Bertekun Dalam Penderitaan (Kisah Para Rasul 16:16-34)

Bertekun Dalam Penderitaan (Kisah Para Rasul 16:16-34)

Categories:

Khotbah Kebaktian Umum Minggu, 29 Agustus 2021

Bertekun Dalam Penderitaan (Kisah Para Rasul 16:16-34)

Pdt. Calvin Bangun, M. Th.

 

 

Kisah Para Rasul 16:16-34 adalah contoh ayat Alkitab yang bisa memberi kita penghiburan dalam penderitaan, karena pada ayat ini alawnya menceritakan tentang Paulus dan Silas yang mengalami penganiayaan tetapi diakhirnya mereka dapat keluar dari penjara. Namus fokus ayat ini bukan hanya menyatakan tentang bebasnya Paulus dan Silas dari dera dan penjara. Tetapi pada kisah ini, sebenarnya mengingatkan kita pada hamba-hamba Tuhan yang juga pernah dipenjarakan contohnya seperti; Adoniram Judson-misionaris pertama dari Inggris yang melayani ke Birma yang setelah bertahun-tahun dari pelayanannya, ia dipenjarakan ditahun 1824 karena terjadinya peperangan antara Kerajaan Inggris dan pemerintah Birma. Seharusnya Adoniram Judson tidak perlu dipenjarakan karna ia berkebangsaan Amerika dan bukan berkebangsaan Inggris, namun pemerintah Birma tidak dapat membedakan orang asing berkulit putih saat itu. Selama dua puluh satu bulan ia dipenjara. Selama dipenjara Adoniram Judson dipindah-pindahkan selama empat kali dan mengalami kelaparan karena hanya diberi sedikit makanan dan sedikit air. Sampai-sampai istri pertamanya waktu itu Ann Hasseltine meninggal di usia tiga puluh enam tahun, ia menderita karena mati-matian merawat suaminya Adoniram Judson. Ann Hasseltine harus membawakan makanan ke penjara saat sedang mengandung. Bisa kita bayangkan seorang perempuan yang sedang mengandung harus mengantarkan makanan ke penjara untuk suaminya, hari demi hari. Keadaan ini pastinya sangat melelahkan untuk fisik dan mentalnya, hingga akhirnya Ann Hasseltine tutup usia, di umur yang masih terbilang muda.

 

Contoh yang kedua yaitu Richard Wurmbrand, adalah seorang pendeta lutheran yang dipenjarakan oleh pemerintahan komunisme di negara Rumania. Richard Wurmbrand dipenjarakan bersama istrinya yang mengalami kerja paksa selama tiga tahun sebelum dibebaskan. Sedangkan Richard Wurmbrand sendiri dipenjara selama empat belas tahun. Di dalam penjara, Richard Wurmbrand mengalami penganiayaan yang sangat berat seperti dipukuli dan dicuci otaknya. Richard Wurmbrand akhirnya dibebaskan oleh sekelompok orang Kristen di Norwegia dengan memberikan uang tebusan sejumlah 10.000 USD pada tahun 1948. Setelah Richard Wurmbrand dan istrinya bebas, mereka kembali ke Amerika dan menceritakan kekejaman yang mereka alami oleh pemerintahan komunisme Rusia di Rumania.

 

Dalam Kisah Para Rasul 16:16-34, Lukas sangat jelas ingin menggambarkan tentang penderitaan dan penganiayaan yang dialami oleh Paulus dan Silas. Lukas menggambarkan periswa ini dengan sangat dramatis dan runtut secara kronologi. Kisah Para Rasul 16:19b lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa. Mereka pun juga difitnah secara rasis, Kisah Para Rasul 16:20b Orang-orang ini mengacau kota-kota kita karena mereka orang Yahudi. Ayat 22 juga menceritakan bagaimana pakaian mereka dikoyakkan dari tubuh mereka dan mendera mereka. Lalu Paulus dan Silas dilemparkan ke dalam penjara yang paling tengah dan paling gelap, lalu membelenggu kaki mereka dengan pasungan yang kuat.

 

 

Ada tiga hal yang patut kita garis bawahi;

 

