Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – Bagian 2

Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – Bagian 2

Categories:

Khotbah Minggu 17 Januari 2021

Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – Bagian 2 

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Elia bagian yang kedua. Elia adalah hamba Tuhan yang sejati. Ia berani menantang zaman untuk menegakkan kebenaran. Kita akan melihat 1 Raja-Raja 18:1-46.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Allah dalam kedaulatan-Nya dapat menjaga hamba-hamba-Nya dari kekuasaan pemerintah, dan lainnya. Sebagai contoh Allah memakai Obaja dan Elia dari kejahatan Izebel. Izebel membunuh nabi-nabi yang benar, namun Tuhan memelihara 100 nabi melalui kebaikan Obaja yang adalah kepala istana dalam kerajaan Israel pada saat itu. Mengapa Ahab tetap tidak bertobat walaupun sudah diberi kesulitan dan penderitaan? Pada saat itu Israel mengalami kekeringan panjang. Jadi tidak ada rumput maupun air. Pada masa seperti ini seharusnya Ahab mencari kehendak Tuhan, namun ia tidak melakukan itu. Di sini kita belajar bahwa jika Tuhan tidak melawat manusia, maka manusia tidak mungkin bertobat. Ahab di bawah pengaruh Izebel sudah menutup hati dan kerohanian. Dari mana sumber keberanian Elia yang berani menantang nabi-nabi palsu? Itu adalah tontonan yang luar biasa. Seluruh Israel datang dan menyaksikan Elia dan para nabi palsu itu di gunung Karmel atas perintah Ahab. Bagaimana Elia tahu pasti bahwa itu adalah kehendak Tuhan? Mengapa ia begitu berani? Mungkinkah pada saat itu kuasa nabi-nabi Baal juga terjadi? Saat Musa dan Harun melempar tongkat, tongkat itu berubah menjadi ular. Para ahli sihir Mesir juga melakukan hal yang sama. Jadi mungkin saja para nabi Baal bisa menunjukkan kuasa. Namun mengapa hal itu tidak terjadi dalam bagian ini? Mengapa Allah mengizinkan Elia membunuh nabi-nabi Baal itu dengan kejam? Elia membunuh 450 nabi Baal di sungai Kison. Apakah ini pelanggaran hukum? Itu adalah perintah Tuhan dari Ulangan 13:5. Hal ini terlihat kejam, namun sebenarnya ini berkaitan dengan kesucian Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Menantang zaman

            Apa ciri hamba Tuhan yang sejati? Ia berani menantang zaman sehingga orang-orang kembali kepada Tuhan. Mengapa zaman bisa menjadi rusak dan mengandung kejahatan? Dunia sudah dikuasai oleh Setan. Jadi Setan dapat membuat kekacauan zaman, menyesatkan manusia, dan menghancurkan orang-orang yang mau mencari Tuhan. Namun Setan tidak bisa menghancurkan iman kita. Ia bisa mengganggu iman kita dengan mengacaukan zaman. Peperangan zaman adalah hal yang harus kita sadari. GRII disebut sebagai suatu gerakan karena mau membawa manusia kembali kepada Tuhan. Manusia dalam setiap zaman mengalami kebodohan, kefanaan, dan kesesatan karena tidak mengerti Firman Tuhan. Iblis menyesatkan manusia dengan hal-hal yang menarik sehingga mereka tidak mengenal Tuhan.

 

