Generasi Penerus yang Beriman

Generasi Penerus yang Beriman

Categories:

Khotbah Minggu 6 Desember 2020

Generasi Penerus yang Beriman

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan melihat 2 Tawarikh 14:1-15. Percayakah kita dengan dalil “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”? Ibu Yefta adalah seorang pelacur dan Yefta sendiri hidup di dalam kumpulan preman. Namun ia mendapatkan belas kasihan dan pembaruan dari Tuhan sehingga ia menjadi orang yang berbeda. Jadi dalam tangan Tuhan seseorang bisa menjadi berbeda. Mengapa raja Abia hanya bertahan selama 3 tahun? Masa pemerintahannya paling pendek. Dari mana sumber iman raja Asa? Di tengah situasi seperti itu ternyata mutiara iman bisa muncul. Apa yang dilakukan raja Asa untuk pembaruan iman orang Yehuda? Dari mana datangnya rasa nyaman dan aman dalam kehidupan kita? Raja Asa melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan. Kemudian Tuhan memberikan keamanan selama 10 tahun bagi kerajaan Yehuda. Tidak ada satu raja pun yang berani menyerangnya. Namun setelah itu raja Etiopia menyerangnya. Pada masa 36 tahun kekuasaannya, ia diserang oleh kerajaan Israel.

 

            Setelah 41 tahun berkuasa, ia meninggal. Daud dan Salomo hanya bertakhta selama 40 tahun. Jadi raja Asa melampaui mereka. Kenyamanan jiwa kita bersumber dari Tuhan. Maka dari itu dari Mazmur 127 kita mempelajari bahwa semua bisa menjadi sia-sia jika kita tidak mengandalkan Tuhan. Sampai sejauh mana pentingnya iman raja Asa diuji? Setelah 10 tahun ternyata harus diuji. Kita harus berhati-hati dengan kenyamanan. Abia jatuh karena kenyamanan dan rasa aman yang berlebihan. Rehabeam dan Salomo juga demikian. Tuhan tidak membiarkan raja Asa terlalu menikmati kenyamanan selama 10 tahun sehingga imannya tertidur. Maka dari itu Tuhan mengizinkan raja Etiopia menyerang. Mengapa hidup kita tidak boleh menikmati rasa aman dan nyaman secara horizontal? Kita harus bersyukur ketika ada kesulitan dan tantangan. Semua itu membentuk kita di tengah segala pergumulan kita.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Anugerah iman di tengah kegersangan rohani (2 Tawarikh 13:18 bandingkan dengan 1 Raja-Raja 15:3).

            Abia pernah mengandalkan Tuhan, namun di bagian lain dikatakan bahwa ia melakukan dosa yang sama dengan nenek moyangnya yaitu penyembahan berhala. Jadi raja Asa hidup di tengah kekeroposan rohani ayahnya. Abia pernah menang dalam peperangan melawan Yerobeam karena ia mengandalkan Tuhan. Namun setelah kerajaannya aman, ia sibuk menikahi banyak perempuan. Setelah itu ia membawa orang-orang Yehuda kepada penyembahan berhala. Dalam situasi ini raja Asa dibesarkan. Ia melihat sendiri apa yang terjadi di kerajaan Yehuda. Ia melihat bahwa ayahnya tidak setia kepada Tuhan. Maka dari mana munculnya iman raja Asa? Jadi dalil ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ tidak selalu terjadi. Kita percaya apa yang dikatakan Firman Tuhan dalam Yohanes 15. Kita semua adalah orang berdosa, namun hidup kita bisa berubah ketika kita ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus dan kita dijadikan sebagai anak-anak Allah. Kita dicangkok pada pokok anggur yang benar. Pokok anggur itu adalah Tuhan itu sendiri. Seluruh nutrisi itu akan dialirkan kepada kita sehingga kita bisa menghasilkan buah-buah yang manis. Setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong.

