Memikul Salib Setiap Hari dan Mengikut Yesus (Lukas 9:22-27)

Memikul Salib Setiap Hari dan Mengikut Yesus (Lukas 9:22-27)

Categories:

Khotbah Minggu 14 Maret 2021

Memikul Salib Setiap Hari dan Mengikut Yesus (Lukas 9:22-27)

Vik. Tommy Suryadi, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan merenungkan secara khusus tentang penderitaan Tuhan Yesus di dalam momen menyambut Paskah. Kita akan melihat dari Lukas 9:22-27. LAI memberikan judul ‘Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia’. Sebelum kita membahas bagian ini, kita akan melihat perikop sebelumnya tentang pengakuan Petrus tentang siapa diri Yesus. Di dalam Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) ada urutan seperti ini: pengakuan Petrus dan pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia. Ketika para murid ditanya tentang jati diri Yesus, Petrus menjawab: Mesias dari Allah. Pengakuan ini tepat. Lukas 9:21 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Pertanyaannya adalah: Petrus sudah menyatakan jati diri Yesus dengan benar, namun mengapa Yesus melarangnya untuk menyatakan hal tersebut kepada orang lain? Bukankah mereka memang seharusnya melakukan penginjilan? Dalam Markus 1:24, saat Yesus mengusir Setan, Setan itu berkata: Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah. Jadi Setan itu melakukan ‘penginjilan’ dengan menyatakan siapa diri Yesus. Namun Yesus malah berkata (ayat 25): Diam, keluarlah dari padanya! Mengapa Yesus malah melarang Setan itu dan Petrus untuk menyatakan siapa diri Yesus (penginjilan)? Dalam Kisah Para Rasul, para rasul bisa memberitakan tentang diri Yesus dengan begitu gamblang dan terbuka.

 

            Sebelum Yesus disalib, Ia melarang pemberitaan tersebut, namun setelah Ia naik ke surga, para murid memberitakan Yesus dengan bebas. Ini karena Yesus mau diri-Nya dikenal sebagai Mesias yang menderita, yang menanggung dosa manusia di atas kayu salib. Tuhan Yesus tidak mau diri-Nya dikenal sebagai Mesias sebelum penyaliban. Yesus mau agar pengenalan tentang diri-Nya selalu terkait dengan salib, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Mengenal Yesus sebagai Mesias tanpa konsep salib akan menghasilkan pengenalan yang salah. Orang-orang Yahudi mengharapkan Sang Mesias karena Perjanjian Lama memang menjanjikan tentang kedatangan Mesias. Namun mereka memiliki konsep yang salah: Mesias yang datang itu akan memimpin secara politik dan memerangi seluruh bangsa secara fisik sampai akhirnya seluruh dunia tunduk kepada kerajaan Israel. Mereka membayangkan bahwa ketika Mesias itu datang, Israel akan menjadi berjaya, bahkan lebih berjaya daripada kerajaan Israel saat dipimpin oleh Salomo. Saat itu para murid memang masih memegang konsep Kerajaan Allah yang salah. Yohanes dan Yakobus pernah meminta agar mereka kelak boleh duduk di sebelah kiri dan kanan Tuhan Yesus saat Ia menjabat sebagai raja (Matius 20:20-21). Mereka memikirkan Kerajaan Allah yang bersifat fisik. Namun kemudian Yesus memberitahukan sesuatu yang berbeda dari apa yang mereka pikirkan.

 

 

PEMBAHASAN

 

Ayat 22

            Yesus mau diri-Nya dikenal selalu terkait dengan salib. Itulah mengapa setelah Petrus menyatakan identitas Yesus, Yesus melanjutkan dengan pengajaran tentang penderitaan-Nya. Ini adalah hal yang sulit diterima oleh para murid. Mereka tidak bisa membayangkan tentang Mesias yang menderita. Dalam Injil Matius, disebutkan bahwa Petrus langsung menegur Yesus karena ajaran itu. Petrus berkata: Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau (Matius 16:22). Namun Yesus menjawab Petrus: Enyahlah Iblis. Konsep para murid tentang Mesias dan Kerajaan Allah masih belum sepenuhnya benar. Karena itu Yesus memberikan pengajaran agar mereka bisa memiliki konsep yang benar. Mesias itu datang untuk menebus manusia di atas kayu salib. Inilah misi Yesus ketika Ia datang ke dunia. Ia menyampaikan kebenaran ini dengan begitu terbuka dan jelas.

