Masalah Iman yang Kecil

Masalah Iman yang Kecil

Categories:

Khotbah Minggu 27 Juni 2021

Masalah Iman yang Kecil

Vik. Tommy Suryadi, M.Th.

 

 

            Kita mungkin sudah ada asumsi tentang ‘iman yang kecil’. Kita akan melihat apa arti iman yang kecil dari Injil Matius. Injil Matius menyebut tentang iman yang kecil sebanyak lima kali (Matius 6:30, 8:26, 14:31, 16:8, 17:20). Pada masing-masing bagian kita akan melihat keseluruhan perikop dari setiap ayat.

 

1) Matius 6:25-34

            Pada ayat ke-30 ada frasa ‘kurang percaya’. Dalam terjemahan bahasa Inggris dituliskan ‘little faith’. Bahasa aslinya (Yunani) berbunyi oligopistos. Pistos/pistis berarti iman dan oligo berarti kecil atau sedikit. Jadi terjemahan ‘little faith’ atau ‘kurang percaya’ dalam bahasa Indonesia sebenarnya sudah tepat. Seperti apakah iman yang kecil dalam bagian ini? Pertama orang itu khawatir akan kebutuhan hidupnya. Ia tidak melihat kepada Allah yang pasti mencukupkan kebutuhan hidupnya. Dalam ayat ke-32 ditulis ‘bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah’. Jadi iman yang kecil itu disejajarkan dengan tidak mengenal Allah. Jadi memiliki iman yang kecil itu merupakan masalah. Namun di sini Tuhan tidak hanya menegur tetapi juga memberikan belas kasihan. Tuhan Yesus masih mau memberitakan Firman Tuhan kepada mereka. Dua sisi ini harus ada: teguran dan belas kasihan. Jika hanya ada belas kasihan maka kita akan menjadi manja, namun jika hanya ada teguran maka tidak akan merasakan kasih itu.

 

2) Matius 8:23-27

            Sama dengan bagian sebelumnya, ‘kurang percaya’ di sini juga berasal dari kata oligopistos. Yesus bertanya ‘mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ bukan karena Ia tidak tahu dan bertanya tetapi karena ia mau mereka merenung. Orang yang kurang percaya itu punya ciri memiliki banyak ketakutan. Sebagian dari para murid pernah bekerja sebagai nelayan. Mereka sudah tahu bahwa angin ribut itu bisa membinasakan mereka. Bukankah wajar jika mereka ketakutan karena angin ribut itu? Namun bagi Tuhan Yesus ketakutan mereka bukanlah hal yang wajar. Apakah Tuhan Yesus tidak mengerti? Pasti Ia mengerti. Masalahnya adalah para murid sudah jelas sedang bersama dengan Tuhan. Jadi seharusnya mereka tidak perlu takut. Hal yang harus kita pikirkan bukanlah apakah masalah itu besar atau kecil tetapi apakah Tuhan beserta kita atau tidak. Dari ayat ke-27 kita tahu bahwa ternyata para murid belum benar-benar mengenal Yesus. Jadi seperti bagian sebelumnya, kurang percaya itu disebabkan oleh kurangnya pengenalan akan Allah. Para murid sudah melihat banyak mukjizat namun itu tidak menjamin pengenalan mereka akan Yesus. Jadi solusi bagi iman yang kecil adalah mencari pengenalan akan Allah. Kita mengenal Allah dari Alkitab, maka dari itu kita harus rajin dan rutin merenungkan Firman Tuhan. Dalam bagian ini kita juga melihat belas kasihan Tuhan dan teguran Tuhan. Dari kejadian ini mereka menjadi lebih mengenal Yesus.

 

3) Matius 14:22-33

            Dalam bagian ini kita melihat suatu pertumbuhan, namun tetap masih ada teguran bagi iman yang kecil. Mereka berpikir bahwa Yesus yang berjalan di atas air itu adalah hantu karena pada saat itu banyak orang percaya bahwa di laut ada roh-roh jahat atau gentayangan. Hal seperti itu tidak pernah dinyatakan dalam Perjanjian Lama, namun sangat mungkin itu adalah cerita mistis yang populer pada saat itu. Tuhan menenangkan mereka dan mereka sadar bahwa itu bukan hantu tetapi Tuhan. Petrus kemudian meminta agar Tuhan membuatnya bisa berjalan di atas air dan Tuhan mengabulkannya. Petrus keluar dari perahu itu dan benar-benar berjalan di atas air. Jadi ia sendiri mengalami mukjizat itu, namun tiupan angin itu membuatnya takut dan mulai tenggelam. Awalnya ia melihat kepada Yesus, meminta mukjizat, mendapatkannya, dan mengalaminya sendiri, namun tiupan angin itu membuatnya tidak lagi melihat kepada Yesus. Martyn Lloyd-Jones menulis bahwa iman yang besar atau benar itu adalah iman yang terus melihat kepada Yesus. Saat Petrus mulai tenggelam, ia berteriak meminta pertolongan Tuhan dan Tuhan segera memegang tangannya. Di sini kita melihat teguran dan juga belas kasihan Tuhan. Jadi Petrus sudah lebih percaya namun masih kurang percaya. Ayat ke-33 menyatakan pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Jadi pengenalan mereka akan Yesus sudah lebih baik dari sebelumnya. Masalah dan ketakutan kita bisa dipakai Tuhan agar kita semakin mengenal Dia.

