Firman Hidup (1 Yohanes 1:1-4)

Firman Hidup (1 Yohanes 1:1-4)

Categories:

Khotbah Minggu 11 Juli 2021

Seri Eksposisi Surat 1 Yohanes

Firman Hidup (1 Yohanes 1:1-4)

Vik. Tonny Sutrisno, M. B. A., M. Th.

 

 

            Surat 1 Yohanes adalah surat yang ditulis oleh rasul Yohanes. Meskipun nama Yohanes tidak dicantumkan, para ahli dan teolog sepakat bahwa surat ini adalah tulisan rasul Yohanes. Kita akan membahas 1 Yohanes 1:1-4. Surat ini adalah surat penggembalaan yang berbicara tentang dasar kehidupan Kristen. Surat ini merupakan pegangan bagi jemaat yang menerima surat Yohanes ini. Isinya berkaitan dengan pribadi Kristus: kematian, kebangkitan, natur manusia-Nya, natur ilahi-Nya, dan kuasa penebusan. Surat ini diberikan kepada jemaat yang sudah percaya agar pengakuan iman mereka tepat secara teologis dan tepat dalam kehidupan mereka. Perbuatan baik dan menjauhi dosa merupakan bukti dari iman.

 

            Yohanes menulis ‘Apa yang telah ada sejak semula’. Yohanes memakai kata ganti relatif. Yohanes mau menyatakan bahwa apa yang disampaikan olehnya berhubungan dengan apa yang didengar, dilihat, disaksikan, dan diraba. Secara keseluruhan Yohanes mau mengatakan bahwa semua ini merujuk kepada satu Pribadi yang nyata. Yohanes juga mau menyampaikan bahwa Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia. Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Bagian ini memiliki relasi dengan surat Yohanes. Surat Yohanes merupakan kesinambungan dari Injil Yohanes dan berbicara tentang pengenalan akan Kristus.

 

            Yohanes dalam tulisannya sedang menolak ajaran doketisme. Ajaran ini menyatakan bahwa Yesus hanya seolah-olah tampak seperti manusia. Jadi Yesus dianggap tidak menjadi manusia. Implikasi ajaran ini terhadap keselamatan dan persekutuan (dengan Tuhan dan dengan manusia) sungguh besar. Jika Yesus bukan manusia, maka apa yang Tuhan Yesus selamatkan? Natur manusia, yang mencakup tubuh dan jiwa, sudah jatuh ke dalam dosa. Ini merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada orang yang berdosa dalam tubuh namun tidak berdosa dalam jiwa pada saat yang sama. Ketika Tuhan Yesus menebus kita, tubuh dan jiwa kita harus ditebus. Maka dari itu Yesus harus menjadi manusia secara utuh untuk menebus kita. Selain itu, bagaimana Yesus bisa mengalami kebangkitan tubuh jika ia tidak memiliki tubuh? Jika Yesus tidak sungguh-sungguh mengalami kebangkitan tubuh, maka kita juga tidak akan mengalami kebangkitan tubuh.

 

            Maka dari itu ajaran doketisme ini berbahaya. Jika kita memegang prinsip bahwa tubuh ini buruk dan tidak perlu ditebus, maka pada saat yang sama kita memegang prinsip antinomianisme. Para penganut antinomianisme melihat bahwa hidup kudus itu tidak penting karena mereka berpikir bahwa dosa hanya ada pada tubuh. Mereka berpikir bahwa jiwa itu bebas ketika terlepas dari tubuh. Jadi ini adalah topik yang penting untuk Yohanes bahas. Jika Yesus tidak bertubuh, maka kita harus menebus tubuh kita sendiri. Orang-orang penganut asketisme menyiksa tubuh mereka untuk menebusnya. Di dalam Kristus kita tidak boleh hidup sembarangan. Kita hidup bukan untuk mencari penderitaan. Kita harus hidup secukupnya. Jadi bagaimana kita mengerti pribadi dan natur Kristus itu begitu penting dalam kehidupan kita. Sadar maupun tidak, itu akan memengaruhi hidup kita. Bapa Gereja bernama Gregorius dari Nazianzus menyatakan bahwa dalam karya penebusan Kristus, apa yang tidak diambil (assume) oleh Kristus tidak akan mengalami penebusan. Jadi Kristus harus mengambil natur manusia secara utuh untuk menebus kita.

