Generasi Penerus yang Diperbarui dalam Kasih Tuhan (2 Tawarikh 12:1-16)

Generasi Penerus yang Diperbarui dalam Kasih Tuhan (2 Tawarikh 12:1-16)

Categories:

Khotbah Minggu 29 November 2020

Generasi Penerus yang Diperbarui dalam Kasih Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita memohon pembaruan dari Tuhan. Bukan orang tua yang memperbarui anak-anak tetapi Tuhan sendiri. Setiap anggota keluarga termasuk anak-anak harus merenungkna relasi pribadi dengan Tuhan. Tantangan di depan mungkin akan lebih sulit daripada sebelumnya, namun kita harus terus berjuang. Bagian Alkitab yang akan kita lihat adalah 2 Tawarikh 12:1-16.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Mungkinkah Allah bisa berubah terhadap perjanjian-Nya dengan Daud sehingga generasi Daud terhilang? Allah tidak pernah berubah dalam nilai perjanjian-Nya. Manusia-lah yang selalu berubah dalam nilai kasih setianya. Mungkinkah kasih setia Tuhan bisa dikalahkan oleh kejahatan Rehabeam? Mungkinkah penyertaan Tuhan dan janji Tuhan akan kehadiran Mesias bisa dikalahkan oleh ketidaktaatan penerus Daud? Tidak mungkin. Mengapa Tuhan memunculkan Nabi Semaya untuk menegur raja Rehabeam dan para pemimpin Yehuda? Kita akan melihat peran seorang hamba Tuhan dalam situasi genting seperti itu dan bagaimana ia menyatakan suara Tuhan. Bisakah Yehuda bertobat tanpa teguran Nabi Semaya? Penyerangan oleh Sisak adalah karena kesalahan mereka sendiri. Mereka tidak meminta pimpinan Tuhan dan mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Mereka sudah menyingkirkan Tuhan dan hukum-Nya. Jadi tanpa suara dari Nabi Semaya, mereka tidak mungkin bertobat. Apakah pertobatan Rehabeam dan para pemimpin Yehuda sungguh-sungguh berkenan kepada Allah? Mereka ditegur terlebih dahulu baru kemudian bertobat. Seharusnya mereka menegur diri sendiri terlebih dahulu. Hal yang terbaik adalah ketika kita sudah bertobat sebelum kita melakukan kesalahan. Itu berarti kita punya hati yang takut akan Tuhan, bukan hati yang takut karena dosa kita ketahuan. Jika kita bertobat karena dosa kita ketahuan, maka mungkin saja pertobatan kita bersifat situasional.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Peranan mutiara iman di tengah perpecahan dua kerajaan

            Tuhan sudah menubuatkan bahwa setelah kepemimpinan Salomo kerajaan itu akan terpecah menjadi dua. Itu karena mereka tidak sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan dan menjalankan hukum-hukum Tuhan. Perpecahan itu dimulai pada masa kepemimpinan Rehabeam. Rehabeam memimpin orang Yehuda dengan orang Lewi di dalamnya. Beberapa orang Israel juga bersama dengan mereka. Namun suku-suku Israel yang lain berkumpul dan membuat satu kekuatan lain. Perbedaannya adalah Yerobeam membuat suatu transformasi ibadah baru yang membuat orang Israel beribadah kepada patung-patung. Namun transformasi yang dikerjakan dalam kerajaan Yehuda sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan. 2 Tawarikh 11:16 Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. Jadi ada orang-orang Israel yang tidak mengikuti Yerobeam. Mereka mengikuti orang Lewi dan Yehuda, yaitu mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. Mereka datang untuk menyatakan iman dan mau berkorban untuk Tuhan. Jadi ada mutiara iman dalam bagian ini.