 

            Sesulit apapun situasi kita, jika kita adalah anak-anak Tuhan maka kita pasti memancarkan terang Tuhan di tengah kegelapan. Kita akan menjadi garam di tengah kehancuran moral. Ketika hidup kita ada di tangan Tuhan, maka kita bisa menjadi agen perubahan. Kita bisa menjadi seperti Daniel, Daud, atau raja Asa. Jangan sampai kita percaya akan dalil-dalil dunia yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin berubah. Ayah raja Asa tidak baik. Kita percaya bahwa iman raja Asa bukanlah karena kehebatan raja Abia. Setelah kita menerapkan disiplin rohani dalam hidup anak-anak kita dan anak-anak kita bertumbuh menjadi orang-orang yang rohani, maka kita tidak boleh berkata bahwa semua itu adalah karena kehebatan kita. Itu semua adalah anugerah Tuhan. Ketika anak-anak bisa bertumbuh menjadi orang-orang rohani tanpa perlu ada disiplin rohani, maka itu juga adalah anugerah Allah. Jadi sebagai orang tua kita harus melakukan apa yang kita bisa dan semua kewajiban kita, namun hasilnya bergantung pada anugerah Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa raja Asa melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan. Jadi menjadi baik saja tidak cukup. Ada seseorang di pemerintahan yang melakukan korupsi. Ia tahu bahwa hukumannya adalah kematian, namun ia tetap melakukan itu. Jadi hati nuraninya sudah mati. Namun anak-anak Tuhan yang sejati pasti mengalami pengudusan hati nurani. Kejujuran itu sangat penting baik itu kepada diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Iman kita harus terus bercahaya. Kekuatannya bukanlah dari diri kita sendiri tetapi dari Firman Tuhan yang kita baca.

 

            Alkitab tidak mencatat guru rohani raja Asa. Kekuatan iman raja Asa berasal dari anugerah Tuhan (2 Tawarikh 14:2 bandingkan dengan Roma 10:17). Tidak hanya yang baik, raja Asa juga melakukan apa yang benar. Jadi seorang pemimpin Kristen harus baik, benar, bijaksana, dan takut akan Tuhan. Ada banyak orang baik di dunia ini. Ada pula koruptor yang baik, yaitu yang memakai uangnya untuk melakukan pembangunan di desa asalnya. Namun mereka tidak benar, tidak bijaksana, dan tidak takut akan Tuhan. Jadi raja Asa adalah generasi penerus iman yang datang karena anugerah Tuhan. Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan (Roma 10:17). Yesaya berseru agar orang-orang Israel mendengar Firman Tuhan, namun mereka tidak mau mendengarkan. Maka dari itu iman mereka tidak bertumbuh. Setelah mendengar, kita harus meresapi dan membuka hati agar kita diubah oleh Firman Tuhan. Kita bisa saja mendengar namun tidak benar-benar fokus. Pikiran kita bisa saja berada di tempat lain. Keselamatan kita adalah anugerah Tuhan. Pertumbuhan rohani kita juga adalah anugerah. Buah iman kita juga adalah anugerah. Kita harus mengingat Sola Gratia. Tuhan melahirbarukan kita, bukan karena kehebatan kita tetapi semata-mata karena kasih karunia.

 

            Raja Asa menjadi mutiara iman di tengah kegersangan rohani saat itu. Ini adalah pemeliharaan Tuhan untuk keturunan Daud. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan itu hidup. Dalam kegersangan rohani Tuhan bisa bekerja. Dalam konteks ini Ia memunculkan raja Asa untuk melakukan pembaruan iman Yehuda. Setelah itu penggenapannya dikerjakan oleh raja Yosia. Tuhan adalah sumber pembaruan. Kita harus mendoakan hal ini. Kita juga harus mendoakan negara kita. Ada orang-orang agama yang mempermainkan politik dan ada orang-orang politik yang memakai agama untuk kepentingan pribadi. Di dalam kekristenan hal ini tidak boleh terjadi. Agama tidak boleh memanfaatkan politik dan juga sebaliknya. Raja Asa sadar bahwa sumber kekuatan adalah Tuhan. Ia membuktikan dirinya mengandalkan Tuhan dengan melakukan reformasi iman.

 

2) Reformasi iman

            Hal pertama yang dilakukan raja Asa adalah menyingkirkan dan menghancurkan tugu-tugu dan tiang-tiang berhala (ayat 3). Semua berhala ini berasal dari ayahnya, yaitu Abia. Seharusnya kita memberikan warisan iman, bukan berhala. Semua itu dihancurkan oleh raja Asa. Ia tidak takut kepada para penyembah berhala. Kedua, raja Asa memerintahkan orang-orang Yehuda untuk mencari Tuhan dan menaati hukum-hukum Tuhan (ayat 4). Kata ‘mencari Tuhan’ dalam Perjanjian Lama bukan berarti Tuhan telah hilang atau bersembunyi. Mencari kehendak Tuhan bukan berarti kehendak Tuhan telah hilang dan perlu dicari. Ini adalah bahasa pemazmur. Mencari Tuhan berarti hidup kita mengutamakan Tuhan. Raja Asa membuat kebijakan transformasi iman. Ini adalah kebijakan yang baik dan benar. Kita boleh ketat dalam hal ini untuk mendidik keluarga kita. Sebagai pemimpin, kita harus meniru raja Asa. Reformasi iman pertama-tama dikerjakan raja Asa dengan menyingkirkan semua berhala. Di sini raja Asa berperan sebagai garam. Garam berperan untuk mencegah kebusukan. Orang yang sungguh-sungguh beriman akan memiliki keberanian untuk menyingkirkan pusat dosa. Raja Asa membangun iman seluruh rakyat dengan membuat kebijakan agar seluruh orang Yehuda mencari kehendak Tuhan dan menjalankannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

