang memiliki batasan. Calvin mengajarkan tentang batasan dalam pergaulan dan disiplin rohani. Ia melarang bercanda yang berlebihan. Pelanggaran-pelanggaran tertentu seperti pesta berlebihan bisa membuat seseorang tidak bisa mengambil Perjamuan Kudus. Kita harus mengerti pentingnya batasan. Adam pun diberikan batasan oleh Tuhan (Kejadian 2:16-17). Jadi kebebasan itu memiliki batasan. Jika kita melampaui batasan, maka kita sedang mencobai diri. Jika kita terus mencobai diri maka kita akan jatuh ke dalam dosa.

 

            Mengapa Salomo bisa mengalami kemerosotan rohani? Bukankah Tuhan pernah mengunjunginya dan memberikan apa yang ia minta? Pada kunjungan yang kedua, Tuhan menuntut ketaatan perjanjian. Ketaatan Salomo akan membuat kerajaan Israel tetap ada. Jika anak-cucunya mengikuti Firman Tuhan, maka Tuhan akan memelihara mereka. Namun tidak lama setelah itu, setelah Salomo menjadi tua, yaitu sekitar 5-10 tahun setelah Tuhan mengunjunginya, Salomo jatuh ke dalam dosa. Namun setelah itu ia bertobat. Inilah yang akan kita dalami bersama. Mungkin saja kita juga bisa mengalami kemerosotan rohani karena situasi: kekayaan, kenikmatan, penderitaan, atau kesulitan (misalnya pandemi Covid-19). Mengapa Salomo mengalami penurunan komitmen hidup dan fokus pelayanan kepada Tuhan? Bagaimana supaya kita tidak mengalami kemerosotan rohani?

 

 

PEMBAHASAN: KENYAMANAN HIDUP SEBAGAI RACUN ROHANI

 

Mengapa Salomo mengalami kemerosotan rohani?

1) Salomo menikmati takhtanya sampai menjauh dari spirit menikmati kemuliaan takhta Tuhan

            1 Raja-Raja 10:23 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat. Ketika hikmat Tuhan memimpin Salomo, ia menjadi orang yang terhebat di seluruh dunia. Ini tidak salah karena Tuhan-lah yang memberikan. Mengapa akhirnya Salomo bisa bersalah? Mengapa Salomo mengalami kemerosotan rohani? Harta dan kedudukan itu tidak salah. Segala kenikmatan yang Tuhan anugerahkan untuk kita nikmati itu tidak salah. Namun Salomo menikmati takhtanya sampai menjauh dari spirit menikmati kemuliaan takhta Tuhan. Inilah alasan kemerosotan iman Salomo yang pertama. Jika seseorang merosot dari puncak gunung, maka ia akan menjadi semakin jauh dari puncak gunung. Turun dari gunung membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat daripada mendaki gunung karena pada saat turun kita bisa merosot. Namun di gunung-gunung tertentu kita harus berhati-hati karena kita bisa merosot jatuh ke dalam jurang. Kemerosotan dan kejatuhan Salomo tidak dikaitkan dengan Iblis karena bukan Iblis-lah penyebabnya. Itu karena Salomo sendiri terlalu menikmati takhtanya. Itu membuatnya menjauh dari takhta Tuhan. Pada saat kunjungan Tuhan yang pertama, Salomo meminta hikmat agar ia bisa menyatakan kebenaran dan keadilan Tuhan. Namun mengapa kemudian ia tidak memakai takhtanya untuk itu? Kita bisa melakukan pembunuhan kerohanian karena kita terlalu menikmati kenyamanan yang perlahan bisa menjadi virus rohani dalam hidup kita. Kenyamanan itu tidak salah namun jika kita menuhankan itu, maka kita sudah berdosa. Tidak ada keterlibatan Iblis dalam kejatuhan Salomo. Ini sepenuhnya karena kesalahan Salomo sendiri. Ia terlalu menikmati takhtanya dan kenyamanannya.