 

            Bagaimana cara Tuhan memelihara umat-Nya? Tuhan memberikan bukan hal fisik terlebih dahulu tetapi hal rohani. Rehabeam mengizinkan adanya pembaruan yang sejati. Namun Yerobeam membawa rakyatnya untuk menyembah berhala. Mengapa Yerobeam melakukan ini? Ini karena ia dari mula-mula tidak sungguh-sungguh takut kepada Tuhan. Ia tidak melihat pentingnya menyembah Tuhan. Namun ternyata ada orang-orang yang menjaga kesucian dan kesetiaan kepada Tuhan. Apakah orang-orang beriman ini terus menerus muncul secara konsisten? Mereka mencari Tuhan hanya dalam masa sulit. Jadi mereka mencari Tuhan hanya selama 3 tahun. Setelah itu Tuhan mengutus raja Sisak untuk mengguncang kenyamanan Rehabeam. Mengapa orang-orang itu hanya bertahan selama 3 tahun di dalam iman? Selama 3 tahun mereka sungguh serius mencari Tuhan. Ini bukan karena Rehabeam tetapi karena orang-orang yang menjadi pilar iman di sana.

 

2) Mengapa spirit sebagian orang Yehuda mencari Tuhan hanya bertahan selama 3 tahun?

            Mengapa mereka tidak setia selama-lamanya? Mengapa mereka baru mencari Tuhan setelah masa sulit datang? Banyak orang baru mencari Tuhan setelah Covid-19 muncul. Ketika Covid-19 belum ada, banyak orang tidak mengingat Tuhan. Hal yang lebih parah adalah ketika ada orang-orang yang menjadi ateis saat Covid-19 muncul. Mereka bertanya mengapa Tuhan mengizikan Covid-19 membunuh begitu banyak orang. Mereka mempertanyakan kasih Tuhan. Di sisi lain ada orang-orang yang bertobat di masa pandemi ini. Allah berdaulat atas segala sesuatu termasuk Covid-19. Program Tuhan untuk kita adalah kebaikan semata. Namun mengapa mereka mencari Tuhan hanya selama 3 tahun? 2 Tawarikh 11:17 Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo. Mazmur 127:1 … Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Kekuatan manusia begitu terbatas. Itulah mengapa dikatakan ‘sia-sia’. Di atas kita ada kekuatan alam dan Iblis, namun ada kuasa yang melampaui semua itu yaitu kekuatan Tuhan. Yeremia 17:5 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Kita begitu celaka jika di dalam hidup ini kita hanya mengandalkan kekuatan ekonomi, pikiran, dan diri sendiri tetapi tidak mengandalkan Tuhan.

 

            Jika kita sungguh mengandalkan Tuhan di dalam keluarga kita, maka malaikat surga akan menjaga kita. Mazmur 34:8 Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Tuhan menjaga orang yang takut akan Tuhan dari si jahat yang mau mencuri damai sejahtera kita. Ketika mereka mencari Tuhan, mereka mendapatakan kekuatan dari Tuhan. Selama 3 tahun itu pemerintahan Rehabeam menjadi kuat. Yeremia 29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Di manapun kita berada, kita selalu memiliki misi. Misi itu bukanlah misi balas dendam tetapi misi untuk menyatakan Tuhan. Itu berarti kita harus bekerja keras dan menjadi berkat. Yeremia juga mengingatkan bangsa Israel untuk tetap beranak-cucu. Nabi yang sejati tidak pernah menyuarakan perintah untuk membalas dendam. Nabi yang benar selalu menyerukan kasih Tuhan. Mereka tidak pernah menyerukan kejahatan. Itulah hamba Tuhan yang sejati. Tuhan pasti menyatakan kasih dan tidak pernah menyuarakan pembunuhan dengan sembarangan. Kita harus bisa membedakan suara Nabi yang benar dari suara Nabi yang palsu. Itulah konteks penulisan Yeremia 29. Nabi palsu pada saat itu juga bernama Nabi Semaya. Jadi ini adalah Semaya yang berbeda.

