Yosafat – Wibawa Ilahi (2 Tawarikh 17:1-10)

Yosafat – Wibawa Ilahi (2 Tawarikh 17:1-10)

Categories:

 

Khotbah Minggu 7 Februari 2021

Yosafat – Wibawa Ilahi (2 Tawarikh 17:1-10)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Yosafat. Ia adalah raja Yehuda yang keempat setelah Salomo. Kita akan secara khusus membahas tentang wibawa ilahi. Bagian Firman Tuhan yang akan kita lihat bersama adalah 2 Tawarikh 17:1-10.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa itu kewibawaan atau karisma? Alkitab berkata bahwa itu adalah kemampuan yang Tuhan berikan agar seseorang dapat memimpin, memengaruhi, dan menguasai. Jika seorang ibu rumah tangga bisa memengaruhi anak-anaknya dan orang-orang yang bekerja di bawahnya, maka itu berarti ibu itu memiliki wibawa. Namun apa itu wibawa ilahi? Inilah yang akan kita pelajari. Dari mana sumber wibawa seseorang? Wibawa bisa dipelajari. Kita bisa mempelajari dan melatih cara berkomunikasi untuk mendapatkan wibawa. Namun seperti apakah wibawa yang datang dari Tuhan? Mengapa wibawa itu penting? Kita sering mengejar wibawa dunia atau lahiriah, namun jika kita tidak mengejar wibawa ilahi, maka hidup kita tidak akan berdampak pada orang lain. Hidup kita bisa memengaruhi orang lain, namun iman belum tentu tertanam dalam diri orang itu. Mungkinkah seorang anak Tuhan tidak memiliki wibawa ilahi? Hal ini perlu kita renungkan. Perjanjian Baru mengajarkan kita bahwa setiap anak Tuhan diberikan kuasa. Yohanes 1:12 menyatakan bahwa setiap anak Tuhan akan memiliki wibawa ilahi. Bagaimana jika wibawa itu dicabut oleh Tuhan karena dosa atau karena kita tidak setia dan taat? Saul pada mulanya memiliki wibawa ilahi sehingga rakyat sungguh menghormatinya. Namun setelah Saul berdosa, wibawa itu dicabut oleh Tuhan. Ini hal yang mengerikan. Kita akan mempelajari seperti apa orang yang memiliki wibawa. Apa bedanya wibawa dari Tuhan dengan wibawa yang bukan dari Tuhan? Mengapa Tuhan memberikan wibawa ilahi kepada Yosafat? Ia menjadi raja pada umur 35 tahun dan ia memerintah selama 25 tahun. Namun pada bagian berikutnya dinyatakan bahwa Yosafat jatuh dalam dosa relasi ketika ia menikah dengan anak Ahab. Jadi ada cinta yang bisa menghancurkan iman dan hati nurani kita sehingga kita tidak bisa peka terhadap pimpinan Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Takhta Allah dan Kekuasaan Yosafat

            Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa ketika kita diberikan wibawa ilahi maka kita juga akan menerima kuasa ilahi. Sebagai anak Tuhan kita diberikan kuasa untuk meninggikan takhta Kristus dan menyatakan kuasa perubahan. Perubahan itu nyata dalam hidup kita yang tidak lagi duniawi dan tidak lagi berada di dalam dosa. Kuasa yang Tuhan berikan itu memampukan kita untuk memenangkan jiwa-jiwa untuk kemuliaan Tuhan. Orang yang mau memiliki wibawa ilahi harus menyadari takhta Kristus dalam dirinya. Ketika kita dipilih oleh Tuhan, kita tidak lain adalah alat di mata Tuhan. Kuasa dari Tuhan merupakan suatu titipan agar kita bisa memengaruhi orang lain sehingga mereka melihat kepada Tuhan.

