Mengandalkan Tuhan di Saat-Saat Sulit (Raja Yosafat)

Mengandalkan Tuhan di Saat-Saat Sulit (Raja Yosafat)

Categories:

Khotbah Minggu 7 Maret 2021

Mengandalkan Tuhan di Saat-Saat Sulit

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Ini adalah pembahasan yang terakhir mengenai Yosafat. Kita akan membahas tentang mengandalkan Tuhan di saat-saat sulit. Kita akan melihat dari 2 Tawarikh 18:3-34 dan 20:1-30. Kita seharusnya bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu baru kemudian membuat keputusan, bukan sebaliknya.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Pernahkah kita gagal karena salah di dalam analisa – kajian dan strategi? Allah tidak mungkin mengagalkan rencana kita jika kita mau memuliakan Dia. Namun Allah bisa mengagalkan rencana kita yang berdasarkan keinginan untuk meninggikan diri. Dalam bagian ini Yosafat dan Ahab gagal. Mengapa Yosafat kompromi dengan Ahab dalam memerangi Ramot dan Gilead? Yosafat dan Ahab bisa menjadi dekat karena mereka adalah besan. Kompromi mereka adalah suatu hal yang jahat. Yehu menegur Yosafat karena berkompromi dengan Ahab yang tidak takut akan Tuhan. Mengapa Yosafat kehilangan kepekaan hati dalam mengerti pimpinan Tuhan? Ketika memulai kerajaannya, ia begitu mengandalkan Tuhan, namun setelah kerajaannya menjadi kuat, ia menjadi keluarga Ahab yang jahat. Itulah waktu di mana Yosafat mulai kehilangan kepekaan hati. Ia berpikir bahwa dengan bersatu dengan Ahab, maka kerajaannya akan menjadi aman. Namun sebenarnya itu adalah hal yang jahat di mata Tuhan. Dari mana sumber kesadaran iman Yosafat di saat-saat sulit? Ia berteriak kepada Tuhan di saat ia merasa terancam. Sampai sejauh mana pentingnya belajar dari kesalahan? Yosafat bertindak secara berbeda ketika menghadapi raja-raja lain.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Kepekaan hati yang terhilang

            Apakah kepekaan hati itu merupakan hasil didikan keluarga dan lingkungan? Apakah kepekaan hati itu bawaan karakter seseorang? Benar bahwa kepekaan hati itu bawaan karakter. Karena karakter manusia sudah jatuh ke dalam dosa, maka manusia menjadi egois. Ia tidak peka terhadap orang-orang yang sedang mengalami kesulitan. Kepekaan hati juga merupakan hasil didikan keluarga dan lingkungan. Kepekaan hati merupakan program pembentukan Tuhan setelah seseorang menjadi anak Tuhan. Ini agar hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Maka dari itu kita harus mengalami transformasi kepekaan hati di dalam Kristus. Ini agar kita memiliki kepedulian rohani dan kepedulian sosial yang mengarah pada kemuliaan Tuhan. Kita bisa punya kepedulian sosial karena kita punya kepedulian rohani terlebih dahulu. Jadi kita harus bisa memerhatikan kerohanian diri kita sendiri terlebih dahulu. Jika kita hidup dalam Firman Tuhan, maka kita akan memiliki kepekaan rohani. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita hari memiliki empati terhadap anggota tubuh Kristus yang lainnya. Jadi kita harus memiliki kepekaan di berbagai aspek.

