Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – Bagian 3: Karakter yang Berubah dari Pemberani menjadi Penakut dan Depresi (1 Raja-Raja 19:1-8)

Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – Bagian 3: Karakter yang Berubah dari Pemberani menjadi Penakut dan Depresi (1 Raja-Raja 19:1-8)

Categories:

Khotbah Minggu 24 Januari 2021

Hamba Tuhan yang Sejati (Elia) – Bagian 3

Karakter yang Berubah: Dari Pemberani menjadi Penakut dan Depresi

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Elia adalah hamba Tuhan yang sejati namun ia bisa mengalami ketakutan dan depresi. Ia sampai pada titik yang paling rendah sampai ia meminta untuk mati. Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak selalu kuat. Kita bisa mengalami depresi, namun hal yang terpenting adalah solusi dan kemenangan iman yang sejati. Kita akan melihat Firman Tuhan dari 1 Raja-Raja 19:1-8. Elia pasti mendapatkan kekuatan dari Tuhan ketika ia bisa berjalan selama 40 hari dari makanan itu.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apakah seorang anak Tuhan (hamba Tuhan) bisa mengalami ketakutan dan mengalami depresi? Pasti bisa. Namun masa itu tidak akan berlangsung terus menerus dan ia bisa menyikapi itu dengan iman. Apa yang menyebabkan seorang anak Tuhan (hamba Tuhan) bisa depresi? Depresi karena dosa itu wajar, namun depresi karena ancaman seperti Elia itu juga mungkin. Depresi bisa terjadi karena kesulitan ekonomi, pergumulan hidup, dan lainnya. Alkitab mencatat bahwa ada anak-anak Tuhan yang mengalami depresi sampai meminta kematian. Layakkah Elia mengubah karakternya menjadi penakut ketika mendengar ancaman Izebel? Kita pasti berpikir bahwa ini tidak layak. Apa yang menyebabkan Elia lupa berdoa ketika mendengar ancaman Izebel? Apakah ia mengalami ketakutan yang berlebihan karena Izebel pernah membunuh orang-orang yang menyembah Tuhan? Mengapa ia tidak berdoa dan bertanya kepada Tuhan? Bagaimana perasaan Allah ketika melihat Elia lari dari ancaman Izebel? Mengapa Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk membangunkan Elia dan memberikan makanan sampai dua kali? Mengapa Tuhan masih memberikan belas kasihan dan masih mengutus Elia serta memberikan pembaruan iman? Mengapa Tuhan membuat Elia berjalan selama 40 hari dan 40 malam? Di dalam perjalanan itu Elia tidak mengalami suatu bahaya apapun. Setelah itu Allah bertanya: Apakah kerjamu di sini, hai Elia? (ayat 9). Pertanyaan itu membahas jati diri Elia. Itu membukakan konsepnya tentang apa yang seharusnya dikerjakan olehnya.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Karakter yang Berubah dari Pemberani menjadi Penakut

            Elia lari ke Bersyeba lalu lanjut ke padang gurun (1 Raja-Raja 19:3-4). Ia meninggalkan bujangnya dan berjalan seharian. Ini pasti merupakan perjalanan yang panas dan melelahkan. Mengapa ia bisa seperti berjalan tanpa tujuan? Ia mengalami ketakutan dan mau menghindar dari ancaman Izebel. Ia berpikir bahwa ia akan aman jika berjalan sendirian di padang gurun. Tidak semua orang berani berjalan di padang gurun di tengah hari yang panas. Jadi inilah pilihan Elia dalam keputus-asaan.

 

            Elia mengalami kelelahan fisik karena berjalan seharian di padang gurun, setelah itu berbaring dan terus tidur (malas hidup). Hal ini menunjukkan keputus-asaan, depresi, dan malas hidup. Orang yang depresi tidak mau mengerjakan hal yang berarti. Ia hanya mau tidur dan bermalas-malasan. Jadi Elia sungguh-sungguh masuk ke dalam titik depresi hidup.