 

            Ia kehilangan komitmen dalam melayani Tuhan (1 Korintus 15:58). Ia kehilangan komitmen karena terlalu menikmati kenyamanan dan kekuasaannya. Ia tidak lagi bergumul, berjuang, dan berperang. Ia tidak lagi berfokus pada menggerakkan rakyat untuk beribadah kepada Tuhan. Ia tidak lagi memengaruhi orang lain untuk menyembah Allah. Saat ia kehilangan komitmen, ia juga kehilangan misi untuk hidup bagi Tuhan. Di dalam hidup kita selalu ada misi Tuhan. Di manapun kita berada, kita adalah garam dan terang Tuhan. Kita adalah alat kemuliaan Tuhan dan surat terbuka yang bisa dilihat orang lain sehingga mereka bisa melihat Tuhan melalui tindakan dan perkataan kita. Salomo telah kehilangan komitmen dan misi untuk Tuhan. Misi Tuhan bisa kita jalankan jika kita tetap memegang komitmen kita untuk Tuhan. Tanpa komitmen, kita pasti kalah. Salomo kehilangan komitmen pada saat kerajaannya menjadi kerajaan terbaik di dunia. Pada saat itu ia tidak berpikir untuk bersaksi bagi Tuhan. Ia tidak menyatakan bahwa semua yang ia miliki itu berasal dari Tuhan. Mengapa ia tidak melakukan itu? Itu karena ia menikmati zona nyamannya. Akhirnya ia menikmati seluruh kekuasaannya dan melupakan komitmen vertikalnya. Semua komitmen yang tersisa hanyalah komitmen horizontal yang berpusat pada diri sendiri.

 

            Kita harus mengingat 1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Arti sesungguhnya adalah: pelayanan kita kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Ayat ini mengajarkan kita untuk mawas diri di tengah badai hidup. Kemanjaan dan kenyamanan hidup bisa menjadi racun rohani. Di sini kita harus waspada. Dalam situasi apapun kita harus berdiri teguh dan tidak goyah. Di gunung, angin yang membuat kita mengantuk adalah angin sepoi-sepoi, bukan angin keras. Dunia menidurkan kita dengan godaan dan rayuan yang lembut. Begitu pula rayuan Setan terhadap Hawa. Situasi membuat Salomo kehilangan komitmen. Ketika ia bertakhta, raja-raja datang mengunjunginya dan memberikan persembahan serta pujian. Segala hal diberikan kepada Salomo dan ia menikmati semua itu. Akhirnya Salomo menikmati pelayanan orang lain kepadanya. Ia lupa bahwa ia adalah raja yang seharusnya melayani. Kristus datang ke dunia bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani kita yang berdosa sehingga kita kembali kepada Tuhan. Hidup Salomo begitu nikmat. Semua orang di sekitarnya siap melayaninya. Namun semua kenikmatan ini membunuh. Kenikmatan itu membunuh karena itu menjauhkan kita dari takhta Kristus. Kita bisa terlalu sering dilayani sampai lupa untuk melayani Tuhan. Salomo jatuh bukan karena godaan Setan. Yakobus 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Kita harus sadar bahwa hidup kita ini terutama bukanlah untuk dilayani tetapi melayani Tuhan yang sudah mati untuk menebus kita. Di sini Salomo tertidur. Ia menikmati setiap pelayanan orang lain yang sepenuhnya memuaskan dirinya.

 

2) Salomo menikmati hartanya sampai kehilangan spirit untuk harta rohani

            Alasan kedua kemerosotan rohani Salomo adalah: ia menikmati hartanya sampai kehilangan spirit untuk harta rohani. Kita bisa melihat 1 Raja-Raja 10:14-15. Ia mendapatkan 666 talenta setiap tahunnya. 1 talenta itu seberat 32 kilogram. Jadi setiap tahun ia mendapatkan 21.312 kilogram emas. Jadi harta Salomo itu sangat berlebihan. Banyak perabot di kerajaannya terbuat dari emas. Ia terlalu menikmati semua ini sampai ia tidak lagi mengejar harta rohani. Akhirnya kerajaannya hanya menjadi tontonan bagi orang lain, bukan untuk kemuliaan Tuhan. Harta dunia itu bukanlah yang terpenting. Seharusnya melalui takhta Salomo orang-orang bisa melihat kebesaran Tuhan. Memiliki banyak harta itu tidak salah tetapi Salomo membiarkan harta dunia itu membunuh spiritnya untuk mengumpulkan harta di surga. Yesaya 33:6 Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion. Israel tidak beriman kepada Tuhan dan mereka bersandar pada bangsa-bangsa asing untuk keselamatan mereka. Sesungguhnya harta rohani yang Tuhan berikan itu melebihi itu semua. Mata kita bisa ditipu oleh dunia. Setelah Salomo bertobat, ia menulis dalam kitab Amsal: Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu (Amsal 3:9). Jadi bagi Salomo harta itu baik jika cara pandang kita baik. Tetapi harta itu menjadi jahat jika kita memakai cara pandang yang jahat. Salomo kehilangan fokus atau orientasi dalam perjuangan rohani (1 Korintus 12:1-31). Seharusnya ia berfokus untuk memberitakan kebesaran Allah kepada bangsa-bangsa lain. Ia seharusnya memakai hartanya untuk memberitakan Allah sehingga Kerajaan Allah semakin diperluas. Namun Salomo terlalu berpusat pada diri sendiri.

