Ia Menanggung Seluruh Kelemahan Kita (Lukas 22:39-46)

Ia Menanggung Seluruh Kelemahan Kita (Lukas 22:39-46)

Categories:

Khotbah Minggu 21 Maret 2021

Ia Menanggung Seluruh Kelemahan Kita (Lukas 22:39-46)

Vik. Tonny Sutrisno, M.B.A, M.Th.

 

 

            Kita akan bersama-sama melihat Lukas 22:39-46. Sejarah keselamatan tidak mungkin terlepas dari sejarah penciptaan. Adam yang diciptakan seturut gambar Allah sudah gagal. Israel pun gagal. Namun perjanjian yang Tuhan tetapkan ketika Tuhan menciptakan manusia harus tetap digenapkan baik dari sisi Allah maupun sisi manusia. Dosa telah merusak ikatan yang Allah berikan kepada manusia. Ikatan pertama adalah ketika Tuhan menghembuskan nafas kehidupan ke hidung Adam. Di sana dinyatakan bahwa Allah memberikan kehidupan juga Allah mengadakan relasi dengan Adam. Kemudian Allah memberikan hal-hal yang terbaik kepada Adam. Ia diberikan pengenalan akan Allah dan kemampuan untuk taat. Allah juga hadir di tengah taman itu.

 

            Ketika Adam gagal, Allah bertindak. Allah merendahkan diri-Nya (condescend) untuk mengambil rupa kita. Rupa yang diambil itu sungguh-sungguh seperti rupa kita, yaitu rupa yang penuh dengan kelemahan. Yesus adalah manusia sempurna, bukan superman. Ia merasakan lapar, haus, rasa sakit, dan bisa dibunuh. Yesus memiliki segala kelemahan namun Ia tidak berdosa. Ketika Allah mau menyelamatkan manusia, Ia harus datang ke dunia. Mengapa demikian? Adam sudah gagal menjadi anak Tuhan yang taat. Kristus datang untuk menggenapkan apa yang Tuhan sudah rencanakan dalam kekekalan bahwa Allah akan menjadi Allah kita dan kita akan menjadi anak-anak-Nya yang taat.

 

            Saat dunia selesai diciptakan oleh Tuhan, Tuhan menilai ‘sungguh amat baik’. Nilai ini harus dikembalikan setelah kejatuhan dalam dosa. Adam mewakili seluruh ciptaan dan mengemban tugas dari Tuhan. Ketika ia jatuh, seluruh ciptaan juga jatuh. Di dalam Adam semua hancur. Hosea 6:7 Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku. Maka dari itu Sang Anak harus turun dari surga untuk mengambil natur manusia. Ibrani 5:2 Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Ibrani 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Kristus menjadi manusia sama seperti kita. Ia dicobai dan menderita untuk kita.

 

            Adam jatuh di taman Eden. Yesus berdoa dan bergumul di taman Getsemani dan Ia taat dengan sempurna. Di Eden, Adam memiliki banyak pilihan makanan, namun di Getsemani Yesus hanya memiliki satu pilihan yaitu taat. Itu membawa-Nya kepada kematian di atas kayu salib. Di Eden, Adam takut dan bersembunyi dari Allah karena ia telah berbuat dosa. Di Getsemani Yesus juga takut, namun karena Ia harus menanggung seluruh keberdosaan manusia di atas kayu salib. Ia tidak lari dari Allah melainkan Ia berlutut dan berdoa. Manusia memulai hidup di taman dan juga jatuh di taman. Adam tidak takut akan kematian ketika ia memakan buah itu. Yesus tahu bahwa diri-Nya akan mati dan hal yang membuat-Nya takut adalah Allah akan meninggalkan-Nya di atas kayu salib. Misteri ini begitu besar.

 

            Setiap kitab Injil menampilkan Yesus dari sisi-sisi yang berbeda. Yohanes menampilkan Yesus sebagai raja, hamba yang menderita, dan juga Tuhan. Lukas menampilkan Yesus sebagai manusia yang sejati. Lukas 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Yesus lahir dari Maria. Ia mengambil natur manusia dari Maria. Ia memiliki kelemahan seperti kita namun Ia tidak berdosa. Yesus tidak memiliki kehendak untuk memberontak. Jadi Yesus tidak mungkin bertentangan dengan Bapa.

