Hamba yang Menderita (Yesaya 53:1-6)

Hamba yang Menderita (Yesaya 53:1-6)

Categories:

Khotbah Minggu 28 Maret 2021

Hamba yang Menderita (Yesaya 53:1-6)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang hamba yang menderita bagian yang pertama. Bagian Alkitab yang kita akan lihat adalah Yesaya 53:1-6.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Mengapa Allah dalam kemuliaan-Nya rela menjadi hamba yang menderita? Allah dalam kemuliaan-Nya senantiasa dipuji, disembah, dan ditinggikan namun Ia rela menjadi manusia dan hamba yang menderita. Apakah penderitaan Kristus adalah panggung sandiwara Allah? Ini pertanyaan teologis yang ditanyakan oleh orang-orang yang mau mengguncang iman orang Kristen. Mereka merasa bahwa manusia tidak mungkin bisa menjalankan semua itu dengan sempurna jika bukan panggung sandiwara. Apakah penderitaan Kristus sebagai hamba yang menderita merupakan suatu keharusan? Mungkinkah kita bisa menerima keselamatan tanpa Kristus harus mati dan bangkit? Apakah ini memang suatu keharusan? Jika memang keharusan, maka ini konsisten dengan Perjanjian Lama yaitu upah dosa ialah maut. Manusia berdosa tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi Kristus memang harus menjalani semua itu. Di sini kita mengerti rahasia kasih Allah kepada kita. Dapatkah manusia di dunia ini bisa melampaui penderitaan Tuhan Yesus? Yesus mengalami penderitaan dari segala aspek, namun ia menjalani hidup-Nya dengan ketaatan sempurna. Ia mengutamakan kehendak Bapa lebih daripada kehendak diri-Nya sendiri. Ia rela meminum cawan murka Allah itu. Kristus mengalami pencobaan namun Ia tidak jatuh dalam dosa. Ia merasakan haus dan lapar namun itu tidak membuat-Nya berdosa. Ia dihina namun ia tidak membalas dengan dosa. Dalam jalan salib ada nilai pengorbanan dan kemuliaan dari Allah.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Hamba yang berkorban

            Yesaya 53 mencatat dengan detail tentang hamba yang berkorban. Ia bukanlah hamba yang meminta untuk dilayani dan dipuji. Pengorbanan-Nya tidak dipedulikan oleh manusia. Tidak ada yang mendukung-Nya. Yesaya 53:1-2 mencatat bahwa Ia tidak tampan dan semarak-Nya tidak ada. Ia bukanlah Pribadi yang diinginkan oleh orang-orang karena rupa-Nya. Yesaya 53:3-4 mencatat bahwa Ia dihina orang-orang ketika Ia disalib. Ia dianggap sebagai penjahat pada saat itu. Orang-orang yang lewat menghina-Nya. Segala penghinaan itu menusuk-Nya. Luka batin itu lebih sakit daripada luka fisik. Namun Yesus tidak menyimpan dendam ataupun membalas dendam. Ini adalah pergumulan yang berat. Biasanya orang-orang tidak akan tahan jika terus menerus dihina. Namun Kristus tetap tenang. Ia menjalani semuanya dalam kesucian sampai akhir. Banyak orang tidak mengerti misi Kristus pada saat itu. Yesaya 53:5-6 mencatat bahwa Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita. Yesaya menyatakan tentang penebusan melalui penggantian. Ini pasti karena Allah Roh Kudus menyatakan itu kepada Yesaya. Kristus hadir sebagai manusia untuk menggantikan kita. Keselamatan hanya bisa hadir dengan cara ini. Bagaimana seluruh nubuat nabi Yesaya (740-701 SM) tentang hamba yang menderita digenapkan? Dengan Ia menjadi hamba yang bergumul.

