Kebangkitan yang Memerdekakan (Yohanes 8:36 dan Roma 8:15)

Kebangkitan yang Memerdekakan (Yohanes 8:36 dan Roma 8:15)

Categories:

Khotbah Minggu 4 April 2021 (Paskah)

Kebangkitan yang Memerdekakan

Yohanes 8:36 dan Roma 8:15

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang kebangkitan yang memerdekakan. Bagian Alkitab yang akan kita lihat adalah Matius 28:5-6, Yohanes 8:36, dan Roma 8:15.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Jika Kristus adalah Allah, maka mengapa Ia bisa mati? Apakah kematian Kristus hanya drama yang diatur oleh para pengikut-Nya? Jika Kristus mati, bagaimana dengan sifat dwinatur-Nya? Yesus adalah Allah 100% dan manusia 100%. Kematian Kristus dalam cinta kasih-Nya adalah kematian yang menebus. Pribadi Yesus mengalami kematian untuk menebus dosa-dosa kita. Ke mana Kristus selama 3 hari lamanya ketika mengalami kematian? 1 Petrus 3:18-20 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

 

            Kristus bangkit sebagai Allah 100% dan manusia 100% dalam nilai kemuliaan. Dari mana kuasa kebangkitan Kristus? Alkitab jelas menyatakan bahwa Roh kebangkitan itu diberikan kepada Kristus. Jadi semua pribadi Allah Tritunggal bekerja dalam penebusan. Kristus bangkit untuk memerdekakan kita dari apa? Mengapa perlu ada kebangkitan? Ketika Ia bangkit, Ia menampakkan diri kepada para murid dan para wanita. Lebih dari 500 orang pernah bertemu dengan Kristus selama 40 hari Ia bangkit. Ini adalah kenyataan. Jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman kita. Apakah kita sudah sungguh-sungguh merdeka dalam Kristus untuk kita hidup bagi Kristus?

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Apa yang terjadi dengan alam pada saat Kristus mati dan bangkit?

            Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah menyatakan kuasa-Nya melalui alam semesta. Tuhan menyatakan kesedihan-Nya. Gerhana total serta gempa bumi yang hebat itu terjadi (Matius 28:2, bandingkan dengan 27:54). Tirai Bait Suci terbelah dua. Saat Kristus bangkit, ada gempa yang luar biasa ketika beberapa wanita mengunjungi kubur Kristus. Allah tidak sungguh-sungguh meninggalkan Kristus di atas kayu salib. Allah menyatakan kuasa-Nya melalui alam semesta sehingga orang-orang mengerti tentang kuasa Tuhan. Allah adalah pencipta dunia dan Ia bisa menyatakan segala kekuatan-Nya melalui dunia. Kisah Para Rasul 16:24-28 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” Kepala penjara itu melihat Paulus dan rekannya begitu luar biasa. Mereka dipukul dan dianiaya namun tetap tenang serta menyanyi dan berdoa. Ketika gempa terjadi, mereka tidak kabur. Akhirnya kepala penjara tersebut bertobat. Alam semesta bisa menyatakan kuasa Tuhan sehingga terjadi pertobatan. Markus 15:39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” Jadi kuasa alam bisa membawa kepada pertobatan. Peristiwa alam tidak selalu berarti kutuk.

 

2) Apa yang terjadi dengan para murid Kristus dan para pengikut lain setelah Kristus mati dan bangkit?

            Ketika Yesus akan ditangkap di taman Getsemani, Ia tidak melawan. Para murid kabur untuk menyelamatkan diri sendiri. Padahal Tuhan sudah mengingatkan mereka untuk selalu waspada dan berdoa. Hanya Yohanes dari antara para murid yang mendampingi Yesus di kayu salib. Sebelumnya Yesus sudah berpesan kepada Petrus. Lukas 22:31-33 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Namun pada akhirnya ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Para murid bisa terdengar begitu beriman dan setia sebelumnya, namun pada akhirnya mereka meninggalkan Yesus. Kita tidak boleh hanya mengerti teologi namun tidak menghidupinya. Para pengikut-Nya mengalami kesedihan yang dalam (Yohanes 20:13) serta mengalami ketakutan dan cemas (Yohanes 20:19).

