Ketekunan Iman dan Kehendak Allah (Ibrani 10:36-39) – HUT GRII Cikarang ke-14

Ketekunan Iman dan Kehendak Allah (Ibrani 10:36-39) – HUT GRII Cikarang ke-14

Categories:

Khotbah Minggu 28 Februari 2021

HUT GRII Cikarang ke-14

Ketekunan Iman dan Kehendak Allah

Ibrani 10:36-39

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang ketekunan iman dan kehendak Allah. Secara khusus kita akan melihat Ibrani 10:36-39, Yakobus 5:11, dan Lukas 8:15.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Faktor apa yang menentukan keberhasilan hidup kita dan keluarga kita? Hal ini perlu kita pikirkan dan dalami. Apa yang paling kita banggakan dari diri kita dan keluarga kita berkaitan dengan keberhasilan hidup? (keberuntungan, kepintaran, bakat, kekayaan, pendidikan atau IPK – BT). Pertanyaan ini berkat menguji kita. Jika kita menyatakan bahwa keberhasilan kita adalah karena keberuntungan, kepintaran, dan lainnya, maka kita sudah salah. Kita bisa berhasil karena belas kasihan Tuhan. GRII bisa terus ada karena iman, pengharapan, dan kasih serta belas kasihan Tuhan. Apakah kita sudah bisa disebut orang benar yang hidup oleh iman dalam masa pandemi ini? Orang yang benar akan hidup oleh imannya dan orang beriman akan hidup dalam kebenaran. Jadi ini berkaitan. Apa pentingnya ketekunan iman berkaitan dengan kehendak Allah dan janji-Nya?

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Mengapa Ibrani 10:36 menyebut kita memerlukan ketekunan iman?

            Kata memerlukan menyatakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dikerjakan. Jadi hidup kita memerlukan ketekunan iman selama kita hidup di dunia. Dalam konteksnya, ada beberapa orang yang tidak lagi bersekutu di dalam Tuhan – menjauhkan diri (ayat 25) ketika ada kesulitan. Jadi ada orang-orang Kristen yang bisa gugur dalam perjuangan iman karena kurang ketekunan iman. Namun mereka tidak gugur sampai mati karena ada pemeliharaan Tuhan. Namun bagaimana dengan orang Kristen yang imannya gugur sampai tergeletak dan tidak lagi bercahaya? Ia adalah orang Kristen tanpa Kristus. Ibrani 10 ini mengingatkan kita bahwa ketekunan iman merupakan satu kunci agar kita senantiasa bergantung kepada Tuhan di saat sulit. Ketekunan iman tidak akan membuat kita jauh dari Tuhan. Sebaliknya, ketekunan iman membuat kita dekat dengan Tuhan meskipun ada tantangan dan kesulitan. Kedua, ada orang yang sengaja berbuat dosa setelah tahu akan kebenaran Firman Tuhan (ayat 26-30). Orang Kristen seharusnya mengembalikan semua kemuliaan kepada Tuhan setelah berhasil dan sukses, bukan menjadi jauh dari Tuhan. Ada orang yang tahu bahwa Allah itu mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir, namun ia sengaja tidak mengandalkan Tuhan. Dengan sengaja ia tidak melakukan Firman Tuhan. Surat Ibrani menyatakan bahwa ketekunan iman itu sangat dibutuhkan agar kita tidak membenarkan diri dalam situasi sulit. Ketekunan iman akan membuka cara pandang yang tepat sehingga kita tidak membuat alasan-alasan yang membuat iman kita tergeser dan tidak bersandar pada Tuhan. Orang yang sengaja berdosa setelah mendengarkan Firman Tuhan sebenarnya sudah mendukakan hati Roh Kudus. Allah pasti sedih jika orang Kristen terus membuat alasan.

