Generasi Penerus yang Terhilang (1 Raja-Raja 12:1-16, 14:22-24; 2 Tawarikh 12:1-2)

Generasi Penerus yang Terhilang (1 Raja-Raja 12:1-16, 14:22-24; 2 Tawarikh 12:1-2)

Categories:

Khotbah Minggu 22 November 2020

Generasi Penerus yang Terhilang

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Rehabeam. Tema kita adalah “Generasi Penerus yang Terhilang”. Mungkinkah Tuhan mencabut seluruh generasi Daud? Generasi Daud tetap ada. Namun situasi ini pasti mengagetkan kerajaan Israel. Mereka tidak menyangka bahwa Rehabeam, anak Salomo, begitu bejat dan membuat seluruh Yehuda meninggalkan Tuhan. Namun apakah belas kasihan Tuhan dicabut dari Yehuda? Bagaimana kita mengerti semua ini? Inilah pembahasan kita. Dalam kesempatan berikutnya kita akan membahas tema “Generasi Penerus yang Diperbarui”. Kita akan melihat dari ayat 1 Raja-Raja 12:1-16. Yerobeam mewakili Israel untuk memohon agar tidak diberikan beban pajak yang sudah begitu berat. Namun Rehabeam malah mendengar suara anak-anak muda sebayanya dan memberikan beban yang lebih berat. Ia tidak mendengarkan suara para tua-tua yang ingin meringankan. Akhirnya timbullah pemberontakan. Kita juga melihat 1 Raja-Raja 14:22-24 dan 2 Tawarikh 12:1-2, bagian setelah Rehabeam menjadi raja.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa artinya ‘generasi penerus’ bagi Kerajaan Allah? Kita pasti memikirkan dan mau agar generasi kita menjadi generasi penerus dalam Kerajaan Allah. Kita tidak hanya melihat marga keluarga kita. Mengapa generasi penerus dari Daud ke Salomo dan ke Rehabeam mengalami kehancuran iman (bandingkan dengan Hakim-Hakim 2:10-16)? Musa berhasil mendidik generasi penerus yaitu Yosua dan Kaleb. Namun generasi setelah itu adalah generasi yang terhilang. Yosua dan Kaleb bukanlah anak kandung Musa, namun ini adalah generasi yang sukses. Namun Alkitab mencatat bahwa setelah Yosua meninggal, generasi berikutnya menjadi generasi yang terhilang imannya. Mereka telah kehilangan spirit untuk mengenal kasih Tuhan. Ada yang menyatakan bahwa generasi ketiga adalah yang paling krusial. Biasanya generasi pertama dalam suatu perusahaan adalah generasi pejuang. Generasi kedua biasanya menjadi penikmat. Namun generasi ketiga biasanya menghancurkan perkembangan. Allah berjanji bahwa jika kita terus mengikut Tuhan, maka Tuhan akan memelihara generasi masa depan kita. Mengapa Salomo dan Rehabeam tidak memiliki ketahanan iman yang kuat seperti Daud? Anak-anak hamba Tuhan belum tentu rohani seperti ayahnya. Namun ayah yang tidak baik bisa saja memiliki anak yang baik, meskipun ada perkataan ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. Sebagai orang tua kita harus mempersiapkan ketahanan iman anak-anak kita. Kita tidak boleh hanya memikirkan ketahanan ekonomi karena itu bersifat lahiriah. Sampai sejauh mana pentingnya peran keluarga dalam mempersiapkan generasi penerus bagi Kerajaan Allah? Kita akan membahas bagian ini dan peran Gereja.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Generasi penerus yang tidak mengenal Tuhan (2 Tawarikh 13:13b-14)

