Hamba Tuhan yang Sejati (Bagian 4) – Elia Diubahkan dan Dipulihkan Tuhan

Hamba Tuhan yang Sejati (Bagian 4) – Elia Diubahkan dan Dipulihkan Tuhan

Categories:

Khotbah Minggu 31 Januari 2021

Hamba Tuhan yang Sejati (Bagian 4)

Elia Diubahkan dan Dipulihkan Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan belajar bagaimana Elia diubahkan dan dipulihkan oleh Tuhan. Kita akan melihat Firman Tuhan dari 1 Raja-Raja 19:9-43.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apakah kita pernah mengalami pergumulan dan tekanan hidup (dari aspek ekonomi, relasi, pekerjaan, dan lainnya) sampai depresi seperti Elia? Daud, Musa, dan lainnya pernah mengalami tekanan jiwa sampai mereka merasa mau mati. Kalau hal ini tidak dibereskan maka orang itu bisa mengalami depresi. Mengalami depresi itu wajar, namun ada batasannya. Hal itu menjadi tidak wajar kalau sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain dan membuat orang itu tidak lagi bertanggung jawab dalam hidupnya. Depresi yang parah adalah ketika orang itu menyakiti diri bahkan sampai bunuh diri. Kita adalah manusia yang lemah dan rentan. Kita bisa kuat hanya di dalam Tuhan.

 

            Apakah mengalami depresi itu dosa? Ini adalah pertanyaan teologis. Dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7) dikatakan bahwa kekhawatiran bisa menjadi dosa. Namun apakah semua kekhawatiran itu dosa? Belum tentu. Jika kita khawatir sampai melupakan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, maka kita sudah berdosa. Ketika kekhawatiran menjadi besar, Tuhan jadi terlihat kecil. Kekhawatiran tanpa iman itu yang membuat kita berdosa. Ketika kita menginginkan secara tidak wajar, kita sudah berdosa. Ketika kita mengalami depresi panjang tanpa solusi, kita akan sulit membaca Alkitab dan berdoa. Di sana kita menjadi fokus kepada diri sendiri. Dalam hal ini kita sedang berdosa di dalam depresi.

 

            Kewajaran seseorang mengalami depresi itu sampai batas apa? Dalam Mazmur, Daud berbicara kepada diri sendiri. Ia pernah menulis “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6). Daud berbicara dalam pimpinan Firman Tuhan kepada jiwanya yang gelisah dan tertekan. Ia menjadi sembuh dengan melihat kepada Tuhan. Kita bisa mengalami depresi, namun yang terpenting adalah solusi di dalam Tuhan. Kita tidak boleh berlama-lama dalam depresi sampai mengganggu tanggung jawab kita kepada Tuhan dan sesama.

 

            Bagaimana cara Tuhan mengubah dan memulihkan anak-anak-Nya yang mengalami depresi? Cara Tuhan itu unik bagi setiap orang, jadi tidak bisa disamakan. Namun kita bisa mempelajari prinsip-prinsipnya.

 

 

PEMBAHASAN: Pemulihan – Bimbingan Tuhan (bandingkan dengan Mazmur 42:6, 12 dan 43:5)

 

            Tuhan pertama-tama mengubahkan dengan memberikan kekuatan fisik kepada Elia. Tuhan menyuruhnya berjalan sejauh ratusan kilometer dan kemudian memberikan panggilan. Jadi Tuhan memberikan 4C: care, calling, confrontation, dan conduct. Tuhan mengkonfrontasi untuk mengubah cara pandang dan sikap Elia. Kemudian Tuhan memberikan perintah yang baru untuk mengurapi raja Aram, raja Israel, dan memanggil Elisa. Jadi pertama-tama Tuhan memberikan istirahat, makan, dan minum sampai dua kali untuk memberi Elia kekuatan (ayat 5-8) sehingga Elia bisa melanjutkan tugasnya (40 hari berjalan ke Horeb). Perjalanan ke Horeb itu kira-kira sejauh 150 km paling sedikit.  Ia harus berjalan sendiri sambil berpuasa. Hal ini tidak normal, namun itulah pemeliharaan Tuhan. Tuhan bisa memelihara umat-Nya dengan cara yang tidak normal. Cara-Nya itu seringkali ajaib. Itu untuk menyatakan kebesaran Tuhan, bukan mukjizat itu. Perjalanan selama 40 hari itu adalah untuk memulihkan tubuh dan kerohanian Elia. Tuhan memberikan retret kepada Elia sehingga ia bisa memiliki cara pandang yang baru tentang Tuhan. Kesulitan bisa dipakai oleh Tuhan untuk menumbuhkan kerohanian kita jika kita menyikapinya dengan benar. Kita pasti mau kesulitan itu cepat berlalu, namun Tuhan memberikan retret selama 40 hari untuk Elia. Selama 40 hari itu Elia harus berjalan di tengah alam. Itulah cara Tuhan mendidik Elia.

