Domine, Memento Mei (Lukas 23:33-43)

Domine, Memento Mei (Lukas 23:33-43)

Categories:

Khotbah Minggu 14 Februari 2021

Domine, Memento Mei (Tuhan, Ingatlah akan Aku)

Bpk. Tonny Sutrisno, M.B.A.

 

 

Kita akan membaca dari Lukas 23:33-43. Kehidupan Kristen harus dimulai dengan pengakuan iman seperti tertulis dalam Matius 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Kita akan melihat apa pesan Tuhan dalam narasi penyaliban di Injil Lukas, secara khusus bagian yang sudah kita baca. Bagian ini berbicara tidak hanya tentang pengakuan iman penjahat di sebelah Yesus yang bertobat tetapi juga tentang bagaimana kemenangan Yesus dinyatakan di atas kayu salib. Lukas mau menyiapkan kita dalam hal bagaimana kita menghadapi dunia ini dan bagaimana dunia menghina salib yang sebenarnya adalah bukti kemenangan Kristus. Perikop ini mengajarkan kita bagaimana kita melihat dan mengerti dengan hati tentang realitas spiritual dan tanggung jawab manusia ketika kita menyatakan iman kita. Dalam zaman Kisah Para Rasul, orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu harus menanggung risiko kematian. Pada saat itu kerajaan Romawi hanya mengaku satu Juruselamat (soter) yaitu kaisar dan tidak boleh ada yang lain.

 

Ada ahli-ahli yang menyatakan bahwa kalimat Yesus ayat ke-34a merupakan sisipan yang ditulis setelah Injil Lukas selesai dituliskan. Ini karena mereka melihat bahwa bagian ini tidak tertulis dalam ketiga Injil yang lain (Matius, Markus, dan Yohanes). Ada teolog yang menyatakan bahwa Lukas menambahkan bagian ini untuk menguatkan teologinya. Namun kita tidak menerima pandangan seperti ini. Pandangan ini berbahaya karena menyatakan bahwa Firman Tuhan bisa ditambahkan dengan pemikiran manusia yang tidak dipimpin oleh Allah Roh Kudus. Bagian ini merupakan ciri khas Lukas, terutama kata ‘penjahat’ yang juga terlihat pemakaiannya dalam Kisah Para Rasul. Lukas mau menyampaikan bahwa posisi Yesus disamakan dengan para pemberontak. Namun Yesus berdoa memohon pengampunan (34a). Bagian ini mau menyatakan tentang Yesus sebagai Mediator. Yesus berdoa untuk para musuh-Nya termasuk kita. Bagian ini juga menjadi model yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul tentang kisah Stefanus. Kisah Para Rasul 7:60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. Doa ini mirip dengan doa Tuhan Yesus di atas kayu salib. Stefanus mengutip bagian ini. Kalimat Yesus dalam 34a ini memang tidak menggenapkan nubuat apapun tetapi ada kaitan dengan Yesaya 53:12b yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak. Di sini Lukas menampilkan Yesus sebagai Meditator antara Allah dengan manusia berdosa. Yesus berdoa bagi untuk para pemberontak. Saat ini pun Yesus masih berdoa untuk kita. Ia tetap adalah Mediator kita. Bagi kita, bagian ini bukanlah sisipan atau akal-akalan Lukas.

 