 

4) Matius 16:5-12

            Para murid sudah jelas melihat bagaimana 5000 dan 4000 orang bisa makan bahkan sampai ada sisanya karena mukjizat Tuhan Yesus, namun mereka masih mempermasalahkan tidak adanya roti. Di sini Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka kurang percaya. Orang yang sudah melihat banyak mukjizat dan pimpinan Tuhan belum tentu memiliki iman yang besar. Ini bisa terjadi jika mereka lupa atau tidak mengerti apa yang Tuhan kerjakan. maka dari itu itu kita tidak boleh pernah melupakan apa yang Tuhan telah lakukan di masa lampau. Kita harus terus merenungkan karya-karya Tuhan sampai kita sungguh-sungguh mengerti. Orang-orang yang sering melayani belum tentu memiliki iman yang besar. Kita bisa merasa bahwa orang-orang yang rajin melayani itu memiliki iman yang besar, namun kita bisa salah menilai. Tuhan-lah yang paling mengerti iman setiap orang itu seperti apa.

 

5) Matius 17:14-20

            Para murid sampai bagian ini seharusnya sudah banyak mengalami pengalaman bersama dengan Tuhan, namun mereka masih mendapatkan teguran karena mereka kurang percaya. Mereka disebut sebagai ‘angkatan yang tidak percaya dan sesat’. Hal itu disejajarkan dengan ‘kurang percaya’. Jadi orang yang ‘kurang percaya’ itu hampir sama parahnya dengan orang yang ‘tidak percaya’. Setelah itu Tuhan Yesus menyatakan tentang iman yang sebesar biji sesawi. Dari Matius 13:32 kita tahu bahwa biji sesawi adalah benih yang terkecil. Iman yang kecil itu dianggap lebih kecil daripada biji sesawi yang paling kecil. Apa yang lebih kecil daripada yang paling kecil? Di sini Tuhan Yesus menegur dengan keras. Mereka kurang bergantung pada Allah. Mereka tidak menyerahkan hidup mereka 100% kepada Allah.

 

            Ada penafsir yang menyatakan bahwa iman biji sesawi itu adalah iman yang pasti bertumbuh dan akan menjadi sangat besar. jika kita melihat dari sisi ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa banyaknya pelayanan dan banyaknya mukjizat tidak dapat menjamin pertumbuhan iman seseorang. Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, bukan pelayanan. Pelayanan punya bagiannya tersendiri dan itu tetap penting dalam iman orang Kristen, namun Tuhan menetapkan bahwa pertumbuhan iman itu datang dari pendengaran akan Firman Tuhan.

 

6) Iman yang Besar (Matius 8:5-13)

            Dalam kalimat Yesus ada pujian dan teguran. Ia memuji besarnya iman perwira itu sekaligus menegur orang-orang Israel yang tidak memiliki iman sebesar iman perwira itu. Seperti apakah ciri orang yang beriman besar? Dalam konteks zaman itu, orang Romawi dianggap lebih tinggi daripada orang Israel. Kendati demikian, perwira itu sadar siapa Yesus dan tahu bahwa Yesus jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Yesus mau datang ke tempatnya, namun ia merasa tidak layak menerima Tuhan Yesus. Perwira itu percaya bahwa sepatah kata dari Yesus sudah cukup. Ini adalah iman Kejadian 1. Ketika Allah berfirman, semuanya terjadi. Perwira ini juga memiliki kerendahan hati. Pada saat itu juga kita tahu bahwa Tuhan Yesus melayani bukan hanya orang-orang Israel tetapi juga orang-orang dari bangsa lain.

