Kesempurnaan Kehendak Tuhan (Nehemia 5-10)

Kesempurnaan Kehendak Tuhan (Nehemia 5-10)

Categories:

Khotbah Minggu 15 Agustus 2021

Kesempurnaan Kehendak Tuhan (Nehemia 5-10)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan melihat beberapa bagian Alkitab dalam kitab Nehemia berkaitan dengan kehendak Tuhan yang sempurna. Kita akan membahas Nehemia 6:14-16; 7:1-3; 8:7, 9; 9:38. Apakah ada kehendak Allah yang tidak sempurna? Pasti tidak ada. Kehendak Allah yang paling sempurna adalah wahyu khusus, yaitu Alkitab. Kebenaran Alkitab memerdekakan kita dan memimpin hidup kita sampai kita bertemu dengan Tuhan. Jika ada yang menyatakan bahwa Alkitab itu mengandung kesalahan, maka ia menyatakan bahwa Allah tidak sempurna. Alkitab itu cukup, jelas, dan mutlak. Kita tidak perlu mempertanyakan Alkitab. Tuhan juga memberikan wahyu umum. Kita melihat kemuliaan Tuhan dalam seluruh ciptaan. Setiap hewan memiliki keunikan dan keindahannya tersendiri. Di balik semua itu ada tangan Tuhan. Tuhan juga berkarya dalam sejarah. Tuhan juga menyatakan kehendak-Nya kepada masing-masing kita secara pribadi.

 

Bait Suci dibangun karena kehendak Tuhan yang sempurna, namun kemudian Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M. Namun kesempurnaan itu hanya dalam satu waktu, tidak kekal. Kesempurnaan yang bersifat kekal adalah ketika nanti kita berada di surga. Tuhan menciptakan kita sempurna. Masing-masing orang bisa menilai keindahan secara berbeda, namun kita berharga di mata Tuhan. Pembangunan tembok Yerusalem oleh Nehemia dan orang-orang yang pulang dari pembuangan itu sempurna di mata Tuhan pada saat itu. Mereka berpikir bahwa pembangunan tembok itu memerlukan 76-79 hari, namun ternyata hanya 52 hari sudah selesai. Ada tantangan dari dalam dan dari luar, namun mereka berhasil karena Nehemia bisa mengarahkan mata mereka kepada Tuhan. Tantangan dari luar yaitu Tobia dan Sanbalat bisa diatasi. Tantangan dari dalam yaitu orang-orang kaya yang mempersulit rakyat juga bisa ditangani oleh Nehemia karena mereka sadar mereka adalah umat Tuhan. Teguran dari Nehemia itu mengandung spekulasi karena orang-orang kaya itu adalah penyumbang pembangunan tembok Yerusalem. Namun Nehemia tidak takut karena ia mau menegakkan kebenaran. Perjuangan iman Nehemia dan Ezra begitu konsisten dan mereka mau berkorban.

 

Mengapa Allah tidak langsung menghancurkan gerakan Tobia dan Sanbalat yang mau menghalangi pembuangan tembok Yerusalem? Mengapa Allah tidak menyatakan kuasa-Nya dengan menghilangkan Covid-19 dalam waktu singkat? Dalam konteks Nehemia, Allah membiarkan Sanbalat dan Tobia. Mereka bahkan berani menggunakan siasat-siasat licik untuk menjatuhkan Nehemia. Ketika Tuhan membiarkan mereka, itu bukan berarti Tuhan tidak mengasihi Nehemia. Ketika Tuhan Yesus menjadi manusia, Ia mengalami proses hidup seperti kita. Ia lahir bagi seorang bayi, bertumbuh, dan harus bekerja sebagai anak tukang kayu. Ia tidak menghancurkan orang-orang yang menghalangi pelayanan-Nya. Jadi jika kita diizinkan mengalami penderitaan psikis atau batin, maka kita harus melalui semua itu bersama dengan Tuhan. Setiap tantangan harus kita lihat sebagai ujian iman. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Jadi jika kita mengalami penderitaan psikis itu wajar dan kita harus bergantung pada Tuhan. Penderitaan itu bisa dipakai oleh Tuhan untuk membuat kasih kita bertumbuh. Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya (Pengkhotbah 7:2). Pertumbuhan yang Tuhan berikan kepada kita itu tidak bisa dibeli dengan uang.