 

            Ketiga, kata ‘memerlukan’ mengingatkan kita akan pentingnya ketekunan iman sebagai kunci ketahanan dalam perjuangan yang berat (ayat 32-34). Dalam hidup kita pasti ada perjuangan yang berat. Kita memerlukan ketekunan iman berkaitan dengan ketahanan mental rohani kita. Ketekunan iman membuat kita konsisten dalam menggenapkan kehendak Tuhan. Langkah awal kita harus mengandung komitmen rohani sehingga kita tidak mundur dalam situasi apapun juga. Janji pernikahan adalah langkah awal dalam pernikahan. Di dalamnya perlu ada ketekunan. Jadi ketekunan iman adalah suatu kunci untuk kita mengiring Tuhan dan berbuah bagi Tuhan dalam situasi apapun juga. Ada orang yang setelah jatuh menjadi mundur. Itu disebabkan karena langkah awalnya tidak mengandung komitmen. Kita harus memiliki komitmen dan komitmen itu harus diuji. Itulah mengapa disebutkan bahwa kita memerlukan ketekunan iman. Ini berarti keberhasilan kita paling ditentukan oleh iman, pengharapan, kasih, dan belas kasihan Tuhan yang pada akhirnya menghasilkan buah ketekunan. Orang yang sungguh benar memulai langkahnya dengan mendengarkan Firman Tuhan. Ia menyimpan Firman Tuhan itu dalam hatinya dan menghidupinya untuk menghasilkan buah ketekunan. Kita harus melatih anak-anak kita agar mereka memiliki ketekunan. Ketekunan iman adalah rahasia paling besar dari seluruh harta rohani kita. Itu membuat kita bisa meraih hidup bersama dengan Tuhan. Kepintaran atau keberanian saja tidak cukup, tetapi kita membutuhkan ketekunan iman. Ini diperlukan oleh orang Kristen di segala umur.

 

2) Ujian ketekunan iman

            Ketekunan iman kita pasti diuji. Salah satu ujian ketekunan iman adalah kesengsaraan hidup (Roma 5:3). Kita bisa mengalami kesengsaraan hidup karena kita mau hidup benar dan mempertahankan kesucian hidup. Jika kita tetap mempertahankan iman meskipun situasi begitu menekan kita, maka kita lulus ujian ketekunan iman dalam bagian ini. Ketekunan iman juga diuji melalui pencobaan hidup (Yakobus 1:3). Setelah kita berhasil melalui pencobaan hidup, kita disebut sebagai orang yang berbahagia. Ujian ketiga adalah penderitaan hidup (Ayub, Paulus, dan lainnya). Ayub kehilangan segalanya, namun ia tetap tekun mencari Tuhan. Paulus menderita berbagai penyakit namun ia tetap melayani Tuhan. Ketiga hal ini tidak boleh kita tolak. Di dalam semua kesulitan kita hari mencari apa kehendak Tuhan yang harus kita genapkan.

 

3) Apa kaitannya antara ketekunan iman dengan kehendak Allah dan janji Allah?

            Ketekunan iman adalah kerelaan untuk bertahan dalam menjalankan proses pengujian hidup untuk menunjukkan kita sebagai orang benar (bandingkan dengan Lukas 8:15). Ketekunan iman dimulai dari hati kita. Iman tidak pernah menggeser kita dari kedekatan dengan Tuhan tetapi iman selalu mengarahkan kita untuk selalu hidup benar dalam situasi apapun juga. Dengan kerelaan, kita akan bisa menjalankan apapun juga. Namun tanpa kerelaan, hal yang ringan pun akan terasa sangat sulit. Jadi ketekunan iman harus dimulai dengan kerelaan hati untuk taat. Iman kita harus senantiasa hidup dan bertahan. Untuk itu kita harus membaca dan menyimpan Firman Tuhan setiap hari. Buah yang akan dihasilkan adalah ketekunan iman. Jadi orang yang benar itu memiliki sikap yang benar dalam mendengarkan atau membaca Firman Tuhan. Dari sana ketekunan iman akan mengarahkan kita kepada kemuliaan Tuhan. Allah Roh Kudus mengingatkan kita akan Firman Tuhan yang kita baca sehingga kita bisa melewati kesengsaraan hidup, pencobaan hidup, dan penderitaan hidup. Ketahanan kita berasal dari kasih kita kepada Tuhan yang berdasar pada Firman Tuhan yang kita baca. Kita bisa memiliki nyanyian baru dalam hati kita untuk memuji Tuhan karena kita memiliki Firman Tuhan dalam hati kita. Nyanyian baru itu selalu mengagungkan Tuhan.

