Kejatuhan Iman Asa (2 Tawarikh 16:1-14)

Kejatuhan Iman Asa (2 Tawarikh 16:1-14)

Categories:

Khotbah Minggu 13 Desember 2020

Kejatuhan Iman Asa (2 Tawarikh 16:1-14)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan melihat 2 Tawarikh 16:1-14. Salahkah kita jika kita menikmati hidup? Kitab Pengkhotbah berkata “segala sesuatu ada waktunya”. Jadi ketika kita menikmati segala hal, kita harus ingat bahwa semuanya itu adalah dari Tuhan. Kita dipanggil untuk menikmati Tuhan, bukan hal-hal fana yang memberikan kesia-siaan. Jadi kita harus terus waspada iman agar tidak kehilangan kendali. Kita bisa saja terjebak dalam kenikmatan fisik sampai melupakan Tuhan. Sampai sejauh mana kita boleh menikmati hidup? Kita boleh pensiun tetapi bukan karena umur. Kita pensiun karena standar kualitas. Ada orang-orang yang sudah tidak lagi melayani Tuhan setelah pensiun karena menikmati uang pensiunnya. Kehendak Tuhan seharusnya dikerjakan sampai kita mati. Warisan fisik bisa membuat kita kehilangan perjuangan hidup dan iman. Jadi kita harus berhati-hati. Mengapa raja Asa di masa tuanya mengalami kemunduran iman? Apakah hal ini dapat disebut wajar? Kita bisa mengalami kemunduran iman di masa apapun dalam hidup kita. Apa yang menyebabkan iman raja Asa mengalami kemunduran? Kita akan melihat mengapa raja Asa mengalami kemunduran iman. Bagaimana supaya kita tidak mengalami kemunduran iman? Kita bisa belajar dari Daniel, Daud, Yusuf, Pdt. Stephen Tong, dan lainnya. Kita harus bisa membaca, mengenal, dan membarui diri di dalam Tuhan. Dalam hal ini kita perlu meminta belas kasihan Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Periode Ujian iman raja Asa

            Ada tiga periode dalam bagian ini. periode pemerintahan pertamanya adalah masa 1-10 tahun (2 Tawarikh 14:1-8). Dalam masa ini ia melakukan reformasi rohani. Ia tidak seperti Abia dan Rehabeam tetapi ia menghancurkan berhala-berhala dan segala hal yang menjauhkan orang-orang Yehuda dari ibadah kepada Tuhan. Ia mendorong rakyat untuk mencari Tuhan dan firman-Nya. Ia bahkan berani memecat neneknya agar tidak mengganggu reformasi rohani itu. Jadi ia sudah memulai dengan baik. Hasilnya perlu dievaluasi dan dijaga. Periode kedua adalah masa 11-35 tahun (2 Tawarikh 14:9-15:9). Ia melakukan peperangan rohani yang besar dan mengalahkan raja Etiopia yang memiliki banyak kereta kuda. Ia menang karena mengandalkan Tuhan dalam doanya. Kita sudah mempelajari doanya yang menyatakan ketundukan dan kebergantungannya pada Tuhan. Namun di masa itu juga ia menikmati keamanan sampai pada akhirnya ia masuk ke dalam periode ketiga yaitu masa 36-41 tahun (2 Tawarikh 16:1-16) di mana ia mengalami kemunduran rohani. Pada masa itu Tuhan mengirim raja Israel untuk menguji imannya. Namun raja Asa bukan berdoa tetapi mengatur strategi politik dan mengandalkan kekuatan emas dan perak.

 

            Apa yang menyebabkan hal ini? Pertama karena raja Asa sudah terlalu lama menikmati takhta. Ia tidak mengaitkan takhtanya dengan nilai penggenapan Kerajaan Allah. Ketika kita mencapai kesuksesan kita dan kita melupakan Tuhan, di sanalah kita sebenarnya sudah jatuh. Kita bersyukur jika kita selalu diajarkan untuk memberikan janji iman dana maupun jiwa. Di sana kita diajarkan untuk berjuang bagi Tuhan. Setelah raja Asa berhasil mengumpulkan harta, ia melihat itu sebagai suatu kekuatan yang bisa diandalkan selain Tuhan. Kita boleh mengumpulkan harta, tetapi itu bukanlah untuk diri kita sendiri. Kita tidak boleh sampai tidak mengandalkan Tuhan karena kebanggaan pada harta materi. Yesus berkata: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:26). Kita bersyukur kalau kita bisa hidup mandiri secara materi, namun hal yang lebih penting adalah kemandirian rohani. Paulus berkata: Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:12-13).

