Salahkah Menikmati Kekayaan dan Kehormatan? (2 Tawarikh 18:1, 19:1-2)

Salahkah Menikmati Kekayaan dan Kehormatan? (2 Tawarikh 18:1, 19:1-2)

Categories:

Khotbah Minggu 21 Februari 2021

Salahkah Menikmati Kekayaan dan Kehormatan?

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Yosafat dan kita akan membahas tentang keseluruhan Alkitab. Tema kita adalah ‘Salahkah Menikmati Kekayaan dan Kehormatan?’ Kita akan melihat 2 Tawarikh 18:1, 19:1-2, Efesus 1:3, Markus 10:23 (bandingkan dengan Lukas 16:13), dan Roma 2:4. Yosafat bekerja sama dengan Ahab dalam memerangi Aram. Ia juga bekerja sama dalam hal bisnis, padahal Ahab itu penyembah Baal, bukan Tuhan. Itulah mengapa Yosafat ditegur oleh Tuhan.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Bolehkah orang Kristen menikmati kekayaan dan kehormatan? Boleh. Sampai sejauh mana batasannya kita boleh menikmati kekayaan dan kehormatan yang kita miliki? Dalam etika Kristen ada yang disebut sebagai batasan hidup di dalam Tuhan. Apakah harta adalah tujuan hidup? Ada orang-orang yang tekun bersekolah agar bisa bekerja dan kemudian mendapatkan uang. Apakah benar uang itu tujuan hidup manusia? Pasti bukan. Apa akibatnya jika terjatuh karena harta dan kehormatan? Apa yang terhilang dan terkikis? Ketika air mengalir, ia bisa mengikis tanah atau bebatuan. Keinginan untuk mengejar harta bisa mengikis dinding kerohanian kita. Setelah harta mengikis kerohanian kita, kelongsoran rohani terjadi. Hal yang terkikis dari Yosafat adalah hati nuraninya dan kepekaannya untuk menangkap kehendak Tuhan. Mengapa Yosafat menikahkan Yoram, putranya dengan Atalya, putri Ahab? Mengapa Yosafat berkompromi dengan Ahab? Kita akan membahas semua hal ini.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Apa kita Alkitab tentang kekayaan dan kehormatan?

            Kita yang percaya memiliki janji penyertaan Tuhan sebagai bukti bahwa kita adalah umat pilihan Tuhan. Kita semua adalah milik Tuhan melalui Kristus yang sudah menebus kita. Dalam Perjanjian Lama, janji dan berkat lahiriah menjadi satu (Kejadian 17:20, 30-31, 1 Raja-Raja 3:11-13). Kita bisa melihat banyak tokoh Perjanjian Lama. Namun di dalam Perjanjian Baru, janji dan berkat rohani menjadi satu (Efesus 1:3). Saat Yesus lahir, ia tidak hidup dalam keluarga kaya. Mengapa Yesus memulai semua pelayanan dari nol?  Tuhan Yesus dan para murid tidak disiapkan banyak uang agar mereka mudah melayani. Alkitab mengajarkan bahwa harta bukanlah yang terpenting dalam pelayanan. Harta iman dan kerohanian-lah yang terpenting.

 

2) Apakah janji dan berkat Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengalami perubahan?

            Sebenarnya tidak ada perubahan secara esensi. Tidak ada yang berubah dari penyertaan Tuhan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun cara bisa berbeda. Janji dan berkat Allah untuk umat pilihan nyata melalui panggilan pertobatan, panggilan pelayanan, melalui kekayaan rohani di dalam kita (Roma 11:33). Supaya kita mengejar kekayaan ‘Kemuliaan Allah’ (Efesus 1:18b). Mengapa Allah mengizinkan umat Tuhan menjadi kaya di Perjanjian Lama? Supaya bangsa-bangsa lain mengerti bahwa umat pilihan akan menjadi bangsa yang besar yang memberkati bangsa-bangsa yang lain. Jadi konteksnya adalah panggilan pelayanan. Kelimpahan harta mereka adalah untuk melayani Allah. Itu adalah supaya semua bangsa melihat Allah yang hidup. Ketika kita memiliki harta seperti kesehatan, pikiran, pengalaman, dan lainnya, semua itu harus dipakai dalam panggilan pelayanan. Kita harus menyatakan Tuhan sehingga semua orang bisa kembali kepada Tuhan. Mengapa ada orang-orang Kristen yang berkekurangan? Mungkin saja karena Tuhan tahu bahwa kekayaan bisa menjatuhkan orang-orang itu. Harta materi adalah anugerah. Yosafat menjadi kaya karena ia dipercaya oleh rakyat dan raja-raja percaya kepadanya serta memberikan persembahan. Setiap usahanya diberkati oleh Tuhan. Namun di dalam proses waktu Yosafat lupa mengembalikan semua itu dalam nilai pelayanan. Ia kompromi dengan menjadi besan Ahab (menikahkan Yoram dengan Atalya). Atalya tidak memiliki iman kepada Tuhan. Ia tidak pernah dididik untuk takut kepada Tuhan. Di dalamnya tidak ada misi agar Ahab serta keluarganya bertobat. Hanya ada nilai kebaikan antara dua kerajaan yang dahulu bersatu.