 

Kita tidak boleh melihat Covid-19 sebagai kutukan Tuhan. Dalam kedaulatan Tuhan, Covid-19 ini bisa ada dan kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19. Kita bisa sehat atau sakit juga dalam izin Tuhan. Jika memang belum waktunya, maka kita tidak mungkin jatuh sakit. Jika kita bisa memiliki pengalaman bersama dengan Tuhan, maka itu adalah pengalaman yang sangat berharga. Ketika kita mengalami sakit yang begitu parah sampai seperti melewati bayang-bayang maut dan kemudian kita dipulihkan, maka di sana kita akan seperti mengalami kelahiran baru. Kita memiliki kasih, pengharapan, dan iman yang baru kepada Tuhan. Tuhan tidak langsung menghancurkan gerakan Sanbalat dan Tobia karena Tuhan mau menyatakan siapa diri-Nya kepada mereka dan bangsa Israel. Mereka sudah berencana untuk membunuh Nehemia dan Nehemia mengetahui hal tersebut. Respons Nehemia adalah berdoa kepada Tuhan. Saat Nehemia pertama kali mendengar bahwa tembok Yerusalem sudah hancur, respons Nehemia pertama-tama adalah berdoa dan berpuasa sampai berhari-hari. Jadi Nehemia percaya bahwa doa orang benar itu besar kuasanya. Ia sadar bahwa doa dan puasa itu melatihnya untuk semakin bergantung pada Tuhan. Yakobus 5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Doa itu bisa memulihkan kita. Doa Nehemia menunjukkan kebergantungan Nehemia pada Tuhan yang memiliki semua ciptaan.

 

Hal yang paling indah dalam suatu pergumulan adalah ketika kita berdoa. Tuhan Yesus memiliki kebiasaan berdoa pagi-pagi benar. Sebelum Ia ditangkap, Ia juga berdoa. Itulah kekuatan kita. Doa kita menunjukkan kesalehan kita. Doa-doa Nehemia selalu berkaitan pengenalan akan Tuhan. Ia tidak pernah berdoa meminta hal-hal yang menguntungkan dirinya sendiri. Pusat doanya adalah kemuliaan Tuhan. Sudahkah doa-doa kita bersifat teosentris dan bukan antroposentris? Apakah doa-doa kita bersifat hedonistik dan materialistik? Di tengah semua tantangan itu, pembuangan tembok Yerusalem selesai dalam 52 hari. Ini karena doa memimpin visi. Hidup tanpa visi tidak akan punya isi. Hidup kita harus diisi dengan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan. Hidup tanpa Tuhan itu kosong adanya. Banyak keluarga bisa pergi jalan-jalan ke luar negeri setiap tahun namun keluarga mereka tidak harmonis. Ini karena mereka kehilangan relasi di dalam Tuhan. Doa itu memimpin visi dan visi itu digenapkan dalam perjuangan iman. Nehemia itu tekun berdoa, setia pada visi Tuhan, dan siap berkorban dalam perjuangan iman supaya kehendak Tuhan yang sempurna itu digenapkan.

 

Jadi jika kita mau menggenapkan visi Tuhan maka kita harus memiliki ketekunan yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus. Kita harus memiliki ketahanan rohani. Paulus mencapai garis akhir dengan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Nehemia memiliki ketekunan iman dan kesetiaan kepada Tuhan yang luar biasa. Ia tidak bergantung pada raja Persia yang bisa memberikan banyak hal kepadanya. Nehemia juga memiliki pengorbanan. Jabatan yang diberikan kepadanya tidak dipakai dengan seenaknya untuk dirinya sendiri. Sebagai orang Kristen, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk berkorban maka kita harus mengambilnya. Tuhan Yesus sudah banyak berkorban bagi kita dan Ia adalah teladan kita yang sempurna. Kita bisa mencoba membayangkan bagaimana Yesus berjalan sambil memikul salib. Di perjalanan, orang-orang memaki dan menghina Yesus. Ada pula orang-orang yang meludahi-Nya. Pengorbanan-Nya dalam nilai penebusan itu begitu indah.

