Degradasi Iman yang Mendatangkan Hukuman Tuhan (2 Tawarikh 26:1-20)

Degradasi Iman yang Mendatangkan Hukuman Tuhan (2 Tawarikh 26:1-20)

Categories:

Khotbah Minggu 11 April 2021

Degradasi Iman yang Mendatangkan Hukuman Tuhan (2 Tawarikh 26:1-20)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang raja Uzia atau Azarya. Dalam Matius 1:8 namanya tercantum dalam silsilah Tuhan Yesus Kristus. Raja Uzia hidup dalam zaman nabi Amos, Hosea, dan Yesaya. Secara khusus kita akan membahas tentang degradasi iman yang mendatangkan hukuman Tuhan. Bagian yang akan kita bahas adalah 2 Tawarikh 26:1-20.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Salahkah Uzia (Azarya) dari umur 16 tahun sudah dijadikan raja? Sampai sejauh mana peran Zakharia dalam mendidik iman Uzia? Mengapa raja Uzia setelah berhasil, berkuasa, terkenal kekuatannya, ia berubah secara rohani? Apa yang menyebabkan raja Uzia berubah secara rohani? Ia berubah bukan karena dosa perzinahan atau perselingkuhan. Kita akan mendalami apa yang membuatnya mengalami degradasi rohani. Bagaimana menjaga kestabilan rohani kita? Apakah yang terjadi pada raja Uzia ini bisa terjadi pada kita? Saat tidak ada apa-apa, kita bisa bersikap rohani. Namun orang-orang tertentu, pada waktu mendapatkan jabatan, uang, dan kesuksesan, mengalami degradasi rohani. Kita akan melihat ini dari sisi spiritualitas Reformed.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Inkarnasi rohani vs degradasi rohani

            Inkarnasi rohani harus senantiasa terjadi dalam hidup kita. Firman Tuhan harus senantiasa memengaruhi karakter kita. Orang yang mengalami inkarnasi rohani selalu memiliki gairah pada hal-hal rohani. John Piper menyatakan bahwa hasrat orang ini selalu pada hal-hal rohani. Orientasinya adalah pada nilai peperangan rohani. Pada mulanya raja Uzia mengalami kerohanian poin alfa pada umur 16 tahun. Ia melihat bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Di sana ia sadar bahwa ia perlu bergantung pada Tuhan dan terus belajar dari Zakharia. Ia mau mengenal Tuhan, diri, dan setiap hal yang ia harus kerjakan. Dalam masa ini ia memperkuat Elot (ayat 2). Ia melakukan yang benar di mata Tuhan (ayat 4). Ia juga senantiasa mencari Allah (ayat 5). Jadi ia mengalami semangat inkarnasi rohani setiap hari. Ini karena ia merasa dirinya bukan apa-apa. Apapun yang dilakukannya berhasil. Ia berhasil karena ia mengandalkan Tuhan.

 

            Raja Uzia mengalami poin omega rohani ketika ia berada di puncak seluruh kejayaannya. Ini karena ia melihat bahwa dirinya sebagai orang yang penting dan hebat. Bangsa-bangsa lain menghormati raja Uzia dan kerajaan Israel. Mereka memberikan upeti kepadanya. Di sinilah ia mengalami degradasi rohani. Gairahnya menjadi kepada hal-hal yang jasmani. Salahkah jika kita berorientasi pada hal-hal jasmani? Dalam batasan tertentu tidak salah, misalnya ketika kita perlu memelihara tubuh kita. Jika kita melebihi batas yang wajar, maka kita sudah bersalah. Di situ kita akan mengalami degradasi rohani. Kita boleh menghibur diri, namun dalam batasan tertentu. Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus pergi ke Galilea dan merenungkan segala sesuatu. Setelah itu Ia menyatakan tentang Kerajaan Allah. Jadi kita perlu retret pribadi untuk merenungkan Firman Tuhan. Yesus pergi ke Galilea bukan karena Ia ketakutan tetapi karena Ia perlu waktu sendiri untuk kontemplasi. Kita harus memiliki penguasaan diri. Saat kita tidak lagi menguasai diri, di sana kita sedang mengalami degradasi rohani. Uzia mengalami hal itu. Ia berorientasi pada kekuasaan. Sebelumnya ia melihat kerohanian sebagai hal yang pokok. Namun setelah itu ia berpikir bahwa kekuatan militernyalah yang bisa melindungi dia. Ia berlebihan menilai segala sesuatu yang bersifat jasmani. Saat ia rohani, apapun yang dilakukannya berhasil. Ini berarti kerohanian itu jauh lebih berharga daripada benteng jasmani dan kekuatan militer. Cara pandang raja Uzia telah berubah dan menurun. Orientasinya telah berubah. Ini adalah hal yang berbahaya bagi hamba Tuhan. Hamba Tuhan harus menjaga fokus dan orientasinya pada hal-hal rohani. Kita harus menjadi orang-orang yang berfokus pada Tuhan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Kita tidak perlu membalas orang-orang yang menghina kita tetapi kita serahkan kepada Tuhan dan kita tetap melakukan yang terbaik untuk Tuhan.