 

            Ketekunan iman mencerdaskan kita dan membuat kita menggenapkan kehendak Tuhan baik yang tertulis maupun yang tidak. Kehendak Allah adalah ketaatan kita untuk membaca Firman Tuhan, melakukan penginjilan, berdoa, menggenapkan nilai kerajaan Allah, dan menjadi kesaksian sehingga orang-orang melihat kepada Tuhan. Kita bagaikan surat yang terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang. Hidup kita tidak boleh menjadi batu sandungan tetapi menjadi jembatan Injil yang membuat orang-orang mengenal Tuhan. Ada orang-orang yang menjadi benci terhadap kekristenan karena melihat hidup orang-orang Kristen yang tidak memuliakan Tuhan. Orang yang mau menggenapkan kehendak Tuhan harus selalu dekat dengan Tuhan. Orang yang jauh dari Tuhan tidak mungkin peka akan kehendak Tuhan. Maka dari itu kita membutuhkan ketekunan iman untuk selalu dekat dengan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Tidak ada gunanya jika kita mengarahkan orang-orang untuk melihat kepada diri kita yang sementara ini. Kecantikan dunia itu begitu semu, namun kecantikan hati itu kekal dan diperkenan oleh Tuhan. Ketekunan iman memampukan kita mengerjakan kehendak Allah dalam situasi apapun juga. Bagaimana dengan ketekunan kita di masa pandemi ini? Apakah kita senantiasa mengerjakan kehendak Allah? Jika kita mengalami kemunduran, maka kita harus bertobat. Jika kita berhasil menjalankan ketaatan kita, maka itu semua adalah anugerah Tuhan. Setelah kita menjalankan kehendak Allah, janji Allah akan diberikan kepada kita. Jadi ketekunan iman itu bernilai ketaatan. Orang yang tidak pernah menuntut diri untuk bertekun secara iman adalah orang yang tidak bijaksana. Orang seperti itu tidak akan menerima janji Allah.

 

            Yosua mendapatkan janji penyertaan ketika ia bimbang (Yosua 1:5). Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5). Yesus adalah Gembala Agung kita yang akan senantiasa memimpin kita kepada padang rumput yang segar. Ia akan terus melindungi dan memberi kita kekuatan untuk mencapai garis akhir. Janji Allah yang paling indah bukanlah yang bersifat lahiriah. Janji Allah yang terindah adalah ketika ada pemeliharaan iman dan kemenangan iman (bandingkan dengan Yakobus 5:11 dan Wahyu 14:12). Nyanyian iman yang terindah ketika kita akan mati adalah Mazmur 23. Itu adalah janji Allah yang begitu luar biasa. Bagi kita yang bertekun dalam iman, kita akan diberikan pemeliharaan iman dan kemenangan iman. Ayub begitu tekun dan pada akhirnya ia meraih kemenangan iman. Pemeliharaan fisik itu begitu mudah. Kita tidak boleh sampai mengutamakan hal-hal lahiriah. Tuhan-lah yang harus kita utamakan dalam hidup kita. Di sana kita menjadi orang yang berbahagia. Ketekunan iman, kehendak Allah, dan janji Allah itu juga berkaitan dengan eskatologi. Ketekunan iman memampukan kita mencapai garis akhir. Kita harus siap kapanpun juga Tuhan mau menjemput kita. Apa tandanya bahwa kita siap? Kita memiliki ketekunan iman. Yesus akan datang seperti pencuri. Jadi kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Karena itulah kita harus mengerjakan apa yang kita bisa dalam waktu yang kita miliki. Untuk menggenapkan eskatologi pribadi kita, kita harus senantiasa memiliki ketekunan iman dalam situasi apapun juga. Baik dalam kesulitan, tantangan, dan penderitaan maupun dalam kesuksesan dan kemudahan, kita harus tetap bertekun iman. Masa pandemi ini mengajarkan kita ketekunan iman. Jadi kita harus memiliki itu, karena ketekunan iman adalah kunci keberhasilan kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).