Alasan yang lebih kuat lagi bagi kita untuk menerima bagian ini sebagai kebenaran adalah motif salib bagi Lukas yang merupakan tempat pengampunan dari Allah bagi setiap keberdosaan dan ketidakpedulian manusia. Ketika Yesus menyatakan doa itu di atas kayu salib, maka sebenarnya Allah sedang memberikan kita kesempatan untuk bertobat. Ini sesuai dengan teologi salib Injil Lukas. Bagian ini mengingatkan kita bahwa kesabaran Allah merupakan kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Mungkin saat ini ada dosa-dosa dalam hidup kita, baik yang kita sadari maupun tidak, yang kita biarkan. Tuhan sebenarnya saat ini sedang menunggu dengan sabar sampai kita mau datang kepada Tuhan. Tuhan itu panjang sabar dan tidak habis. Batas kesabaran Tuhan adalah ketika kita tidak mau bertobat dan selalu membenarkan diri. Jadi belas kasihan Tuhan itu begitu luar biasa. Ia mau kita datang kepada-Nya untuk menyerahkan seluruh hidup kita. Ayat 34 ini merupakan dasar dari perubahan yang terjadi pada penjahat yang bertobat itu. Kitab-kitab Injil yang lain tidak mencatat pertobatan penjahat ini dan Lukas tidak mencatat penjahat mana yang bertobat. Lukas menampilkan cemooh banyak orang terhadap Yesus sebagai antitesis atau pernyataan yang kemudian dibalikkan dan dibuktikan salah. Orang-orang itu menyatakan bahwa Yesus tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri dari atas kayu salib. Itu memang bukan tujuan Tuhan. Yesus datang untuk menderita dan mati bagi kita. Orang-orang itu tidak melihat Yesus sebagai Mesias, namun sebenarnya Dia adalah Mesias. Mereka mengejek Yesus sebagai raja orang Yahudi, padahal Ia memang raja orang Yahudi, bahkan seluruh ciptaan. Ini semualah yang ingin dibalik oleh Lukas ketika Yesus berada di atas kayu salib, bukan ketika Yesus bangkit. Para murid mungkin lebih mudah mengerti ketika melihat kebangkitan Yesus. Injil Yohanes terus menerus menyatakan bahwa para murid tidak mengerti. Namun Lukas mau menyatakan bahwa di atas kayu salib itu semua ejekan orang-orang langsung dibalik atau dibuktikan salah. Ada tesis baru yang Lukas sampaikan.

 

Ejekan itu sebenarnya sudah terjadi dalam Lukas 4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: ‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’ Ada kemiripan di sini. Mereka meminta Yesus melakukan apa yang pernah Yesus lakukan. Ada teolog yang menyatakan bahwa segala ejekan yang dilontarkan kepada Yesus merupakan bentuk lain dari pencobaan di padang gurun dengan puncaknya berupa ejekan agar Tuhan Yesus turun dari atas kayu salib. Pencobaan di padang gurun disebut dalam surat Yohanes sebagai ‘keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup’. Tiga dosa ini bercabang menjadi berbagai macam dosa dalam hidup manusia. Ketika kita beriman kepada Kristus, secara otomatis mereka akan mengejek kita juga. Dunia tidak akan terganggu dengan lambang-lambang lain, tetapi pasti terganggu oleh salib. Dunia akan membenci kita dengan cara apapun. Dunia akan menawarkan segala hal yang menolak salib. Dunia menawarkan kemakmuran, kekayaan, kesehatan, dan segala hal yang tidak ditawarkan oleh salib Tuhan. Namun bukan semua itu yang menobatkan penjahat itu. Penjahat itu pasti mendengar semua ejekan yang diberikan kepada Tuhan, namun itu bisa memimpinnya untuk percaya kepada Kristus.

 

Teologi Reformed, dalam melihat penjahat ini, menyatakan ada monergisme dan sinergisme. Monergisme menyatakan bahwa keselamatan adalah 100% anugerah Tuhan dan tidak ada usaha manusia. Namun dalam sinergisme teologi Reformed juga menyatakan bahwa dalam keselamatan yang adalah 100% anugerah Allah menuntut 100% respons atau tanggung jawab manusia. Lukas menggambarkan bagaimana manusia harus memberikan respons di hadapan Tuhan. Ia tidak menuliskan formula-formula Injil yang biasa kita dengar misalnya pengakuan dosa, kalimat menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Lukas tidak menampilkan semua itu. Lukas seperti tidak tertarik menuliskan bagaimana iman itu timbul tetapi ia menulis tentang respons manusia yang beriman kepada Tuhan. Lukas 7 memuat kisah tentang perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan air mata, perempuan yang sakit pendarahan, orang kusta, dan orang buta. Dalam semua itu Tuhan Yesus berkata: imanmu telah menyelamatkanmu. Lukas tidak mencatat lebih dari itu misalnya bagaimana iman itu timbul dan memberikan keselamatan. Lukas 7 juga memuat kisah tentang perwira yang beriman. Tuhan Yesus berkata tentang dirinya: iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai sekalipun di antara orang Israel. Lukas sebenarnya mau mencatat bahwa dalam pertemuan dengan Tuhan yang sejati selalu diikuti dengan tindakan iman. Itu juga yang mau dicatat oleh Lukas ketika penjahat itu menyatakan imannya kepada Yesus di kayu salib. Dalam Lukas 19, Lukas juga mencatat tentang Zakheus yang bertindak secara radikal berdasarkan iman yang ia terima. Ia menyatakan bahwa dirinya lebih mengasihi Tuhan daripada hartanya. Lukas 23 mau menggambarkan bahwa puncak pelayanan Yesus adalah di atas kayu salib. Bagian ini menampilkan teologi salib versi Lukas. Hampir semua orang yang hadir kecuali satu orang melihat bahwa Yesus di kayu salib itu sedang kalah dan tidak bisa membuktikan apapun. Itulah yang dunia lihat, termasuk para murid dan saudara-saudara-Nya. Mereka semua melihat bahwa Yesus tidak berdaya di atas kayu salib, kecuali satu orang yaitu penjahat itu. Cara pandang yang benar dalam melihat salib Kristus itulah yang akan mengubah kita. Jadi masalahnya bukan bagaimana Yesus membebaskan diri dari kayu salib.