            Salomo memiliki istri dari suku Amon yang bernama Naama. Ternyata Naama tidak memiliki kualifikasi iman. Ia hanya cantik dan menarik. Alkitab jelas mencatat bahwa ibu dari Rehabeam tidak tekun mencari Tuhan. Jika orang tua tidak memberikan teladan rohani maka anak-anak akan mengalami krisis identitas rohani. Jadi Rehabeam tidak mendapatkan pendidikan iman dari keluarganya dengan benar: ibunya dari Amon (bandingkan dengan Ulangan 6:6-7). Alkitab jelas mengarahkan para orang tua Yahudi untuk mengajarkan Firman Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak. Jadi orang tua dan kakek-nenek harus terus menyatakan Firman Tuhan kepada anak dan cucu dalam waktu apapun. Apakah Firman Tuhan kurang berkuasa sampai harus dikatakan berulang-ulang? Ini bukanlah hal mistik seperti mantra yang harus diucapkan berkali-kali. Firman Tuhan yang diucapkan berulang-ulang bukanlah untuk mengurangi maknanya. Justru Firman Tuhan diucapkan berulang-ulang agar maknanya sampai kepada anak-anak kita. Mantra biasanya diucapkan berulang-ulang tanpa makna dan tanpa pengertian serta mengandung unsur mistik. Firman Tuhan diucapkan berulang-ulang bukan karena Firman Tuhan tidak berkuasa. Manusia di dalam keberdosaan pikirannya perlu dibentuk dengan kekuatan Firman Tuhan. Salomo dan Naama tidak mendidik dan tidak mempersiapkan Rehabeam agar ia menjadi raja yang beriman.

 

            Perusahaan keluarga biasanya tidak bertahan lama karena pendidikan anak dijalankan bukan dengan rasio tetapi dengan perasaan dan belas kasihan. Ketika anak itu tidak bisa memimpin, ia tetap dijadikan pemimpin oleh ayahnya. Hal inilah yang menghancurkan perusahaan itu. Namun perusahaan yang bersifat profesional pasti mencari pemimpin yang memang memiliki kapasitas untuk memimpin. Ketika mendidik anak, kita tidak hanya memakai perasaan tetapi memakai rasio yang sudah dicerdaskan oleh iman. Ketika kita sedang mempersiapkan ketahanan ekonomi anak, kita juga tidak bisa hanya memakai belas kasihan dan perasaan. Rehabeam tidak mendapatkan pendidikan Firman Tuhan. jadi kita harus mengerti bahwa pendidikan dalam Sekolah Minggu itu sangat penting. Anak-anak harus terus dibimbing dan didampingi ketika mereka sedang beribadah dan belajar Firman Tuhan. Jadi kesalahan Rehabeam adalah kesalahan Rehabeam sendiri dan juga kesalahan orang tuanya. Karakter dan iman anak pasti mendapatkan pengaruh dari orang tua. Rehabeam tidak pernah secara pribadi mengalami kelahiran baru, pertolongan Tuhan, penyertaan Tuhan, dan lainnya. Namun pada akhirnya Rehabeam bertobat di masa-masa yang genting. Saat itu ia bertobat bukan karena inisiatif pribadi tetapi karena tua-tua Yehuda yang memulai pembaruan rohani untuk Yehuda ketika akan dihancurkan oleh Mesir. Sisak sendiri bukanlah orang Mesir tetapi orang Libia yang mengalahkan kerajaan Mesir.

 

            Ketika anak-anak kita mengalami kesulitan, maka kita sebagai orang tua jangan langsung memberikan bantuan. Kita harus membiarkan anak-anak mengalami secara pribadi pertobatan sejati, pertolongan Tuhan, dan penyertaan Tuhan. Kita mau anak-anak kita belajar mengandalkan Tuhan, bukan orang tua. Generasi Rehabeam adalah generasi yang tidak mengenal Tuhan. Kita harus benar-benar menggumulkan pertobatan anak-anak kita. Ini adalah ketakutan yang suci dan wajar. Kita pasti tidak mau anak-anak kita terhilang, jadi kita harus merencanakan suatu program yang membangun iman anak-anak kita. Jika generasi penerus kita tidak memiliki ketahanan iman, maka mereka akan menjadi generasi yang terhilang. Orang yang tidak memiliki ketahanan iman akan mudah tergoda oleh tawaran dunia.

 

2) Generasi penerus yang tidak mengasihi Tuhan dan sesamanya (1 Raja-Raja 12:8).