 

            Selama 3 tahun mereka menikmati masa damai. Itu membuat mereka tertidur secara rohani. Akhirnya transformasi iman tidak berjalan secara konsisten. Mengapa demikian? Karena tidak ada program. Transformasi kerajaan Yehuda bukan dirancang oleh raja Rehabeam tetapi oleh orang-orang Lewi. Ini membuat transformasi rohani tidak terprogram dalam skala nasional karena raja Rehabeam belum menyadari pentingnya mencari Tuhan. Maka dari itu semua ini hanya berjalan selama 3 tahun. Korupsi yang kita takuti bukanlah korupsi dalam nilai pelaksanaan tetapi dalam nilai kebijakan. Kejahatan terbesar bukanlah kejahatan pelaksanaan tetapi kejahatan kebijakan. Orang yang paling kuat adalah penentu kebijakan. Maka dari itu seorang pemimpin bisa melakukan hal-hal yang berbahaya. Ketika kita mau merencanakan korupsi, maka sebenarnya kita sudah melakukan dosa korupsi. Dosa terjadi bukan hanya dalam tindakan tetapi juga pikiran dan hati. Rehabeam tidak melihat bahwa masa penyertaan Tuhan selama 3 tahun itu adalah karena orang-orang Lewi dan orang-orang yang takut akan Tuhan. Mengapa Rehabeam tidak menghargai mereka? Itu karena Rehabeam tidak bertobat. Pemimpin yang belum bertobat tidak akan mencari Tuhan setiap hari. Manusia bisa menipu manusia tetapi tidak bisa menipu Tuhan. Manusia bisa terlihat baik di hadapan manusia lainnya di dalam kemunafikan. Tuhan Yesus tahu bahwa Yudas menipu-Nya selama 3,5 tahun, namun para murid yang lain tidak tahu. Manusia bisa tidak tahu, namun Tuhan itu maha tahu. Mengapa dalam masa 3 tahun itu para pemimpin Yehuda tidak bertobat? Transformasi iman harus dikerjakan dari atas ke bawah. Transformasi iman yang dikerjakan oleh orang-orang Lewi berasal dari bawah ke atas. Mereka berjuang keras selama 3 tahun namun ternyata itu tidak cukup. Setelah itu gerakan transformasi itu berhenti. Mungkin saja itu karena Rehabeam dan para pemimpin Yehuda tidak memberikan dukungan atau malah menghalangi mereka. Di masa nyaman itu Rehabeam bukan memerhatikan kerohanian tetapi malah menambah istri dan gundik. Rehabeam seharusnya menambah jumlah pendoa syafaat dan program rohani untuk kerajaan Yehuda. Rehabeam melakukan ini karena ia tidak memiliki identitas rohani di dalam Tuhan. Itulah kuncinya. Rehabeam tidak mendukung program rohani para orang Lewi dengan kebijakan pemerintah. Setelah itu ia menyingkirkan hukum Tuhan dan tidak lagi beribadah kepada Tuhan.

 