 

            Kita melihat bahwa ada kajian strategis yang dibuat Yosafat ketika ia menjadi raja menggantikan ayahnya. Ia menganalisa situasi di dalam kerajaannya dan di luar kerajaannya. Ia mau agar kerajaan Israel memuliakan nama Tuhan. Kajian strategis adalah evaluasi diri yang baik sehingga kita bisa mengenal diri dan bagaimana kita menjalankan segala sesuatu untuk memuliakan nama Tuhan. Dalam ayat pertama dikatakan bahwa Yosafat memperkuat kerajaannya. Ini berarti ia tahu bahwa ada kelemahan dalam kerajaannya. Ia memperkuat keamanan kerajaannya dengan membangun kubu-kubu pertahanan yang kuat. Ia mau agar rakyat merasa aman dan nyaman. Ketika kita membeli rumah, kita pasti ingin punya rumah yang aman dan nyaman. Semua manusia membutuhkan rasa aman dan nyaman. Yosafat membuat strategi itu terlebih dahulu sehingga kerajaan Yehuda menjadi kuat secara internal. Setelah itu ia menyusun misi strategis. Ia mengatur strategi keamanan untuk kerajaan Yehuda (ayat 2). Mereka tahu bahwa kerajaan yang memuliakan Tuhan tetap bisa mendapat ancaman. Musuh pasti ingin menjatuhkan. Ketika kita tahu bahwa ada musuh-musuh yang mau menyerang kita, maka kita pasti memperkuat keamanan yang dimulai dari perbaikan kepemimpinan kita. Yosafat melakukan ini untuk membangun mental orang Yehuda. Ketahanan mental selalu mengandung bukti untuk apa yang kita kerjakan. Mental kita bisa kuat ketika kita sudah menyiapkan segala sesuatu. Jadi kita harus mengerjakan apa yang kita bisa kerjakan. Dalam zaman ini, banyak anak muda tidak memiliki ketahanan mental. Survei ini dilakukan di beberapa negara. Banyak anak muda berpikir mudah dan cepat. Dalam zaman ini semua menjadi serba mudah dengan media sosial dan internet. Ini membuat banyak anak muda mudah sakit karena hidupnya terlalu nyaman. Dalam bagian ini kita harus mencari solusi. Yosafat ingin membangun ketahanan secara fisik maupun mental. Ia sudah mengerjakan apa yang ia bisa kerjakan sebagai tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Namun ia tidak puas sampai di sana saja.

 

2) Karakter Iman dan Wibawa Yosafat

            Dalam ayat ketiga dikatakan bahwa Yosafat percaya pada Firman Tuhan. Ia tidak percaya kepada para Baal atau manusia. Ia melihat kepada Firman Tuhan untuk mengerti tentang hidup, masa depan, dan lainnya. Iman Yosafat itu seperti iman raja Asa dan raja Daud yang sungguh percaya kepada Allah. Ia sadar bahwa Allah memiliki otoritas yang paling tinggi. Jadi iman Yosafat itu begitu luar biasa. Namun apakah iman seperti ini cukup? Ayat keempat menyatakan bahwa Yosafat sungguh mencari Allah dan menghidupi Firman Tuhan. Jadi ia tidak hanya mencari kepuasan pengetahuan. Ia tahu siapa Tuhan dan setiap hari ia mencari kehendak Tuhan. Sebagai seorang raja, ia tahu bahwa ia harus menggenapkan kehendak Tuhan. Untuk mengerjakan kehendak Tuhan, kita harus memiliki ketekunan iman dan kepercayaan bahwa Allah pasti memelihara kita. Yosafat bisa saja memimpin tanpa kehendak Tuhan dan memimpin dengan kehendak diri, kehendak nabi palsu, atau kehendak rakyat, namun Yosafat mencari kehendak Tuhan. Bagaimana kita memimpin akan menunjukkan apakah kita orang beriman atau tidak. Ada pemimpin-pemimpin yang menyetujui LGBT dengan alasan-alasan tertentu. Di sana kita tahu bahwa mereka tidak sungguh beriman. Kita harus berhati-hati terhadap setiap motivasi dalam diri kita yang tidak suci. Dalam bagian ini Yosafat tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia tidak mencari banyak istri dan keindahan istana. Hal yang ia cari adalah kehendak Tuhan. Yosafat dari sebelumnya sudah mengkaji sejarah, raja-raja sebelum dia, kelemahan laki-laki, dan lainnya. Kita harus berhati-hati terhadap segala keinginan yang terselubung. Jika ada dosa di dalamnya, maka kita bisa hancur.