 

            Elia minta mati karena mengalami depresi (ayat 4b). Padahal sebelumnya imannya luar biasa tangguh dan tidak takut mati. Elia berkata: Cukuplah itu! Jadi ia berpikir bahwa kematian para nabi Baal itu sudah merupakan akhir. Ia berpikir bahwa setelah itu tidak akan ada lagi ancaman dan tantangan. Namun ternyata semua itu belum berakhir. Ancaman Izebel dilihat sebagai ancaman yang lebih besar daripada 450 nabi Baal dan 450 nabi Asyera. Akhirnya ia tidak menghadapi tantangan itu dengan iman. Setelah itu ia ingin mati. Perubahan Elia begitu luar biasa. Awalnya ia berani menantang ratusan nabi Baal dan menyatakan kebesaran Tuhan di depan seluruh orang Israel. Namun kemudian ia menjadi takut kepada Izebel. Mengapa ini bisa terjadi? Ada yang menyatakan bahwa Elia takut kepada wanita. Ini belum tentu benar. Hal yang jelas kita lihat di sini adalah perubahan karakter Elia. Dalam depresinya, ia menyatakan emosi yang tidak suci yaitu ia meminta kematian. Layakkah ia meminta demikian? Ada hamba-hamba Tuhan besar yang pernah mengalami hal yang sama.

 

2) Jadi Apa Masalah Elia?

            Seandainya Elia mengancam balik Izebel ketika diberikan ancaman, mungkin saja Izebel lari dari Elia. Izebel hanya mengancam, namun ia belum tentu bertindak. Namun mengapa Elia tidak melakukan itu? Jadi apa masalah Elia? Apakah Elia mengalami penyakit psikologis? Belum tentu demikian. Penyebabnya adalah Elia meninggalkan pelayanan tanpa izin Tuhan. Elia seharusnya berdoa ketika ia menerima ancaman itu. Saat menghadapi para nabi Baal, imannya begitu jelas, namun ketika menghadapi Izebel, imannya menjadi tidak jelas. Apa yang menyebabkan kesenjangan ini? Mengapa ia tidak bertanya kepada Tuhan? Ketika Elia tidak bertanya kepada Tuhan, akibatnya menjadi fatal. Akhirnya ia mengalami kesepian sampai ia meminta kematian.

 

3) Analisa Kasus Elia

            Elia memiliki kekuatan rohani (keberanian yang suci) menantang 450 nabi Baal. Elia mengalami kelelahan. Ia membunuh 450 nabi Baal dan sebelumnya ia menunggu para nabi Baal memberikan persembahan dari pagi sampai petang. Semua ini membuatnya lelah. Jadi Elia mengalami keletihan secara jasmani dan rohani. Setelah itu ia diancam oleh Izebel (1 Raja-Raja 19:4). Di sana Elia langsung khawatir, takut, depresi, dan mau mati saja. Setelah membunuh para nabi Baal, Elia tidak beribadah dan tidak memberikan ucapan syukur. Setelah kita melayani Tuhan, kita seharusnya beribadah secara pribadi dan memohon agar kerohanian kita dipulihkan kembali. Namun Elia lari dari masalah dalam dirinya sendiri. Ini karena ia tidak melibatkan Tuhan. Ia tidak meminta pimpinan Tuhan. Elia meratapi dirinya dan tidak mau makan. Elia berkata: aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku. Ia membandingkan diri dengan orang-orang sebelumnya padahal dirinya berarti di mata Tuhan. Mengapa Elia merasa dirinya tidak berarti? Bukankah Elia jauh lebih baik? Ia mengasihani diri dan meratapi diri. Jadi tingkat depresinya sudah begitu berat.

 

            Ia berjalan ke padang gurun dengan tidak membawa apa-apa. Jika kita mau berjalan jauh, maka kita pasti menyiapkan barang-barang dan makanan serta minuman. Namun Elia tidak membawa apa-apa. Ini menunjukkan ketakutan yang berlebihan. Ketika sampai di pohon arar, ia tertidur. Ia tidak mau makan tetapi mau menyakiti diri. Kita harus berhati-hati ketika kita mengalami depresi dan tidak melibatkan Tuhan untuk mendapatkan kekuatan rohani. Itu yang dialami oleh Elia. Hati Tuhan pasti sangat sedih melihat hamba-Nya yang mengalami kemunduran iman. Namun Tuhan mengutus malaikat-Nya kepada Elia. Seharusnya Elia kaget, namun ia tidak memberikan reaksi apapun. Elia tidak bertanya tetapi hanya bangun, makan, lalu kemudian tidur lagi. Ia tidak mengucapkan syukur sama sekali. Namun Tuhan mengerti Elia dan memberikan belas kasihan. Tuhan tahu bahwa Elia sedang sakit secara iman.