 

            Jadi kita tidak boleh lupa bahwa berkat yang kita terima adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Tuhan bisa mengambil harta kita jika kita terjatuh karena harta. Tuhan pasti sedih jika ada anak-anak-Nya yang terjatuh karena harta. Tuhan tidak mau anak-anak-Nya kehilangan kepekaan dan ketahanan rohani. Tuhan akan mendidik kita sampai kita sadar bahwa yang terpenting adalah kekayaan rohani. Paulus berkata: Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:12-13). Paulus melayani ke banyak tempat tanpa melihat kepada harta materi tetapi melihat kepada harta rohani. Ia melihat arus rohani yang Tuhan pimpin. Paulus mungkin tidak sukses dalam ukuran dunia, namun ia memiliki kekayaan rohani yaitu kesetiaan dalam ketaatan kepada Tuhan. Kesuksesan dunia adalah kegagalan di mata Tuhan. Jaminan keselamatan kita bukanlah harta dunia tetapi harta rohani. Yehu wajar jika menegur raja Yosafat. Ia kompromi dengan Ahab yang tidak mengenal Tuhan. Yosafat diingatkan untuk tidak menikmati hartanya dan untuk kembali memiliki kepekaan akan Tuhan. Segala kemuliaan harus dipersembahkan kepada Tuhan. Dalam kondisi sehat maupun sakit, kita harus memikirkan tentang kerohanian. Ada orang-orang yang begitu semangat mencari nafkah termasuk dalam situasi pandemi seperti ini, namun mereka takut ke Gereja karena alasan pandemi. Jadi mereka berstandar ganda. Orang Kristen tidak boleh seperti ini. Dalam segala situasi, kita harus melihat penyertaan Tuhan dan bergantung pada Tuhan.

 

            Janji dan berkat itulah kekayaan rohani kita. Semua itu adalah untuk memuliakan Tuhan. Apa isi kekayaan rohani itu? Dalam konteks surat Roma dan kitab Hosea, kekayaan itu adalah pengenalan akan Tuhan. Hosea 4:6 Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. Surat Roma mengajarkan kita untuk mengenal Tuhan dalam kesejatian iman kita. Kekayaan rohani yang kedua adalah iman yang terus bertumbuh ke arah Kristus. Ini tidak boleh berhenti bertumbuh dalam kehidupan kita. Semangat untuk mencari uang harus berhenti dalam batasnya. Manusia tidak akan pernah puas oleh kekayaan untuk dirinya sendiri. Orang yang berpusat pada dirinya sendiri tidak akan puas. Kita bisa merasa puas dan cukup jika kita berpusat pada Tuhan. Yesus berkata: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:26). Harta yang kita kumpulkan dan miliki belum tentu bisa kita nikmati sampai mati. Kekayaan rohani itu jauh lebih penting. Kekayaan rohani yang ketiga adalah buah iman. Berapa banyak jiwa sudah kita bawa kepada Tuhan melalui pelayanan kita? Buah iman tidak boleh kendur. Buah iman harus terus ada dalam hidup kita sampai kita mati. Kekayaan rohani yang keempat adalah buah hidup. Apakah hidup kita sudah memberikan dampak kepada orang-orang di sekitar kita sehingga mereka melihat kepada Tuhan? Hidup kita tidak perlu menjadi sukses di mata dunia tetapi hidup kita harus menyatakan kemuliaan Tuhan. Daniel dan teman-temannya menjadi kesaksian yang membuat orang-orang melihat kebesaran Allah. Keempat kekayaan rohani ini tidak boleh mundur dalam hidup kita. Ketika kita mengenal Tuhan, maka kita akan menghargai pengorbanan Kristus. Iman kita bertumbuh karena pendengaran akan Firman Tuhan yang harus kita hidupi. Hidup kita harus berbuah, baik buah iman maupun buah hidup. Dalam keempat hal ini Yosafat mengalami kemunduran. Relasinya dengan Ahab dan Atalya tidak membawa mereka untuk mengenal Tuhan. Jadi tidak ada dampak rohani yang diberikan. Ini semua adalah supaya kita mengejar kekayaan kemuliaan Allah (Efesus 1:18b). Dalam segala kesulitan pun hidup kita harus menjadi berkat dan kesaksian. Segala macam kompromi akan mengikis kerohanian kita sehingga hidup kita menjadi hancur. Kekayaan materi dan kemewahan bisa menjadi racun bagi iman kita.