 

Dalam ayat ke-40 sampai 42 kita melihat gerakan yang radikal dari penolakan kepada iman yang sejati. Pada awalnya penjahat itu juga menolak Tuhan, namun kemudian ia beriman. Penjahat itu bukan berharap dilepaskan dari kayu salib tetapi dari hukuman kekal. Ia berkata: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah…’. Frasa ini merupakan pernyataan yang mendasar dalam Yudaisme. Penjahat itu adalah orang Yahudi. Takut akan Tuhan adalah hal yang begitu utama. Mazmur 34:12 Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! Takut akan Tuhan juga merupakan tema sentral dalam kitab-kitab hikmat Yahudi (Amsal, Ayub, Pengkhotbah, dan Mazmur). Amsal 1:7 menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Ayub 28:28 berbicara tentang takut akan Tuhan dan berbalik dari kejahatan. Pengkhotbah mengajarkan bahwa takut akan Tuhan adalah dasar pengharapan dalam penghakiman Tuhan. Mazmur menyatakan bahwa takut akan Tuhan harus diajarkan kepada orang-orang Israel.

 

Dalam ayat ke-41 penjahat itu berkata: Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. Ini bukan kalimat yang sederhana tetapi sebuah pengakuan: jika Yesus tidak bersalah maka aku bersalah dan jika Yesus tidak pantas menerima ini maka aku pantas. Ketika kita berdosa, mungkin kita sering mengatakan bahwa orang lain juga melakukan dosa yang sama. Di sana kita menjadi sulit menerima teguran itu. Kita mungkin berdalih dengan memprotes cara orang yang menegur kita. Kita bisa mencari ribuan alasan untuk menegaskan bahwa kita tidak pantas menerima hukuman atau teguran itu. Di dalam hal itu sebenarnya kita sedang menyatakan bahwa orang lain dan bukan kitalah yang berdosa. Penjahat di sebelah Yesus itu tidak hanya menderita di atas kayu salib tetapi juga menyatakan bahwa hukuman itu pantas baginya. Pernahkah kita menempatkan diri kita di atas kayu salib, menerima segala kehinaan, dan mengatakan bahwa kita pantas menerima hal itu? Pengakuan dosa yang benar adalah ketika kita sadar bahwa kita tidak memiliki apapun di hadapan Tuhan dan bahwa kita adalah orang berdosa yang pantas mendapatkan hukuman. Namun banyak orang Kristen merasa tidak pantas menerima hukuman dalam hidupnya. Penjahat itu tahu bahwa Yesus tidak berdosa dan tidak bersalah. Kalimat itu menyatakan perendahan dirinya di hadapan Tuhan dan orang-orang yang menghukumnya. Pertobatan yang sungguh-sungguh itu tidak hanya di hadapan Allah tetapi juga di hadapan manusia. Lukas 2:52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Ini berarti Yesus benar di hadapan Tuhan dan manusia. Samuel pun demikian.