 

            Yosafat tidak mencari kepuasan duniawi tetapi mendemonstrasikan imannya. Ia menghidupi perintah Tuhan setiap hari. Ini berarti ia mengutamakan Tuhan. Ia membaca Taurat dan memahami tugas sebagai seorang raja. Apa yang akan kita cari terlebih dahulu ketika kita memiliki kuasa yang besar? Jika kita mencari harta duniawi terlebih dahulu, maka itu berarti bahwa kita belum memiliki karakter iman di dalam Tuhan. Manusia bisa diuji dengan kekayaan, kuasa, dan kesempatan. Yosafat mencari Allah dan menghidupi kehendak-Nya. Ini menunjukkan bahwa Yosafat adalah pemimpin yang rendah hati. Ia tidak mau diperbudak oleh keinginan yang tidak suci. Ia sanggup mencari banyak perempuan, namun ia tidak melakukan itu.

 

            Di sinilah kita mengerti mengapa Tuhan menyertai Yosafat dan mengukuhkan kerajaannya (ayat 3 dan 5). Allah hadir dan menyertainya karena Yosafat memiliki kapasitas iman yang sungguh layak di hadapan Tuhan. Ia memiliki karakter iman sebagai raja yang menyatakan kerajaan Tuhan. Inilah mengapa wibawa itu diberikan oleh Tuhan kepadanya. Hal yang terpenting bukanlah berapa banyak kuasa manusia yang kita punya. Penyertaan Tuhan adalah hal yang terpenting dalam hidup kita. Dalam masa pandemi seperti ini kita harus terus meminta penyertaan Tuhan. Kita bisa mengusahakan hidup sehat, namun di balik itu semua, penyertaan Tuhan adalah hal yang terpenting. Ketika kita jatuh sakit karena Covid-19, kita tidak boleh langsung menyalahkan Tuhan. Mungkin itu cara Tuhan untuk memberikan ketahanan dalam diri kita. Penyertaan Tuhan selalu berkaitan dengan hidup kita yang berkarya bagi Tuhan. Kita tidak bisa meminta penyertaan Tuhan namun kita sendiri tidak mau menjalankan kehendak Tuhan. Penyertaan Tuhan selalu berkaitan dengan misi dari Tuhan. Kita sadar bahwa kita hanyalah orang-orang lemah, namun ketika kita beriman dan kita mau hidup kita dipakai oleh Tuhan, maka Tuhan bisa memercayakan perkara-perkara yang besar kepada kita. Penyertaan Tuhan akhirnya membuat kerajaan Yehuda menjadi kuat. Ketahanan keluarga yang pertama adalah setiap anggota memegang komitmen untuk mengutamakan Tuhan. Inilah ketahanan yang terpenting. Ketahanan ekonomi, sosial, dan lainnya itu tidak cukup. Ketahanan Gereja kita adalah ketika kita terus menjalankan visi dan misi dari Tuhan. Kita harus mementingkan pengajaran yang benar sesuai dengan Alkitab, penginjilan, dan mandat budaya. Ini berarti setiap bagian harus bersatu dalam visi dan misi. Ketahanan ekonomi atau yang lainnya tanpa ketahanan iman pasti tetap akan rapuh. Tuhan memberkati Yosafat agar ia bisa memimpin rakyat untuk melihat kepada Tuhan.