 

            Hati yang bersyukur merupakan harta rohani yang harus kita punya. Alkitab mengajarkan kita konsep kecukupan dan rasa syukur. Yakobus mengajarkan: Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4:13-14). Tuhan-lah penguasa jiwa kita. Dia yang menentukan sampai kapan kita hidup. Dalam diri manusia berdosa bisa ada ambisi dan kesombongan yang membuat dirinya sampai mengorbankan keluarga dan orang lain sehingga ia mengalami kekosongan jiwa. Tanpa rasa cukup dan rasa syukur, kita tidak akan merasa puas. Ketika harta kita berlebih ataupun cukup, kita harus bersyukur. Namun hal yang lebih penting adalah memahami mengapa Tuhan memberikan itu semua kepada kita. Raja Asa terlalu menikmati takhta sampai tidak menggenapkan perintah Tuhan. Akhirnya Tuhan mengambil itu semua dengan menggerakkan raja Israel. Raja Asa kemudian memberikan hartanya kepada raja Aram agar ia menyerang Israel.

 

            Sebab kedua adalah iman yang tidak bertumbuh. Kekuasaannya dan kekayaannya bertumbuh, namun imannya tidak. Ini karena ia lupa menikmati Tuhan. Ketika kita melayani Tuhan, kita bisa menikmati Tuhan. Tuhan selalu memberikan kecukupan bagi kita. Kita bisa menyaksikan itu dan bersyukur karena melihat Tuhan yang besar dan hebat. Belas kasihan Tuhan memampukan setiap dari kita yang melayani. Di sana iman kita pasti bertumbuh. Jadi kita harus terus membaca dan mendengarkan Firman Tuhan. Pada zaman ini orang Kristen bisa jatuh karena gadget dan media sosial. Ada orang-orang yang sampai menjadi khawatir karena lupa membawa gadget. Di sana kita bisa melupakan Tuhan. Raja Asa menduakan Tuhan karena harta. Ia tidak terus membina relasi dengan Tuhan. Kita harus introspeksi dan evaluasi diri agar iman kita tidak mandek.

 

2) Double standard (standar ganda)

            Sebab ketiga adalah double standard (standar ganda). Banyak penafsir melihat raja Asa memiliki standar ganda. Standar ganda yang dimilikinya bukanlah dalam aspek konsep nilai tetapi dalam aspek kerohanian. Raja Asa menyamakan antara bergantung kepada raja Aram dengan Tuhan (kehilangan kepekaan rohani). Ada yang menyatakan bahwa kehidupan suami-istri itu indah ketika berkecukupan. Mereka hidup kompak dan berjuang bersama. Namun ketika mereka sudah menjadi sukses, istri kehilangan perjuangan dan suami jatuh ke dalam perselingkuhan. Apakah menjadi sukses itu salah? Pasti tidak salah. Hal yang terpenting adalah kita mengerti panggilan Tuhan. Ada suami yang tidak bisa terus berkembang dalam karier, namun ada pula yang bisa. Itu tidak masalah selama keluarga masih terus setia kepada Tuhan dan terus bersyukur. Apa yang menyebabkan raja Asa memiliki standar ganda? Ia sudah terikat dan bersandar pada harta. Tuhan tidak boleh disamakan dengan yang lain. Ketika kita membaca Firman Tuhan, kita harus bersikap dengan benar. Kita harus mau dikoreksi dan diubahkan. Jadi di sana harus ada kerendahan hati. Rasio kita harus ditundukkan di bawah iman. Kita bisa mengalami standar ganda dalam kerohanian, jadi kita harus berhati-hati. Kekuatan yang terutama bukanlah harta atau jabatan tetapi Tuhan. Nabi Hanani diutus oleh Tuhan untuk menegur raja Asa. Jangan sampai kita berpikir bahwa kita tidak akan bisa jatuh ke dalam dosa yang sama setelah mendengar bagian ini.

 

            Kita tidak boleh menyamakan mendengarkan khotbah dengan saat teduh. Ada orang-orang yang mengalami kemunduran rohani karena dosa atau kecewa pada Tuhan. Namun ada orang-orang yang mengalami kemunduran rohani karena salah memahami waktu perenungan rohani dan salah menghidupi spiritualitas. Orang-orang seperti ini tidak membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Orang yang sungguh mengenal Tuhan akan menikmati Tuhan dan selalu bertumbuh dalam kualitas pengenalan akan Tuhan. Kesaksiannya merupakan kesaksian yang baru, bukan kesaksian dari puluhan tahun yang lalu. Itu berarti ia terus mendapatkan penyegaran rohani dari Tuhan. Inilah yang tidak dimiliki oleh raja Asa. Ia tidak jatuh karena wanita atau harta tetapi ia jatuh karena standar ganda dalam kerohanian.

