Dipanggil Sebagai Hamba yang Melayani (Lukas 17:7-10)

Dipanggil Sebagai Hamba yang Melayani (Lukas 17:7-10)

Categories:

PENDAHULUAN

 

Mungkinkah seorang anak Tuhan jatuh dalam dosa kesombongan, berpikir ingin menjadi orang yang terkemuka, mengingini apresiasi yang berlebihan? Bisakah seorang anak Tuhan berubah dalam perjalanannya melayani Tuhan dan memutlakkan keinginan yang tidak kudus agar dirinya mendapatkan pujian dari sesamanya manusia? Bagaimana kita bisa membedakan ketika seseorang benar-benar bertobat dan bisa membuktikannya dengan perubahan karakter yang semakin serupa dengan Kristus, atau mereka hanya mencari pengakuan manusia lainnya?

 

Ketika terjadi konflik dalam Gereja, di mana kita bisa berdiri mengambil sikap? Di mana sumber ketidak sejahteraan itu terjadi ketika kita melayani? Alkitab melihat, ketika setiap kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus, kita adalah seratus persen milik Tuhan. Ketika kita masuk dalam komunitas Gereja yang suci, maka itu adalah suatu anugerah untuk membuktikan bahwa kita adalah satu Tubuh Kristus. Permasalahan dari melayani Tuhan adalah ketika kita tidak datang membawa diri kita sebagai doulos atau sebagai seorang hamba, di situlah bisa timbul perasaan ingin diapresiasi.

 

 

PEMBAHASAN

 

Dalam Lukas 17, Tuhan telah memberi kita perumpamaan tentang seorang tuan dan seorang hamba. Di dalam cerita itu, seorang hamba tersebut tidak punya hak atas dirinya sendiri, maka setelah seorang hamba itu pulang ia tetap harus melayani sang tuan. Bahkan setelah seorang hamba itu selesai dalam melayani sang tuan, sang tuan tidak perlu memberikan kata-kata terima kasih. Tuhan Yesus menggambarkan perumpaan tentang tuan dan hamba ini dengan penggambaran yang dingin, kaku dan tidak ada unsur manusiawi. Namun, fokus yang ingin Tuhan Yesus angkat adalah pribadi seorang hamba. Seorang hamba itu melakukan segala sesuatu dengan penuh ketaatan, namun ia tetap berkata Lukas 14:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Alkitab banyak mencatat tentang model karakteristik seorang hamba.

 

Lukas 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Dalam ayat ini diceritakan ketaatan Maria ketika mendapat kabar dari Allah. Sungguh ini bukanlah hal yang mudah pada zaman itu, dimana seorang perawan tiba-tiba hamil. Namun yang dilakukan Maria saat mendengar kabar itu adalah taat dengan total, di tengah-tengah kekhawatiran konsekuensi sosial dan adat Yahudi pada saat itu, Maria menerima seluruh misi dalam kandungannya, di mana Tuhan Yesus akan lahir. Di sini kita dapat melihat bagaimana Maria melihat dirinya sendiri sebagai seorang hamba Tuhan yang harus taat secara total. Jika saja Maria merasa dirinya bukan sebagai seorang hamba, pasti dia sudah menolak Mesias yang sedang dikandungnya. Ini juga menandakan bahwa Maria juga mempelajari teologi Messianic dengan tuntas. Sehingga apa yang dia alami dan Tuhan kehendaki, dapat diterima dengan sungguh oleh Maria.

 

Maria adalah contoh hamba taat yang digambarkan oleh alkitab, karena Maria tidak meminta apapun kepada Tuhan. Ini menjadi perenungan ketika kita taat melayani Tuhan, apakah ada terselip rasa ingin meminta imbalan, atau memang benar-benar kita melayani dengan taat tanpa syarat? Dengan menganut ketaatan bersyarat, seolah-olah kitalah pengambil keputusan yang mutlak, dan bukan Tuhan yang berdaulat. Contohnya adalah ketika kita melayani di Gereja, tetapi kita hanya menginginkan posisi tertentu. Ketika kita diminta melayani di Gereja, seharunya kita membuang konsep kita ini tuan, atau kita merasa diri kita lebih istimewa dari pada yang lainnya karena kita semua adalah hamba dosa. Ketika kita dipanggil untuk melayani Gereja Tuhan seharusnya kita bersyukur bahwa kini kita diangkat menjadi hamba kebenaran. Sudah sepatutnya kita sungguh-sungguh melayani untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk apresiasi diri semata.