 

            Di taman Getsemani, Yesus tidak sedang dicobai. Lukas 22:42 Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Kejadian di taman Getsemani memberikan gambaran bahwa penebusan harus melibatkan kehendak manusia yang juga harus ditebus. Seluruh bagian manusia ditebus, bahkan sampai yang terkecil, termasuk kehendak. Bagian yang tidak diambil oleh Kristus ketika Ia berinkarnasi tidak akan ditebus. Di taman Getsemani dinyatakan bahwa kehendak manusia Kristus itu bebas. Ketaatan harus datang dari kebebasan. Kristus memiliki kehendak bebas sehingga Ia bisa taat. Orang yang dipenjara tinggal di penjara bukan karena ia taat tetapi karena kebebasannya dibatasi. Di taman, Adam memberontak namun Yesus taat. Di taman Getsemani tidak ada pencobaan. Pencobaan yang dialami Yesus adalah di padang gurun dalam pimpinan Roh Kudus. Setelah berpuasa 40 hari Iblis menggoda-Nya untuk mengubah batu menjadi roti. Namun Yesus datang untuk melakukan kehendak Bapa, bukan Iblis.

 

            Kehendak manusia Yesus bebas untuk menilai kehendak Bapa dan Ia memilih untuk taat. Ia di dalam kebebasan-Nya tunduk kepada Bapa. Itulah yang manusia seharusnya lakukan. Yohanes 6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Kristus tidak berkata ‘Aku tidak memiliki kehendak sehingga Aku harus melakukan kehendak Bapa’. Yohanes 6:38 menyatakan bahwa Kristus memiliki kehendak bebas. Di dalam perbedaan kehendak, ketaatan dinyatakan. Di taman Getsemani Yesus taat. Lukas 2:52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Di sana Yesus belajar untuk taat. Ia juga taat kepada otoritas orang tuanya. Di taman Getsemani Yesus rela untuk meminum cawan murka Allah, bukan karena terpaksa. Jika ada paksaan, maka tidak akan ada penebusan. Adam gagal di dalam kebebasannya, namun Yesus berhasil taat dalam kebebasan-Nya. Doa Yesus di taman Getsemani bukanlah perlawanan terhadap Setan maupun penolakan terhadap perintah Bapa. Ia takut karena di atas kayu salib Ia terpisah dari Allah. Ia melakukan itu semua dengan kerelaan penuh. Sedikit saja ketidakrelaan akan membuat-Nya gagal.

 

            Sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, kita harus memeriksa diri kita sendiri apakah kita masih tidak rela taat kepada Tuhan atau tidak. Apakah kita mau melakukan semua kehendak Allah atau kita masih menolak perintah tertentu? Yesus mengajarkan kita di taman Getsemani bagaimana kita seharusnya berdoa ketika pergumulan itu datang. Ia takut terpisah dari Allah. Namun Adam memberontak dengan tangan teracung. Ini berarti Adam sungguh berpendirian untuk melawan Tuhan. Namun Yesus dengan pendirian yang kuat tidak mau terpisah dari Allah. Ia menanggung seluruh kutuk yang seharusnya kita tanggung di atas kayu salib. Penderitaan Yesus bukanlah hanya di atas kayu salib tetapi seluruh hidup Yesus adalah gambaran penderitaan. Ia ditolak, dihina, difitnah, dan disalahmengerti, bahkan oleh saudara-saudara-Nya sendiri. Ia dikhianati oleh murid-murid-Nya sendiri. Namun Ia taat karena Ia mengerti tujuan-Nya.

