Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – 1 Raja-Raja 17:1-24 dan Yakobus 5:17-18

Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – 1 Raja-Raja 17:1-24 dan Yakobus 5:17-18

Categories:

Khotbah Minggu 10 Januari 2021

Hamba Tuhan yang sejati (Elia)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Elia bagian yang pertama yaitu hamba Tuhan yang sejati. Tuhan memanggil Elia untuk menyatakan siapa diri Tuhan dalam kasih-Nya, kuasa-Nya, dan lainnya. Kita akan melihat 1 Raja-Raja 17:1-24 dan Yakobus 5:17-18.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kasih Allah tidak pernah berkesudahan untuk Israel, walaupun Israel selalu menyakiti hati Allah. Elia adalah tokoh yang penting dalam masa para raja. Cara Allah menginterupsi sejarah manusia selalu unik. Di mana Allah tiba-tiba memunculkan nabi Elia. Kita tidak diberitahu soal bagaimana Elia dipanggil, kapan ia dipanggil, dan karakteristik panggilannya. Ia tiba-tiba muncul. Ini cara unik Allah menginterupsi. Apa tujuan Allah memakai nabi Elia pada zaman itu? Kehendak Tuhan harus dinyatakan dalam sejarah manusia. Mengapa Allah melibatkan janda di berkaitan dengan peristiwa ini? Kita mungkin memikirkan cara unik bagaimana Injil bisa diberitakan ke Sidon. Namun ternyata Tuhan memakai janda di Sarfat yang sangat miskin yang hanya memiliki sedikit tepung dan minyak. Tuhan bisa menyatakan diri-Nya melalui orang-orang yang terbatas namun jujur. Mengapa Allah tidak langsung menegur Izebel tetapi Allah menyatakan diri kepada janda di Sarfat terlebih dahulu? Ada rahasia yang unik di sini. Allah menghargai manusia juga berdasarkan kejujurannya. Alkitab menyatakan bahwa janda itu dihargai oleh Tuhan. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yakobus 1:27). Injil harus nyata dalam kemurahan yang bisa dirasakan semua orang.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Panggilan, ketaatan, dan pemeliharaan Tuhan

            Sebagai anak Tuhan kita punya panggilan khusus. Secara pribadi itu adalah pertobatan kita. Panggilan itu bisa datang dalam momen atau peristiwa apapun. Panggilan khusus itu adalah panggilan di mana kita sungguh-sungguh mengenal pribadi Tuhan dan pribadi kita. Elia memiliki panggilan khusus dan panggilan sebagai nabi. Kita akan mempelajari apa kaitan antara panggilan, ketaatan, dan pemeliharaan Tuhan. Pada zaman itu, ahab sudah sangat tersesat karena istrinya, Izebel, yang membawanya menyembah berhala orang-orang Sidon. Izebel memelihara para nabi Baal pada zaman itu. Jadi Israel kehilangan identitas sebagai anak-anak Tuhan karena pemimpinnya sesat. Israel telah kehilangan hati untuk menyembah Tuhan. Jadi situasi pada saat itu adalah seperti situasi tanpa pengharapan iman dan pertobatan. Pada saat itu tidak mudah berbicara kepada raja. Jika raja ditegur dan tidak senang, maka ia bisa langsung membunuh orang yang menegurnya. Dalam masa seperti itu, Tuhan memunculkan nabi Elia untuk memberitakan hukuman karena dosa-dosa Ahab. Tuhan memberikan masa kekeringan selama 3,5 tahun. Sawah yang tidak mendapatkan air selama 2 bulan akan menjadi retak. Jadi kekeringan selama 3,5 tahun itu begitu parah. Pasti orang-orang pada saat itu kebingungan. Akhirnya air pasti menjadi mahal karena tidak ada hujan.