            Hasilnya adalah negeri Yehuda aman selama 10 tahun dan tidak ada yang memeranginya (ayat 6, bandingkan dengan 2 Tawarikh 15:16). Reformasi iman yang dikerjakan raja Asa memberikan keamanan selama 10 tahun. Pemazmur menyatakan bahwa rumah orang yang bertobat akan dibentengi oleh para malaikat (Mazmur 91:11). Keamanan rumah kita bukanlah karena kehebatan kita tetapi karena anugerah Tuhan. Namun kita tetap harus mengerjakan apa yang harus kita kerjakan. Hasil akhir yang baik adalah karena anugerah Tuhan. Jika kita tidak berjaga-jaga untuk melihat bagaimana Tuhan menjaga, maka kita sebenarnya sedang mencobai Tuhan. Mengapa Tuhan memberikan keamanan hanya 10 tahun? 10 tahun itu merupakan anugerah Tuhan supaya raja Asa bisa membangun kekuatan kerajaan Yehuda. Selama 10 tahun raja Asa membangun kekuatan rohani dan fisik kerajaan Yehuda. Jadi raja Asa sungguh berbeda dengan raja Abia dan raja Rehabeam. Ketika Tuhan memberikan kesempatan dan anugerah kepada kita maka kita jangan sampai membuang itu semua. Raja Asa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ketika kita masih bisa menyatakan kasih kita kepada orang lain, maka itulah terobosan iman kita. Masa pandemi ini bukanlah masa di mana kita bermalas-malasan. Kita memiliki teknologi yang bisa membantu kita untuk menyatakan kasih kepada banyak orang. Justru dalam masa sulit seperti ini kita harus berjuang untuk menyatakan kebesaran Tuhan.

 

            Reformasi iman membawa orang-orang kembali untuk tunduk di hadapan Allah. Reformasi iman menyadarkan manusia akan kelemahannya dan akan kebesaran Tuhan. Reformasi iman membawa orang-orang untuk taat kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Itulah yang dikerjakan oleh raja Asa. Ia mengerjakan ini karena ia sadar siapa Allah yang ia sembah. Ia sadar bahwa kerajaan Yehuda harus menjadi kerajaan yang menyembah Tuhan. Ia belajar dari perpecahan kerajaan Israel dan dari kesalahan pemerintahan Yerobeam yang menyembah berhala. Raja Asa juga tidak segan memecat neneknya sendiri, Maakha. Neneknya masih ikut campur dalam urusan kerajaan dan belum sungguh-sungguh bertobat. Jadi cucu memecat nenek. Ini terlihat kejam, namun raja Asa telah melakukan hal yang benar. Di sini raja Asa lebih mementingkan Tuhan daripada hubungan keluarga. Setelah 10 tahun Tuhan mengizinkan ujian iman bagi raja Asa.

 

3) Ujian Iman Raja Asa (2 Tawarikh 14:9)