 

            Mengapa raja Yosafat kehilangan kepekaan hati untuk mengerti pimpinan Tuhan? Setiap orang bisa kehilangan kepekaan rohani dalam hidupnya. Raja Yosafat juga kehilangan itu. Ia terjebak dengan kenikmatan kuasa dan pengaruh raja Ahab (ayat 2). Karena itulah ia langsung menjawab ya ketika Ahab mengajaknya memerangi Ramot-Gilead. Setelah menjawab ya, ia baru kemudian bertanya kepada Tuhan. Ahab memanggil 400 nabi palsu, namun Yosafat mau mendengar dari nabi Tuhan. Kendati demikian, mereka terjebak dengan suara mayoritas dari nabi-nabi palsu (400 orang), dibandingkan dengan suara nabi Tuhan yaitu Mikha (ayat 16-22). Mikha memberitakan kebenaran, namun mereka menolak berita tersebut. Zedekia pun menyerang Mikha. Apakah Yosafat mau mendengar nabi Mikha? Tidak, karena ia mendengar suara mayoritas. Demokrasi tanpa iman itu sangat berbahaya. Tuhan Yesus ditolak oleh para pemimpin agama dan rakyat. Para murid-Nya hanya 12 orang, sedangkan lawan mereka ada ratusan. Secara pengaruh, kuasa politik, dan keuangan pasti 12 murid kalah. Yesus tidak memiliki gelar apapun. Ia berasal dari Galilea yang dianggap sebagai tempat yang remeh pada saat itu. Namun Alkitab menyatakan bahwa yang terbaik bukan datang dari Yerusalem, tetapi dari Galilea. Tuhan menyatakan bahwa yang terpenting adalah kepekaan hati, kejujuran, dan takut akan Tuhan. Jadi Alkitab mengajarkan kita untuk memakai cara pandang Tuhan, bukan cara pandang mayoritas. Minoritas yang mewakili suara Tuhan harus kita dengarkan. Jadi suara mayoritas tidak selalu benar. Yosafat terjebak dalam bagian ini. Ia tidak lagi mementingkan suara Tuhan. Tuhan bukan tidak mau persatuan dan menginginkan perpecahan. Tuhan membenci perceraian. Namun ada perpisahan-perpisahan yang memuliakan nama Tuhan.

 

2) Kesadaran iman dan anugerah Tuhan

            Yosafat lebih mendengarkan suara nabi palsu karena mereka mayoritas. Namun saat berperang, Yosafat memohon pertolongan Tuhan ketika ia sudah terkepung oleh pasukan kereta dari raja Aram (18:31-32). Raja Aram memerintahkan pasukannya untuk menyerang raja Israel. Mereka kemudian mengincar Yosafat yang memakai baju raja Israel. Yosafat yang sudah terpojok akhirnya berteriak kepada Tuhan. Kemudian Allah membujuk mereka pergi dari Yosafat sehingga Yosafat selamat. Di sana Yosafat sadar bahwa peperangan itu bukanlah rancangan Tuhan. Ia sadar bahwa rancangan Tuhan bukanlah kecelakaan. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Yosafat memiliki kesadaran iman sehingga ia berteriak kepada Tuhan, bukan kepada Ahab ataupun pasukan elitnya. Ketika pasukan pemanah melepaskan panahnya pun yang kena adalah raja Ahab, bukan Yosafat. Ahab mati sesuai dengan nubuat Mikha. Yosafat selamat karena ia mengandalkan Tuhan di saat-saat sulit. Ini adalah kesaksian rohani dari hidup raja Yosafat. Kesaksian hidup penjahat di sebelah Yesus adalah momen-momen terakhir hidupnya saat ia mendengar Firman Tuhan. Kita semua pasti memiliki pengalaman rohani yang bisa menjadi kesaksian kita.

