Iman yang Memberi Hidup

Iman yang Memberi Hidup

Categories:

Khotbah Minggu 3 Januari 2021

Iman yang Memberi Hidup

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang iman yang memberi hidup. Kita bisa memikirkan satu gambaran tanaman yang baru bertunas yang membutuhkan makanan yang lebih banyak. Ketika daunnya bertambah, kebutuhan vitaminnya pun bertambah. Ketika menghadapi situasi yang sulit ia memerlukan energi untuk tetap hidup. Hidup kita juga seperti itu. kita membutuhkan Firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan yang kita baca bukanlah tulisan sembarangan. Kita harus membaca Firman Tuhan secara menyeluruh. Jika pupuk yang diberikan kepada tanaman itu tidak seimbang kontennya, maka pertumbuhannya pasti terganggu atau tidak sesuai yang kita harapkan. Jadi Firman Tuhan tidak boleh dipilih-pilih sesuai kesenangan kita. Kita harus membaca semuanya dari depan sampai akhir. Ketika kita mengerti secara keseluruhan, maka kita akan mengerti rencana Tuhan bagi kita secara keseluruhan dan kita akan memiliki bangunan iman. Kita akan belajar tentang iman yang memberi hidup. Kita juga akan membahas tentang hidup yang diberikan kepada kita itu.

 

            Kita akan melihat dari Ayub 42:5-6. Ini adalah puncak pergumulan Ayub. Allah menyatakan diri kepadanya sehingga Ayub menjadi semakin mengalami Tuhan. Ayub belajar untuk berhikmat dan bersabar dalam mengerti Tuhan. Kita juga melihat dari Roma 8:28. Kita tidak bisa melihat Covid-19 sebagai kejahatan atau kekejaman Tuhan. Firman Tuhan sudah hadir dalam hidup kita dan tugas kita adalah membaca, menggumulkan, dan menghidupi sehingga hidup kita menjadi baik sesuai standar Allah, bukan standar manusia. Kita juga melihat dari Ibrani 12:11. Salah satu kebaikan yang Tuhan berikan di tengah ujian dan pencobaan yang mendatangkan duka bagi kita adalah Tuhan membentuk kita dan memberikan buah kebenaran dalam hidup kita. Kita juga melihat Kolose 1:27. Kristus ada di tengah-tengah kita dan Ia memberikan kepada kita pengharapan yang mulia yang berkaitan juga dengan eskatologi.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa peran iman bagi hidup orang percaya ketika ujian dan pencobaan datang menerpa hidupnya? Ujian datang dari Tuhan sedangkan pencobaan datang dari Iblis untuk menghancurkan kita. Ujian itu melatih iman kita. Apa peran iman dalam semua ini? Apakah iman seorang anak Tuhan dapat gugur ketika ujian dan pencobaan menerpa hidupnya? Kita bisa melihat hidup Ayub, Daniel dan teman-temannya, serta para raja Israel dan Yehuda. Kerajaan Israel pada akhirnya dihancurkan karena tidak setia kepada Tuhan. Sampai sejauh mana iman dapat memberikan hidup berkemenangan bagi anak-anak Tuhan? Kita tidak diberikan hidup dalam ketakutan. Dalam masa pandemi ini pun kita diberikan kemenangan. Kita harus tetap setia dalam mengikut Tuhan. Apa kaitan antara iman dan perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan? Kita akan membahas semua ini.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Iman dan perjuangan hidup (konsep poin alfa dan poin omega)