(1) Penderitaan yang tidak terhindarkan. Kalau kita menilik mundur, pelayanan Paulus dan Silas sudah dimulai dari Kisah Para Rasul 16:12 dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari. Awalnya Paulus dan Silas tidak berniat untuk ke Makedonia, mereka ingin pergi ke Asia. Tetapi Roh Kudus menghalangi mereka sehingga mereka sampai ke Troas. Setelah sampai ke Troas, Paulus mendapat mimpi tentang seorang laki-laki Kisah Para Rasul 16:9 Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!”. Mimpi inilah yang akhirnya membuat akhirnya Paulus dan Silas berbelok dari Asia ke Makedonia. Sampai di Kota Filipi, Paulus dan Silas mencari di mana orang Yahudi banyak berkumpul, di situ mereka bertemu dengan Lidia, orang Tiatira yang membuka hatinya terhadap perkataan Paulus. Kita dapat melihat penyertaan Tuhan di mana yang tadinya Paulus ingin pergi ke Asia, namun malah Tuhan belokkan ke Filipi, sampai Filipi mereka bertemu dengan Lidia yang adalah penjual kain ungu dari Tiatira, yang merupakan bagian dari Asia Kecil. Di sini jelas bahwa Tuhan memang ingin memakai Paulus untuk menjadi Rasul bagi orang-orang bukan Yahudi, kepada orang-orang yang tidak bersunat. Ini merupakan trobosan penginjilan. Bukan hanya Paulus menginjili orang bukan Yahudi, tetapi mereka juga menginjili sampai ke tempat bukan orang Yahudi.

 

Jika kita perhatikan, perjalanan penginjilan Paulus dan Silas berjalan dengan baik, namun tiba-tiba situasi berubah sejak Paulus mengusir roh penenung dari seorang hamba perempuan. Pemuka kota Filipi akhirnya mendera, memfitnah sampai menjebloskan Paulus dan Silas ke penjara, karena hamba perempuan tadi menghasilan uang bagi pemuka kota Filipi, walau sebenarnya hamba perempuan tadi dirasuki oleh roh jahat sehingga hamba perempuan tersebut bisa menenung. Ini menandakan bahwa keadaan yang baik bisa sewaktu-waktu menjadi buruk karena kita hidup di dunia yang sudah berdosa. Di zaman modern ini kita lebih terlena dengan janji-janji dunia dalam menghilangkan penderitaan. Maka dari itu, pertanyaannya adalah, apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi penderitaan?

 

(2) Penderitaan tidak perlu mematikan sukacita. Seperti Paulus dan Silas yang tidak berhenti berdoa dan memuji nama Tuhan saat mengalami penderitaan. Kisah Para Rasul 16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Mereka tetap bergembira walau berada di penjara yang gelap dan kaki mereka dipasung. Ini bukan berarti mereka tidak merasakan penderitaan, tetapi mereka tetap tidak kehilangan sukacita. Yang membedakan kita dengan Paulus dan Silas adalah jiwa mereka yang bebas, mereka dapat bernyanyi bahkan setelah didera dan dipasung. Ini menandakan bahwa penderitaan adalah cara Tuhan untuk memperlihatkan di mana kita meletakkan hati kita. Dalam pandemi ini Tuhan seperti sedang membedah di mana kita, di mana kita menaruh hati kita, apakah itu di harta, teman, atau di pekerjaan. Bahkan jika kaki kita terpasung di dunia ini, kita tetap dapat menemukan sukacita jika hati kita senantiasa memuji Tuhan di surga.

 

(3) Penderitaan adalah kesempatan. Fokus pada kisah ini bukanlah saat terjadi gempa lalu mereka keluar dari penjara. Tetapi bagaimana Tuhan dapat melihat di mana hati Paulus dan Silas saat mereka didera, dipenjara, dan dipasung. Bahkan mereka tidak kabur saat itu juga yaitu saat Tuhan membuat tempat itu hancur akibat gempa. Paulus dan Silas masih memikirkan nasib penjaga penjara yang akan bunuh diri, karena ketakutannya menghadapi pembesar-pembesar di kota itu. Kisah Para Rasul 16:28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”

 

Seringkali kita menunggu penderitaan itu terlewati baru kita merasa bisa menang. Tetapi sebenarnya Tuhan ingin agar kita menang walaupun kita masih berada dalam penderitaan. Kita melihat teladan Paulus dan Silas yang menggunakan penderitaan mereka untuk bersaksi tentang kehebatan Tuhan yang bekerja dalam hidup mereka. Ini membuat kita merenungkan: pernahkah kita bersaksi, bukan setelah kita melewati penderitaan, tetapi saat kita masih mengalami penderitaan? Kisah ini bukan berarti bahwa setiap kita pasti akan keluar dari penderitaan, tetapi kisah ini lebih fokus terhadap bagaimana kita bisa tetap bersaksi di dalam penderitaan. Ketika kita bisa tetap bersaksi di dalam penderitaan, maka itu berarti kita sudah menang atas penderitaan kita. Kiranya kita senantiasa mempersiapkan diri untuk menderita, karena penderitaan itu tidak terhindarkan.

 

Kiranya penderitaan itu tidak mematikan sukacita kita, dan kiranya kita menggunakan penderitaan kita untuk bersaksi. Kiranya dalam penderitaan kita masih dapat berempati terhadap penderitaan orang lain, terlebih lagi di masa pandemi ini.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – SC)