 

Semua hal ini membuat Nehemia berhasil dalam perjuangannya. Nehemia 6:16 Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar, bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah kami. Jadi tantangan dari Sanbalat dan Tobia itu diizinkan oleh Tuhan karena Tuhan mau menyatakan kemuliaan-Nya. Mereka menjadi sadar bahwa pembangunan tembok itu bisa selesai karena pertolongan Allah. Gereja bisa berdiri di tengah banyak tantangan karena ada pertolongan Tuhan. Sebelumnya ketika Nehemia menegur Sanbalat dan tobia, ia mempersaksikan Tuhan. Ia tidak membanggakan dirinya ketika tembok itu selesai dibangun tetapi ia menyatakan kebaikan dan kebesaran Tuhan. Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Apapun yang kita alami, Allah selalu mengasihi kita. Tantangan dalam pelayanan kita kepada Tuhan itu diizinkan dalam kedaulatan Tuhan dan Tuhan pasti memelihara kita. Kita tidak perlu mencari pembelaan manusia karena pembelaan dari Tuhan itu sempurna. Tuhan memelihara dan menopang kita.

 

Setelah tembok itu selesai, Nehemia tidak berhenti di sana. Ia mengatur agar kota itu menjadi kota perlindungan sehingga rakyat merasakan kehadiran Tuhan di sana. Ia mau agar kota itu menjadi kota Allah. Nehemia 7:1-2 Setelah tembok selesai dibangun, aku memasang pintu-pintu. Lalu diangkatlah penunggu-penunggu pintu gerbang, para penyanyi dan orang-orang Lewi. Pengawasan atas Yerusalem aku serahkan kepada Hanani, saudaraku, dan kepada Hananya, panglima benteng, karena dia seorang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Allah lebih dari pada orang-orang lain. Nehemia sadar bahwa masih ada musuh di luar yang bisa mengganggu. Semuanya bekerja untuk menyatakan kehadiran Allah di Yerusalem. Hal yang terpenting dalam rumah kita bukanlah ukuran rumah kita tetapi kehadiran Allah. Tanpa damai dari Allah, rumah sebagus apapun akan menjadi percuma. Setelah itu mereka memanggil orang-orang di pembuangan untuk pulang ke Yerusalem. Jadi ada orang-orang yang pulang tanpa ikut membangun, namun orang-orang yang ikut berjuang membangun tembok pasti lebih bahagia atau bersukacita. Orang-orang yang sudah berjuang membangun semuanya tetap menerima orang-orang yang baru pulang tanpa ikut berjuang.

 

Nehemia juga memikirkan pembangunan kerohanian umat Tuhan. Ezra membacakan Firman Tuhan dan mengajar umat Tuhan. Seluruh rakyat sujud menyembah di hadapan Tuhan. Setelah itu Nehemia dan Ezra mengajak seluruh rakyat untuk mengaku dosa dan mengadakan pemulihan rohani. Hal yang tersulit bukan membangun tembok secara fisik tetapi membangun kerohanian rakyat. Untuk membangun kerohanian, mereka kembali kepada Firman Tuhan. Setelah itu mereka melakukan pembaruan komitmen atau perjanjian di hadapan Tuhan. Dalam hidup kita harus selalu ada pembaruan komitmen secara rohani. Nehemia dan Ezra mau agar semua orang yang berada di sana sungguh-sungguh punya komitmen untuk Tuhan. Nehemia tahu bahwa ia pasti suatu kali kelak akan mati dan ia tidak bisa terus mengawasi kerohanian rakyat. Komitmen mereka dibubuhi dengan meterai.

 

Kehendak Tuhan itu sempurna dan memuliakan Tuhan. Kita harus mengerjakan semua kehendak Tuhan dengan sempurna. Kita harus berdoa dan memiliki komitmen untuk menjadi penggenap-penggenap kehendak Tuhan. Kita berdoa agar Tuhan bekerja dalam hidup kita sehingga kita menjadi saksi bagi kemuliaan nama-Nya. Setiap momen yang menjadi tantangan dan kesulitan dalam hidup kita bisa dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kebesaran-Nya melalui kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).