 

            Dalam ayat 22 ditulis kata ‘harus’ dan ‘banyak’. Jadi ini adalah hal yang harus dialami oleh Tuhan Yesus. Penderitaan yang dialami-Nya juga tidak sedikit tetapi banyak. Yesus sudah menyatakan bahwa diri-Nya akan ditolak oleh para pemimpin agama pada saat itu. Jika semua pemimpin sudah menolak-Nya, maka itu berarti bahwa para pengikut mereka pun juga akan menolak Yesus. Seluruh sisi menolak Yesus. Kebenaran ini tidak sesuai dengan konsep tentang Mesias yang secara populer dimengerti pada saat itu. Dalam ayat ini juga sesungguhnya sudah ada berita penghiburan yaitu Yesus akan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Namun pada saat itu para murid tidak mengerti tentang kebangkitan. Mereka hanya berfokus pada bagian-bagian yang sulit tentang penderitaan, penolakan, dan pembunuhan. Akhirnya hati mereka menjadi ciut. Seandainya mereka mengerti tentang kebangkitan, maka mereka pasti bersukacita ketika mendengar kabar tentang kebangkitan itu.

 

Ayat 23

            Dalam ayat 22 Yesus membicarakan tentang diri-Nya sendiri, namun dalam ayat ke-23 Yesus menyatakan bahwa penderitaan itu juga akan dialami oleh semua yang mau mengikut-Nya. Ada frasa ‘setiap orang’. Jadi bagian ini diberikan tidak hanya kepada 12 murid tetapi semua orang yang membaca bagian ini. Ada 3 hal yang dinyatakan dalam bagian ini: menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikut Dia. Apa yang akan dialami Yesus juga akan dialami oleh orang-orang yang mengikut-Nya. Ini adalah kebenaran yang dinyatakan Yesus dengan terbuka. Ia tidak memberikan iming-iming yang manis dan membuat kita merasa nyaman. Tuhan Yesus tidak memberitakan tentang kemakmuran duniawi.

 

            Apa yang dimaksud dengan menyangkal diri? Surat Efesus menyatakan bahwa dahulu kita adalah manusia lama. Sekarang kita sudah ditebus dan sudah menjadi manusia baru. Secara status, kita adalah orang-orang kudus atau manusia baru. Namun dalam perjalanan hidup kita, kita masih mengalami pengudusan secara progresif (progressive sanctification). Di dalam proses itu, kita harus aktif mematikan dosa, berjuang untuk hidup kudus. Di dalam masa itu, kita harus menyangkal diri yaitu menyangkal segala keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kita mungkin berpikir bahwa menyangkal diri itu akan mendatangkan kesedihan, namun sesungguhnya Allah akan memberikan sukacita dan damai kepada kita yang mau melakukan kehendak-Nya. Kita pasti pernah melakukan kehendak kita sendiri lalu pada akhirnya kita tidak mendapatkan kebahagiaan yang kita pikir kita pasti dapatkan. Jadi melakukan kehendak sendiri itu belum tentu mendatangkan kebahagiaan. Namun jika kita mau melakukan kehendak Tuhan, maka prosesnya mungkin bisa sulit, berat, serta menyakitkan, tetapi Tuhan akan memberikan berkat yang dunia tidak bisa berikan. Jika kita tidak pernah mengalami hal ini, maka kita tidak akan mengerti. Maka dari itu kita harus taat dahulu baru kemudian kita bisa mengerti.

 