 

            Yesus sebagai manusia mewakili kita. Ia mencintai kehidupan lebih daripada kematian dan Ia mengharapkan belas kasihan Tuhan serta takut akan murka Tuhan. Itu ditunjukkan oleh-Nya di taman Getsemani. Yesus dalam natur manusia-Nya tidak tahu secara detail apa yang akan terjadi dalam perjalanan-Nya menuju salib. Ia hanya tahu, dalam natur manusia-Nya, bahwa Ia harus menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib. Yesus bukan sedang berbohong ketika Ia menyatakan bahwa Ia tidak tahu kapan Ia akan datang kembali. Sebagai manusia, Yesus hanya tahu bahwa Ia harus rela dan taat untuk menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa di atas kayu salib. Kita berdosa karena kita menolak pribadi Tuhan, namun Yesus tidak berdosa karena Ia tidak pernah menolak kehendak Bapa. Lukas menampilkan Yesus yang taat total kepada Bapa. Ini adalah poin yang penting. Lukas 22:42 Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Ini adalah penyerahan total. Kata ‘tetapi’ harus diartikan sebagai keputusan Yesus untuk menerima apapun yang diputuskan oleh Bapa. Kita pun harus demikian. Kita harus berani mengutamakan kehendak Bapa lebih daripada kehendak kita sendiri. Kita dilahirbarukan untuk menjadi rela dan taat.

 

            Apa jawaban Bapa terhadap doa Yesus? Bapa tetap memberikan cawan murka itu kepada Yesus sesuai rencana-Nya dalam kekekalan. Dalam Doa Bapa Kami kita berdoa “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Tuhan Yesus menggenapkan apa yang Ia pernah ajarkan. Yesaya 53:4   Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Melalui doa dan penderitaan-Nya, Lukas mau mengajarkan kita bagaimana kita seharusnya berjuang untuk melakukan kehendak Allah. Keputusan Yesus untuk taat kepada Bapa tidak menghentikan pergumulan-Nya. Bapa mengizinkan Yesus mengalami ketakutan sampai peluh-Nya bertetesan seperti darah. Lukas 22:42 adalah pernyataan iman. Ayat 43 menyatakan penghiburan. Setelah kedua ayat ini, apa yang kira-kira kita nantikan? Mungkin kita berharap ada sukacita. Namun Alkitab mencatat bahwa setelah itu (ayat 44): Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Yesus menjadi semakin takut. Dalam pernyataan iman, tetap ada ketakutan dan pergumulan. Kita bisa mengalami hal ini juga. Namun dalam ketakutan kita, Allah bisa memakai itu untuk membuat kita semakin bersandar kepada Allah.

 

            Masalah sebenarnya adalah: ke mana kita berlari? Bahkan ketika kita berdosa, ke mana kemudian kita berlari? Yudas sadar dirinya bersalah, namun ia menyelesaikan masalah kekekalan dengan solusi kesementaraan. Kita berdosa dalam kesementaraan, namun kita harus mencari solusi kekal yaitu kita datang kepada Tuhan. Kejadian di Getsemani merupakan lambang ketaatan terbesar dari seorang manusia.

 

            Kita mungkin pernah taat namun kesulitan dan pergumulan itu tidak juga selesai. Namun kita harus mengingat bahwa Yesus sudah bergumul di taman Getsemani untuk kita. Itulah penghiburan kita. Yesus sudah mengalami pergumulan yang jauh melebihi semua pergumulan yang kita pernah alami namun Ia taat. Kristus menderita sebagai Orang Benar. Inilah inti dari teologi penderitaan. Kristus sebagai Orang Benar sudah menderita bagi orang-orang yang tidak benar. Teologi penderitaan yang benar akan membawa kita semakin dekat dengan Tuhan.