            Zerah membawa pasukan sejumlah sejuta orang dan 300 kereta perang untuk menyerang Yehuda. Kekuatan Yehuda kurang lebih hanya 500 ribu orang. Bagaimana sikap raja Asa menghadapi raja Zerah? Raja Asa berdoa dan mengandalkan Tuhan. Dari doanya kita bisa mempelajari teologi doanya. Pertama ia menyerahkan semua perkara itu ke dalam tangan Tuhan. Mungkin ia takut karena jumlah musuhnya jauh lebih banyak, namun ia menyerahkan semua itu kepada Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menulis “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:12-13). Tahap pertama yang harus kita tempuh adalah menyerahkan semua hal ke dalam tangan Tuhan dan meminta hikmat dari Tuhan. Jadi masalah iman harus diselesaikan dahulu. Ketika masalah datang, pertama-tama kita berpikir bukan menyalahkan orang lain tetapi mengoreksi diri dan memulihkan kerohanian. Kita harus memandang dengan iman dan mencari tahu apa kehendak Tuhan dalam segala hal. Raja Asa telah bersikap benar dengan iman. Masalah diselesaikan bukan dengan rasio dan emosi semata. Semuanya harus dihadapi dengan iman. Dalam doanya, raja Asa mengakui kekuatan Allah yang begitu besar. Kita bisa mengandalkan manusia tetapi lupa mengandalkan Tuhan. Raja Asa sadar bahwa Tuhan-lah yang memberikan kemenangan dalam peperangan. Raja Asa tidak mengatur Tuhan tetapi membiarkan Tuhan bekerja dan menolongnya. Ia tidak membuat strategi terlebih dahulu lalu berdoa tetapi ia berdoa terlebih dahulu. Dari teologi doa raja Asa kita belajar bahwa ia mengutamakan dan menyatakan kebesaran Tuhan. Dalam peperangan itu ia tidak mementingkan namanya sendiri. Jadi raja Asa lolos ujian iman. Akhirnya musuhnya mengalami kekalahan.

 

            Jadi iman itu sangat penting. Dalam kondisi apapun kita harus memandang dengan iman. Ketika kita melihat dengan kacamata iman maka semua akan menjadi beres di mata Tuhan. Kita harus mengandalkan kekuatan Tuhan dalam menyelesaikan semua masalah. Jadi doa raja Asa memberikan kita pelajaran rohani yang penting. Paulus menyerahkan segala perkara kepada Tuhan. Di Taman Getsemani Tuhan Yesus berdoa agar kehendak Bapa saja yang terjadi. Keberserahan itu adalah bagian dari iman. Kita harus meminta agar cara Tuhan yang dipakai dan bukan cara kita. Kita tidak boleh mendahului waktu Tuhan. Semua perkara yang kita kerjakan bukanlah untuk menyatakan kehebatan kita tetapi kehebatan Tuhan. Maka dari itu raja Asa meminta agar kekuatan Tuhan-lah yang dinyatakan, bukan kekuatan manusia. Di masa pandemi seperti ini pun Tuhan tetap ada dan tetap bekerja. Ketika kita sakit pun Tuhan tetap hidup. Semua ini harus kita pandang dengan iman. Kita harus melihat seperti Tuhan melihat. Mazmur 23 mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu memimpin hidup kita. Kita selalu menghadapi tantangan dan pergumulan, namun Tuhan selalu memelihara kita. Ada waktu untuk segala sesuatu. Kita harus mengerjakan apa yang harus kita kerjakan. Tuhan memberikan kenyamanan jiwa kepada kita. Hidup kita bisa aman dan nyaman jika hidup kita ada dalam tangan Tuhan. Kenyamanan fisik pasti tidak cukup jika kita tidak memiliki kenyamanan jiwa. Kita memiliki kenyamanan jiwa ketika kita beriman dan terus berinteraksi dengan Tuhan. Kitalah yang membutuhkn Tuhan, bukan sebaliknya. Kita harus belajar untuk mendemonstrasikan iman kita agar kita bisa menjadi generasi penerus yang beriman, bukan yang menghancurkan iman. Kita terus memberitakan Injil karena kita rindu Tuhan memunculkan generasi penerus yang beriman.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Tuhan itu hidup, jadi sudah sepatutnya kita selalu mengandalkan Tuhan dalam segala sisi kehidupan kita.

 

2) Berkat dari Tuhan untuk setiap anak-anaknya yang mengandalkan Dia adalah kemenangan iman dan kenyamanan jiwa. Jika kita bisa menang atas pencobaan, maka itupun adalah anugerah Tuhan. Ketika kita bisa menikmati Tuhan dalam situasi sulit, maka itu adalah berkat Tuhan.

 

3) Menjalankan disiplin rohani adalah kunci pertumbuhan iman. Dalam bagian ini kita tidak boleh lengah dan mundur. Kita rindu generasi penerus yang beriman muncul dalam keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita. Ketika hidup kita berada dalam tangan Tuhan, dalil ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ itu tidak mutlak. Kita percaya bahwa bahwa kita harus bisa menjadi manusia dalam tangan Tuhan. Di sana kita bisa menjadi agen perubahan. Kita mau terus dipakai oleh Tuhan bahkan dalam situasi sulit seperti sekarang ini.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).