            Pada masa pemerintahan Ahab, Izebel dari Sidon menjadi ratu. Penduduk Sidon adalah penyembah Baal, maka Izebel juga demikian. Ahab memilihnya karena kecantikannya dan bukan kerohaniannya. Jadi ia tidak mengerti standar Tuhan untuk pasangan hidup. Kehadiran Izebel menjadi racun rohani yang menyesatkan Israel sehingga mereka menyembah Baal. Jadi kita harus berhati-hati dalam memilih pasangan karena pasangan yang salah bisa membuat kita tersesat. Salomo pun jatuh karena istri-istrinya. Dalam keluarga, setiap anggota bisa saling memengaruhi. Mengapa Ahab tidak sadar dirinya telah disesatkan oleh Izebel? Apakah ia telah menjadi buta karena kecantikan dan kenikmatan? Ahab dari mulanya tidak punya iman yang sungguh-sungguh sebagai raja. Ia dipilih karena garis keturunan, bukan kualitas iman. Kepemimpinan Gereja tidak boleh dilanjutkan dengan standar garis keturunan. Pemimpin Gereja harus dipilih berdasarkan kualitas rohani. Dalam kitab Raja-Raja, setiap raja yang tidak beriman pasti akan menyesatkan Israel. Salah satunya adalah Ahab. Izebel tidak mau ada penyembah dan nabi Allah Yahweh. Jadi Izebel membunuh para hamba Tuhan yang sejati pada saat itu. Namun Tuhan menyembunyikan 100 nabi yang benar melalui tangan Obaja, kepala istana kerajaan Israel. Dalam kebaikan Tuhan, selama bertahun-tahun Ahab tidak tahu bahwa Obaja melakukan hal yang demikian. Tuhan juga memelihara nabi Elia. Di sini kita melihat bahwa mutiara iman dari Tuhan tidak mungkin sirna karena ada kedaulatan Tuhan. Mercusuar iman tidak mungkin hancur karena Tuhan bisa menopang. Izebel bisa memakai kuasanya untuk membunuh para hamba Tuhan, namun ia tidak bisa menghancurkan iman yang sejati dari Obaja dan tidak bisa mematikan gerakan rohani dari Elia. Cara Tuhan menjaga umat-Nya itu ajaib. Ahab dan Izebel pasti memiliki orang-orang intel kerajaan yang bisa mencari tahu tentang para nabi yang disembunyikan Obaja, namun Tuhan menjaga sehingga mereka tidak tahu.

 

            Elia tampil untuk menegur dosa Ahab. Sebelumnya Elia bertemu dengan Obaja dan memintanya menyampaikan pesan kepada Ahab, namun Obaja tidak berani. Jadi Obaja takut kepada Tuhan, namun ia juga takut kepada Ahab. Jika Ahab tersinggung, maka Obaja bisa dibunuh. Namun setelah Elia berbicara dengan Obaja, akhirnya Obaja menyampaikan pesan Elia kepada Ahab. Setelah mendengar dari Obaja, Ahab pergi untuk menemui Elia (ayat 16). Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” (ayat 17). Bukan Elia yang mencelakakan Israel, namun mengapa Ahab berpikir demikian? Itu karena Elia pernah datang kepada Ahab dan menubuatkan masa kekeringan itu. Ahab melihat Elia bukan sebagai hamba Tuhan atau nabi Tuhan tetapi sebagai orang yang memiliki kuasa mistik. Itu adalah pengertian orang Sidon yang mistik pada saat itu. Jadi cara pandang Ahab sudah tercemar. Seharusnya ia memandang dari kacamata Tuhan, namun saat itu ia memandang secara mistis. Manusia yang tersesat pasti tersesat dalam cara pandang. Akhirnya itu memengaruhi pembuatan keputusannya. Maka dari itu Roma 12:2 menyatakan: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Ahab tidak memiliki benih rohani. Ia tidak takut kepada Tuhan. Ia tidak memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan Elia tetapi malah menuduh Elia.

