Ezra – Membangun Jati Diri Berdasarkan Firman Tuhan

Ezra – Membangun Jati Diri Berdasarkan Firman Tuhan

Categories:

Khotbah Minggu 4 Juli 2021

Ezra – Membangun Jati Diri Berdasarkan Firman Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan membahas tokoh Ezra dan membahas tentang membangun jati diri berdasarkan Firman Tuhan. Kita akan melihat Ezra 1:5-6, 7:1, dan 10:10-11. Mengapa penting memiliki jati diri di dalam Kristus? Apa yang menyebabkan jati diri seseorang bisa terhilang? Bagaimana cara mengembalikan jati diri yang benar? Kita harus membangun jati diri bukan atas dasar kata orang lain atau kata psikologi tetapi kata Alkitab di dalam Kristus. Sampai sejauh mana pentingnya Firman Tuhan dalam membangun jati diri manusia?

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Penyebab jati diri yang terhilang

            Pernahkah kita merasa kehilangan jati diri? Pernahkah orang lain menyatakan bahwa kita telah kehilangan jati diri karena kita berbeda dari diri kita yang dahulu? Kita bisa kehilangan jati diri secara rohani dan hati nurani. Ini berarti kita sudah melawan hati nurani kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Kitab Ezra dan Nehemia adalah kesatuan yang indah yang menyatakan jati diri umat Tuhan. Kitab Ezra dan Nehemia menyatakan tentang umat Tuhan yang pulang dari Babel ke Israel. Penyebab jati diri terhilang adalah pengaruh sosial dan tekanan hidup. Selama 70 tahun mereka dibuang dan kehilangan jati diri. Dari segi sosial mereka dikelilingi oleh orang-orang yang tidak takut akan Tuhan. Jadi pengaruh dari luar bisa membuat kita kehilangan jati diri. 1 Korintus 15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Media sosial dalam zaman ini bisa menghilangkan jati diri seseorang secara rohani dan hati nurani.

 

            Kehidupan bangsa Israel di Babel selama 70 tahun diberikan batasan. Di sana mereka mendapatkan tekanan hidup. Tekanan hidup bisa membuat kita tenggelam, namun iman membuat kita bisa tetap berdiri. Allah Roh Kudus menopang dan memelihara kita sehingga hidup kita tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Tekanan hidup diizinkan oleh Tuhan agar kita semakin melihat kepada Tuhan dan semakin bersandar pada Tuhan. Namun orang Kristen bisa menanggapi tekanan hidup dengan emosi dan jati diri yang terhilang. Inilah yang terjadi pada umat Tuhan dalam kitab Ezra. Orang Yehuda yang berada di Yerusalem pun juga tidak memiliki pemimpin rohani. Ezra, Nehemia, dan Zerubabel adalah tiga orang yang Tuhan pakai untuk membangun kerohanian orang Israel dan Bait Suci. Ezra menangis karena melihat orang-orang Yehuda yang sudah kehilangan jati diri karena pengaruh sosial dan tekanan hidup.

 

            Penyebab ketiga adalah salah dalam membangun tujuan hidup atau pengharapan hidup. Peran pemimpin itu sungguh penting untuk memimpin bangsa kepada Tuhan. Pada masa-masa sebelum pembuangan, Yehuda tidak memiliki pemimpin rohani sehingga mereka tidak mengerti akan visi dan panggilan Tuhan. Jika anak-anak kita tidak kita ajarkan visi dan tujuan rohani, maka mereka bisa terombang-ambing dalam kehidupan. Pemimpin harus bisa memberikan fokus dan tujuan yang jelas. Inilah konteks pelayanan Ezra di tengah bangsa Yehuda.

 

            Penyebab keempat adalah hidup tanpa iman. Ketika Ezra pulang, ia sadar bahwa orang-orang Yehuda sudah hidup tanpa iman. Mereka melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa yang tidak menyembah Tuhan. Tuhan mengizinkan orang Israel menikah dengan orang-orang dari bangsa lain namun yang sama-sama menyembah Tuhan. Misalnya Boaz menikah dengan Rut. Rut adalah orang Moab namun ia adalah memiliki iman yang sejati. Dalam pernikahan harus ada kesatuan iman yang diikat dengan perjanjian. Pernikahan bukanlah kontrak atau relasi transaksional. Pernikahan adalah perjanjian sampai mati. Ezra mau agar iman dan Firman Tuhan menjadi pusat kehidupan di Yerusalem. Jika kita tidak secara rutin melihat kepada Firman Tuhan maka kita akan kehilangan identitas kita seperti orang Yehuda.