 

Markus 10:44-45 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Konteks dari ayat ini adalah Yohanes dan Yakobus meminta satu permintaan kepada Tuhan Yesus, yaitu mereka meminta agar mereka duduk disebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus ketika Ia bertakhta di dalam surga. Yohanes dan Yakobus seolah sangat percaya diri dengan apa yang mereka minta. Yohanes dan Yakobus mungkin bisa meminum cawan dari cawan Kristus, dan dibaptis dengan baptisan yang Kristus terima, tetapi yang berhak mendapatkan tempat di surga hanyalah Allah yang dapat menghendakinya. Mendengar itu marahlah kesepuluh murid Tuhan Yesus, Lukas 9:46, Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Lukas, 22:24 Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Mereka berusaha menjadi yang paling besar di antara semuanya. Dalam konsep melayani Tuhan, kita tidak bisa memposisikan diri kita seperti kita memosisikan diri di dunia luar. Ketika kita melayani Tuhan, kita semua adalah hamba, posisi kita di luar Gereja sebagai manajer, sebagai supervisor, atau sebagai seorang bos pun sudah tidak dipakai dalam kita melayani Tuhan.

 

Tuhan Yesus justru berkata: jadilah orang yang duduk paling belakang, jadilah orang yang melayani orang lain, dengan itu kita malah menjadi orang yang terkemuka di hadapan Allah. Menjadi hamba bagi Tuhan berarti kita melayani kemuliaan Tuhan, bukannya melayani kemuliaan diri sendiri. Ketika kita sudah menetapkan hati untuk melayani Tuhan, kiranya kita dapat membuang mental kita sebagai tuan, membuang kehendak kita yang malah ingin mengatur Tuhan. Karena itulah Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk menjadi hamba yang melayani, bukan menjadi hamba yang penting, atau hamba yang terlihat di depan umum sebagai orang yang besar. Tuhan Yesus juga mengajarkan agar kita menjadi hamba yang rendah hati, dan hamba yang taat total.

 

Seperti perumpaan yang Tuhan Yesus ceritakan dalam Lukas 17:7-10, begitulah seharusnya kita sebagai hamba; benar-benar taat melayani Tuhan, dan tidak bersungut-sungut. Kita adalah orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus, kita semua sudah dipanggil sebagai seorang hamba yang harus taat total, melayani dengan rendah hati. Kita seharusnya tidak mengharapkan apresiasi, pujian atau kemuliaan diri, karena apa yang kita kerjakan dalam melayani adalah memang sudah menjadi tugas kita sebagai hamba. Seperti hamba yang Tuhan Yesus umpamakan, ia juga tidak meminta pujian dari tuannya, karena dia menyadari dirinya adalah seorang hamba.

 

Sebagai seseorang yang melayani Tuhan dalam Gereja, kita harus menyadari bahwa tidak ada peranan yang lebih penting dari yang lain, karena semua pelayanan sama pentingnya di mata Allah. Maka dari itu sepatutnya kita menjauhi rasa ingin dilihat orang lain, atau ingin menjadi lebih penting dari orang lain. Tidak ada konsep ingin menjadi tuan dalam hidup melayani di Gereja, ataupun menuntut apresiasi dari orang lain. Jika kita sungguh-sungguh melayani dengan hati yang tulus, maka tidak akan tebersit sedikitpun perasaan ingin dipuji, atau mengharapkan ucapan terima kasih. Sebaiknya kita segera mengenali siapa diri kita di hadapan Tuhan; kita hanyalah hamba yang sudah sepatutnya melayani Tuhan sesuai dengan kehendak Tuhan dengan sungguh-sungguh.