            Rehabeam mengabaikan suara tua-tua Israel yang mau mengambil hati bangsa Israel. Para tua-tua terpilih bukan karena mereka berusia tua tetapi karena mereka memang memiliki kualifikasi rohani untuk menjadi tua-tua. Namun nasihat mereka yang baik tidak didengar oleh Rehabeam. Ia lebih mendengarkan orang-orang sebayanya. Kelompok muda tersebut tidak mengerti bagaimana mengambil hati rakyat. Seorang raja seharusnya menjadi wakil Tuhan untuk mendidik rakyat sehingga mereka mengenal Tuhan dan untuk menyejahterakan rakyat. Namun dalam hal ini Rehabeam gagal. Apa yang terjadi pada Rehabeam bisa terjadi pada generasi muda masa kini, yaitu mereka lebih mendengarkan teman-teman mereka daripada orang tua mereka. Pergaulan teman sebaya yang buruk bisa memberikan pengaruh yang lebih kuat pada anak daripada pengaruh orang tua. Dari hal ini kita mengerti bahwa Rehabeam tidak dekat dengan Salomo dan tua-tua Israel. Ini membuat Rehabeam lebih mendengarkan suara teman-temannya dan mengabaikan para tua-tua yang sudah teruji hikmat dan kebaikannya. Jadi kita juga harus memantau relasi anak-anak kita, tidak hanya perkembangan fisiknya. Keputusan Rehabeam akhirnya membuat kerajaan Israel terpecah menjadi dua. Karena kebaikan Tuhan, Yehuda mendapatkan suku Lewi dan Benyamin. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa Rehabeam tidak mengasihi Tuhan dan sesama? Ini karena Rehabeam tidak mengerti sejarah kerajaan Israel sebagai sejarah Kerajaan Allah yang bersifat teokrasi. Kerajaan Israel seharusnya mewakili kebenaran, keadilan, dan kasih Tuhan. Semua karakter itu hilang karena Salomo tidak mendidik Rehabeam dalam hal ini.

 

            Itulah mengapa Ulangan 6:6-7 mengajarkan kita untuk mengatakan Firman Tuhan berulang-ulang. Orang tua di Israel harus mengajarkan tentang sejarah Israel dari sejak mereka keluar dari tanah Mesir sampai mereka menduduki Kanaan. Jadi mereka harus menceritakan berulang-ulang sejarah Tuhan dan bagaimana Tuhan memimpin kita yang ada di dunia. Kita harus menceritakan tentang penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan konsumasi (CFRC). Banyak anak sekarang tidak setuju bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan. Mereka menganut teori evolusi dan big bang sehingga mereka menjadi ateis. Kalau kita tidak mengerti CFRC, maka untuk apa kita menjadi orang Kristen? Sejarah Tuhan harus kita mengerti, ingat, dan ajarkan. Rehabeam tidak mengerti sejarah Israel yang teosentris. Ia melihat kerajaan hanya sebagai kenikmatan. Ia memerhatikan ayahnya yang memiliki banyak istri, namun tidak memerhatikan pertobatan ayahnya. Ia tidak mengalami pendidikan rohani secara pribadi. Ketika ia mengabaikan suara tua-tua, di sana kita mengerti bahwa ia tidak mengerti pentingnya suara Tuhan melalui suara para tua-tua. Para tua-tua pasti merasa tersinggung dan sedih. Pemberontakan bisa saja terjadi, namun para tua-tua tahu bahwa ada hukuman yang Tuhan sudah sediakan. Akibat dari semua ini adalah Rehabeam membuat seluruh rakyat Yehuda meninggalkan hukum Tuhan dan menyembah berhala (2 Tawarikh 12:1-2 dan 1 Raja-Raja 14:22-24). Mengapa rakyat menjadi begitu cepat meninggalkan Tuhan? Mungkinkah Rehabeam memakai hukum negara untuk memaksa rakyat menyembah berhala? Ini sangat menyedihkan hati Tuhan. Dalam kerajaan Israel tidak ada lagi hukum kesucian, kebenaran, keadilan, kebijaksanaan. Inilah empat karakteristik hukum Taurat. Hukum Taurat itu manis dan suci serta memiliki nilai yang memimpin hidup. Semua ini disingkirkan oleh Rehabeam.