 

            Dari ayat kelima kita melihat bahwa Yosafat menjadi raja yang ditaati dan dihormati oleh rakyatnya. Wibawa ilahi diberikan agar kita dapat memimpin, menguasai, dan memengaruhi. Pengajar sesat bisa melakukan ketiga hal ini karena wibawa yang dari dunia atau Setan. Wibawa dunia bisa menipu, bisa ditiru, dan bisa dipelajari. Jadi wibawa ilahi dari Tuhan itu tetap yang tertinggi dan itu Tuhan berikan kepada Yosafat. Tuhan bisa memberikan wibawa ilahi kepada kita karena kita mau hidup suci, hidup bagi kebenaran, dan mau hidup berintegritas. Wibawa kita bukan datang dari jabatan yang bisa berakhir. Rakyat menghormati Yosafat karena ia bisa menjadi pemimpin baik secara fisik maupun rohani.

 

3) Kesabaran dan Kegigihan Iman Yosafat

            Yosafat berfokus dalam mengajar suku Yehuda tentang Firman Tuhan (ayat 6-9). Ia tahu bahwa ketahanan fisik itu penting, namun ia juga tahu bahwa hal yang lebih penting adalah ketahanan iman. Bangsa Yehuda tidak sepenuhnya setia kepada Tuhan karena sebagian dari mereka masih menyembah Baal. Untuk itulah Yosafat membuat program rohani. Dikatakan bahwa Yosafat memiliki kesabaran dan kegigihan dalam mengajar. Bagaimana caranya? Selama 3 tahun Yosafat tekun menyiapkan para pejabat Yehuda untuk menjadi pengajar Firman Tuhan (ayat 7-9). Setiap kota dan desa diajarkan Firman Tuhan, secara khusus kitab Pentateukh. Jadi para pejabat di Yehuda tidak hanya memiliki kapasitas untuk bekerja tetapi juga untuk mengajarkan Firman Tuhan. Kekuasaan tidak pernah terlepas dari iman dan kemuliaan Tuhan. Kekuasaan yang identik dengan hal-hal duniawi itu mudah, namun Yosafat mengerjakan kekuasaan yang berkaitan dengan kemuliaan Tuhan. Ia tidak mau memilih pejabat yang tidak mengerti iman, Firman Tuhan, dan kemuliaan Tuhan. Jadi Yosafat menguji para pejabatnya sebelum menjabat dari segi iman, perjuangan, dan lainnya. Yosafat mau para pejabat menjadi guru rohani bagi kerajaannya. Ini berjalan secara efektif dalam kerajaan Yehuda. Terkadang kita sulit mencari rekan seiman yang mau berjuang bersama-semua. Maka dari itu Gereja harus terus membimbing dan menyiapkan kaum muda sehingga mereka punya kualitas iman dan perjuangan hidup yang jelas bagi Tuhan. Banyak pemuda memiliki kepintaran namun tidak beriman. Padahal iman dan pengetahuan itu tidak boleh terpisah. Iman dan keahlian juga demikian. Itulah mengapa Yosafat memilih pejabat berdasarkan kualitas iman dan mendidik mereka selama 3 tahun agar mereka bisa mengajarkan Firman Tuhan.

 

