Kasih yang Sejati (Lukas 10:25-37 dan Matius 5:44)

Kasih yang Sejati (Lukas 10:25-37 dan Matius 5:44)

Categories:

Khotbah Minggu 22 Agustus 2021

Kasih yang Sejati (Lukas 10:25-37 dan Matius 5:44)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan melihat dari Lukas 10:25-37 dan Matius 5:44. Lukas 10:25-37 berbicara tentang orang Samaria yang baik hati. Objek kisah ini bukanlah orang yang dirampok tetapi orang Samaria yang memiliki hidup yang kekal. Ini karena konteksnya adalah ketika ahli Taurat bertanya tentang hidup yang kekal. Orang Lewi, imam, dan pemilik penginapan bukanlah fokusnya. Lukas 10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Ini bukanlah pertanyaan yang tulus atau sungguh-sungguh. Meskipun Ia memanggil Yesus sebagai ‘Guru’, ia sebenarnya mau mencobai Yesus. Yesus menjawab pertanyaan ini dengan cerdik. Ia tidak marah kepada ahli Taurat itu. Yesus tidak mengajaknya untuk mengikut Dia agar mendapatkan hidup yang kekal. Lukas 10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Dalam bagian ini kita melihat kutipan dari Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Inti hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama secara totalitas. Orang itu menjawab dengan benar seperti kata Yesus. Jadi ahli Taurat ini memiliki teologi dan pengetahuan. Lukas 10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

 

Namun kisah ini belum selesai. Ahli Taurat itu belum puas dan mulai membenarkan diri. Ia mau menjebak Tuhan Yesus. Lukas 10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Dalam pandangan orang Yahudi, ada etnosentrisme. Bagi mereka, “sesama” adalah orang-orang Yahudi. Mereka mau berempati terhadap sesama orang Yahudi namun mereka tidak peduli pada orang-orang non Yahudi. Yesus tidak mau terjebak dalam etnosentrisme itu sehingga kemudian Ia memberikan sebuah perumpamaan. Bagian ini memiliki makna seperti dalam Lukas 6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Ini adalah kemuliaan kasih. Kasih itu bukan menuntut tetapi memberi. Kasih itu bukan memberi standar yang tinggi untuk orang lain namun tidak memberi standar yang tinggi untuk diri sendiri. Hukum kasih itu berbicara tentang hidup kita yang sudah ditebus dan dimiliki oleh Yesus Kristus karena kasih-Nya sehingga kualitas kasih kita terpancar kepada orang lain. Petrus menyatakan bahwa kita harus menyatakan kasih Kristus supaya orang lain bisa melihat kasih Tuhan. Dalam bagian inilah Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada ahli Taurat itu agar tidak terjebak dalam etnosentrisme, tetapi agar ia belajar melihat hukum kasih. Kasih yang tertinggi adalah ketika Kristus memberikan diri-Nya untuk mati menebus dosa-dosa kita. Kalau kita menuntut dan tidak mau berkorban untuk orang itu, maka itu bukan kasih Kristen.

 

Dari mana Tuhan Yesus tahu tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati ini? Ada yang menyatakan bahwa kisah ini sudah ada sebelumnya namun diberikan makna yang berbeda oleh Tuhan Yesus. Kita tidak tahu dari mana kisah ini, namun dalam cerita ini kita akan mendapatkan makna. Objek perumpamaan ini adalah orang Samaria yang dibenci orang-orang Yahudi, bukan imam dan orang Lewi yang adalah orang-orang agama. Dalam sejarah orang-orang Samaria pernah membuat Bait Suci menjadi tidak suci karena mereka meletakkan tulang-tulang manusia di sana. Orang Samaria juga pernah membangun tempat ibadah sendiri. Orang Yahudi berpikir bahwa orang Samaria adalah orang-orang sesat, tidak punya kasih, dan sampah masyarakat. Dalam dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus justru menyorot orang Samaria yang baik hati. Ketika Yesus bertanya: Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (Lukas 10:36), ahli Taurat itu tidak berani menjawab ‘orang Lewi’ atau ‘imam’. Ia harus menunjuk kepada orang Samaria itu, yang mengerti tentang kasih kepada Tuhan dan sesama. Tuhan Yesus tidak mendebat bagian itu.

 

Orang Samaria itu tidak hanya menjadi penonton ketika melihat orang yang dirampok, disakiti, dan hampir mati itu. Ia tidak seperti imam dan orang Lewi yang hanya melihat dari jauh dan kemudian pergi lewat seberang jalan. Orang Lewi dan imam itu berjalan jauh dari Yerusalem di jalan yang sulit dan berbatuan. Jalan itu disebut sebagai jalan yang berdarah karena biasanya ada perampok. Bagi orang Yahudi, jika mereka menyentuh mayat, maka mereka menjadi najis. Dalam hukum Yahudi, jika mereka menolong orang itu dan orang itu sudah meninggal maka mereka harus menguburkan orang itu juga. Jadi kelihatannya wajar saja jika mereka tidak mau menolong. Mereka tidak mau menjadi najis dan tidak mau mengeluarkan uang lebih. Belum lagi mereka pasti lelah dan ingin cepat bertemu keluarga di rumah. Namun kita bukan memerhatikan bagian itu karena fokus kita adalah kasih orang Samaria itu dalam konteks hidup yang kekal. Orang Samaria itu memberikan pertolongan yang total. Mungkin orang itu sudah minta tolong namun tidak ada yang mau menolongnya. Mungkin orang itu tahu bahwa yang menolongnya adalah orang Samaria karena pakaiannya berbeda. Kita mungkin berpikir bahwa kita itu seperti orang Samaria yang baik hati, namun kita belum teruji. Kalau kita sudah berjanji untuk tepat waktu dan sudah lelah, mungkin kita tergoda untuk tidak menolong orang itu. Mungkin kita juga memikirkan risiko-risiko kalau menolong orang itu. Banyak hal bisa membuat kita akhirnya tidak melakukan tindakan yang benar sesuai dengan hati nurani dan iman kita. Kita tidak boleh takut menolong orang lain dengan niat untuk memuliakan Tuhan.