3) Cara Tuhan mempertobatkan raja Rehabeam dan para pemimpin Yehuda

            Para pendoa syafaat itu pasti memohon kepada Allah agar para pemimpin bertobat. Saat itu tidak ada gerakan pembaruan rohani yang kedua yang dicatat oleh Alkitab. Jadi upaya orang-orang yang takut akan Tuhan itu menjadi redup. Selama 2 tahun berikutnya Rehabeam menjadi orang ateis. Ia menyingkirkan hukum Tuhan dan membuat orang-orang Yehuda berdosa. Namun Tuhan tidak tinggal diam. Tetapi pada tahun kelima zaman raja Rehabeam, majulah Sisak, raja Mesir, menyerang Yerusalem–karena mereka berubah setia terhadap Tuhan– (2 Tawarikh 12:2). Tuhan tidak memakai orang-orang dalam tetapi memakai raja Sisak yang kejam. Raja Sisak adalah orang Libia yang mengalahkan Firaun. Ini berarti ia memiliki kekuatan militer yang sangat kuat. Tuhan menggerakkan dia untuk menyerang Yerusalem. Mengapa Allah memakai raja Sisak untuk mengguncangkan kerajaan Yehuda? Mengapa para orang Lewi tidak mengguncang Rehabeam? Mengapa kekuatan luar yang akhirnya bisa mengguncang Rehabeam? Di sini kita mengerti bahwa Rehabeam menuhankan kekuasaan. Kekuasaannya diguncang oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Kita bisa jatuh ke dalam dosa menuhankan kekuasaan di atas Tuhan yang memberi kekuasaan tersebut. Kekuasaan dan kenikmatan itu hal yang baik, namun ketika semua itu dianggap lebih penting dari Tuhan, Tuhan bisa mencabut semua itu dari hidup kita. Itulah yang dilakukan Tuhan terhadap Rehabeam. Tuhan di dalam kedaulatan-Nya memakai raja Sisak untuk menghancurkan zona nyaman Rehabeam dan kerajaannya. Itu membuat Rehabeam dan para pemimpin menjadi gentar dan takut. Namun mereka tidak berdoa kepada Tuhan atau mencari Tuhan. Jadi mereka sudah buta rohani. Mereka tidak peduli lagi atau sudah menjadi orang ateis. Maka dari itu suara Nabi Semaya diperlukan. Ketika ada hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dalam hidup kita, maka sebaiknya kita melakukan evaluasi diri dan berdoa. Itu tidak dilakukan oleh Rehabeam, maka dari itu suara Nabi diperlukan.

 

4) Pertobatan melalui Teguran Nabi Semaya

            Nabi Semaya berkata “Beginilah firman TUHAN: Kamu telah meninggalkan Aku, oleh sebab itu Akupun meninggalkan kamu juga dalam kuasa Sisak” (2 Tawarikh 12:5b). Semaya tahu bahwa ia bisa saja dihukum karena menyinggung raja, namun ia tidak takut. Ia tetap menyuarakan Firman Tuhan. Sebelumnya, Rehabeam tidak mau mendengarkan suara para tua-tua dan malah mendengarkan suara orang-orang sebayanya sehingga akhirnya kerajaan itu menjadi terpecah. Namun kali ini ada respons yang berbeda. Bagaimana sikap raja Rehabeam dan para pemimpin Yehuda mendengar suara Tuhan (bandingkan dengan Yakobus 1:19 dan Yeremia 29:31)? Mereka tidak melawan suara Semaya. Sebaiknya kita cepat mendengarkan suara Tuhan dan lambat untuk berkata-kata atau marah-marah. Orang rohani tidak akan sembarangan berkata-kata di hadapan Tuhan. Rehabeam dan para pemimpin Yehuda pada akhirnya memilih untuk mendengar suara Nabi Semaya. Namun nabi Semaya yang lain dalam kitab Yeremia adalah nabi palsu. Dalam zaman ini juga ada hamba Tuhan palsu. 2 Tawarikh 12:6 Maka pemimpin-pemimpin Israel dan raja merendahkan diri dan berkata: “Tuhanlah yang benar!” Mereka sungguh-sungguh hancur hati dan menundukkan diri di bawah kedaulatan Tuhan. Inilah suara yang diperlukan pada zaman ini. Apakah Covid-19 diperlukan? Dunia harus diguncang oleh Covid-19. Di masa pandemi ini daya tahan rohani, ekonomi, mental, dan relasi kita diuji. Semua ini dibongkar dalam masa pandemi. Ketika Tuhan sudah berbicara, kita harus membuka hati, pikiran, dan emosi kita. Kata-kata Tuhan harus kita dengarkan dan renungkan. Kita tidak boleh melawan. Firman Tuhan itu baik untuk memperbaiki hidup kita. Tuhan mengasihi kita dan berkarya dalam hidup kita.