 

            Ada seorang hamba Tuhan di Amerika yang sangat amat kaya sampai keran di rumahnya pun disalut emas. Namun pada akhirnya ia ketahuan sering berzinah. Semua kejahatannya terbongkar dan ia dipenjara. Akhirnya hidupnya dan keluarganya hancur. Harta kita bukanlah untuk dipamerkan. Ada orang-orang yang begitu kaya sampai mobil dan kapal pribadi mereka disalut emas. Semua ini mereka pamerkan kepada banyak orang. Ini pun dilakukan oleh Salomo. Ia telah kehilangan fokus dalam perjuangan iman. 1 Korintus 12:1-31 menjelaskan konsep tubuh Kristus. Setiap anggota membutuhkan anggota lainnya. Salomo seharusnya memakai hartanya untuk memberitakan Tuhan, bukan untuk menikmatinya demi diri sendiri. Fokusnya untuk perjuangan iman telah hilang. Berkat materi dari Tuhan itu tidak salah, tetapi itu bisa menjadi ujian iman bagi kita. Tuhan akan melihat apakah kita akan memakai harta itu untuk kemuliaan Tuhan atau tidak.  Harta dunia itu adalah anugerah dan titipan sementara untuk kita pakai demi Kerajaan Allah. Semua itu bisa dipakai jika kita terus punya fokus untuk perjuangan iman. Salomo menikah dengan banyak wanita karena sudah kehilangan fokus. Tema hidupnya menjadi kenikmatan, bukan lagi pelayanan dan perjuangan. Setelah Salomo bertobat, ia menulis: Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan (Amsal 11:24). Di sini Salomo mengajarkan tentang kemurahan hati. Tuhan tahu berapa banyak harta kita yang kita sudah pakai untuk menjadi berkat bagi orang lain. Matius 6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Kisah Para Rasul 20:35 …Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Matius 25:21 … engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar….

 

            Kita harus memberikan persembahan dengan ukuran yang tepat. Kita harus memberikan persembahan, perpuluhan, dan janji iman kita. Kita juga harus menyisihkan uang yang nantinya kita pakai untuk menjadi berkat bagi orang lain. Jika ada sisa uang yang kita miliki, maka kita harus memikirkan untuk memakainya demi Kerajaan Allah. Kita tidak boleh berpikir untuk dilayani seperti bos. Diri kita bukanlah yang diutamakan dalam penggunaan harta dunia kita. Kita harus memiliki kesadaran untuk melayani Tuhan. Kita melayani Tuhan karena Tuhan terlebih dahulu melayani kita. Perjuangan rohani harus menjadi fokus kita. Kita tidak boleh mendengarkan suara-suara yang memanjakan hidup kita. Perjuangan rohani dalam masa pandemi Covid-19 ini penting untuk kita laksanakan. Banyak orang terlalu menikmati ibadah dan persekutuan melalui internet. Orang yang tidak mau berjuang pasti tidak bergumul dan mau kemudahan saja. Salomo terlalu mudah mendapatkan harta. Itu membuatnya kehilangan perjuangan rohani. Harta dari Tuhan seharusnya kita pakai untuk menyatakan bahwa kita bisa hidup mandiri dalam pemeliharaan Tuhan. Setiap harta yang Tuhan berikan harus kita gumulkan untuk kemuliaan Tuhan.