 

            Matius 28:1-6 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

 

            Yohanes 20:11-17 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.

 

            Maria mendapatkan sukacita rohani karena melihat Kristus telah bangkit. Dukacita berubah menjadi sukacita. Tuhan Yesus juga mengunjungi para murid. Yohanes 20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka pasti kaget namun mendapatkan sukacita karena bertemu dengan Yesus. Ketakutan dan cemas mereka menjadi hilang. Kebangkitan Kristus membangkitkan emosi yang suci dari para murid sehingga mereka bisa memulai pelayanan yang baru. Para pengikut Yesus mendapatkan sukacita rohani yang menimbulkan kepastian iman. 1 Korintus 15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Semua manusia mencari kepastian, namun hanya Tuhan Yesus yang dapat memberikan kepastian iman, bukan hanya kepastian lahiriah. Tidak ada pendiri agama yang berani menyatakan kepastian akan kebangkitan kecuali Tuhan Yesus Kristus. Kepastian kita mengandung kebahagiaan karena kita memiliki jaminan dari Allah. Roma 8:38-39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Kepastian iman yang para murid dapatkan membuat mereka berani bersaksi dan mati bagi nama Tuhan.

 

            Sukacita rohani itu juga memberikan kepada mereka pengharapan yang baru. Kristus bangkit dan telah menyatakan kemenangan-Nya atas segala kuasa apapun. Inilah pengharapan yang baru. Kepastian iman itu memerdekakan kita dari maut (Roma 8:2, 8:15). Kita berani berkata: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55). Kita telah dimerdekakan dari dosa dan tidak lagi diperbudak oleh dosa. Kita bisa berseru: ya Abba, ya Bapa. Kita menjadi dekat dengan Bapa ketika kita bersatu dengan Kristus dalam kebangkitan-Nya. Kita yang sudah ditebus harus mengarahkan orientasi hidup hidup kita kepada kekekalan (1 Korintus 15:50-58). Diri kita sebelum dibangkitkan dan setelah dibangkitkan itu berbeda. Kita mengalami perubahan yang besar di dalam Kristus. Jika orientasi hidup kita masih kepada kesementaraan, maka itu berarti kita masih hidup dalam dosa yang berujung pada maut. Jadi kita harus memeriksa diri kita apakah kita masih memikirkan kesenangan diri atau kemuliaan Allah. Paskah mengingatkan kita bahwa kita harus memikirkan perkara-perkara yang besar bagi Allah. Kita harus membuat komitmen-komitmen baru dalam kerendahan hati.

 

            Orientasi hidup kita harus mengarah kepada kemenangan iman (Yohanes 8:32, 8:36). Yohanes 8:31-33 aka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Yesus berbicara tentang hal rohani, namun orang Yahudi malah menanggapi dengan kacamata lahiriah. Abraham juga adalah orang berdosa yang harus menerima penebusan Tuhan. Yohanes 8:39-40 Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Mereka belum mengalami kemenangan iman karena mereka berpikir bahwa mereka mengerti kebenaran namun mereka tidak menghidupinya.

 

            Kita yang sudah mengalami kebangkitan rohani seharusnya tidak lagi menyimpan kebencian, iri hati dan kemarahan yang berdosa. Matius 5:23-24 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

 

            Tuhan pernah menegur para imam yang meremehkan persembahan kepada Tuhan. Maleakhi 1:6-8 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

 