 

3) Apa kita Alkitab tentang menikmati kekayaan dan kehormatan?

            Kita boleh menikmati, namun dalam batasannya. Kita harus mengerti konsep cukup dan tidak menjadi tamak (Pengkhotbah 5:12-16, 6:1-2, Matius 6:11). Pengkhotbah mengajarkan kita bahwa fokus kita bukanlah kenikmatan diri dan bukanlah objek yang dinikmati. Fokus kita adalah Tuhan. Kita harus melihat kepada Sang Pemberi kesuksesan itu yaitu Tuhan. Kita harus menikmati pemberian Tuhan dengan rasa cukup dan hati yang penuh syukur. Apa yang kita miliki saat ini belum tentu kita bisa nikmati sampai kita mati. Jadi kita harus menikmati dalam batas dan konteks yang tepat. Tuhan adalah fokus kita dalam segala kenikmatan yang diberikan kepada kita. Doa Bapa Kami mengajarkan kita: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11). Di sini kita belajar tentang kualitas iman yang mengandung penguasaan diri. Jadi harus ada batasan dalam hidup kita. Yosafat tidak memiliki ini. Mengapa ia mengikat relasi keluarga dengan Ahab demi kerajaannya? Itulah yang membuat Tuhan murka kepadanya.

 

            Kedua, kita harus memandang kekayaan dan kehormatan sebagai anugerah Tuhan dan menikmati dengan rasa syukur kepada Tuhan (Pengkhotbah 5:17-18, bandingkan dengan 1 Tawarikh 29:12). Mazmur 127 mengajarkan bahwa usaha kita akan sia-sia jika Tuhan tidak memberikan berkat. Jadi dalam segala usaha kita, kita harus mengandalkan Tuhan. Daud menyatakan bahwa semua harta yang kita miliki adalah dari Tuhan. Segala harta yang kita miliki adalah hak Tuhan. Jadi semua pengaturan keuangan haruslah diarahkan untuk memuliakan Tuhan. Yosafat tidak bertanya kepada Tuhan sebelum menikahkan anaknya dengan Atalya. Dalam segala hal, kita harus berdoa bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu baru kemudian bertindak, bukan sebaliknya. Kita tidak boleh memaksa Tuhan untuk mengikuti kehendak kita.

 

            Ketiga, kita harus mengembalikan dalam penggunaan kekayaan dan kehormatan sebagai tanggung jawab kepada Allah (Roma 11:36) yaitu sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Jadi harta bukan tujuan akhir hidup kita. Harta adalah alat atau sarana untuk memuliakan Tuhan. Kita harus memakainya sehingga orang-orang melihat kepada Tuhan. Jika Tuhan beranugerah, maka rumah kita sendiri pun harus dibuat sehingga bisa dipakai untuk beribadah dan menampung tamu sehingga mereka bisa menginap jika perlu. Pakaian dan aksesoris kita juga tidak boleh berlebihan dan harus sesuai konteks.

 

 

KESIMPULAN

 

            Pandanglah berkat rohani sebagai harta yang paling mulia, dibandingkan dengan berkat materi. Kita tidak boleh mundur dalam kerohanian. Kita tidak boleh membiarkan kepuasan-kepuasan diri membuat kerohanian kita kendur. Diri kita tidak mungkin bisa dipuaskan oleh dunia ini. Jadi kekayaan rohani harus kita utamakan. Kembalikan segala berkat materi untuk kemuliaan Tuhan, karena kekayaan materi hanyalah alat atau sarana untuk memuliakan Tuhan (bandingkan dengan 1 Tawarikh 19:1-2). Semua milik kita adalah kasih karunia Tuhan dan Tuhan-lah yang berhak memakai itu semua, bukan kita. Orang Kristen boleh menikmati kekayaan dan kehormatan dalam batas rasa syukur kepada Tuhan dan bukan untuk ketamakan. Bukan objek itu yang ditonjolkan tetapi Tuhan sebagai Pemberi. Yosafat mengejar damai yang semu. Itulah yang membuatnya berani menjalin relasi dengan Ahab. Ia tidak berpikir untuk menyatakan Tuhan kepada Ahab. Ada harta-harta yang membuat kita tidak mengejar harta surgawi. Kita harus berhati-hati terhadap harta-harta itu. Keempat kekayaan rohani kita adalah pengenalan akan Tuhan, iman yang terus bertumbuh, buah iman, dan buah hidup. Semua ini harus kita kejar selama hidup kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).