            Dalam awal tahun ini kita harus mengingat konsep poin alfa dan omega. Kita tidak boleh hanya berpikir tentang akhir. jika kita terus berpikir ‘akhirnya’, maka itu bisa membuat kita kehilangan perjuangan. Akhirnya kita menjadi penikmat dan bukan pejuang iman untuk menggenapkan seluruh perintah Allah. Namun kalau kita selalu berpikir poin alfa, kita selalu berpikir secara baru, maka kita akan memiliki semangat berjuang. Pada akhirnya pun kita menyatakan kemuliaan Tuhan. Kita akan memikirkan kebaruan untuk bersandar pada Tuhan. Jadi kita diingatkan untuk tidak bersandar pada diri, kata orang lain, dan harta. Kita melihat cara Tuhan yang baru dalam mendidik kita sehingga kita mengerti dalam kebaruan. Iman itu memberi hidup kepada satu perjuangan rohani. Kita ditebus bukan untuk dijadikan anak-anak manja. Perjuangan kita justru disucikan. Dahulu perjuangan kita hanya berfokus pada kemuliaan diri. Setelah bertobat, cara berpikir kita dibarui, disucikan, dan dibentuk. Begitu pula emosi dan fokus hidup kita. Tanda dari semua kebaruan itu adalah adanya perjuangan rohani. Orang yang menyatakan sudah lahir baru namun tidak punya perjuangan rohani maka kelahiran barunya perlu dipertanyakan. Orang yang terus hanya mau dilayani dan dibantu Gereja juga perlu dipertanyakan.

 

            Perjuangan rohani adalah bagian yang paling indah dari iman yang mengikut Tuhan. Tuhan mengizinkan adanya Covid-19 agar kita sadar bahwa kita harus selalu punya perjuangan rohani. Dalam masa pandemi ini kita bisa berjuang untuk kesehatan fisik, namun kita bisa melupakan perjuangan rohani. Maka dari itu kita harus mengingat bagian ini. Melalui pandemi ini kita harus melihat kedaulatan Tuhan. Negara-negara yang disebut kuat ternyata tidak sanggup menghadapi Covid-19. Jadi bangsa yang disebut besar itu ternyata kecil di mata Tuhan. Kita pun begitu kecil di mata Tuhan. Virus yang begitu kecil pun bisa mematikan kita. Tahun 2020 adalah sekolah iman kita yang mengajarkan perjuangan iman kepada kita. Kita sendiri bisa mengevaluasi diri dan pasangan kita bagaimana kerohanian keluarga kita di tahun yang lalu. Ketakutan bisa membuat perjuangan rohani kita menjadi kecil. Di tahun yang baru ini kita harus membuat komitmen untuk hidup lebih berjuang lagi. Perjanjian Lama sudah mengajarkan kita bahwa tujuan hukuman Allah adalah supaya orang-orang tahu siapa diri Tuhan. Jadi di balik Covid-19 kita juga diajarkan tentang Tuhan yang kita sembah. Dalam bagian inilah iman yang memberi hidup perjuangan rohani kita. Kita tidak boleh terlalu menjaga diri sampai lupa berjuang untuk pekerjaan Tuhan dalam Gereja.

 

            Perjuangan rohani akan mengajarkan kepada kita untuk meninggalkan dan mengalahkan manusia lama dengan mengenakan karakter Kristus selalu (Efesus 2:1-10, 4:22, 24; Galatia 5:22-23, dan contoh Ayub). Dalam masa pandemi ini kita bisa kembali menjadi manusia lama yang hidup tanpa iman. Di sana kita akan gagal bercahaya bagi dan menikmati Kristus di masa sulit. Kita tidak boleh sampai melupakan Tuhan karena takut kepada Covid-19. Seharusnya kita sadar bahwa virus dan bakteri sudah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Keberanian iman seharusnya menjadi identitas kita yang baru sebagai anak-anak Tuhan dan murid kebenaran. Kita adalah anak-anak terang yang harus berjalan dalam kesucian. Dahulu kita adalah orang-orang yang mati rohani dan hidup dalam kedagingan. Di sana kita tunduk pada penguasa kerajaan angkasa dan terus mencari kepuasan duniawi. namun Kristus sudah menyatakan diri-Nya kepada kita. Ia sudah mati dan bangkit sehingga kita punya identitas yang baru. Keselamatan kita adalah karena anugerah, bukan perbuatan baik, agar kita melakukan pekerjaan yang baik. Paulus mengingatkan kita akan identitas kita dalam surat Efesus. Kita adalah orang-orang yang sudah ditebus dalam Yesus Kristus. penebusan kita adalah poin alfa dan kebaruan kita. Jadi kita harus menghidupi hidup kita seperti yang dikatakan dalam Efesus 4:22-24. Status kita yang suci tidak hanya dinikmati secara pengetahuan. Status kesucian itu dinikmati karena kita hidup suci. Status yang benar harus dinyatakan melalui hidup benar di tengah segala kesulitan. Kita juga sudah dijadikan sebagai terang, jadi kita harus menerangi kegelapan dunia. Hidup kita harus menjadi bukti bahwa perubahan itu nyata. Paulus mengajarkan kita untuk mengambil langkah kaki iman menuju penggenapan kehendak Tuhan sampai kita mencapai garis akhir.