 

            Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. (ayat 18). Elia memberikan jawaban yang keras kepada Ahab. Saat itu jika Ahab marah maka Elia bisa saja dibunuh, namun Elia tetap berani menyampaikan kebenaran. Ahab sudah menjadi pemimpin yang menyesatkan Israel. Ia tidak mengajarkan Israel untuk menyembah Allah yang sejati. Teguran yang keras itu perlu karena Ahab sudah keluar jalur iman. Elia juga menyatakan bahwa itu adalah kesalahan keluarganya. Dosa keluarganya adalah membiarkan, bahkan mendukung penyembahan Baal di Israel. Tuhan menghukum Israel dengan menahan hujan sehingga Israel mengalami kekeringan. Tuhan bisa memakai dan bekerja dalam kelemahan dan keterbatasan kita sehingga kita melihat kepada Tuhan. Bangsa Israel telah meninggalkan perintah Tuhan dan lebih mendengarkan suara Baal. Kita harus punya kepekaan untuk membedakan mana suara Tuhan dan mana suara Setan atau manusia. Kita harus peka akan suara hati nurani kita yang sudah disucikan oleh Tuhan. Ahab tidak peka akan suara Tuhan. Ia membiarkan Izebel membunuh semua nabi Tuhan sehingga penyembahan Baal tersebar dan berkembang. Ahab tidak hanya membiarkan tetapi juga ikut menyembah Baal. Yehezkiel diperintahkan oleh Tuhan untuk menegur orang-orang yang berdosa. Jika Yehezkiel tidak menegur, maka Tuhan akan meminta tanggung jawab dari Yehezkiel (Yehezkiel 3:16-21). Di sini Elia berani menantang zaman dengan menegur Ahab.

 

            Elia kemudian mengatakan: Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel” (ayat 19). Elia begitu berani. Ia tidak hanya menegur Ahab tetapi juga memberi perintah kepadanya. Jadi kita bisa melihat bahwa kuasa Elia di sini lebih besar. Kemarahan Elia adalah kemarahan yang suci karena mewakili murka Tuhan. Setelah Elia memberi perintah, Ahab mengirim orang untuk mengumpulkan para nabi Baal dan seluruh Israel. Ayat ke-19 menyebutkan bahwa ada 450 nabi Baal dan 400 nabi Asyera. Jadi Izebel memberi makan kepada 850 nabi sesat setiap hari. Ia memelihara orang-orang sesat dalam kerajaan Israel. Alkitab menuliskan bahwa hanya para nabi Baal-lah yang datang ke gunung Karmel (ayat 22). Alkitab tidak mencatat mengapa para nabi Asyera tidak datang. Ahab tidak berdiskusi dengan Izebel tentang perintah Elia. Setelah para nabi Baal itu dibunuh baru kemudian Izebel bertindak (pasal 19). Mengapa Ahab taat kepada Elia? Ahab mungkin berpikir bahwa Elia akan berdoa agar hujan turun dan tidak akan membunuh para nabi Baal. Jadi Ahab hanya berpikir pendek pada saat itu. Keberanian nabi Elia untuk menantang zaman dan menegur raja itu luar biasa. Ia berani memanggil seluruh Israel dan para nabi Baal untuk menyatakan kebesaran Tuhan.

 

2) Peperangan rohani

            Elia tahu bahwa dengan menjadi hamba Tuhan ia harus punya spirit peperangan rohani. Ia melakukan peperangan rohani terhadap para nabi Baal. Melalui Elia, Tuhan mempermalukan para nabi sesat. Ulangan 13:5 Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan–dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Ayat ini jelas menyatakan bahwa para nabi palsu harus dibunuh. Setelah semuanya berkumpul, nabi Elia meminta agar hewan korban disiapkan. Elia menyuruh para nabi Baal untuk mempersembahkan korban terlebih dahulu dan memberi mereka kesempatan dari pagi sampai petang untuk memanggil Baal. Jadi sekitar 6-7 jam para nabi Baal memanggil Baal sampai pada akhirnya mereka kerasukan. Selama seharian itu tidak boleh ada orang Israel yang pulang. Mereka terus menyaksikan para nabi Baal memanggil Baal sampai petang namun tidak ada jawaban. Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: “Ya Baal, jawablah kami!” Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.” Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian (ayat 26-29). Para nabi Baal memakai cara-cara mistis untuk memanggil Baal seperti mengulang-ulang kata-kata dalam doa. Doa orang Kristen tidak boleh seperti ini. Kita bisa menyimpulkan bahwa para nabi Baal beribadah secara kacau.