 

Inilah masalah kita sebagai manusia dalam melayani Tuhan, kita masih mau dilihat orang lain, masih mencari pujian, masih menginginkan sanjungan atau bahkan melayani tetapi sekaligus mencari upah. Ketika kita sudah mantap dalam melayani, justru yang kita pikirkan seharusnya adalah; “apa yang bisa ku beri?” bukan sebaliknya; “apa yang bisa ku dapatkan?” Kita yang ingin melayani Tuhan, bukan kita sendiri malah yang ingin dilayani. Dalam Yohanes 13:1-17, Kristus benar-benar memberikan contoh bagaimana sikap hamba yang melayani, ketika Ia membasuh kaki para murid-Nya dengan kerelaan, dan dengan kasih.

 

Melayani dalam rumah tangga pun bisa diimplementasikan ketika mengurus istri atau anak yang sedang sakit. Masalah bisa timbul jika kita pulang ke rumah dalam keadaan ingin dilayani, merasa diri lebih tinggi dari anggota keluarga yang lain. Menyadari bahwa kita juga mempunyai tugas untuk melayani dalam kehidupan berkeluarga dapat membantu meringankan beban kita di rumah. Sebaliknya, jika kita melakukan pekerjaan rumah tangga dengan hati yang bersungut-sungut, semua pekerjaan akan terasa berat. Itulah pentingnya kita tetap bergantung pada Tuhan, agar kita tetap mendapat penghiburan dalam pekerjaan kita melayani sebagai kelompok komunitas di Gereja maupun dalam rumah tangga.

 

Markus 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tetap mau melayani semua orang, bukan hanya beberapa orang yang kita sukai saja, atau hanya kelompok tertentu saja. Kita sering berpikir ingin melayani orang yang cocok dengan kita saja, yang baik bagi kita, atau yang bisa mendatangkan keuntungan bagi kita. Ternyata tidak ada konsep melayani seperti ini dalam Gereja. Jika kita dengan egois memilah-milah relasi dalam Gereja, maka yang akan terjadi adalah konflik. Tetapi jika kita berpikir bahwa kasih akan mendominasi seluruh relasi, dan dengan seluruh departemen, dengan seluruh Tubuh Kristus, maka kita telah menjadi hamba yang melayani dengan hati yang berkenan kepada Tuhan Yesus. Dengan hati yang melayani semua orang, berarti kita tetap mendoakan dan melayani orang-orang yang mungkin mengganggap kita musuh. Seperti Maria yang mengenali identitas dirinya di hadapan Tuhan, begitulah seharusnya sikap kita dalam melayani Tuhan dan sesama. Tidak ada ruang dalam pikiran kita untuk berkompetisi dengan sesama, tidak ada tempat untuk berpikir kitalah yang penting, atau kita yang paling istimewa. Seharusnya kita malah bersyukur sudah boleh ikut ambil bagian dalam melayani dan menyatakan kemuliaan Tuhan. Kebahagiaan kita sebagai orang yang percaya Kristus adalah sampai mati kita dipakai Tuhan untuk melayani, walau dengan penuh kelemahan, dosa, dan keterbatasan kita.

 

Dalam komunitas Gereja, kita semua berpangkat sama dalam melayani, tidak ada manajer, tidak ada direktur, tidak ada siapa yang lebih kaya, atau lebih hebat karena kita semua adalah hamba. Jadi jangan sekalipun kita menuntut pujian, atau apresiasi dalam setiap pelayanan kita. Bisa dipakai Tuhan dalam melayani kerajaan Allah di dunia pun kita sudah seharusnya bersyukur. Kita bisa belajar dari teladan Tuhan Yesus, Ia datang untuk melayani, dengan karakter yang rendah hati, menjalin kebersamaan dengan sesama untuk menyatakan kerajaan dan kemuliaan Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – SC)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).