 

4) Tinjauan Psikis Analitis dan Kritis: Mengapa Elia sampai Depresi – mau Mati

            Dalam kelelahan fisik dan rohani, Elia berpikir semua peperangan iman melawan nabi Baal sudah berakhir namun ternyata belum berakhir. Ia melihat perlawanan terhadap nabi Baal sebagai akhir dari pelayanannya. Ada orang-orang yang frustrasi terhadap Covid-19 karena mereka berpikir bahwa di tahun yang baru virus ini akan hilang. Mereka berpikir bahwa masa sulit sudah berakhir. Dalam hidup, kita tidak boleh berpikir ‘akhirnya’ (poin omega). Penjahat di sebelah Yesus tidak melihat poin omega. Ia melihat poin alfa dalam kerohaniannya. Imannya mendorongnya menyatakan kesaksian yang tepat. Setelah itu Yesus memberikan janji bahwa ia akan bersama dengan Yesus di Firdaus. Kita tidak boleh berpikir ‘pensiun’ dalam pelayanan. Elia hanya memikirkan kesuksesan, bukan kesetiaan. Nabi Yeremia memberitakan Injil, namun tidak ada satupun yang bertobat. Jadi Yeremia itu setia namun ia tidak melihat pertobatan Israel terjadi dalam masa hidupnya. Dalam masa pandemi ini, Tuhan mau melihat kesetiaan kita. Apakah kita mengalami kemunduran rohani dalam masa pandemi ini? Iman yang sejati pasti menghasilkan buah kesetiaan. Kita tidak boleh sampai hanya mengejar kesuksesan. Jadi kita tidak boleh berkata ‘akhirnya’. Kita tidak boleh berpikir baru mau melayani setelah masa pandemi berakhir. Virus akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang. Elia berpikir bahwa setelah para nabi Baal dibunuh semuanya telah berakhir, namun ternyata belum berakhir. Kita pun tidak boleh berpikir bahwa pelayanan kita berakhir pada usia tertentu. Kita bisa berhenti dari jabatan tertentu di Gereja, namun itu bukan berarti bahwa pelayanan kita telah berakhir. Tuhan mau Gereja-Nya mengalami kesatuan dan bertumbuh ke arah Kristus. Namun Elia mengalami kesepian dalam depresinya.

 

            Keberanian rohani Elia hilang karena ia tidak melihat Tuhan yang kuat sebagai Pelindungnya dan sebaliknya ia memikirkan ancaman Izebel sangat menakutkan. Pikiran yang demikian membuat Elia ‘lari untuk menyelamatkan dirinya’ (1 Raja-Raja 18:4, 19:3). Ancaman itu terasa lebih besar di mata Elia. Maka dari itu ia ketakutan dan lari untuk menyelamatkan dirinya. Ada orang-orang yang suka play-safe. Mereka selalu melarikan diri dari masalah. Masa pandemi ini juga menyatakan siapa orang-orang yang suka play-safe. Seharusnya Elia mengutamakan kesucian Tuhan, bukan lari dalam ketakutan. Ia ketakutan karena ia tidak melibatkan Tuhan. Ia lebih melihat ini sebagai ancaman daripada peperangan rohani. Kita juga harus berhati-hati dalam hal ini. Kita melihat Covid-19 tidak hanya sebagai peperangan fisik tetapi juga peperangan iman. Kita tidak hanya menjaga fisik tetapi juga menjaga iman. Menjaga iman itu lebih penting.

 

            Elia mengalami rasa takut yang berlebihan karena dihantui pikiran dari ancaman itu (bandingkan dengan Matius 14:30) dan Elia meninggalkan pelayanannya. Elia tidak memiliki keberanian karena ia sudah dikalahkan oleh ketakutan. Pikirannya sudah dikalahkan oleh perasaan takutnya. Ketika Petrus tenggelam, ia berseru meminta tolong kepada Tuhan Yesus. Awalnya Petrus terlihat berani, namun ketika ia merasakan tiupan angin dan merasa takut, ia mulai tenggelam. Di tengah ketakutan itu, ia meminta pertolongan Tuhan. Mengapa Elia tidak melakukan hal yang sama? Ini karena depresinya sudah begitu hebat. Rasio dan imannya sudah dikalahkan oleh ketakutan. Ia berani meninggalkan pelayanan tanpa bertanya kepada Tuhan. Ini adalah kesalahan yang fatal. Jadi kita tidak boleh sampai meninggalkan pelayanan kita karena Covid-19. Ketika kita meninggalkan kerohanian dan pelayanan kita, maka yang dirugikan adalah kita sendiri.