 

2) Panggilan Tuhan untuk Ezra

            Dalam konteks itulah Tuhan memanggil Ezra. Sebagai seorang imam ia diperintahkan raja Artahsasta, seperti raja Koresh telah memerintahkan bangsa Israel, untuk membangun Bait Suci. Nehemia bisa kembali ke Yerusalem karena raja memberikan izin kepadanya. Mengapa Bait Suci secara fisik itu penting? Karena Bait Suci merupakan tanda kehadiran Tuhan. Di sana juga orang Israel beribadah. Ketika Bait Suci tidak lagi dihormati dan dianggap suci, Tuhan tidak segan membiarkan Bait Suci itu dihancurkan. Dalam Perjanjian Baru, Bait Allah yang sejati adalah tubuh orang percaya. Pada tahun 586 SM, kerajaan Yehuda mengalami pembuangan. Pada tahun 538 SM, Koresh berkuasa atas Babel. Setelah itulah bangsa Israel boleh pulang ke Israel. Kesulitan dalam membangun Bait Suci itu sangat banyak. Ada kesenjangan umur, budaya, dan iman dalam bangsa Israel, namun Ezra dan Nehemia tidak pernah mundur. Namun semua masalah ini bisa dilewati ketika Ezra dan Nehemia bersatu dan bergantung pada Tuhan. Tantangan di luar bisa dihadapi ketika tantangan di dalam sudah dibereskan. Kita harus merenungkan apa panggilan Tuhan bagi kita yang tinggal di Cikarang (dan tempat lain di manapun kita berada). Tanpa panggilan Tuhan, jati diri kita akan terhilang.

 

            Ternyata orang-orang yang pulang ke Yerusalem sempat berhenti dan lupa membangun Bait Suci. Mereka akhirnya sibuk membangun rumah mereka sendiri. Tuhan kemudian membuat mereka hanya mendapatkan sedikit hasil dari semua jerih payah mereka. Tuhan tidak melarang mereka untuk membangun rumah mereka sendiri, namun mereka harus memprioritaskan panggilan mereka untuk membangun Bait Suci. Saat Tuhan disingkirkan, Tuhan bisa mengagalkan segala rencana kita. Ketika Bait Suci itu telah selesai dibangun, orang-orang yang tua menanggapi dengan air mata rohani. Kaum muda menanggapi dengan kegirangan rohani. Keduanya tidak salah. Orang-orang yang tua dahulu melihat bagaimana Bait Suci itu dihancurkan dan segala perkakasnya dibawa ke Babel. Jadi ada ikatan emosi. Tuhan mengizinkan mereka meneteskan air mata mereka. Tuhan juga mengizinkan kaum muda menyatakan kegirangan mereka. Tuhan membuang kerajaan Utara maupun Selatan karena mereka tidak lagi mementingkan Tuhan. Cara Tuhan mendidik terkadang kejam, namun itu penting bagi mereka. Nebukadnezar bisa menghancurkan kerajaan Selatan karena izin Tuhan, bukan karena kehebatan Nebukadnezar. Kita tidak boleh bermain-main terhadap didikan Tuhan.

 

            Ketika Ezra pulang, ia berkomunikasi dengan Nehemia, para tua-tua, dan suku Benyamin dan menemukan bahwa umat Tuhan sudah kawin campur. Mereka tidak lagi taat dan menyembah Tuhan. Akhirnya Ezra menyatakan kesedihan rohani dan berdoa meminta ampun dari Tuhan. Kita juga pasti sedih ketika mendengar bahwa ada salah satu sinode Gereja di Amerika mengizinkan pernikahan LGBT. Mereka sudah melupakan apa arti pernikahan menurut Alkitab. Jadi Ezra terpanggil bukan hanya untuk membangun Bait Suci tetapi juga membangun jati diri umat Tuhan. Dari kedua hal ini, manakah yang paling sulit? Membangun iman itu jauh lebih sulit. Ezra dan Nehemia secara kompak mengerjakan semua ini.

 

3) Firman Tuhan yang tidak pernah gagal

            Ezra memiliki konsep ‘Firman Tuhan yang tidak pernah gagal’. Jadi ia tidak pernah meragukan kuasa pemeliharaan Tuhan. Dalam masa pembuangan pun ia tetap percaya kepada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan adalah Penggenap Firman Tuhan (Ezra 1:1) itu sendiri. Ia melihat kepada otoritas Tuhan yang membuat raja Koresh mengizinkan bangsa Israel pulang. Dalam Ezra 1:1 nubuat Yeremia tergenapi. Jadi Ezra sangat percaya pada otoritas Tuhan. Ia percaya akan sejarah Tuhan yang tidak pernah gagal dalam mendidik kita sebagai anak-anak Tuhan. Dalam masa pandemi ini kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah gagal. Ketika kita melihat kematian anak-anak Tuhan karena Covid-19, itu bukan karena Tuhan tidak sanggup memelihara tetapi karena memang sudah waktunya mereka kembali kepada Tuhan. Firman Tuhan tidak pernah gagal dalam hal apapun juga. Setiap nubuatan menyatakan tentang Tuhan yang berdaulat. Iman orang Kristen tidak mungkin kalah oleh Covid-19.

 

            Kita tidak boleh membiarkan ketakutan menguasai hidup kita. Ketakutan kita bisa menjadi berhala bagi kita. Di sana iman kita menjadi gugur. Tuhan memakai anak-anak-Nya untuk menyatakan iman di tengah masa-masa sulit. Kita bisa melihat iman Ezra, Nehemia, Daniel, dan teman-teman Daniel. Mereka sungguh percaya kepada Firman Tuhan. Ezra tidak hanya mengerti Firman Tuhan tetapi ia juga menghidupi.