 

Penjahat ini dimampukan untuk melihat dan mengerti paradoks salib. Salib yang merupakan kehinaan menjadi kemuliaan dan penjahat itulah yang pertama kali melihat kemuliaan itu. Inilah teologi salib yang mau disampaikan oleh Lukas. Ia diberikan kesempatan untuk melihat identitas Yesus yang sesungguhnya di atas kayu salib. Para murid yang sering bersama dengan Yesus justru tidak melihat identitas Yesus yang sesungguhnya. Di sini ada paradoks. Ketika Yesus menyatakan bahwa diri-Nya akan mati dan bangkit, para murid tidak mengerti hal itu. Mereka malah menyimpan pengharapan yang lain. Para murid yang berada dalam keadaan nyaman dan aman justru tidak bisa melihat siapa Yesus, namun penjahat yang sedang disalib itu melihat. Penjahat itu bisa melihat siapa Yesus bukan karena ia hampir mati karena penjahat lainnya juga sama-sama hampir mati dan tidak bertobat. Penjahat yang bertobat itu diberikan kesempatan untuk melihat identitas Yesus. Lukas 9:22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Dari awal Tuhan Yesus sudah menjelaskan hal ini kepada para murid tetapi mereka tidak bisa menerima hal itu. Mereka sebenarnya sedang menolak identitas Yesus sebagaimana yang Yesus sendiri telah sampaikan. Namun di dalam penderitaan penjahat itu melihat kemuliaan salib Tuhan. Kita seringkali menolak penderitaan yang Tuhan mau pakai untuk membentuk kita. Kita lebih memilih untuk dibentuk dalam kenyamanan, kesehatan, dan kecukupan. Terkadang kita tidak bisa menerima ketika Tuhan membawa kita ke dalam penderitaan, padahal sebenarnya Tuhan sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar terlebih dahulu. Tuhan sudah mengalami sebelumnya dan kita hanya mengikuti jejak-Nya. Didikan Tuhan seringkali datang dalam kesulitan dan penderitaan. Dalam 2 Korintus 12:9 Tuhan berkata: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.

 

Penjahat itu memohon agar Yesus mengingatnya ketika Yesus datang kembali sebagai raja. Ia memanggil nama Tuhan secara pribadi dan ia langsung mengerti identitas Yesus sebagai Mesias. Ia mengerti bahwa Yesus akan datang kembali untuk menghakimi dunia. Kita bisa percaya kepada Yesus, namun bagaimana kita mengaitkan pengakuan iman kita dengan hidup kita? Penjahat ini langsung mengaitkan nama Yesus dengan Mesias sebagai sang raja yang mengalahkan para musuh-Nya dan datang sebagai hakim. Ia menyebut Yesus sebagai raja kita Yesus masih disalib. Bukankah itu menyatakan bahwa di atas kayu salib Tuhan Yesus sudah mengalahkan semua musuh-Nya? Teologi salib Lukas tidak menunggu sampai Yesus bangkit untuk menyatakan bahwa Yesus adalah raja. Penjahat itu memiliki pengharapan indah yang tidak pernah dimiliki oleh para murid. Perubahan hidup apa yang sudah kita alami ketika kita percaya? Adakah tindakan radikal yang menyatakan pengakuan iman kita? Penjahat itu melihat bahwa penderitaan Yesus merupakan keharusan dalam tugas Mesianik-Nya untuk menebus manusia berdosa termasuk kita semua. Tugas ini tidak dilihat oleh para murid. Mereka tidak berpikir bahwa tugas ini harus digenapkan di atas kayu salib. Penjahat itu mau agar Yesus mengingatnya. Ini merupakan suatu klaim terhadap janji Tuhan bahwa Tuhan akan mengingatkan Israel, umat-Nya, dan Allah menjadi Allah mereka. Ini merupakan janji Tuhan. Itu sudah dinyatakan dalam Perjanjian Lama, mulai dari Adam. Kasih setia (hesed) Tuhan merupakan dasar pengharapan umat Allah. Ketika penjahat itu mau Tuhan mengingatnya, ia sebenarnya mau agar Tuhan mengingat belas kasihan-Nya. Ia tahu bahwa ketika umat Tuhan mau datang kepada Tuhan, maka Tuhan tidak akan mengingat dosa-dosanya. Ia mengklaim janji itu ketika ia berada di atas kayu salib, suatu tempat di mana ia tidak pantas meminta apapun juga. Ia tidak mendapat belas kasihan dari manusia namun ia berani meminta belas kasihan Tuhan. Pengharapan Israel akan belas kasihan Tuhan tidak berdiri sendiri, tetapi puncaknya adalah kedatangan sang Mesias. Penjahat itu melihat bahwa hesed itu ada di atas kayu salib. Itu adalah suatu pemikiran yang melampaui pemikiran para murid. Bagian ini begitu mengharukan.