            Scott Hubbard menyatakan bahwa dalam penyangkalan diri, kita harus memotong setiap pohon yang menghasilkan buah yang buruk (pohon dosa). Setiap bagian dari diri kita yang tidak mencerminkan Kristus harus dibuang setiap hari (Lukas 9:23). Jadi mematikan dosa adalah gaya hidup kita. Kita menjadi Kristen tidak hanya pada momen Natal, Paskah, atau setiap hari Minggu saja. Kita harus menjadi orang Kristen setiap hari. Itulah hidup dan identitas kita. Scott Hubbard menyatakan bahwa ketika kita menyangkal diri kita, maka kita akan kehilangan manusia lama kita dan kita akan menemukan diri kita yang sesungguhnya sebagai manusia baru. Ketika kita menjauh dari dosa, maka kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini adalah satu paket. Orang yang tidak mau mendekat kepada Tuhan pada akhirnya hanya akan mendekat kepada dosa yang lain. Ada orang yang berhasil berhenti merokok, namun kemudian ia mengatasi kekosongan dirinya dan rasa stresnya dengan makan tidak terkendali. Jadi ketika kita menanggalkan manusia lama, kita harus mendekat kepada Tuhan agar kita dibarui menjadi manusia baru. Jadi perintah untuk menyangkal diri ini bukanlah perintah untuk memberatkan kita. Sebaliknya, perintah ini adalah untuk kebaikan diri kita. Perintah Tuhan pada mulanya mungkin terkesan tidak baik atau tidak mudah bagi kita, namun jika kita merenungkan baik-baik, maka kita akan mengerti kebaikan Tuhan dalam perintah itu. Jonathan Edwards menyatakan bahwa penyangkalan diri menghancurkan akar atau fondasi kesedihan/dukacita. Ia mengerti bahwa dengan menjadi manusia baru, kita memiliki kebahagiaan sejati di dalam Tuhan. Perintah Tuhan kepada kita adalah juga untuk kebaikan dan kebahagiaan kita. Kita harus taat terlebih dahulu baru kemudian kita bisa mengerti hal ini.

 

            Apa yang dimaksud dengan memikul salib? Tidak sedikit orang Kristen memiliki konsep yang salah tentang hal ini. Memikul salib itu tidak sama dengan menanggung konsekuensi dari dosa yang kita lakukan sendiri. Dipenjara karena mencuri bukanlah salib. Jika memikul salib adalah menanggung konsekuensi dosa sendiri, maka itu berarti kita harus berdosa terlebih dahulu agar kita bisa memikul salib. John Piper menyatakan 4 hal tentang memikul salib. Pertama, salib adalah lambang perlawanan/oposisi. Penyaliban adalah hukuman bagi orang-orang yang melawan kerajaan Romawi. Yesus memberitakan kebenaran namun pada pemimpin agama melawan-Nya. Kedua, salib adalah tentang rasa malu. Orang yang disalib itu pasti telanjang. Lukisan-lukisan penyaliban Yesus pasti menutup bagian bawah tubuh Yesus, namun sebenarnya orang yang disalib itu pasti tidak memakai pakaian sehelai pun. Yesus telanjang di atas kayu salib selama kira-kira 9 jam. Ketiga, salib berbicara mengenai penderitaan. Salib itu memberikan penderitaan yang sangat amat menyakitkan dalam durasi waktu yang lama. Jika seseorang dihukum mati dengan dibakar, maka ia pasti menderita namun hanya sebentar. Namun orang yang disalib itu sangat amat menderita dalam waktu yang lama. Keempat, orang yang disalib itu pasti mati. Tidak ada orang yang bisa selamat setelah disalib oleh kerajaan Romawi. Kita yang memikul salib harus siap menghadapi keempat hal ini. Orang yang menyatakan nama Kristus pasti akan dilawan, dipermalukan, menderita, dan berisiko menghadapi kematian. Kita harus siap menghadapi semua hal ini setiap hari.

 

Ayat 24-26

            Semua ini terdengar mengerikan bagi kita, namun kita harus melihat 3 alasan yang Yesus nyatakan dalam bagian ini (ayat 24-26). Dalam bahasa Yunani, setiap ayat dalam ayat 24-26 dimulai dengan gar (sebagai kata kedua dari setiap ayat). Dalam bahasa Indonesia, ini berarti ‘sebab’ atau ‘karena’. Alasan pertama tercatat dalam ayat ke-24: Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Dalam kalimat ini ada paradoks. Orang-orang yang menyangkal Tuhan dan berpikir bahwa mereka sedang mencari keamanan dan kedamaian justru sebenarnya tidak mendapatkan hidup kekal itu. Sebaliknya, orang-orang yang mau mengorbankan nyawanya demi Tuhan, seperti para martir, justru mendapatkan hidup kekal itu. Jadi orang-orang yang mati demi Kristus bukanlah orang-orang bodoh melainkan mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia.