4) Wibawa Ilahi Yosafat dan Pengaruhnya

            Setelah semua itu beres, kita melihat wibawa ilahi Yosafat dan pengaruhnya. Tuhan memberikan rasa takut kepada raja-raja di sekeliling Yehuda (ayat 10, bandingkan dengan Yosua 4:14 dan Markus 10:43-44). Yosafat tidak memamerkan kuasa militernya, namun kerajaan-kerajaan di sekitarnya menjadi takut karena Tuhan bekerja. Wibawa dunia belum tentu memberikan pengaruh, namun wibawa ilahi itu pasti memberikan hasil dan pengaruh. Pengaruh itu ada karena Tuhan bekerja. Hal ini diberikan kepada kerajaan Yehuda. Mereka merasa aman dan nyaman karena Tuhan menjaga mereka. Dalam konteks Yosua: Yosua 4:14 Pada waktu itulah TUHAN membesarkan nama Yosua di mata seluruh orang Israel, sehingga mereka takut kepadanya, seperti mereka takut kepada Musa seumur hidupnya. Yosua merasa gentar ketika ia harus melanjutkan perjuangan Musa. Ia sadar akan kelemahan dirinya. Maka dari itu ia berdoa meminta penyertaan Tuhan. Tuhan memberikan wibawa kepada Yosua sehingga rakyat menghormati Yosua seperti menghormati Musa. Wibawa seorang pemimpin bukan dilihat dari umurnya tetapi dari bagaimana ia mengandalkan Tuhan seperti Yosafat.

 

            Perjanjian Baru dalam Markus 10:43-44 menyatakan: Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Di hadapan Tuhan, orang yang terbesar adalah orang yang mau melayani yang lain dan yang mau menjadi hamba. Ini hal yang berat. Kita harus menunjukkan kualitas iman dan karakter seorang pelayan. Jika kita mau wibawa dari Tuhan, maka itu berarti pelayanan kita tidak boleh berhenti hanya karena Covid-19 atau alasan apapun juga. Kualitas ketaatan dan kesetiaan kita harus berpadu ketika kita melayani orang lain supaya ia bisa melihat kepada Tuhan. Inilah kerendahan hati yang harus ada dalam hidup kita. Wibawa ilahi sudah diberikan Tuhan kepada kita. Tugas kita adalah menjaganya dengan membuktikan kualitas pelayanan kita. Markus 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Inilah mental yang harus kita miliki. Kita harus punya hati yang melayani dan hati yang mau menjadi hamba. Wibawa ilahi bisa dicabut dari hidup kita ketika kita hanya mau melayani diri sendiri seperti Saul dan Yudas. Kita menjaga wibawa ini dengan melayani Tuhan dalam setiap waktu. Melalui wibawa itu kita akan diberikan kemampuan untuk memimpin, memengaruhi, dan menguasai. Hidup kita harus memberikan pengaruh yang membuat orang-orang kembali kepada Tuhan. Itulah yang Yosafat kerjakan.

 

 

KESIMPULAN

 

            Kita harus memulai segala sesuatu dengan berpikir komprehensif (analisa SWOT dan lainnya). Melalui hal ini kita mengevaluasi diri dan menjadi lebih mengandalkan Tuhan, bukan manusia. Kita belajar mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan iman kita untuk bekerja, belajar, atau mencapai masa depan. Selama 3 tahun Yosafat menyiapkan para pejabat agar mereka bisa menjadi guru iman bagi rakyat Yehuda. Jadi mereka tidak memiliki standar ganda dalam melihat segala sesuatu. Wibawa ilahi diberikan Tuhan kepada kita ketika kita sungguh-sungguh memiliki ketaatan dan kesetiaan dalam melayani Tuhan. Itu jelas dikatakan dalam Alkitab. Kita harus melayani Tuhan untuk mendapatkan wibawa itu. Kita harus membuktikan kualitas iman dan integritas kita. Ketika wibawa ilahi itu dicabut dari hidup kita maka kita pasti merasa sedih. Ketakutan bisa membuat kita tidak melayani Tuhan sehingga akhirnya kita kehilangan wibawa ilahi itu. Kita harus meminta wibawa ilahi untuk memimpin kehidupan kita agar menjadi alat kemuliaan Tuhan. Wibawa ilahi ini kita minta agar kita bisa memberikan pengaruh kepada orang-orang di sekitar kita. Kita harus taat dan setia melayani Tuhan. Kita tidak boleh mundur. Iman menentukan segala keputusan kita di dalam masa pandemi ini. Maka dari itu kita harus menjaga iman.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).