 

2) Hamba yang bergumul

            Yesus lahir bukan dalam keluarga yang kaya. Ia lahir di kandang hewan. Semuanya harus dijalani dengan perjuangan. Ketika Yusuf mati, Ia harus menjadi tukang kayu menggantikan Yusuf. Jadi semua nubuat Yesaya digenapkan melalui pergumulan dan perjuangan. Semua ini ada dalam pimpinan Tuhan. Ketika Ia akan menebus kita, ia mengalami ketakutan dan kegentaran di taman Getsemani. Taman seharusnya menjadi tempat yang nyaman, namun taman Getsemani menjadi tempat pergumulan Tuhan Yesus. Ia menang dalam pergumulan itu. Markus 14:33-34 mencatat bahwa Kristus sangat takut dan gentar. Yesus tahu bahwa waktunya akan tiba, maka Ia mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke taman Getsemani. Yesus mengambil tempat untuk berdoa “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Markus 14:36). Dalam kemanusiaan-Nya, Ia merasa gentar dan takut. Hal yang luar biasa adalah Ia berdoa kepada Bapa. Sebanyak 3 kali Ia berdoa dan sebanyak 3 kali murid-murid tertidur. Malaikat surga datang untuk menghibur-Nya sehingga Ia bisa menjalankan misi yang besar itu. Misi yang besar itu harus dijalani dengan perjuangan dan pergumulan. Ia tidak histeris ataupun panik. Semua dijalani-Nya dengan tenang meskipun dalam rasa takut dan gentar. Ia menerima kehendak Bapa.

 

            Kita bisa merasakan takut dan gentar, namun kita harus segera berdoa kepada Allah. Zakharia 4:6 Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam. Dalam hidup, kita bisa meratap kepada Tuhan. Semua itu adalah untuk memunculkan kualitas iman kita. Jadi kita tidak boleh menolak pergumulan dan ratapan. Lukas 22:43-44 menyatakan bahwa Kristus semakin sungguh-sungguh berdoa: peluh-Nya menjadi titik darah. Kristus begitu bergumul sampai pembuluh darah-Nya menjadi pecah. Ia menjalani semua itu dengan keseriusan. Saat Yesus mengajak ketiga murid-Nya berdoa, ternyata mereka tertidur (Markus 14:35-40). Yesus mengajarkan mereka untuk selalu waspada dan berdoa. Ia mau mengajarkan pergumulan-Nya kepada ketiga murid itu. Ketika Yesus menyatakan kesedihan-Nya, para murid tidak memberikan respons. Mereka tidak memberikan empati rohani karena lelah. Kristus begitu tersendiri. Pada kali yang ketiga, Kristus membangunkan mereka dan menyatakan bahwa waktunya sudah tiba, namun mereka tidak peka dan mengerti akan hal itu. Kristus begitu tersendiri namun Ia tetap tenang. Menjadi hamba yang bergumul itu begitu berat.

 

3) Hamba yang terkhianati

            Kristus memilih Yudas bukan karena ia memiliki kualitas rohani tetapi untuk menggenapkan seluruh karya keselamatan bagi umat manusia. Apakah Yesus tahu bahwa Ia akan ditusuk dari belakang oleh Yudas? Ia tahu. Lalu mengapa Tuhan memilihnya dan memperlakukannya dengan baik? Inilah nilai kasih dan pengorbanan dari Tuhan. Di sini kita melihat penguasaan diri Kristus yang sempurna. Ia sabar menunggu waktu Allah. Pada akhirnya Yudas rela menjual Yesus. Mengapa ia rela melakukan itu? Bukankah Tuhan begitu baik kepadanya? Apakah Yudas tidak mengerti pesan nabi Yesaya? Jika ia sudah membaca kitab Yesaya termasuk Yesaya 53, mengapa ia masih rela menjual Yesus? Ia berpikir bahwa Yesus bisa meloloskan diri ketika ditangkap. Yudas tidak mengenal Yesus yang telah memanggilnya sebagai murid. Ketika Yesus menyatakan bahwa akan ada orang yang menyerahkan-Nya, Yudas langsung bertanya ‘bukan aku, ya Rabi?’ (Matius 26:25). Ini menunjukkan bahwa Yudas tidak lagi memiliki hati nurani. Ini karena Setan sudah masuk ke dalam dirinya.