 

            Namun raja Uzia menjadi sombong ketika kerajaan Israel menjadi kuat. Ayat 16 menjadi satu titik balik ia mengalami degradasi rohani. Setelah itu ia melakukan apa yang rusak. Hal ini tidak dicatat dalam Alkitab, namun kita tahu bahwa ia berorientasi pada dirinya sendiri, kuasa, dan kenikmatan. Inilah yang membuatnya rusak. Ia juga berubah kasih setia kepada Tuhan. Ia tidak lagi mengandalkan Tuhan dan tidak lagi belajar dari Zakharia. Ia juga berani melanggar kesucian Tuhan. Ia membakar ukupan, padahal itu adalah tugas seorang imam. 2 Tawarikh 26:17-18 Tetapi imam Azarya mengikutinya dari belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas; mereka berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: “Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini.” Namun setelah ditegur, ia malah marah. Ia merasa dirinya paling benar. Orang yang mengalami degradasi rohani tidak akan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tindakan raja Uzia begitu fatal.

 

            Ia menunjukkan bahwa dirinya berkuasa. Ini adalah ciri yang orang mengalami degradasi rohani. Tidak boleh ada orang yang merasa bahwa dirinya paling berkuasa di Gereja. Kita tidak boleh berpikir bahwa apa yang kita bisa capai dan miliki saat ini adalah milik kita pribadi. Semua yang kita punya merupakan anugerah Tuhan dan kita harus terus mengingat itu. Jika tidak, maka kita akan mengalami degradasi rohani. Kita bisa melakukan dosa pemberhalaan dalam hal ini. Waktu kita mulai mau menunjukkan kehebatan kita, di sana kita menjadi seperti raja Uzia. Ia juga merasa layak sama seperti imam. Di sini ia tidak lagi melihat otoritas Tuhan. Ini karena ia merasa bahwa dirinya lebih penting dan lebih kuat. Ini keberanian yang konyol dari raja Uzia. Saat itu juga ada kusta di dahinya. Mengapa di dahi? Orang Yahudi mengikat di dahi dan tangan sebagai lambang kesetiaan pada perjanjian. Dahi menunjukkan wibawa seseorang. Mahkota Uzia saat itu menjadi kusta, bukan emas atau lainnya. Kusta merupakan tanda kutukan Tuhan pada saat itu. Setelah diusir, ia tidak berani melawan tetapi langsung pergi. Apakah ini berarti Uzia tidak memiliki iman yang menyelamatkan? Belum tentu, karena namanya tercatat dalam silsilah Tuhan Yesus.