 

            Dalam zaman ini kebebasan ditinggikan dan hukum dibuang. Ada orang-orang yang menilai Gereja secara negatif karena menegur dosa LGBT. Gereja dianggap tidak menghargai hak asasi manusia. Akhirnya hukum Tuhan disingkirkan. Ini menyedihkan hati Tuhan seperti dalam kasus Rehabeam. Ketika Rehabeam membuang hukum Taurat, itu berarti ia telah menjadi ateis. Rakyat Israel menyembah berhala dan menikmati pelacur bakti. Akhirnya semua perempuan dijadikan objek seks. Ini seperti gaya hidup yang dianut oleh bangsa-bangsa lainnya di sekitar Israel. Tidak ada standar kesucian yang dipegang. Apa yang dilakukan oleh Rehabeam ini akhirnya turun kepada bawahan-bawahan Rehabeam. Jadi orang atas berdosa dan orang bawah juga ikut berdosa. Korupsi biasanya berkembang karena ada dosa dari atas ke bawah. Maka dari itu pemimpin yang bisa menjadi teladan sungguh-sungguh dibutuhkan. Banyak orang tidak mengerti bahwa Gereja pun berusaha memberikan jalan keluar bagi orang-orang LGBT. Dunia yang menerima LGBT pada akhirnya akan menerima hukuman Tuhan. Mungkinkah akan muncul Sodom dan Gomora yang baru? Mungkin. Penghakiman Tuhan akan dinyatakan.

 

3) Generasi penerus yang tidak memahami pentingnya perjuangan iman (1 Raja-Raja 14:24).

             Mereka berlaku sesuai dengan segala perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau Tuhan dari orang Israel. Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan pasti tidak mengenal standar kesucian, kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan. Mereka hanya tahu bagaimana memuaskan diri sendiri. Inilah standar pendosa. Mereka menyukai kebebasan yang melampaui batas. Ini menghancurkan mereka. Namun ini diadopsi oleh Rehabeam karena itu merupakan kebiasaan orang Amon. Teman-temannya adalah orang-orang Amon yang sudah biasa memuaskan diri sendiri. Mereka tidak pernah berpikir melayani Tuhan. Jadi mereka tidak memiliki perjuangan iman. Ini adalah generasi yang hancur. Kita harus berhati-hati mendidik anak-anak kita. Kita memikirkan kualitas hidup mereka di dalam iman. Rehabeam telah salah bergaul. Teman-temannya tidak memiliki perjuangan iman untuk Kerajaan Allah. Kita harus mendidik anak-anak kita agar mereka menjadi generasi penerus bagi Kerajaan Allah. Marga dan nama bukanlah yang terpenting bagi anak-anak kita. Hal yang terpenting dalam hidup anak-anak kita adalah mereka hidup untuk memuliakan nama Tuhan. Namun bukan itu yang dilakukan oleh Rehabeam. Ia kehilangan perjuangan iman dan mementingkan kepuasan diri. Generasi saat ini juga demikian. Mereka tidak menyukai proses dan perjuangan. Mereka memilih hal-hal yang mudah dan instan. Padahal Alkitab mengajarkan kita untuk selalu memiliki perjuangan iman. Jadi Rehabeam sebagai generasi ketiga dari Daud memiliki mental hidup sebagai penikmat dan bukan pejuang iman. Daud membangun kerajaan Israel dengan penuh perjuangan, Salomo menikmati perkembangan, namun Rehabeam adalah perusak. Itu juga terjadi pada generasi Musa, Yosua, dan orang-orang setelah Yosua. Tuhan tidak pernah merancang agar ada generasi yang terhilang. Ini adalah kesalahan Salomo yang tidak mendidik anak-anaknya. Ia menikmati terlalu banyak istri sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak.

 

            Apa akibatnya? Dengan mudah ia memerintahkan 180 ribu taruna untuk membunuh kaum Israel (1 Raja-Raja 13:21-24). Saat pemberontakan dimulai, ia tidak mengerti tentang perjuangan iman gabungan antara Israel dan Yehuda. Dengan mudah ia memutuskan untuk menghancurkan Israel yang mengikuti Yerobeam. Ia tidak mengerti betapa berharganya jiwa di mata Tuhan. Ia tidak mengerti bahwa semua prajuritnya bukanlah untuk memuaskan hatinya. Saat ia mau menggerakkan banyak orang itu, suara Tuhan datang dan mencegahnya. Orang yang terlalu mudah mencari jalan pintas adalah orang yang tidak memiliki perjuangan iman. Semua yang instan bisa menjebak kita sampai kita tidak bisa bersyukur kepada Tuhan. Namun jika kita melewati proses sampai mendapatkan hasil, maka kita akan lebih bisa bersyukur. Itu juga membuat kita menjadi tahu diri. Rehabeam tidak tahu diri karena ia tidak memiliki perjuangan iman.