 

            Kedua, Tuhan memberikan panggilan. Tuhan bertanya “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” (ayat 9 dan 13). Di sana hati Elia terbuka. Tuhan mengingatkan Elia akan tugasnya yang belum selesai. Ketika Izebel mengancamnya, Elia tidak berdoa dan tidak bertanya kepada Tuhan. Elia tidak meminta solusi dari Tuhan tetapi malah lari dari tanggung jawab. Dalam masa pandemi ini jangan sampai kita juga lari dari tanggung jawab kita kepada Tuhan. Cara pandang kita tidak boleh salah (melihat uang atau pekerjaan lebih penting daripada kesetiaan kepada Tuhan). Ketika Tuhan bertanya, Elia menjawab “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (ayat 10 dan 14). Jawaban Elia benar kecuali bagian kesendiriannya/kesepiannya. Ternyata masih ada 7000 orang yang setia kepada Tuhan (ayat 18). Orang yang mengalami depresi biasanya merasa kesepian. Kedua, ia merasa bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti dirinya. Ketika Tuhan bertanya, Elia menjawab dari sakit hatinya. Ia lari karena mengasihi diri. Setelah Petrus menyangkal Tuhan Yesus tiga kali, Tuhan bertanya kepadanya tiga kali setelah Ia bangkit “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15-17). Melalui pertanyaan yang diulang, Tuhan bisa mengingatkan umat-Nya akan panggilan mereka. Kalau kita terus tidak peduli kepada peringatan dari Tuhan, maka Tuhan akan membiarkan kita. Ketika Allah Roh Kudus terus berbicara dalam hati kita melalui Firman Tuhan, maka kita harus mendengarkan dan taat.

 

            Ketiga, ‘Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu!’ (ayat 11). Panggilan tanpa nilai ketaatan tidak akan memiliki arti, namun di sini elia taat meskipun ia sedang depresi. Ia keluar, berdiri, dan melihat apa yang terjadi. Tuhan mau elia tidak hanya mengasihi diri lagi. Panggilan kita akan memiliki makna ketika tuhan meminta kita keluar dari masalah itu. Secara literal, gereja (ekklesia) berarti ‘dipanggil keluar’. Kita dipanggil keluar dari dosa sehingga kita masuk ke dalam kesucian tuhan. Tuhan memanggil petrus, yang mulanya adalah penjala ikan, menjadi penjala manusia. Daud memanggil jiwanya untuk berharap kepada tuhan (mazmur 42:6). Dalam diri manusia, ada 2 hukum yaitu hukum ketaatan dan hukum kedagingan. Jika kita terus mengikuti hukum kedagingan, maka kita akan menjadi semakin depresi. Jika perasaan memimpin kita dalam melihat masalah, maka perasaan kita akan menjadi kacau. Rasio yang dipimpin iman harus menjadi kacamata kita dalam melihat masalah. Tuhan mau elia mendengarkan suara tuhan lebih daripada suara perasaannya. Surat efesus mengingatkan kita untuk tidak pasif dalam keselamatan kita melainkan untuk menjadi aktif dan menyatakan ketaatan kita kepada Tuhan.

 

            Keempat, inilah cara Tuhan untuk mengubah konsep pandang Elia. Tuhan tidak ada dalam angin besar dan kuat, gempa maupun api, tetapi ada dalam angin sepoi-sepoi basa (ayat 11-12; Mazmur 103:8-14). Tiga kekuatan alam itu bisa menghancurkan dan membunuh manusia, namun Allah tidak hadir dalam ketiga hal itu. Tuhan mau mengajarkan bahwa Ia hadir tidak hanya dalam perkara-perkara besar tetapi juga dalam hal-hal kecil. Teologi yang salah bisa menghasilkan sikap yang salah. Ketika Nebukadnezar bertanya tentang mimpinya dan artinya kepada orang-orang berhikmat di Babel, tidak ada satupun yang bisa menjawab kecuali Daniel yang mendapatkan pertolongan Tuhan (Daniel 2). Dalam peristiwa itu dan yang lainnya, Daniel tidak meminta untuk dipuji atau diberikan hadiah tetapi ia mau menyatakan kebesaran Tuhan supaya Nebukadnezar mengakui siapa Allah yang sejati. Setelah Nebukadnezar terus menerus tidak mau mengakui Tuhan, ia diberikan penyakit boantropi (Daniel 4). Kepada raja Belsyazar yang sedang mabuk dan mau memakai perkakas Bait Suci untuk pestanya, Tuhan memberikan tulisan ‘mene, mene, tekel ufarsin’ (Daniel 5). Apa yang Tuhan katakan itu semuanya terjadi. Jadi Tuhan terus menerus dalam kesetiaan beserta dengan anak-anak-Nya. Ketika Yusuf terlihat seperti dibuang, Tuhan sebenarnya sedang beserta dengannya. Ia menjadi berkat karena Tuhan menyertainya. Untuk mengubah Elia, Tuhan memakai angin, api, dan gempa itu. Tuhan justru hadir dalam angin sepoi-sepoi basa. Tuhan itu panjang sabar dan penuh kasih sayang. Ia memberikan perlindungan bagi anak-anak-Nya. Amsal 30:5 Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Perlindungan bagi Elia bukanlah gua tempat pelariannya, tetapi Tuhan. Maka dari itu kita harus senantiasa membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Itu membuat kita bisa bersukacita dalam masa sulit.