            Kemenangan iman dalam Paskah ini adalah kemenangan kita untuk meninggalkan dosa-dosa kita dan kembali kepada Tuhan. Jadi kita harus giat melayani Tuhan (1 Korintus 15:58). Banyak hal bisa mengguncangkan iman kita, namun kita harus berdiri teguh dan terus melayani Tuhan. Sukacita rohani membuat kita memiliki gairah untuk melayani Tuhan. Kita yang sudah mengalami kemerdekaan harus giat bekerja untuk Tuhan. Sukacita rohani itu juga memberikan pengharapan yang baru yang berorientasi pada Kristus. Pengharapan ini bersifat eskatologis. Setelah dibangkitkan, kita tidak lagi melihat penderitaan di dunia ini sebagai hal yang besar. Ini karena kita berorientasi pada kemuliaan Tuhan yang bersifat eskatologis (Roma 8:18, 8:30). Kita berharap agar hidup kita yang terbatas ini bisa dipakai oleh Tuhan demi kemuliaan-Nya. Pengharapan kita bukan lagi untuk hal-hal lahiriah, jadi kita pasti merasa cukup. Kebangkitan itu juga memerdekakan kita dari ambisi yang tidak suci. Pengharapan eskatologis ini merupakan warisan iman yang kita bisa bawa dalam nilai kekekalan.

 

            Pengharapan yang baru ini juga memerdekakan kita dari kesia-siaan (Pengkhotbah 1:2). Salomo pada akhirnya menyadari bahwa semua hal duniawi yang dicarinya merupakan kesia-siaan. Paulus berkata: ‘Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,’ (Filipi 3:7-8). Semua hal yang tidak dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan yang bersifat eskatologis akan menjadi sia-sia. Kristus bangkit untuk memerdekakan kita dari kesia-siaan. Hidup kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh hidup kita (1 Petrus 3:15). Dari hal sepele, seperti kesenangan atau hobi kita, kita harus memikirkan apakah melalui semua itu kita sudah memuliakan Tuhan atau belum. Kita harus memikirkan tanggung jawab kita kepada Tuhan. Tanggung jawab kita kepada Tuhan tidak boleh digeser oleh hal-hal duniawi. Tuhan Yesus adalah Tuhan atas seluruh kehidupan kita, bukan hanya sebagian. Tuhan bisa memakai penderitaan untuk menguduskan kita sehingga kita semakin memuliakan Tuhan. Penyakit bisa membuat kita menjadi dekat dengan Tuhan. Jika kita masih bisa sehat sampai hari ini, maka itu adalah belas kasihan Tuhan bagi kita.

 

            Ketika kita sudah dimerdekakan dari kesia-siaan, hidup kita menjadi berarti. Kristus sungguh bangkit dan itu meneguhkan iman para pengikut-Nya. Hidup kita berarti karena Roh Kudus sudah menjadikan kita milik Allah (Efesus 1:13-14). Kita bisa memanggil Allah sebagai Bapa kita. Nilai penebusan harus selalu ada dalam hidup kita. Apapun yang kita kerjakan harus mengandung nilai penebusan. Uang yang kita dapatkan harus dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Di sana ada nilai penebusan. Tuhan membentuk karakter kita untuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan (Galatia 5:22-23). Jika hidup kita tidak menjadi lebih baik, maka hidup kita sesungguhnya sia-sia. Itu berarti kita masih dibelenggu oleh dosa.

 

 

KESIMPULAN (Refleksi Iman)

 

            Apakah kita sudah sungguh-sungguh merdeka di dalam Yesus Kristus? Kita harus menjawab pertanyaan ini. Apakah kita masih terikat oleh dosa-dosa kita? Apakah kita sungguh-sungguh memiliki sukacita rohani di dalam Yesus Kristus? Kita memiliki pengharapan yang baru dalam mengikut pimpinan Tuhan. Kita menjadi berani untuk melayani Tuhan. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengarahkan seluruh hidup kita pada orientasi kekekalan? Kita harus jujur menjawab pertanyaan ini. Kita harus meminta ampun jika selama ini kita berorientasi pada diri sendiri. Apakah kita sudah sungguh-sungguh menguduskan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh hidup kita? Apakah seluruh aspek hidup kita sudah kita serahkan kepada Tuhan? Adakah bagian-bagian hidup kita yang membuat kita menjauh dari Tuhan? Empat pertanyaan ini harus kita renungkan secara mendalam dengan pimpinan Roh Kudus.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).