 

            Elia memberitakan Firman Tuhan pada saat itu namun Ahab tidak peduli. Keberanian hamba Tuhan untuk memberikan Firman Tuhan yang menegur dosa kepada siapapun itu mutlak perlu. Jabatan nabi saat ini tidak ada lagi, namun fungsi nabi sudah diberikan kepada kita semua. Kristus adalah raja, imam, dan nabi. Kita harus menegur dosa supaya orang-orang kembali kepada Tuhan. Namun Elia menegur Ahab dengan sopan. Ia menghadap raja Ahab. Pada saat itu Ahab tidak memiliki iman yang nyata. Seharusnya Ahab bertanya bagaimana agar masa kekeringan itu berakhir. Jadi Ahab benar-benar mati rohani. Ia tidak menganggap Firman Tuhan. Namun mengapa Tuhan masih mengutus Elia untuk berbicara kepada Ahab? Kasih Tuhan tidak pernah berkesudahan untuk Israel. Tuhan tahu bahwa Ahab tidak akan peduli, namun Tuhan tetap mengutus Elia. Cara Tuhan memelihara nabi Elia itu unik. Elia diminta pergi ke sungai Kerit dan ia taat. Elia pada saat itu diminta untuk bersembunyi. Jadi Elia saat itu sedang dicari-cari oleh Ahab. Ahab tidak peduli akan Firman Tuhan, namun setelah kekeringan itu terjadi, Ahab baru kemudian mencari Elia. Di sungai Kerit itu Allah mengutus burung gagak untuk memberi Elia makan pagi dan petang. Jadi Elia menyatakan ketaatannya. Ia tidak berdebat dengan Tuhan tetapi percaya penuh. Allah bisa memakai hewan untuk menjalankan kehendak-Nya. Burung gagak itu tidak signifikan dan tidak indah, namun Tuhan bisa memakainya. Elia menyaksikan cara pemeliharaan Tuhan melalui burung gagak. Pasti Elia merasa bersyukur kepada Tuhan. Tuhan bisa memelihara kita melalui cara-cara yang kita tidak duga. Dalam masa persembunyian itu Elia tetap taat. Panggilan, ketaatan, dan pemeliharaan Tuhan itu pasti satu paket.

 

2) Iman, doa, dan kuasa Tuhan

             Setiap hamba Tuhan selain taat menjalankan kehendak Tuhan juga akan bergaul dengan sesama manusia. Setelah kekeringan itu makin parah, Tuhan mengutus Elia pergi ke rumah janda di Sarfat. Janda itu ternyata satu suku dengan Izebel yaitu orang Sidon yang biasa menyembah berhala. Elia melangkah dengan iman menuju Sarfat. Ia tahu bahwa pimpinan Tuhan tidak pernah salah. Jadi kita tidak boleh mengandalkan rasio kita lebih dari pimpinan Tuhan. Pertemuan itu bukanlah pertemuan yang biasa. Janda dan anaknya itu sudah siap mati ketika mereka mengumpulkan kayu. Mereka berpikir bahwa pengharapan sudah tidak ada, namun kemudian mereka bertemu dengan Elia. Elia meminta minum dan juga meminta roti. Hal itu pasti mengagetkan janda itu. Pertanyaan Elia itu menyulitkan mereka. Janda itu mau mengolah dan memberikan roti kepada Elia dan kemudian Elia menyatakan pemeliharaan Tuhan kepada mereka. Kehadiran Elia membawa pengharapan kepada janda di Sarfat melalui tepung dan minyak. Elia dipanggil untuk menyatakan pengharapan yang baru kepada Israel, namun itu dimulai dengan Elia memberi pengharapan kepada janda di Sarfat yang sudah siap untuk mati. Apakah janda ini orang penting sehingga Tuhan memeliharanya? Rahab menjadi orang penting karena ia membantu dua orang pengintai Israel. Jadi Tuhan bisa memakai orang-orang yang kelihatan tidak penting untuk melakukan pekerjaan yang penting. Alkitab tidak memberitahu kita siapa janda itu. Bahkan namanya pun kita tidak tahu. Janda itu menyapa Elia dengan sopan yaitu ‘abdi Allah’. ia tidak curiga kepada Elia ketika mau menumpang di rumahnya. Janda itu jujur dan rendah hati. Elia tahu bahwa janda itu mengalami ketakutan. Kemudian ia menyatakan bahwa minyak dan tepungnya tidak akan menjadi habis. Jadi janda dan anaknya itu tidak jadi mati kelaparan. Jadi selama 3,5 tahun setiap hari janda dan anaknya itu melihat bagaimana Tuhan memelihara.