 

            Standar ganda raja Asa yang kedua adalah menyamakan antara melakukan pendekatan politik dengan pendekatan rohani (kehilangan peperangan rohani). Awalnya ia kehilangan kepekaan rohani, kemudian ia kehilangan peperangan rohani. Hidup kita harus memiliki batasan. Dalam etika Kerajaan Allah ada batasan yang disebutkan oleh Alkitab. Kita tidak bisa hidup sebebas-bebasnya. Kebenaran Firman Tuhan harus membatasi kita. Batasan dalam masyarakat juga harus kita hormati dalam hidup bermasyarakat. Saat melawan Etiopia, raja Asa berdoa. Ia melakukan peperangan rohani yang besar. Akhirnya ia menang karena mengandalkan Tuhan. namun dalam perlawanannya terhadap raja Israel, ia mengandalkan kekuatan manusia. Pendekatan politiknya lebih kuat daripada pendekatan rohaninya. Ia tidak mengarahkan rakyat untuk berdoa dan mencari Tuhan. Politik bisa menjadi jahat ketika itu dituhankan. Politik terkadang mengajarkan untuk menghalalkan segala cara demi tujuan. Namun Alkitab mengajarkan kita untuk memakai cara yang benar demi tujuan yang benar. Bahkan Alkitab menyatakan bahwa jika motivasi kita salah maka Tuhan pasti tidak berkenan. Jadi politik harus kita lihat dalam batasan yang jelas.

 

            Sebagai orang Kristen kita harus punya kepekaan untuk membedakan antara yang salah dan benar, yang suci dan tidak suci, serta yang bijaksana dan tidak bijaksana. Alkitab mengajarkan kita untuk tunduk kepada pemerintah jika pemerintah benar. Namun kita harus berhati-hati ketika politik masuk ke dalam agama dan sebaliknya. Politik dan agama tidak boleh dicampur. Semuanya memiliki batasan masing-masing. Orang-orang Farisi terlibat dalam politik. Mereka biasanya menganut standar ganda. Ketika beribadah, mereka bisa tampak begitu rohani, namun dalam dunia politik mereka tidak menyatakan Firman Tuhan. Dalam konsep Reformed, kita semua adalah orang rohani. Tidak ada pembagian antara orang Kristen rohani dengan orang Kristen sekuler. Semua dari kita adalah satu di dalam Tuhan dan kita semua harus tunduk di bawah Tuhan. Di dalam standar ganda raja Asa, ia melakukan manipulasi yang mengandung spekulasi. Ia mencobai Tuhan sampai akhirnya Hanani menegurnya. Namun raja Asa bukan bertobat tetapi memenjarakan Hanani serta rakyat yang dirasa melawannya.

 

3) Karakter rohani raja Asa

            Akhirnya karakter rohani raja Asa mengalami kerusakan (kehilangan kerendahan hati). Seharusnya ia bersyukur dan bertobat ketika Hanani berbicara, namun raja Asa tinggi hati dan keras kepala. Ini biasanya dialami oleh orang-orang yang sudah tua yang merasa dirinya hebat. Seharusnya kita belajar seperti padi yang semakin menunduk ketika isinya menjadi semakin banyak. Jadi kita harus terus membangun spiritualitas kita. Tidak boleh ada stop karena apapun juga. Pandemi pun tidak boleh menjadi penghalang kita. Kita sudah menganut standar ganda ketika kita berani bekerja namun tidak mau melayani. Dalam hal ini kita harus bertobat dan kembali kepada Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Iman harus terus bertumbuh dan berbuah. Ini tidak boleh berhenti. Kita harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan setiap hari melalui pembacaan Alkitab. Dalam situasi apapun kita harus berbuah. Tuhan bisa bekerja dalam diri kita pada situasi apapun. Tuhan begitu ajaib dan luar biasa. Ia bisa bekerja melampaui pemikiran kita.

 

2) Jangan terjebak dengan menikmati kuantitas hidup tanpa diikuti kualitas rohani. Apa artinya kita kaya secara fisik namun tidak kaya secara rohani. Hal yang terpenting adalah kaya secara rohani dan menikmati Tuhan.

 

3) Milikilah wadah untuk pertumbuhan rohani senantiasa (KTB) di Gereja. Kelompok ini berguna untuk mengingatkan kita secara rohani. Kita harus terus mau dipakai oleh Tuhan, berapapun umur kita. Kita aktif melayani bukan karena kita memiliki jabatan di Gereja. Keaktifan kita harus diikat dengan kepekaan dan peperangan rohani kita. Komunitas dalam Gereja itu penting untuk membangun kita. Iman kita harus selalu bertumbuh sampai mati. Di masa tuanya raja Asa menyiksa rakyat yang tidak mematuhinya. Ini adalah kesalahannya. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk konsisten dalam mengikut Tuhan sampai nafas terakhir kita. Tidak ada pensiun melayani bagi kita karena pelayanan adalah panggilan dan anugerah. Itulah keindahan yang Tuhan berikan. Tuhan mencari buah iman yang dihasilkan selama kita hidup. Jadi kita harus terus kompak, setia, dan bertumbuh di hadapan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).