 

            Paulus mengajarkan kita tentang karakter rohani dari pembahasan tentang buah Roh. Semua aspek buah Roh harus menjadi gaya hidup kita. Jadi perjuangan rohani itu ke dalam, melalui Firman Tuhan yang kita baca, namun terlihat di luar supaya orang lain tahu bahwa kita sudah punya identitas di dalam Kristus. Kita harus menjadi surat terbuka sehingga orang-orang bisa melihat perubahan hidup kita. Ayub begitu sukses, namun ia tidak punya kemarahan dan keadilan yang suci terhadap anak-anaknya. Ia memiliki kelemahan dalam mendidik iman istrinya sehingga ia mengajak Ayub untuk mengujat Tuhan. Jadi dalam kestabilan hidup kita harus mengingat peristiwa Ayub. Tuhan mengambil kebanggaan Ayub dalam keluarga, kekayaan, kesehatan, dan kepopuleran. Ketika semua itu diambil, Tuhan sedang menguji dan Setan mencobai Ayub. Di balik itu semua, Tuhan sedang membangun perjuangan rohani Ayub yang baru. Pada akhirnya Ayub memandang kepada Tuhan. Ia tidak memandang kepada masa lalu di mana ia menyalahkan Tuhan dan membenarkan diri. Elihu mengingatkan Ayub agar tidak bangga karena kerohanian di masa lalu. Tuhan menyatakan firman-Nya melalui kekuatan alam yaitu guntur. Dari sana Ayub sadar bahwa ia sudah salah konsep tentang Tuhan dalam penderitaan dan kesulitan. Ia kemudian meminta ampun dan menyesal. Setelah Ayub membarui hidupnya dalam perjuangan rohani, semuanya dipulihkan oleh Tuhan. Akhirnya hidup Ayub dikaitkan dengan perjuangan untuk menyatakan diri Tuhan, bukan diri sendiri. Kisah ini mengingatkan kita untuk mengaitkan semua milik kita dengan perjuangan rohani kita. Perjuangan rohani adalah harta iman yang terindah. Jadi kita tidak boleh berdiam di masa lalu. Kita harus hidup dalam masa kini sambil memandang Tuhan dalam kebaruan. Jadi kita harus selalu memiliki perjuangan rohani. Perjuangan rohani itu harus diarahkan untuk menggenapkan kerajaan Tuhan. Para hamba Tuhan yang setia yang meninggal karena Covid-19 sudah mencapai garis akhir yang Tuhan tentukan. Di sisi lain Covid-19 juga bisa menyatakan hukuman Tuhan. Dalam masa pandemi ini juga Tuhan bisa menyatakan berkat.