 

            Matius 5:22-24 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! Harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Mazmur 35-37 mengajarkan kita untuk tidak marah dan mengampuni orang lain. Mulut orang benar selalu mengatakan hikmat. Mereka akan mencintai damai. Raja Uzia sudah mengalami titik nol, bahkan minus dalam kerohanian. Ini karena ia tidak menghormati Tuhan dan tidak mau ditegur. Kusta itu membuatnya terdiam dan langsung pergi. Ketika Allah Roh Kudus sudah menegur hati nurani kita dan kita tidak mau mendengar, maka Allah bisa memukul kita dengan keras agar kita sadar. Penyakit tidak selalu merupakan hukuman dari Tuhan, namun dalam konteks raja Uzia, penyakit kusta itu merupakan hukuman dari Tuhan. Gairah dalam inkarnasi rohani dan degradasi rohani itu begitu berbeda. Kita harus memeriksa gairah apa yang kita miliki saat ini.

 

2) Pertumbuhan rohani vs degradasi rohani

            Firman Tuhan harus senantiasa ada dalam hati kita dan nyata dalam sikap hidup kita. Gairah raja Uzia terhadap Firman Tuhan pada mulanya begitu tinggi. Ia sebelumnya adalah murid Zakharia yang begitu baik. Orientasi selalu kepada iman. Hatinya terbuka untuk belajar Firman Tuhan setiap hari. Ia bahkan mau mengajarkan Firman Tuhan. Firman Tuhan selalu ditaatinya. Imannya terus naik dan apapun yang dilakukannya selalu berhasil. Namun saat ia mulai mengalami degradasi rohani, gairahnya pada hal-hal rohani mulai padam seperti lilin yang akan habis. Kejatuhan raja Uzia bukan karena kekurangan harta tetapi karena kelimpahan harta. Hal yang seharusnya kita minta adalah kelimpahan rohani, bukan kelimpahan ekonomi. Kelimpahan ekonomi merupakan bonus dari Tuhan. Kita harus menjalani hidup yang bercukupan. Ketika pertumbuhan rohani kita berhenti, kita tidak akan bergairah pada hal-hal rohani. Rohani kita menjadi tertidur dan kita tidak mau menghadiri kegiatan-kegiatan rohani. Orang yang tertidur rohani juga tidak mau melayani. Ia sibuk dengan banyak hal namun tidak mau membaca dan ditegur oleh Firman Tuhan. Seperti raja Uzia, ia tidak mau mengevaluasi diri. Ia tidak mau berkorban bagi pekerjaan Tuhan, ia malah mengorbankan orang lain. Semua ini dialami oleh raja Uzia.

 

            Raja Uzia yang tertidur secara rohani dipukul oleh Tuhan dengan keras melalui sakit kusta. Firman Tuhan tidak berakar dalam hatinya (Lukas 8:13). Ada orang-orang yang memuji khotbah yang didengarnya, namun mereka segera melupakan khotbah itu karena tidak tertanam dalam hatinya. Mereka bisa begitu rajin mencari khotbah-khotbah baru namun mereka tidak benar-benar menyimpan dalam hati mereka. Kita harus berakar dalam Kristus dan mengalami union with Christ. Setelah itu kita harus mengalami unity in Christ dalam komunitas. Raja Uzia merasa layak sama dengan imam. Jadi ia tidak mengenal dirinya dengan baik dalam batasannya. Doa Daud: Mazmur 139:23-24 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! Jadi kita harus mengambil waktu untuk berkontemplasi setelah membaca Firman Tuhan. Kita harus mengenal diri kita. Raja Uzia marah ketika ditegur oleh Azarya karena ia sudah kehilangan kerendahan hatinya. Otoritas Firman Tuhan tidak lagi berada di atas dirinya.

 

 

KESIMPULAN

 

            Kita harus menghidupi terus semangat inkarnasi rohani dengan semangat haus akan Firman Tuhan selalu. Kita harus memiliki sikap pandang ‘aku bukan apa-apa’ dan ‘Allah adalah segalanya’, bukan ‘aku adalah sesuatu’. Kita tidak boleh merasa cepat puas untuk pertumbuhan rohani kita. Kita harus selalu berakar dalam Firman Tuhan dan menanamkan kerinduan untuk selalu mau belajar Firman Tuhan dan melayani Tuhan. Kita harus mengobarkan selalu semangat peperangan rohani untuk menang atas dosa dan untuk merebut jiwa-jiwa yang berdosa dari Iblis.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).