 

            Kelima, koreksi terhadap Elia (ayat 15-18) ‘pergilah, kembalilah’. Ini harus dilakukan oleh setiap orang yang meninggalkan pelayanan tanpa izin Tuhan. Tuhan mengubah cara pandang Elia dan mengutusnya pergi untuk melakukan pelayanannya. Ketika angin sepoi-sepoi itu datang, Elia menutupi mukanya dengan jubahnya (ayat 13). Ia mulai peka akan kehadiran Tuhan, jadi ia sudah mengalami kesembuhan. Setelah itu Tuhan mengutusnya kembali untuk melayani. Ketika sebagian dari para murid kembali menjadi nelayan, mereka tidak peka ketika Tuhan Yesus datang (Yohanes 21:4). Namun kemudian Tuhan Yesus memanggil mereka kembali dan mengutus mereka. Cara Tuhan memulihkan Elia dan mengutusnya kembali juga unik dalam bagian ini.

 

            Keenam, Allah menunjukkan pelayanan yang Allah kehendari dari Elia (ayat 15-17). Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau (ayat 15-16). Mengapa Elia harus mengurapi raja Aram? Agar Aram mengakui bahwa segala kuasa pemerintahan ada di tangan Tuhan. Mengapa Elia juga harus mengurapi raja Israel? Jawabannya juga sama. Setelah itu Elia juga harus memanggil Elisa untuk menjadi penggantinya. Elisa juga dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kebesaran Tuhan atas segala bangsa. Ketika Izebel mengancam Elia, seharusnya Elia menyatakan kebesaran Tuhan atas segala kerajaan, bukan lari ketakutan. Ketika Elia diutus kepada orang yang akan menjadi raja Aram, ia tidak ketakutan. Padahal kerajaan Aram itu kejam. Jadi di sini kita melihat bahwa Elia sudah sembuh karena ia sudah mengalahkan ketakutannya.

 

            Ketujuh, Allah menunjukkan kesalahan Elia yang menganggap bahwa dirinya tinggal sendirian saja (ayat 18 – Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia). Elia salah berpikir karena ia merasa kesepian karena depresinya.

 

            Kedelapan, Elia bangkit/sembuh dan ia taat kembali pada perintah Tuhan dan ia kembali melakukan pelayanan (ayat 19-21). Pengutusan ini justru mengangkatnya dari kejatuhannya/depresinya. Cara Tuhan begitu luar biasa memulihkan Elia. Setelah dipulihkan, kita harus menjalankan ketaatan kita secara total dan tidak boleh ketakutan lagi.

 

 

KESIMPULAN

 

            Allah tidak akan membiarkan anak-anak-Nya mengalami depresi yang berlebihan/gagal di dalam hidupnya untuk menjadi berkat. Kita harus mendengarkan suara Tuhan. Kita harus menang terhadap situasi Covid-19 ini. Virus Covid-19 tidak akan hilang dari dunia ini. Cara pandang kita harus benar dalam menghadapi situasi ini. Iman harus menjadi kacamata kita, bukan ketakutan. Panggilan Tuhan harus kita dengarkan dan taati. Kita harus berjalan dalam jalan yang Tuhan sudah tentukan bagi kita.

 

            Depresi dapat menimpa siapapun juga ketika ia gagal melihat masalah dengan cara pandang yang benar berdasarkan iman dan sikap yang benar. Jadi teologi yang benar itu sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan. Itulah mengapa kita harus sungguh-sungguh memerhatikan Firman Tuhan. Gereja harus dibangun di atas pengajaran yang benar dari Firman Tuhan.

 

            Cara Allah mengubah dan memulihkan anak-anak-Nya yang sedang berada dalam pergumulan/depresi itu unik (4C). Prinsip konfrontasi dipakai dalam nouthetic counseling. Jadi orang-orang diperhadapkan dengan Firman Tuhan supaya mereka langsung bercermin. Mereka diberikan tugas sebagai bagian dari program ketaatan. Orang tua Kristen juga harus menegur anak-anaknya yang bersalah dengan Firman Tuhan dan memberikan program ketaatan kepadanya.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).