 

            Perjuangan rohani juga menghasilkan buah rohani melalui pelayanan bagi Kristus (Yohanes 15:16b). Kita dipilih untuk menghasilkan buah yang tetap. Kita menghasilkan anggur yang manis. Ini karena kita bersatu dengan Kristus. Ini berarti kita melekat dengan firman-Nya melalui kita membaca Firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan memberi hidup dalam perjuangan kita. Buah kekal itulah yang akan kita bawa ketika kita bertemu dengan Tuhan di surga. Gelar, harta, dan kepopuleran itu bisa dikerjakan oleh orang dunia. Semua itu tidak kita bawa kepada Tuhan. Tuhan mencari buah yang kekal dari kita yaitu buah penginjilan. Kita diajarkan untuk mengejar buah rohani sebagai satu keinginan yang harus kita genapkan. Kita harus menjadi pejuang yang tidak takut akan kesulitan. Bahkan kita harus bisa menikmati tantangan dan penderitaan bersama dengan Tuhan. Semua itu melatih mental rohani kita untuk mencapai yang terbaik bagi Tuhan. Jadi kita bukanlah anak-anak gampangan. Kita dilatih untuk punya kegigihan agar buah rohani itu muncul dalam hidup kita. Kita bisa tekun untuk mencapai apa yang kita mau, namun apakah kita tekun untuk mencapai apa yang Tuhan mau? Yohanes mengingatkan kita bahwa perjuangan rohani itu tidak boleh berhenti. Perjuangan rohani itu harus baru dan bertambah kualitas setiap hari. Buah kita tampak ketika orang-orang bisa mengenal Tuhan melalui tulisan-tulisan kita di media sosial. Perjuangan kita adalah perjuangan untuk menjadi berkat, bukan batu sandungan. Kita menjadi berkat ketika kita menyatakan karakter Kristus dalam hidup kita. Hidup kita harus menjadi jembatan agar orang-orang bisa melihat Kristus. Iman dan perjuangan hidup dalam poin alfa dan omega harus kita jaga sampai kita bertemu dengan Tuhan. Tidak ada kita lelah dan pensiun dalam melayani Tuhan.

 

2) Iman dan pengorbanan hidup (konsep penebusan)

            Pengorbanan yang teragung adalah pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Di sana dosa-dosa kita dihapus. Sejauh mana kita menghayati pengorbanan Kristus, sejauh itu juga kita akan rela berkorban dan melihat pengorbanan hidup kita sebagai keindahan. Iman mendorong kita berpikir untuk berkorban. Sebaliknya, keegoisan mendorong kita untuk mengorbankan orang lain. Dalam keegoisan, kita tidak akan mau berkorban bagi Tuhan, baik dalam hal uang, waktu, tenaga, dan lainnya. Kita harus melihat teladan pengorbanan Kristus dan hidup berkorban demi pekerjaan Tuhan. Jadi kita tidak diajarkan berpikir untuk merugikan atau merusak demi kepentingan pribadi. Kita berpikir untuk berkorban supaya orang-orang bisa mengenal Tuhan. Pengorbanan kita tidak mulia jika berpusat pada diri. Kita harus melakukan pengorbanan yang harum. Itu menyatakan kasih Tuhan Yesus (1 Korintus 13:3 dan Efesus 5:2) dan menyatakan kemenangan hidup bagi Kristus (Galatia 2:19-20 dan Ibrani 13:15). Pengorbanan kita adalah persembahan bagi Tuhan. Tubuh kita bagaikan persembahan yang dibakar habis karena kita sudah menjadi milik Kristus. Kita dipanggil untuk menyatakan Kristus, salah satunya adalah melalui pengorbanan kita. Seluruh hidup kita harus dikaitkan dengan kemuliaan Kristus. Jika tidak, maka kita telah gagal. Jika kita mengorbankan diri kita untuk dibakar, tetapi itu semua bukan untuk Kristus, maka pengorbanan kita itu tidak berarti apa-apa. Jadi kita harus berkorban supaya orang lain melihat Kristus. Itulah kasih yang diajarkan oleh Paulus. Pengorbanan yang harum harus menjadi identitas kita.