 

            Kedua, Ezra percaya bahwa Firman Tuhan yang tidak pernah gagal menyatakan bahwa Allah itu hidup dan berkuasa atas sejarah-Nya (Ezra 7:11-28). Inilah keunikan hidup Ezra. Ketika raja Artahsasta mengutus Ezra pergi ke Yerusalem, Ezra langsung taat. Inilah tema hidup Ezra. Ia tahu bahwa sejarah Tuhan tidak mungkin gagal dan ia mau menyatakan hidup yang bergantung kepada Tuhan di tengah segala tantangan. Apakah kita sudah memiliki iman yang sama seperti Ezra? Apa pengharapan kita dalam masa pandemi ini? Apakah kita masih mementingkan pekerjaan Tuhan? Iman kita harus terus bercahaya dalam masa sulit ini. Ketika Koresh memerintahkan bangsa Israel untuk pulang, Tuhan menggerakkan hati mereka dan orang-orang di sekitar mereka agar mereka memberikan barang-barang yang diperlukan untuk membangun Bait Suci.

 

            Ketika Tuhan mau memakai hidup kita, itu adalah hal yang luar biasa. Ezra pasti bersukacita dan mengucap syukur karena diutus ke Yerusalem. Ia sadar bahwa panggilannya bukanlah untuk dirinya sendiri tetapi untuk Tuhan. Kita mengucap syukur karena tim aksi kasih diberikan begitu banyak anugerah sehingga bisa dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kasih Tuhan dalam masa pandemi ini. Mereka tidak berpikir untung-rugi. Ezra dan Nehemia pun juga tidak berpikir untung-rugi ketika mereka menjalankan panggilan mereka. Ketika Ezra melihat bangsa itu sudah kawin campur, ia dengan suara kenabian menegur mereka. Pernikahan bukanlah masalah suka-tidak suka tetapi masalah iman. Yudas dari awal sudah tidak punya jati diri iman. Itulah mengapa pada akhirnya ia mengkhianati Tuhan Yesus. Petrus sempat kehilangan jati diri ketika ada yang mengancam. Ia menyangkal Yesus ketika ada orang-orang yang menyatakan identitasnya sebagai murid Yesus. Ketika kita takut akan keselamatan nyawa kita dan menyangkal Tuhan, di sana iman kita sudah gugur. Daud sendiri pernah kehilangan jati diri ketika ia tidak ikut berperang dan berzinah dengan Batsyeba.

 

            Kita mendapatkan jati diri kita yang sejati ketika Firman Tuhan mengubah hidup kita melalui pekerjaan Allah Roh Kudus. Ezra percaya bahwa Firman Tuhan bisa mengubahkan bangsa Israel yang sudah kehilangan jati diri. Jadi ketika hati kita terbuka kepada Firman Tuhan dan Allah Roh Kudus, jati diri kita bisa disucikan. Ezra menantang mereka untuk mengaku dosa dan kembali taat kepada Firman Tuhan. Covid-19 bisa menguji jati diri dan iman kita. Bagaimana dengan iman kita selama masa pandemi ini? Apakah kita lebih banyak bergaul dengan Firman Tuhan atau dengan kesenangan kita? Apakah kita dimakan oleh ketakutan kita sehingga iman kita tidak menjadi nyata? Ezra ingin membangun komitmen agar bangsa Yehuda bisa kembali berjalan dalam jalan Tuhan. Ezra mau mereka menghidupi Firman Tuhan dengan mengusir istri-istri mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Dalam konteks masa kini, perlu ada proses dalam perceraian. Ezra tidak kompromi dalam hal ini. Ia mau semua pernikahan dalam bangsa itu mengandung nilai iman dan perjanjian. Akhirnya Ezra menjadi pengawas rohani bagi bangsa Yehuda sehingga mereka terus hidup memuliakan nama Tuhan.

 

            Orang tua harus bisa menjadi pemimpin rohani bagi anak-anak. Gereja juga harus bisa terus memberikan arah yang menuju kepada Tuhan. Gembala yang baik mengarahkan domba-dombanya ke padang rumput yang hijau. Ia memakai gada dan tongkatnya untuk mengarahkan domba-dombanya. Tuhan-lah Gembala Agung kita. Domba-domba-Nya pasti mendengarkan suara-Nya. Ia siap mati bagi domba-domba-Nya. Para pemimpin di Gereja harus memiliki kesiapan ini. Imanlah yang mendorong kita untuk terus melayani dalam masa sulit ini. Kita tetap harus waspada dalam menjaga protokol kesehatan dan kita tahu bahwa Tuhan-lah yang memelihara hidup kita. Kita harus menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Firman Tuhan membangun, membentuk, dan menyucikan seluruh hidup kita. Di sanalah kita bisa memiliki jati diri yang sejati di dalam Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).