 

            Natur manusia Kristus itu diciptakan, bukan sudah ada dalam kekekalan. Ia sama dengan kita namun tidak berdosa. Jika tidak demikian, maka itu berarti kitab Ibrani telah berbohong. Yesus merasakan pergumulan kita namun ia tidak jatuh dalam dosa. Apa yang kita pahami ketika kita mendengar bahwa Kristus memiliki natur manusia? Kristus memberikan seluruh hidup-Nya sebagai manusia kepada kita, maka konsekuensinya adalah kita harus memberikan seluruh hidup kita bagi orang lain. Kristus berada dalam posisi yang begitu rentan. Ia bisa dilukai dan diperlakukan semena-mena oleh orang-orang berdosa. Ketika kita mengaku ikut Kristus, apakah kita rela diperlakukan demikian? Apakah kita masih mencari orang-orang yang sama hobinya atau golongannya dengan kita? Kristus mau berelasi dengan berbagai macam orang, baik orang agama maupun orang berdosa. Kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

 

            Dalam masa pandemi ini ada bahaya selain bahaya kesehatan. Kita dibawa ke dalam akar doketisme dan kehidupan yang gnostik, baik secara sadar maupun tidak. Dalam masa pandemi ini kita bisa mendengarkan Firman Tuhan di mana saja dan kapan saja tanpa harus berelasi dengan orang-orang seiman lainnya. Ketika Yesus menyatakan bahwa Ia melakukan kehendak Bapa dan bahwa Ia adalah satu dengan Bapa, Yesus tidak pernah meninggalkan para murid-Nya atau orang-orang percaya. Yesus membawa orang-orang percaya dalam satu-kesatuan. Persekutuan yang kita bangun bisa menjadi persekutuan yang doketis. Persekutuan yang tidak doketis adalah persekutuan yang mencakup kehadiran tubuh. Ini bukan berbicara tentang kehadiran secara fisik, namun apakah kita tahu kondisi dan pergumulan saudara-saudari seiman kita? Dalam persekutuan secara online, kita masih bisa menerapkan persekutuan yang tidak doketis. Kita bisa berdoa bagi sesama saudara-saudari seiman dalam persekutuan kita dan masuk ke dalam persekutuan secara nyata. Di sana kita akan merasakan bahwa mereka adalah bagian dari hidup kita. Jika pengenalan kita akan Tuhan tidak membawa kita sampai ke sana, maka akan ke manakah kita?

 

            Orang Kristen harus masuk dalam konteks kehidupan kekal. Apa yang Yohanes mau nyatakan dalam bagian ini? Kesatuan antara tubuh dan roh yang berbeda dengan konsep yang gnostik dan doketis. Ada ajaran sesat lain yang marak pada masa Yohanes hidup yaitu cerinthianisme. Ajaran ini menyatakan bahwa Yesus mendapatkan natur ilahi ketika Ia dibaptis dan kehilangan natur ilahi sebelum mati di atas kayu salib. Yohanes melihat bahwa ia harus menuliskan ajaran yang tepat dalam suratnya agar jemaat memiliki iman yang benar. Yohanes menulis ‘hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa’ (ayat 2). Bagian ini sebenarnya mengacu kepada Yohanes 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia dan Yohanes 5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Hidup kekal adalah tentang perpindahan dari manusia berdosa kepada manusia benar di dalam Kristus. Hidup kekal bersama dengan Bapa itu mengacu kepada pribadi Kristus. Di dalam Kristus kita dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal. Memiliki hidup kekal berarti memiliki hidup di dalam Kristus. Di sana kita dibawa ke dalam persekutuan dengan Bapa dan Roh Kudus. Hidup kekal itu menjadi nyata melalui mereka mendengar dan percaya.

 

            Ketika Yohanes menulis ‘Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar’ (ayat 3), ia berbicara tentang masa kini, bukan masa depan. Di sana ia mau menyatakan bahwa kehidupan kekal itu kita nikmati mulai dari sekarang, already but not yet. Dari sekarang kita sudah menjalankan hidup kekal itu. Hidup kekal itu tidak dimulai nanti setelah kita meninggal. Ini karena esensi hidup kekal adalah kesatuan dengan Kristus dan memiliki relasi dengan Allah Tritunggal. Kehidupan kekal bukanlah hidup tanpa orang lain. Dalam bagian berikutnya Yohanes berbicara tentang persekutuan. Persekutuan ini bukan hanya tentang Yohanes dan Kristus. Persekutuan itu juga harus mencakup persekutuan dengan sesama. 1 Yohanes 1:4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Ia memakai kata ‘kami’, bukan ‘aku’ atau ‘kamu’. ‘Kami’ merujuk kepada orang-orang yang sudah melihat, mendengar, dan meraba orang-orang yang sudah menjadi murid Tuhan. Yohanes mau mereka terlibat dalam persekutuan itu. Di sanalah sukacita menjadi sempurna. Ketika kita melihat rekan kerja kita dipromosikan (dan kita tidak dipromosikan), apakah kita bisa berkata: ‘dalam sukacitamu, sukacitaku menjadi sempurna’? Persekutuan kita dengan Kristus dan Allah Bapa diikat oleh Roh Kudus. Ketika saudara seiman kita bersukacita, kita pun turut bersukacita.