 

            Elia mau mati saja karena ia merasa tidak berguna atau pekerjaannya sia-sia ‘aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku’ (bandingkan dengan Kejadian 25:22 – Ribka, Kejadian 37:35 – Yakub, Bilangan 11:13-15 – Musa, Ayub 14:13 – Ayub). Ketika akan melahirkan, Ribka merasa mau mati saja. Namun kemudian Tuhan memberikan petunjuk kepadanya. Setelah itu ia terus berjuang sampai anak-anaknya lahir. Yakub juga pernah ingin mati karena mendengar bahwa Yusuf sudah mati. Musa yang telah mendengar banyak sungut dari bangsa Israel juga ingin mati. Ayub yang terus diserang oleh teman-temannya dan terus merasakan rasa sakit di tubuhnya juga pernah ingin mati. Elia sebagai hamba Tuhan juga bisa merasakan depresi. Kita pun bisa mengalami depresi, namun kita harus menyikapinya dengan benar. Tuhan bisa memakai situasi untuk melatih iman kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita, jadi kita harus terus berharap kepada Tuhan. Manusia bisa berbuat jahat kepada kita, namun kita tidak boleh marah atau dendam. Semua perkara harus kita serahkan kepada Tuhan. Dalam pelayanan Jonathan Edwards, ada orang-orang yang pernah memfitnahnya. Ia tidak dendam tetapi malah mendoakan mereka. Pada akhirnya mereka bertobat. Tugas kita bukanlah membalas dendam tetapi menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Inilah yang seharusnya Elia lakukan. Jadi ada tokoh-tokoh Alkitab yang mengalami depresi namun tidak bunuh diri. Mereka terus bergaul dengan Tuhan. Dalam kasus Elia, Tuhan-lah yang bertindak mengutus malaikat untuk melayaninya.

 

            Elia merasa tersendiri – kesepian ‘hanya aku seorang dirilah yang masih hidup’ (ayat 10). Ini konsep yang salah dan faktanya tidak demikian. Kenyataannya masih ada orang-orang yang mendukungnya. Kita harus melihat diri kita sebagai anggota tubuh Kristus yang harus mengerjakan pekerjaan Tuhan, bukan merasa kesepian dan tersendiri. Bagaimana perasaan Allah melihat Elia seperti ini? Apa yang Allah lakukan untuk Elia? Elia tertidur dan kemudian malaikat membangunkannya dan menyuruhnya makan. Elia kemudian kembali tidur. Setelah itu malaikat itu datang untuk kedua kalinya dan menyuruhnya makan. Elia kemudian berjalan selama 40 hari dan 40 malam. Itulah cara Tuhan memulihkan Elia. Perjalanannya kira-kira sejauh 150 km. Jadi Tuhan peduli terhadap anak-anaknya. Tuhan turut campur dalam pemulihan Ribka, Yakub, Musa, Ayub, Elia, dan lainnya. Tuhan tidak akan membiarkan masalah menghancurkan kita.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Di dalam melayani Tuhan, hati-hati dengan keletihan rohani dan keletihan mental. Setelah selesai melayani, kita harus memohon penyegaran dari Tuhan. Kekuatan dari Tuhan akan memampukan kita dengan setia melayani Tuhan.

 

2) Hati-hati dengan konsep pelayanan yang salah karena bisa berdampak pada tindakan kita yang salah ketika menghadapi pencobaan hidup. Elia berpikir ‘akhir’ dan ‘pensiun’. Ketika Tuhan memberikan kekuatan, ternyata Elia bisa berjalan selama 40 hari dan 40 malam. Jadi konsep pelayanan kita harus beres. Kita berdoa memohon kepada Tuhan untuk membarui cara pandang kita dalam iman.

 

3) Segala hasil pelayanan harus disikapi dengan syukur dan diserahkan hasilnya untuk kemuliaan Tuhan Yesus. Elia seharusnya mengadakan ibadah syukur setelah orang-orang Israel bertobat. Kita juga harus selalu mengucap syukur setelah setiap pelayanan dan memuliakan Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).