 

4) Generasi penerus yang terlalu cepat puas diri dan sombong (2 Tawarikh 12:1).

            Jadi Rehabeam tidak mengenal Tuhan, tidak mengasihi Tuhan dan sesama, tidak memiliki perjuangan iman, dan juga terlalu cepat puas diri serta sombong. Karena kekuatannya, ia menjadi sombong. Akhirnya Tuhan mengutus Sisak untuk menyerangnya. Rehabeam tidak tahu diri dan sombong karena tanpa Tuhan kerajaannya kokoh dan kuat. Oleh karena itu ia merasa tidak perlu bersandar pada Tuhan. Di mana para tua-tua? Mungkin mereka sudah memberikan nasihat. Rehabeam bertakhta hanya 17 tahun lebih. Ia menjadi sombong ketika ia kuat. Padahal semua itu adalah anugerah Tuhan. Reaksi Tuhan terhadap kesombongannya adalah Tuhan menggerakkan raja Sisak untuk menyerang dan mengambil kekayaan kerajaan Yehuda. 120 ribu kereta perang dikerahkan beserta 60 ribu kuda dan banyak tentara. Mereka mengepung Yehuda dan mengambil seluruh harta yang dikumpulkan oleh Salomo. Puncak kehilangan jati diri Rehabeam adalah pada saat Tuhan menggerakkan raja Sisak. Rehabeam tidak bisa melawannya. Inilah awal kebaikan yang Tuhan izikan agar Rehabeam tidak menjadi sombong. Tuhan bisa memakai cara dengan mendatangkan kehancuran dan kerugian. Cara itu pun harus kita akui. Ketika Tuhan memukul kita untuk mendisiplinkan kita, maka kita harus rela menerimanya. Di dalam hal itu ada rencana Tuhan. Mungkinkah Allah membiarkan generasi Daud terhilang? Tidak mungkin. Bagaimana kisah akhir Rehabeam? Setelah ini akan muncul generasi penerus yang diperbarui.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Tujuan Allah menciptakan lembaga keluarga salah satunya adalah untuk melahirkan generasi penerus bagi Kerajaan Allah. Kristus membangun kerajaan-Nya bukan dengan kekuatan militer. Kekuatan-Nya adalah kasih. Ia tidak mengorbankan orang lain. Pendekatan-Nya adalah pendekatan kasih. Ia menyelesaikan masalah bukan dengan uang tetapi dengan memberikan diri-Nya sendiri untuk mati bagi orang lain. Itulah Kerajaan Allah. Kekuatan, harta, dan militernya tidak terlihat, namun pengaruh Kerajaan Allah itu begitu nyata. Kristus berkarya sehingga kita bertobat. Pengaruhnya begitu kuat dan nyata. Kita harus menjadi generasi yang memengaruhi dunia agar dunia kembali kepada Tuhan. Semua harta di dunia bisa hilang, namun harta surgawi kita akan tetap ada.

 

2) Oleh karena itu, peran orang tua sebagai pendidik iman, karakter, dan lainnya itu penting sekali. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kita adalah alat kemuliaan Tuhan. Anak-anak kita pasti mendapatkan pengaruh dari hidup kita. Pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik.

 

3) Anak-anak harus dididik dalam perjuangan rohani agar mereka mengalami pengalaman rohani secara pribadi. Ini merupakan hal yang wajib ada dalam pendidikan anak.

 

4) Anak-anak harus diuji ketahanan imannya, karakternya, jiwa peperangan rohaninya, dan visi hidupnya. Kita boleh memberikan kebebasan kepada anak-anak, namun kita harus tetap memantau. Pada waktunya, anak-anak akan hidup mandiri terpisah dari orang tua. Jadi orang tua tidak perlu takut jika anak-anak harus dilepas pada waktu-waktu tertentu. Anak-anak harus diajarkan untuk mengandalkan Tuhan. Jadi hidup mereka harus terus kita nilai dan evaluasi. Ulangan 6:6-7 mengingatkan kita untuk mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang. Kualitas kerohanian anak harus kita kembangkan dan usahakan agar menjadi lebih baik. Generasi kita harus menjadi generasi yang memberikan nilai pembaruan di dalam Tuhan dan bagi Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).