 

            Alasan kedua (ayat 25) adalah: [sebab] Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? Bagian ini berbicara tentang aspek sosial dan ekonomi. Ada orang-orang yang menyangkal Tuhan dan perintah-Nya demi kemajuan karier, perusahaan, nama besar, dan lainnya. Namun Tuhan menyatakan bahwa itu adalah sia-sia karena sebenarnya orang-orang seperti itu sedang membinasakan dan merugikan dirinya sendiri. Orang-orang seperti itu bisa meraih banyak hal di dunia namun pada akhirnya mereka kehilangan itu semua. Jadi mengikut dunia adalah pilihan yang bodoh dan mengikut Yesus dengan menyangkal diri dan memikul salib adalah pilihan yang paling bijaksana. Mengikut Tuhan itu memang bisa mendatangkan penderitaan, namun semua itu hanya sementara. Pada akhirnya kita akan mendapatkan sukacita surgawi bersama dengan Tuhan. Pendeta Stephen Tong pernah berkata: tidak ada mahkota tanpa salib dan tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan (parafrasa). Kita harus memilih antara kemuliaan yang Tuhan janjikan atau kemuliaan yang dunia tawarkan.

 

            Alasan ketiga (ayat 26) adalah: Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. Salah satu bagian dari memikul salib adalah kita yang memikulnya harus siap dipermalukan oleh dunia. Namun itu bukan apa-apa karena Tuhan menjanjikan kemuliaan yang jauh lebih besar daripada itu pada akhirnya. Akan tetapi orang-orang malu akan nama Tuhan pada akhirnya tidak akan mendapatkan kemuliaan itu. Jadi kita harus memilih kemuliaan mana yang kita mau dapatkan. Paulus berkata: Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami (2 Korintus 4:17). Bagi Paulus, penderitaan yang dialaminya, yang begitu banyak dan menyakitkan, terasa ringan karena ia melihat kemuliaan kekal yang jauh melebihi apapun. Jadi ketika kita memikirkan ‘via dolorosa’, kita tidak boleh langsung berpikir negatif dan ciut hati. Kita harus melihat apa yang Tuhan janjikan dalam jalan itu.

 

Ayat 27

            Yesus berkata: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah. Ini adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya. Ayat ke-26 sudah menyebut tentang kemuliaan lalu kemudian ayat 27 juga berbicara tentang kemuliaan. Siapakah yang Tuhan Yesus maksud? Apa yang dimaksud dengan melihat kerajaan Allah? Bukankah Kerajaan Allah sudah datang ketika Yesus mengusir Setan? ‘Melihat Kerajaan Allah’ dijelaskan dalam perikop berikutnya yaitu ketika Yesus dimuliakan di atas gunung. Dalam bagian itu, Petrus, Yakobus, dan Yohanes melihat Yesus yang rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan (ayat 29). Ayat 32 menyatakan: …mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya…Ayat 35: Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia. Orang-orang yang dimaksud dalam ayat ke-27 adalah Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Mereka mendapatkan hak khusus untuk melihat secara langsung transfigurasi Yesus. Kejadian ini mengingatkan mereka akan Musa yang melihat kemuliaan Allah di atas gunung Sinai (Keluaran 33-34). Saat Musa turun dari gunung Sinai, mukanya menjadi bercahaya (Keluaran 34:29). Musa dan Elia hadir dalam peristiwa transfigurasi Yesus (Lukas 9:30). Jadi saat Yesus menjanjikan kemuliaan Allah, itu bukanlah janji palsu. Penyataan akan kemuliaan-Nya sudah tertulis dalam kitab Injil yang sekarang kita bisa baca sehingga kita bisa percaya akan janji-Nya.

 

 

KESIMPULAN

 

            Setelah merenungkan semua ini, kita harus bertanya kepada diri kita: jalan manakah yang mau kita pilih? Maukah kita menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikut Dia? Apakah kita akan memilih dunia? Kita harus memilih jalan yang terbaik dan paling bijaksana. Maukah kita menanggung penderitaan itu agar kita mendapatkan hal yang jauh lebih baik dari Tuhan, mengenal Kristus lebih dalam lagi, dan menikmati kemuliaan yang Tuhan janjikan? Pilihan kita dalam hal ini akan menentukan arah hidup kita sampai kita mati.

 

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – TS)