 

            Kita bisa belajar dari pohon cendana. Ketika pohon itu dipotong dengan gergaji, maka tempat di mana gergaji itu diletakkan akan menjadi harum seperti cendana. Jadi pohon itu disakiti namun menjadi berkat. Inilah yang harus kita pelajari. Namun pohon karet itu adalah kebalikannya. Gergaji yang memotongnya akan membawa bau tidak sedap. Kita harus rela mati bagi Kristus. Pengorbanan yang harum itu bertujuan agar orang-orang melihat Kristus. Jadi kita tidak boleh hitung-hitungan untuk Tuhan dan Gereja-Nya. Jika kita masih hitung-hitungan, maka itu berarti konsep penebusan itu belum nyata dalam hidup kita. Dalam pengorbanan itu harus ada bijaksana. Kita tidak boleh berkorban sampai keluarga dan orang-orang di sekitar kita menjadi korban. Jadi ada ukuran dalam kebijaksanaan. Pengorbanan kita tidak boleh dianggap sebagai pengorbanan dan tidak boleh kita catat untuk dipamerkan. Suami-istri bisa merasa sudah berkorban untuk pasangan dan kemudian mengumbar itu dalam kesombongan. Jadi pengorbanan itu dijadikan kesombongan. Ini bukanlah pengorbanan yang benar. Pengorbanan itu harus kita nikmati dalam kasih. Pengorbanan seorang anggota keluarga bagi keluarganya adalah hal yang wajib. Tidak boleh ada hitung-hitungan dalam hal itu. Kasih akan mendorong kita untuk berkorban tanpa hitung-hitungan. Pengorbanan adalah keindahan iman. Iman tanpa pengorbanan adalah iman yang mati. Iman yang hidup pasti memiliki jiwa berkorban.

 

            Banyak tokoh Alkitab menyatakan kemenangan hidup melalui pengorbanan mereka di dalam kesulitan. Melalui surat Galatia kita diajarkan untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan Kristus dalam hidup kita. Kita harus mengutamakan Kristus dan menyatakan bahwa kita sudah menjadi milik Kristus. Kita tidak lagi boleh diperbudak oleh keinginan duniawi. Hidup kita bukanlah tentang diri kita lagi tetapi tentang Kristus yang hidup di dalam kita melalui iman. Kalau kita masih mau berkuasa di atas Kristus, maka sebenarnya kita masih egois. Kristus akan mematikan ego kita. Kristus datang untuk mencari kita supaya diselamatkan, bukan mencari kepopuleran dan kenikmatan. Penebusan Kristus mengingatkan kita akan belas kasihan Tuhan atas hidup kita. Persembahan dalam konteks Perjanjian Baru bukan lagi hewan tetapi buah bibir kita yaitu kata-kata kita yang memuliakan Tuhan. Masa pandemi ini tidak menghalangi kita untuk mengucap syukur. Mulut kita juga sudah ditebus oleh Tuhan, jadi perkataan kita harus mengandung hal-hal yang mulia, damai, benar, dan lainnya. Kita harus mengevaluasi perkataan kita untuk melihat apakah kita lebih banyak mengucap syukur atau kutuk. Apa yang ada dalam hati kita akan keluar melalui kata-kata. iman mendorong kita untuk menyatakan dan menikmati pengorbanan bagi Tuhan.

 

3) Iman dan pengharapan hidup (konsep kekekalan)