 

            Kita mungkin terbiasa dengan pandangan penderitaan yang hedonistik, yaitu kita harus menghapus penderitaan sebanyak mungkin. Manusia seringkali berpikir bahwa pelarian di dunia itu (seks, narkoba, dan lainnya) adalah solusi bagi penderitaan. Mereka lari kepada dosa. Mereka berpikir bahwa pemberontakan terhadap Allah adalah solusi bagi penderitaan mereka. Ada orang yang menyatakan bahwa penderitaan itu hanya ilusi sehingga ia menyangkal penderitaan karena dosanya. Mungkin kita cenderung menyembunyikan penderitaan kita ketika kita ditanya oleh orang lain. Namun seharusnya kita menyatakan diri kita yang sesungguhnya kepada saudara seiman. Kita bukan memamerkan penderitaan tetapi kita sebagai Gereja harus saling merasakan kesulitan dan penderitaan masing-masing. Kita harus saling menolong. Tuhan Yesus menyuruh para murid berdoa agar mereka tidak jatuh ke dalam pencobaan. Kita tidak boleh berpura-pura tidak menderita padahal kita sedang banyak bergumul. Yesus tidak menyembunyikan ketakutan dan penderitaan-Nya.

 

            Ada orang-orang menyalahgunakan penderitaan. Kita bisa melupakan segala berkat Tuhan di masa lampau ketika kita di saat ini sedang menderita. Yesus tidak demikian. Ketika Yesus berdoa kepada Bapa, para murid tidak mendengar karena mereka agak jauh dan mereka sedang tidur. Injil Lukas menggambarkan Yesus yang secara rutin berdoa sendirian. Dalam segala kesulitan kita, kita harus terus melihat kepada Kristus dan bagaimana Ia sudah menderita jauh lebih besar daripada kita. Ketika kita beriman kepada Tuhan, kesulitan itu tidak akan dijauhkan dari hidup kita. Justru Tuhan akan memberikan kesulitan-kesulitan yang akan menguduskan kita. Penderitaan Tuhan memberikan hal yang paling penting dalam hidup kita. John Stott dalam bukunya ‘The Cross of Christ’ menulis “pencurahan darah Kristus merupakan penggantian terhadap darah kita yang sudah tidak memiliki kehidupan karena dosa”. Di atas kayu salib itu Yesus memberikan darah-Nya sehingga kita yang sudah mati menjadi hidup. Ia memberikan tubuh-Nya untuk menggantikan tubuh kita yang sudah mati. Di Getsemani Tuhan Yesus taat untuk memberikan itu semua kepada kita.

 

            Yesus takut terpisah dari Allah, namun banyak orang dari dahulu sampai sekarang dan seterusnya tidak takut terpisah dari Allah. Dalam ketakutan yang begitu dahsyat, Yesus menanggung semuanya bagi kita. Kita tidak akan pernah bisa mengerti ketakutan itu, namun kita harus belajar untuk taat dalam iman. Murka Allah yang Tuhan Yesus lihat di Getsemani itu sungguh amat mengerikan. Hanya Yesus yang sanggup menanggung murka itu. Bahkan untuk menebus diri kita sendiri pun kita tidak bisa. Ini karena kita bukanlah orang benar dan kita tidak sanggup menanggung pergumulan seperti di taman Getsemani. Jalan salib yang Yesus ambil adalah penderitaan terbesar dalam sejarah manusia. Itu adalah lambang kehinaan dan ketidakadilan terbesar yang pernah terjadi di bumi ini. Namun itu juga lambang kemuliaan tertinggi yang pernah ada dalam sejarah manusia. Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Kristus menderita bukan agar kita tidak menderita. Kristus datang bukan untuk mencari penderitaan. Namun karena ketaatan-Nya Ia harus menderita. Kita harus menderita dalam izin Tuhan ketika kita mau menggenapkan kehendak Tuhan. Kristus menanggung penderitaan agar kita menjadi siap dalam menanggung penderitaan kita. Kita bisa melihat kepada Yesus dalam segala pergumulan kita dan kita melihat ketaatan-Nya. Ini membuat kita mampu menjadi saksi-Nya.

 

            Kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus mau berkata seperti ini kepada kita semua: “Aku sudah rela dan taat meminum cawan murka Bapa-Ku dan rela menerima sengsara sampai Aku mati di atas kayu salib bagimu yang Aku kasihi. Sekarang Aku memintamu untuk rela berjuang dan berperang dengan taat kepada Bapa walaupun harus menderita. Namun ini bukanlah untuk memperoleh kematian melainkan kehidupan di dalam Aku. Dan Aku akan menyertaimu sampai kepada akhirnya.”

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)