 

            Yudas dengan tenang dan sadar mengatur strategi untuk menemui imam-imam kepala dan pengawal Bait Suci (Lukas 22:3-6). Mereka membahas bagaimana untuk menangkap Yesus. Yudas tidak peduli akan siapapun atau apapun selain uang. Dalam hatinya tidak ada Allah Roh Kudus. Ia tidak takut akan Tuhan tetapi hanya takut miskin. Orang Kristen sejati tidak akan dirasuk oleh Setan karena Roh Kudus pasti lebih besar daripada roh manapun juga. Yudas mencobai Tuhan dan melakukan spekulasi rohani yang berdosa karena ia tidak mengenal Tuhan. Ia tidak memahami Yesaya 53 secara mendalam. Ketika Lazarus dibangkitkan, para pemimpin agama memikirkan bagaimana menyingkirkan Tuhan Yesus. Imam besar Kayafas menyatakan bahwa lebih baik 1 orang mati demi 1 bangsa. Sungguh mengejutkan bahwa seorang imam besar bisa membicarakan pembunuhan dengan begitu tenang. Ini adalah gerakan keagamaan tanpa kebenaran yang sungguh berbahaya. Mereka hanya memperalat agama untuk kepentingan pribadi mereka.

 

            Ketika Maria memberikan minyak narwastu yang begitu mahal kepada Yesus untuk mengurapi-Nya. Ia memberikan hal yang terbaik yang ia miliki kepada Tuhan. Namun Yudas malah tidak setuju bahkan protes karena hal itu. Ia terdengar seolah lebih mementingkan orang-orang miskin, namun sebenarnya ia tidak mengatakan itu dengan ketulusan. Ia hanya memikirkan uang hasil penjualan minyak itu. Yesus menjawab “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu” (Yohanes 12:7-8). Maria mengerti bahwa Yesus adalah sang Mesias dan ia mengerti tentang teologi waktu serta teologi penderitaan. Ia tahu bahwa Yesus tidak akan selama-lamanya hadir bersama dengannya. Namun Yudas hanya memikirkan dirinya sendiri. Yudas berani melakukan protes terhadap orang lain namun ia tidak pernah menegur dirinya sendiri. Di dalamnya ada aktualisasi diri yang tidak suci. Yudas tidak mengerti waktu Tuhan seperti Maria. Kita harus mengerti waktu Tuhan dalam hidup kita dan Gereja kita. Ketika ada kesempatan untuk melayani maka kita tidak boleh melewatkan itu. Pujian Tuhan Yesus pasti menghibur Maria yang mengerti semua itu.

 

            Ketiga, Yudas yang tidak memiliki hati nurani akhirnya sungguh-sungguh menjual Yesus. Di taman Getsemani, Yudas memberikan kasih yang palsu – ciuman seorang pengkhianat (Lukas 22:47-48). Yesus berkata “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” Istilah ‘Anak Manusia’ sebenarnya mengingatkan kita akan Yesaya 53. Namun Yudas tidak mengerti kalimat itu. Kemudian Petrus mengambil pedang dan memotong telinga seorang hamba imam besar. Yesus kemudian langsung menyembuhkan telinga orang itu dan berkata kepada orang-orang yang mau menangkap-Nya “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu” (Lukas 22:52-53). Mereka tidak berani menangkap Yesus secara terbuka, maka dari itu mereka secara sembunyi-sembunyi melakukan kejahatan. Saat itu Yudas menunggu sampai Yesus melarikan diri, namun ternyata Yesus membiarkan diri-Nya ditangkap. Pemahaman Yudas yang salah menghasilkan tindakan yang salah. Para murid kabur dan menjadi tercerai-berai. Yesus memiliki kuasa untuk melawan, namun Ia tahu bahwa waktu-Nya sudah tiba. Setelah menang atas pergumulan di taman Getsemani, Yesus menghadapi orang-orang yang mau menangkap-Nya dengan tenang.

 

 

KESIMPULAN (Refleksi Iman)

 

            Di manakah kita ketika Gereja dan para hamba-Nya sedang menderita dan berjuang secara iman untuk pekerjaan Tuhan? Kita mau menjadi seperti Maria yang mengerti waktu Tuhan. Mungkinkah kita pernah menjual nama Tuhan demi keuntungan dan kepuasan emosi kita? Yudas menyebut dan memakai nama Tuhan untuk melakukan kejahatan. Ada orang-orang yang mengumbar penderitaannya untuk nama Tuhan demi mendapatkan belas kasihan dari orang lain. Kita tidak boleh dengan sembarangan memakai nama Tuhan. Pernahkah kita melupakan taman Getsemani dan pergumulan Tuhan Yesus ketika akan menebus dosa-dosa kita? Ini tidak boleh kita lupakan. Kita boleh melupakan kehebatan kita, namun karya Tuhan tidak boleh kita lupakan. Ini harus kita ingat sampai kita bertemu dengan Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).