 

            Yosafat belajar dari kesalahan. Yosafat belajar dari teguran Yehu dan pengalamannya berperang bersama dengan Ahab. Yosafat mencari Tuhan, berpuasa, dan memuji Tuhan ketika akan diserang oleh Moab dan Amon (20:3-13 dan Ibrani 4:16). Yosafat tahu bahwa ia seharusnya bukan mengandalkan manusia tetapi mengandalkan Tuhan. Ia mengajak seluruh rakyat untuk berpuasa. Saat berpuasa, kita belajar untuk berfokus kepada Tuhan dan bukan diri kita sendiri. Yesus mengajarkan bahwa ada Setan yang tidak dapat diusir kecuali dengan doa dan puasa (Matius 17:21). Dalam berpuasa, kita melatih diri kita untuk menangkap pimpinan Tuhan serta melatih kesucian dan kerohanian kita. Orang Puritan banyak membahas tentang pentingnya melatih kerohanian. Doa Yosafat menyatakan pengenalan Yosafat akan Tuhan yang begitu tuntas. Doanya bukan berfokus pada hal-hal lahiriah tetapi pada pengenalan akan Tuhan. Doa Bapa Kami dibuka dengan kalimat “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”. Jadi doa kita pertama-tama harus menyatakan tentang Tuhan yang kita kenal. Maka dari itu kita pertama-tama berdoa memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Setelah itu kita berdoa memohon pengampunan. Kita menaikkan doa permohonan setelah kita mendengar Firman Tuhan karena Firman Tuhan sudah menguasai pikiran dan hati kita. Yosafat berhasil membangun gerakan rohani beserta dengan rakyat Yehuda. Serangan dari bangsa lain membuat mereka membangun gerakan rohani. Jadi ketika Covid-19 menyerang kita, hal yang kita harus lakukan adalah membangun kerohanian kita. Melalui Yahaziel, Tuhan menguatkan Yosafat dan Yehuda untuk berperang melawan Moab dan Amon (ayat 15, 23, Mazmur 37:40). Yosafat diingatkan bahwa yang berperang bagi mereka adalah Allah. Yosafat dan Yehuda menang serta memuji Tuhan karena Allah mengalahkan Moab dan Amon. Jadi kita harus bersatu menyembah dan berdoa kepada Tuhan. Kita harus berani menghadap Tuhan sehingga kita mendapatkan rahmat dan belas kasihan Tuhan yang tepat pada waktunya. Maka dari itu kita tidak perlu takut atau khawatir. Tuhan akan melepaskan kita dari serangan orang-orang fasik yang mau menjatuhkan kita. Kesadaran iman membuat kita mendapatkan penyertaan Tuhan. Tuhan-lah penolong dan pelindung kita. Vaksin hanyalah sarana untuk melindungi kita, tetapi Tuhan-lah yang sesungguhnya melindungi kita. Mengandalkan Tuhan di saat sulit adalah bagian iman kita. Pada akhirnya bangsa-bangsa lain menjadi takut karena melihat penyertaan Tuhan bagi Yosafat.

 

 

KESIMPULAN

 

            Kepekaan hati dalam menangkap pimpinan Tuhan mutlak adanya. Dalam hal apapun, kita harus bertanya kepada Tuhan. Saat kita bergumul, kita harus membaca Firman Tuhan dan memuji Tuhan. Pujian kita harus berasal dari hati untuk Tuhan. Hati-hati dengan kenikmatan kuasa dan relasi yang dapat menggeser kedekatan kita dengan Tuhan. Kalau sampai ada hal yang menggeser kedekatan kita dengan Tuhan, maka itu bukanlah rancangan Tuhan. Yosafat jatuh karena ia dekat dengan Ahab. Rancangan Tuhan adalah agar hidup kita menghasilkan buah ketaatan yang nyata. Kesadaran iman harus senantiasa dijaga dan dipertumbuhkan selalu dalam situasi apapun juga. Kita mengasah kesadaran iman kita melalui Firman Tuhan yang kita baca. Kita harus sadar iman dalam situasi apapun juga. Selama kita hidup, kita harus membereskan segala dosa dan keinginan hati yang tidak beres. Mazmur 23 harus menjadi pegangan kita ketika menghadapi kematian. Mazmur 55:23 Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. Yesaya 41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Kita berada dalam tangan Yesus. Tidak ada satu hal pun yang bisa memisahkan kita dari Allah. Kita berbahagia karena dosa kita diampuni dan kita disertai oleh Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).