 

            Ketika kerajaan Yehuda telah meninggalkan Tuhan, Tuhan menghukum mereka dengan mengirim raja Sisak yang kuat dan kejam. Setelah mereka bertobat, murka Allah tidak lagi menyala atas Yehuda. Allah tidak menghancurkan Yerusalem. Namun pada tahun 70 M, Yerusalem dihancurkan. Pada masa pemerintahan Rehabeam, Tuhan tidak menghancurkan Yerusalem karena masih ada orang-orang baik di sana. Orang-orang ini menjadi mutiara iman. Murka Tuhan teredam, tetapi keadilan tetap dijalankan (2 Tawarikh 12:7-8). Sisak tetap diizinkan Tuhan mengambil barang-barang dalam rumah Tuhan. Mengapa ini terjadi? Kekuasaan Tuhan tidak identik dengan kekayaan dalam bait Allah. Ini mengajarkan bahwa hal yang terpenting bukanlah perkakas materi tetapi perkakas rohani. Perkakas rohani itu adalah kasih setia, hati yang mencari Tuhan, dan jiwa yang mau berkorban. Tuhan menyatakan keadilan-Nya dengan mengambil perkakas-perkakas itu. Keadilan ini dinyatakan agar mereka belajar. Murka Tuhan sudah mereda, namun keadilan itu tetap nyata. Jadi kasih Tuhan itu tidak murahan. Tuhan mengajarkan kita untuk tidak mengabdi kepada dua tuan. Kita hanya boleh mengabdi kepada Tuhan. Jadi kita harus berhati-hati terhadap harta. Murka Allah mereda karena ada pertobatan. Pertobatan itu bisa muncul karena Nabi Semaya menyampaikan Firman Tuhan. Tanpa ini, mereka tidak akan bertobat. Jadi kehadiran hamba Tuhan dan suara Tuhan itu begitu penting. Rehabeam harus bersyukur ketika Tuhan mengirim raja Sisak. Kita pun harus bersyukur ketika Tuhan mengirim kesulitan untuk menyadarkan kita. Jadi cara Tuhan untuk memunculkan generasi yang diperbarui itu begitu keras. Zona nyaman dan kebanggaan Rehabeam diambil. Kita harus menyembah kepada Tuhan saja. Kita harus belajar untuk membangun kasih setia yang bersifat penuh.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Transformasi rohani akan lebih efektif hasilnya jika dimulai dari para pemimpinnya seperti raja, orang tua, dan lainnya. Jadi perjuangan dari atas ke bawah harus ada. Perjuangan dari bawah ke atas itu begitu sulit. Kita harus belajar untuk mengisi waktu kita secara bermakna sebagai orang beriman. Kita tidak bisa berharap anak-anak kita menjadi rohani namun kita sendiri tidak mau bertumbuh. Jadi orang tua harus menjadi teladan rohani. Ini penting dalam keluarga kita.

 

2) Kesetiaan mencari Tuhan harus total, sepenuh hati, dan tidak boleh tergantung situasi. Iman kita tidak boleh bergantung pada situasi. Setiap hari kita harus membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

 

3) Generasi rohani dilahirkan melalui pertobatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Kemanjaan tidak akan mempertumbuhkan kerohanian. Kita tidak boleh menjanjikan harta materi kepada anak-anak. Janji kita seharusnya berupa harta rohani. Hal yang harus kita perhatikan adalah pertobatan pribadi anak dan cucu kita.

 

4) Rancangan Allah untuk penebusan-Nya tidak mungkin digagalkan oleh kelemahan manusia. Rehabeam dan para pemimpin tidak mungkin mengagalkan rencana Allah. Itu karena Tuhan berdaulat penuh. Kita harus mengasihi Tuhan melebihi apapun juga. Rencana Tuhan adalah damai sejahtera dan kasih setia. Ia memberikan pengharapan kepada kita. Kita berdoa agar generasi kita terus diperbarui. Baik laki-laki maupun perempuan, semua anak itu berharga di mata Tuhan. Kita mengemban tanggung jawab rohani sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).