 

            Ketika kita bersekutu dengan orang lain, kita tidak hanya menghadirkan diri kita tetapi kita harus menghadirkan Kristus.  Kita harus membawa Kristus ke dalam semua relasi kita. Dalam relasi pacaran dan pernikahan orang percaya, harus ada dasar dan tujuan yang sama yaitu untuk memuliakan Kristus. Tanpa kita membawa Kristus ke dalam relasi kita, kita sebenarnya tidak memiliki relasi yang nyata dengan siapapun. Kita tidak mungkin mengatakan bahwa kita mengenal Bapa tetapi kita tidak memiliki relasi dengan sesama. Hukum kasih itu mencakup kasih kita kepada sesama. Pertumbuhan rohani kita juga dipengaruhi oleh bagaimana kita berelasi. Apakah kita sudah mengerti pergumulan saudara-saudari seiman kita dan mendoakan mereka? Setiap perhatian dan kasih yang kita nyatakan kepada saudara-saudari seiman kita menunjukkan bahwa kita memiliki persekutuan yang nyata. Saling mendoakan membuat persekutuan kita menjadi tidak doketis.

 

            Ketika kita menyatakan bahwa Kristus adalah Firman Hidup, kita juga sedang menyatakan bahwa Kristus adalah sumber hidup kita dan adalah Pribadi satu-satunya yang berdaulat dalam hidup kita. Ketika Lazarus dibangkitkan, pada saat itu Lazarus pasti sadar bahwa hidupnya bukanlah miliknya sendiri tetapi milik Tuhan. Ketika kita sudah mendapatkan dan sedang menjalankan hidup kekal itu, maka sebenarnya hidup kita sudah sepenuhnya menjadi milik Tuhan. Manusia lama kita sudah mati dan manusia baru itu adalah milik Tuhan. Ketika kita menyatakan bahwa Kristus adalah Firman Hidup, kita juga sedang menempatkan semua yang kita miliki di tangan Tuhan, seolah-olah kita tidak memiliki apapun. Hidup kita 100% milik Tuhan, namun Tuhan tetap memberikan kebebasan kepada kita. Kita tidak dijadikan seperti robot yang 100% dikendalikan. Kita diberikan kebebasan untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama.

 

            1 Yohanes 1:4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Yohanes dalam bagian ini mengundang para pembaca suratnya untuk masuk ke dalam sukacita Allah Tritunggal seperti yang dialami oleh Yohanes. Sukacita yang sebenarnya bukan berada dalam diri kita. Yohanes 15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Sukacita Yesus adalah sukacita yang Ia berikan kepada kita. Sukacita itu bersumber dari relasi-Nya dengan Bapa. Sukacita yang Yohanes tuliskan dalam bagian ini hanya bisa didapatkan dalam persekutuan yang nyata. Pada masa Yohanes hidup, ada orang-orang yang tidak lagi mau bersekutu karena ada bahaya dan karena ada persekutuan-persekutuan lain yang salah. Ketika kita sudah mengenal Yesus sebagai Firman Hidup, persekutuan seperti apa yang kita mau miliki? Kristus memberikan hidup dalam persekutuan orang percaya. Kita memiliki hidup itu ketika kita mau mendengar Firman yang berbicara setiap hari dalam hidup kita. Kita akan dipimpin untuk memberikan hidup kita kepada orang lain. Kita akan dipimpin untuk melepaskan ego kita.

 

            Kita diminta untuk memberikan hidup kita sama seperti Kristus memberikan hidup-Nya. Ini bukan berarti bahwa kita semua harus mati seperti martir. Tuhan mau kita menyerahkan hidup kita sehingga orang-orang lain memiliki hidup dalam Kristus melalui penginjilan. Apakah kita sudah menyatakan kasih kita kepada orang-orang yang kita kenal dalam masa pandemi ini? Maukah kita menyerahkan waktu, tenaga, perhatian, dan mungkin uang kita, untuk menyatakan kasih kita kepada sesama kita? Apakah kita sudah menghibur orang-orang yang berduka? Orang yang sedang berduka sangat membutuhkan waktu dan perhatian kita. Apakah hidup kita sudah kita serahkan bagi orang lain seperti Kristus memberikan hidup-Nya kepada kita? Kita tidak diminta untuk mati di atas kayu salib, namun kita diminta untuk menyalibkan hidup kita yang lama, memikul salib, mengikut Tuhan, dan memberikan kasih kita kepada orang lain. Firman Hidup itu memberikan persekutuan yang nyata dan sukacita dalam hidup orang percaya.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)