 

Penjahat ini pasti sudah melakukan perbuatan yang sungguh jahat sehingga dia sampai dihukum di atas kayu salib, namun justru dia yang pertama menerima pembasuhan oleh darah Tuhan. Ia memohon kepada Yesus, raja yang sedang disalib. Ia tidak meminta dari raja yang sedang bertakhta. Jadi tidak ada iman yang lebih besar daripada ini. Ketika penjahat itu memohon agar diingat, ia sebenarnya juga sedang merendahkan dirinya di hadapan Allah. Ia menyatakan kebutuhannya akan belas kasihan Tuhan. Ketika kita mau Tuhan mengingat kita, apa yang kita mau agar Tuhan ingat? Apakah kita merendahkan diri seperti penjahat itu? Apakah kita seperti orang Farisi yang mau agar Tuhan mengingat semua perbuatan baiknya dan pencapaian agamanya? Lukas secara khusus tertarik untuk menuliskan pengharapan yang dimiliki penjahat itu. Saat itu Yesus disalib bersama dengan penjahat itu dan ia memiliki pengharapan yang benar. Pengharapan seperti apakah yang kita miliki? Apakah kita bersukacita senantiasa? Bersukacita senantiasa bukan berarti kita tidak boleh bersedih atau bergumul. Ini bukan berarti kita terus berpura-pura menyatakan sukacita. Ini sebenarnya mau menyatakan bahwa kesulitan apapun yang kita alami, itu semua sifatnya relatif dibandingkan dengan sukacita yang kita miliki di dalam Kristus. Penjahat itu merasakan sukacita itu. Iman seperti apakah yang kita miliki? Apakah kita memiliki iman seperti penjahat itu yang bersukacita dalam penderitaan? Sebelumnya penjahat itu tidak memiliki pengharapan. Pada awalnya ia ikut mengejek Tuhan, namun anugerah Tuhan seringkali datang saat tidak ada lagi pengharapan. Ini bukan berarti kita harus menunggu sampai kita terpojok baru kemudian kita berharap kepada Tuhan. Tuhan akan memberikan anugerah sesuai dengan tingkat iman kita dan bagaimana Tuhan mendidik kita. Namun hal yang terpenting adalah kita melihat salib Tuhan dengan benar. Di atas kayu salib itu justru kita melihat kemuliaan Tuhan. Teologi salib yang benar akan menempatkan kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita dalam porsi yang benar dan akan memampukan kita untuk memikul salib dengan benar. Memikul salib yang benar itu tidak ada hubungan dengan dosa dan kesalahan kita sendiri. Memikul salib adalah tentang bagaimana kita memuliakan Tuhan lewat beban yang Tuhan berikan kepada kita. Beban itu selalu adalah kebenaran dan kekudusan yang memimpin kita kepada Tuhan, bukan tentang dosa yang pernah kita lakukan. Iman hanya dapat bertumbuh ketika kita melihat salib dengan benar.

 

Cara pandang yang benar akan menghasilkan kepastian. Lukas 23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Ada orang-orang yang berkata bahwa ‘hari ini’ merujuk kepada hari saat Yesus mengatakan kalimat itu. Jadi penjahat itu tidak mendapatkan kepastian. Hari itu Tuhan berjanji namun Ia tidak menyatakan kapan janji itu digenapkan. Pandangan ini adalah pandangan yang salah. ‘Hari ini’ sesungguhnya merujuk kepada hari saat penjahat itu tinggal bersama dengan Yesus di surga. Jadi ada kepastian dalam bagian ini. Teologi salib yang benar akan menghasilkan cara pandang yang benar. Cara pandang yang benar akan menghasilkan iman yang benar dan pasti yang memimpin kita kepada Tuhan. Cara pandang yang benar membuat kita menilai segala sesuatu dengan benar. Kita akan bisa melihat keindahan yang sesungguhnya yang Tuhan berikan kepada kita. Teologi salib yang benar akan mendorong kita untuk terus mencari Tuhan di dalam setiap momen. Tuhan akan membawa kita untuk memuliakan-Nya dan merasakan kepuasan oleh pribadi-Nya. Penjahat itu sudah melihat kemuliaan di atas kayu salib itu. Ia mengenal Yesus yang harus datang untuk menderita dan mati di atas kayu salib untuk menebus dirinya dan kita yang percaya. Hanya di atas kayu salib itu kita memiliki pengharapan yang sejati.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)