            Pengharapan kita bukanlah pengharapan yang fana. Kita boleh mengharapkan kesehatan, karier, dan lainnya, namun kita harus sadar bahwa semua itu adalah jembatan agar kita dapat menggenapkan pengharapan yang kekal. Dari dan melalui kronos kita harus mencapai kairos. Seluruh keberhasilan kita di tahun yang lalu hanyalah jembatan atau alat agar kita dapat menggenapkan yang kekal dan tanggung jawab rohani kita di hadapan Tuhan. Jadi iman dan perjuangan, pengorbanan, serta pengharapan tidak boleh berhenti. Pengharapan yang mulia itu bersifat kekal. Kita berharap agar hidup kita dapat dipakai oleh Kristus selalu. Jika Tuhan masih mau memakai kita di tengah segala kelemahan kita, maka itu adalah anugerah. Itulah kerinduan dan doa kita. Jika dalam tahun yang baru ini kita berharap agar hidup kita dipakai oleh Tuhan, maka kita sudah memiliki pengharapan yang mulia. Kita harus menolak segala keuntungan yang tidak memuliakan Tuhan. Pengharapan kita ditentukan oleh kecerdasan iman kita masing-masing. Segala pengharapan kita harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Kita harus senantiasa menjadi perkakas yang mulia bagi Tuhan. Perkakas yang mulia akan terus dipakai. Tuhan tidak melihat paras, kekayaan, atau kehebatan kita tetapi melihat hati yang mau dipersembahkan kepada Tuhan. Orang-orang seperti itulah yang dipakai oleh Tuhan. Kita tidak perlu menunggu sampai menjadi kaya agar bisa dipakai oleh Tuhan. Dalam konsep pelayanan kita, hal yang terpenting adalah hati yang mau dipakai oleh Tuhan. Perkakas yang mulia itu selalu menyucikan dirinya dan selalu mau dipakai oleh Tuhan. Hati kita harus bersih di hadapan Tuhan.

 

            Pengharapan yang mulia membuat kita menghadapi masa depan dengan iman (Kolose 1:27 dan Ratapan 3:22-24). Kristus ada di tengah-tengah kita. Ia adalah Raja, Imam, dan Nabi dalam kehidupan kita. Ia memimpin kita dan melengkapi kita yang terbatas serta memampukan kita untuk menggenapkan kehendak Tuhan. Kita harus memandang kepada Kristus yang ada di tengah-tengah kita. Kita harus bergantung kepada-Nya. Manusia bisa gagal, namun Tuhan tidak mungkin gagal. Kasih setia Tuhan tidak pernah mengecewakan kita. Berkat Tuhan selalu baru setiap hari. Berkat yang baru itu adalah berkat rohani yang membuat kita melihat kepada Tuhan dan menikmati Tuhan. Kasih setia Tuhan tidak pernah habis tetapi selalu baru setiap hari. Yeremia meratap karena umat Tuhan tidak setia, namun ia meratap secara rohani. Ia bukan bersedih tanpa iman. Ia melihat kepada Tuhan yang tidak pernah mengecewakan. Ratapan yang benar menghasilkan kerohanian dan kesalehan yang benar. Berkat dan kasih setia Tuhan akan baru di tahun yang baru. Di sinilah kita membangun pengharapan yang mulia. Paulus sadar bahwa melalui kelemahannya pun kemuliaan Tuhan juga dinyatakan (2 Korintus 12:9). Pengharapan yang mulia harus bisa mencapai pengharapan eskatologis. Kita tidak boleh meminta untuk berhenti dipakai Tuhan sampai kematian tiba. Kita tidak boleh berhenti menggenapkan kehendak Tuhan yang mulia. Hidup kita menjadi fana jika kita hanya mengejar yang fana, tetapi pengharapan yang kekal itu memberikan keindahan dalam hidup kita.

 

 

KESIMPULAN

 

1)  Iman dalam perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan sangat berperan bagi hidup orang percaya ketika ujian dan pencobaan datang menerpa hidupnya.

 

2) Iman yang sejati tidak akan gugur ketika ujian dan pencobaan datang dalam kehidupan orang percaya. Ini karena Tuhan terus memelihara. Allah Roh Kudus terus menopang orang percaya.

 

3) Iman yang memberi hidup selalu tampak dalam kehidupan rohani dan buah rohani di tengah-tengah saat sulit. Ini bisa kita lihat dalam hidup Ayub dan tokoh-tokoh Alkitab yang lain. Masa pandemi ini tidak boleh menghalangi kita untuk melayani Tuhan. Iman kita memberi hidup kepada perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).