 

Orang Samaria itu merobek kain untuk membalut luka orang itu, memberikan minyak untuk mengurangi rasa sakit, dan memberikan anggur untuk membersihkan luka-lukanya. Semua ini memerlukan uang, namun ia tidak khawatir tentang itu. Ia menaikkan orang itu ke atas keledainya dan mau dengan lelah berjalan kaki. Ia hanya memikirkan bagaimana ia bisa menolong orang itu. Ia membawa orang itu ke penginapan agar orang itu bisa beristirahat dan menitipkan uang kepada pemilik penginapan agar orang itu dirawat. Orang Samaria itu bahkan berjanji untuk kembali dan memberikan uang lebih banyak jika diperlukan. Mengapa orang penginapan itu bisa percaya kepada orang Samaria itu? Orang Samaria itu sering menginap di sana sehingga pemilik penginapan sudah percaya kepadanya. Jadi orang Samaria itu pergi dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak meminta balas budi dari orang yang ditolong itu. Di sini kita mengerti siapa yang disebut sebagai sesama. Kasih kepada Tuhan dan kepada sesama tidak bisa dipisahkan.

 

Matius 5:44 mengajarkan kepada kita tuntutan yang lebih dalam dari ajaran hukum Taurat. Kita diminta untuk mengasihi musuh. Mengasihi orang baik atau orang-orang yang sudah banyak menolong kita itu mudah dan biasa. Tuhan mau kita bertindak lebih jauh lagi yaitu mengasihi musuh kita. Di atas kayu salib Tuhan Yesus berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34). Saat itu Tuhan Yesus begitu menderita namun Ia malah menaikkan doa untuk pengampunan. Tuhan tidak mengecam mereka tetapi mengeluarkan kata-kata kasih yang mulia. Kasih kita harus bertumbuh, termasuk kepada mereka yang tidak berbuat baik kepada kita. Dalam hati kita tidak boleh ada kebencian, iri hati, dan niat untuk menjatuhkan orang lain. Kita mudah sekali membenci, menjatuhkan orang lain, dan membuat gambaran tentang orang lain yang sebenarnya bukan dirinya karena kita adalah manusia berdosa. Kita seharusnya memancarkan kasih seperti Kristus. Tuhan Yesus juga mau kita berdoa bagi orang yang menganiaya kita. Mungkin kita pernah dianiaya karena kita mengabarkan Kristus, namun di sana ada berkat Tuhan. Ketika kita bisa berdoa dan menjadi berkat untuk orang lain termasuk musuh kita, maka sebenarnya itu adalah berkat bagi kita. Jadi kasih kita harus bertumbuh kepada semua orang termasuk kepada orang-orang berdosa yang harus kembali kepada Tuhan. Gereja Tuhan harus bersatu dan mengabarkan Kristus kepada orang-orang di sekitar supaya mereka percaya kepada Tuhan. Sampai sejauh mana kita peduli kepada jiwa-jiwa di sekitar kita?

 

Dalam masa pandemi ini sangat mudah untuk menjadi saling tidak percaya. Kita tidak mau dekat-dekat dengan orang lain demi menjaga protokol kesehatan. Kita mengucap syukur karena ada pelayanan tim aksi kasih yang mau pergi ke lapangan untuk menyatakan kasih kepada orang-orang di sekitar. Ini adalah hal yang indah untuk dilakukan dalam masa pandemi seperti ini. Orang yang dirampok itu hampir mati dan nyawanya tertolong karena anugerah Tuhan melalui orang Samaria itu. Kita dahulu juga adalah orang-orang yang mati rohani dan pendosa-pendosa di hadapan Tuhan. Kita begitu hancur dan tidak memiliki nilai kemuliaan karena kita berada dalam perbudakan daging dan dosa. Jika kita mati pada saat itu maka pasti kita masuk neraka. Namun karena belas kasihan Tuhan kita selamat. Agama dan status agama kita tidak bisa menyelamatkan. Kita hanya bisa selamat ketika kita sadar bahwa diri kita sekarat dan tidak bisa menyelamatkan diri sendiri dan kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Allah Roh Kudus sudah bekerja dalam hati kita sehingga kita menjadi percaya dan menjadi orang Kristen. Kita diberikan visi untuk mengasihi orang-orang berdosa sehingga mereka kembali kepada Tuhan. Perjamuan Kudus mengingatkan kita bahwa Kristus telah mati untuk menebus dosa-dosa kita dalam kasih dan belas kasihan-Nya. Perjamuan Kudus juga mengingatkan kita untuk kembali kepada kasih mula-mula dan komitmen kita untuk hidup bagi Kerajaan Allah. Kita harus menyatakan kasih Tuhan tanpa melihat suku, bahasa, golongan, dan lainnya.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).