 

            Setelah itu Alkitab menyatakan bahwa anak janda itu mengalami penyakit yang berat sampai ia meninggal. Ia kemudian bertanya kepada Elia “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1 Raja-Raja 17:18). Elia tidak menjawabnya. Ia langsung membawa anak itu ke atas dan berdoa kepada Tuhan “Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?” (ayat 20). Elia juga berdoa agar anak tersebut bisa hidup kembali dan Allah mendengar doanya. Ia kemudian membawa anak itu kembali kepada ibunya. Mukjizat Tuhan dalam bagian ini dinyatakan secara pribadi, bukan dipertontonkan di depan umum. Kuasa Tuhan tidak untuk dinyatakan secara murahan. Setelah anak itu hidup kembali, janda itu bersyukur dan berkata “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar” (ayat 24). Jadi janda di Sarfat menyaksikan kuasa Tuhan untuk kedua kalinya sampai ia mengakui siapa Elia sebagai hamba Tuhan. Semua ini membuat janda dan anaknya itu menjadi orang percaya dan menjadikan mereka saksi Tuhan di Sarfat. Mereka melihat bahwa Allah itu sungguh berbeda dari berhala yang orang Sidon sembah. Berita Natal itu juga pertama-tama diberitakan kepada para gembala, yaitu orang-orang yang sederhana.

 

            Elia pasti gentar karena tidak pernah membangkitkan orang mati, namun ia bergantung pada Tuhan. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b). Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya (Yakobus 5:17-18). Orang benar adalah orang yang selalu mau mengerti kehendak Tuhan dan waktu Tuhan. Ia tidak pernah memaksakan waktu dan kehendaknya sendiri. Jadi dalam doa kita mau mengerti kehendak Tuhan, bukan sebaliknya. Kita bisa cenderung terlalu bergantung pada rasio dan tidak bergantung pada Tuhan melalui doa. Kita bisa tidak mau berdoa karena bergantung pada masa lalu yang membanggakan atau yang menyatakan kehebatan kita. Kita bergantung kepada Allah karena Ia pasti memelihara kita. Yesus berkata: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:31-33). Kekhawatiran akan terus bertambah jika kita terus khawatir, namun iman akan menghilangkan kekhawatiran. Allah kita adalah Allah yang mahakuasa. Ia adalah Allah yang mampu membangkitkan orang mati.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Sejarah keselamatan Allah untuk umat pilihan-Nya selalu nyata di dalam sejarah manusia. Ahab membuat sejarah kematian. Ia memilih Izebel karena kecantikan, namun ia tidak pernah peduli pada kerohanian. Namun Tuhan mengubah sejarah dan membawa Israel kembali beribadah kepada Tuhan melalui Elia.

 

2) Dalam situasi yang suram, Allah bisa memunculkan hamba-Nya yang sejati untuk menyatakan pertobatan kepada Allah. Kita hidup bergantung kepada Tuhan. Ia pasti memelihara kita. Dalam masa pandemi ini pun Tuhan tetap bisa menyatakan kebaikan-Nya.

 

3) Pertolongan Tuhan selalu tepat waktu untuk setiap orang yang dikasihi-Nya. Janda yang berpikir bahwa dirinya akan mati sebentar lagi ternyata mendapatkan belas kasihan Tuhan. Ia tidak punya keluarga yang bisa menolongnya, namun ternyata Tuhan menolongnya. Jadi kita hidup bergantung kepada Tuhan.

 

4) Elia adalah hamba Tuhan yang sejati melalui imannya, ketaatannya, keberaniannya, kuasanya, dan pelayanannya bagi Allah. Elia sudah membuktikan bahwa pelayanannya mengubah zaman agar orang-orang melihat kepada Tuhan, bukan Ahab, Izebel, atau berhala. Dalam masa ini pun kita harus terus melayani Tuhan dengan cara-cara yang ada. Jadi kita bisa terus produktif untuk kemuliaan Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).