 

            Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali” (ayat 36-37). Elia rindu agar kemuliaan Allah dinyatakan di tengah-tengah Israel sehingga mereka mengenal-Nya. Jadi ia bukan mau mempertontonkan kehebatan dirinya. Kedua, Elia mau agar bangsa Israel bertobat. Ia juga menyatakan bahwa ia melakukan itu karena Firman Tuhan. Dalam ‘Doa Bapa Kami’, yang lebih baik disebut sebagai ‘Doa Orang Percaya’, kita pertama-tama diajarkan untuk memerhatikan kekudusan namun Allah. Tidak ada bagian yang bertele-tele dalam doa ini. Ketika kita berdoa, kita percaya bahwa Allah tahu apa yang terbaik untuk kita. Fokus kita adalah berdoa untuk Kerajaan Allah, bukan untuk diri sendiri. Doa yang berkaitan dengan memuliakan dan memuji Tuhan itu harus lebih banyak porsinya daripada doa permohonan. Doa peperangan rohani yang dinaikkan oleh Elia itu sangat singkat. Ia tidak berdoa dari pagi sampai petang seperti para nabi Baal.

 

            Setelah Elia selesai berdoa, Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya (ayat 38). Ini pasti menjadi tontontan yang spektakuler di mata semua orang pada saat itu. ada penafsir yang menyatakan bahwa peristiwa itu menunjukkan ibadah yang sejati. Dalam bagian ini Tuhan menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta. Dalam mukjizat itu bukan nama Elia tetapi nama Tuhan yang dimuliakan. Di sana Tuhan juga menyatakan bahwa para nabi Baal tidak dapat berbuat apa-apa. Api itu turun dari surga dan menunjukkan kemarahan sekaligus kemuliaan Tuhan. Seluruh rakyat kemudian menyatakan bahwa Allah Yahweh adalah Allah yang sejati. Nabi Elia kemudian memerintahkan agar para nabi Baal itu ditangkap dan dibunuh.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Kesejatian hamba Tuhan dilihat dari keberaniannya menegur dosa-dosa dunia agar bertobat kepada Allah. Kita harus pertama-tama berani menegur dosa pribadi kita serta memperbaiki diri dan kemudian kita harus berani menegur dosa dunia. Ini agar semua orang kembali kepada Tuhan. Kita menegur bukan untuk mempermalukan atau mematikan karakter orang lain.

 

2) Tuhan memakai nabi Elia di dalam peperangan rohani dengan nabi Baal supaya bangsa Israel bertobat. Peperangan rohani yang kita lakukan setiap hari dan setiap saat itu berkaitan dengan tujuan supaya orang-orang dapat melihat kepada Tuhan. Tuhan memakai pandemi ini agar kita senantiasa waspada iman. Kita juga melihat mutasi virus yang baru dan bencana-bencana alam yang baru terjadi. Semua itu terlihat mengerikan, namun kita harus bisa melihat dari kacamata iman. Dalam semua ini, kita sadar bahwa kita begitu kecil dan lemah. Kita semua membutuhkan Tuhan. Iman kita harus tetap maju dalam situasi seperti ini. Tidak ada artinya jika kita sehat secara fisik namun kesehatan rohani kita menjadi tidak baik. Kita juga harus berhati-hati terhadap ajaran sesat yang menyatakan bahwa menerima vaksin itu sama dengan menyangkali iman. Alkitab tidak pernah mengajarkan hal yang demikian.

 

3) Peperangan rohani dan perjuangan menegakkan kebenaran selalu harus dikerjakan. Di dalam segala situasi dan segala zaman, ini semua harus kita kerjakan. Itu adalah hal yang dilakukan Elia. Ini adalah tugas kita semua sebagai orang percaya. Kita bisa menghadapi ketakutan, namun kita tidak boleh kehilangan iman. Kita harus bisa menjadi anak-anak Tuhan yang menggarami dan menerangi dunia yang gelap ini.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).