 

3) Salomo menikmati kepuasan diri yang berlebihan sampai kehilangan hati yang berkorban untuk Tuhan

            Alasan ketiga mengapa Salomo mengalami kemerosotan rohani tercatat dalam 1 Raja-Raja 11:1. Salomo mencintai banyak perempuan asing. Itu sangat tidak boleh. Dalam perjanjian nikah Kristen, seorang pria hanya boleh menikahi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Pasangan kita harus menjadi pasangan satu-satunya yang sah di hadapan jemaat dan Allah Tritunggal. Kekristenan tidak memperbolehkan poligami. Cinta dalam pernikahan tidak boleh terbagi. Di sini Salomo sudah salah total. Ia memiliki 700 istri dan 300 gundik. Jadi ia memiliki tempat tinggal untuk 1000 wanita. Ia secara khusus membuat istana untuk istri-istrinya. Ini sangat menyedihkan hati Tuhan. Salomo menikmati kepuasan diri yang berlebihan sampai kehilangan jati diri yang berkorban untuk Tuhan. Ia tidak mau berkorban dan ia mengorbankan orang lain untuk melayaninya. Mengapa jumlah istrinya mencapai 1000 orang? Apakah ini karena Salomo jatuh cinta kepada mereka atau sebaliknya? Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Salomo jatuh cinta kepada 1 wanita. Salomo senang melihat setiap wanita cantik, namun ia belum tentu mencintai mereka. Setelah Salomo bertobat, ia berkata bahwa wanita yang takut akan Tuhan adalah kasih karunia dari Tuhan (Amsal 31:10-31). Memiliki hikmat dan pengetahuan adalah suatu kebahagiaan, namun memiliki istri yang takut akan Tuhan adalah suatu kasih karunia dari Tuhan. Namun sebelum bertobat, standar Salomo untuk menilai seorang perempuan adalah kecantikannya. Setelah bertobat, Salomo mengatakan hal yang berbeda.

 

            Saat Salomo sudah tua, para istrinya mencondongkan hatinya kepada para berhala. Ia terlalu menikmati kepuasan diri sampai kehilangan hati untuk berkorban bagi Tuhan. Hal itu juga bisa membuat kita mengalami kemerosotan rohani. Di sini Salomo kehilangan tujuan hidup untuk memuaskan hati Allah (Efesus 2:10). Ia sudah kehilangan tujuan untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan berkaitan dengan perluasan Kerajaan Allah. Efesus 2 mengingatkan kita bahwa keselamatan kita adalah anugerah Allah. Allah mau kita melakukan pekerjaan yang baik yaitu melayani Tuhan. Jadi kita bukan berfokus untuk dilayani dan mencari kepuasan. Salomo jatuh karena membiarkan dirinya beserta semua nafsunya dipuaskan. Dahulu pernah ada seorang kaisar di Tiongkok yang memiliki 2500 istri. Ia terus menikmati seks sampai akhirnya ia meninggal karena penyakit seks. Seks itu suci dan merupakan anugerah Tuhan. Kita tidak boleh mempermainkan dan menyalahgunakan seks. Dalam pernikahan, seks bukanlah sumber kebahagiaan. Kesalahan Salomo adalah menjadikan semua istrinya sebagai objek seks. Banyak wanita mau dijadikan istri kesekian karena tidak memiliki martabat. Mereka hanya menginginkan uang. Wanita-wanitalah yang menawarkan diri kepada Salomo karena ia sangat kaya. Kemudian Salomo menjadikan mereka objek seks. Maka dari itu Alkitab menyatakan bahwa Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (1 Raja-Raja 11:6). Kemerosotan rohani terjadi karena kehilangan komitmen rohani, fokus untuk melayani Tuhan, dan tujuan untuk memuliakan Tuhan. Setelah merosot imannya, Salomo kemudian jatuh di dalam dosa.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Hidup adalah peperangan rohani dan perjuangan rohani untuk Kerajaan Allah dan bukan untuk kerajaan diri. Kita harus berperang dan berjuang karena ada musuh di dalam dan di luar. Kita harus waspada terhadap segala virus rohani.

 

2) Supaya kita tidak mengalami kemerosotan rohani, penting untuk menjaga komitmen rohani, orientasi pelayanan, dan tujuan hidup bagi Allah. Pandemi ini bisa menurunkan spirit kita dalam kesatuan tubuh Kristus dan menurunkan semangat pelayanan kita. Kita harus kembali kepada Tuhan dan tidak membiarkan diri kita dalam ketakutan.

 

3) Harta, takhta, dan kenikmatan adalah anugerah dari Tuhan dan dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan. Kita harus selalu hidup bagi Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).