 

7) Iman yang Besar (Matius 15:21-28)

            Seperti apakah ciri orang yang beriman besar dalam bagian ini? Ia berkali-kali meminta belas kasihan Tuhan dan tidak menyerah berdoa kepada Tuhan. Tuhan seperti tidak peduli kepadanya sampai berkali-kali namun perempuan itu tidak berhenti memohon kepada Tuhan. Akhirnya Tuhan menyatakan bahwa ia adalah anjing dan perempuan itu menerima sebutan tersebut, namun ia tidak berhenti meminta belas kasihan Tuhan. Segera setelah itu Tuhan Yesus langsung memuji imannya dan langsung menyatakan mukjizat-Nya. Jadi dalam bagian ini Tuhan bukan tidak peduli tetapi seperti ingin menguji imannya. Ada penafsir yang menyatakan bahwa kemungkinan besar perempuan ini sudah mendengar tentang Yesus karena karya-karya mukjizat-Nya dan mungkin juga perempuan ini sedikit-banyak sudah pernah mendengar tentang iman Perjanjian Lama, terutama bagian yang berbicara tentang janji Allah kepada Abraham tentang keturunannya: Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku (Kejadian 22:18). Iman Israel bukanlah hal yang asing bagi bangsa-bangsa di sekitar Israel. Kemungkinan besar perempuan ini mengerti tentang janji itu dan tidak berhenti memohon kepada Tuhan karena ia memegang janji itu. Meskipun ia disebut sebagai anjing, ia tidak mundur.

 

            Sebaliknya, orang Israel tidak mau berdoa kepada Tuhan. Jangankan berdoa, mereka malah menjauh dari Tuhan. Kisah ini berbicara tentang iman yang besar dari seorang perempuan Kanaan. Perempuan dipandang rendah pada masa itu. Selain itu, ia juga dianggap sebagai orang kafir karena ia berasal dari Kanaan. Kendati demikian, imannya yang besar itu dipuji oleh Tuhan. Sekali lagi kita melihat bahwa Tuhan Yesus juga menjadi berkat bagi bangsa lain. Dari dua contoh ini kita melihat bahwa orang yang beriman besar punya beberapa ciri: rendah hati, selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan pasti sanggup (mahakuasa, tidak dibatasi ruang dan waktu). Apakah semua ciri ini ada pada iman kita? Kita harus merenungkan secara pribadi di hadapan Tuhan.

 

8) Pelajaran yang Kita bisa Renungkan dari Semua Ini

            Iman yang kecil melihat bahwa Allah itu kecil dan masalah itu besar, namun iman yang besar melihat bahwa Allah itu besar dan masalah itu kecil. Masih banyak pelajaran lain yang kita bisa renungkan dari semua bagian ini. Bagaimana kita menyikapi masa pandemi ini? Apakah Gereja yang membuka ibadah fisik pasti beriman besar dan Gereja yang tidak demikian pasti beriman kecil? Belum tentu. Apakah orang yang mau datang secara fisik beribadah itu pasti beriman besar dan orang yang tidak mau itu pasti beriman kecil? Belum tentu. Tidak ada manusia yang bisa dengan tepat dan akurat menilai iman orang lain. Hanya Tuhan yang mampu melakukan hal ini. Para rasul pun tidak pernah menyatakan tentang besar-kecilnya iman orang lain dalam Perjanjian Baru. Tuhan tidak pernah berjanji bahwa orang percaya pasti akan bebas dari Covid-19 dan kematian karena Covid-19. Kenyataannya ada banyak kasus di mana orang-orang Kristen terjangkit Covid-19 dan meninggal karena Covid-19.

 

            Dalam masa pandemi ini kita sulit bertemu secara fisik dan berkomunikasi secara langsung. Kita memiliki teknologi namun itu semua masih memiliki batasan masing-masing. Jadi miskomunikasi dan salah paham itu sangat rentan terjadi. Di sinilah kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh sampai mengambil kesimpulan yang salah dan negatif tentang orang lain sebelum kita mendapatkan kepastian bahwa memang orang itu benar demikian. Ada seorang teolog yang menulis bahwa sebelum kita benar-benar tahu dan mendapatkan bukti tentang kebaikan atau keburukan seseorang, maka lebih baik kita berpikir secara positif terlebih dahulu sampai ada bukti yang menyangkal hal tersebut. Kita boleh berhati-hati namun kita tidak boleh sampai menganggap pasti suatu hal yang sebenarnya belum pasti.

 

            Di satu sisi, ada orang-orang seperti tim medis (misalnya dokter dan perawat) yang lebih jarang beribadah secara fisik karena mereka berhadapan dengan Covid-19 setiap hari. Mereka tidak mau sampai menularkan virus kepada orang lain di ibadah fisik. Mereka juga harus melihat banyaknya pasien yang menderita dan meninggal karena Covid-19. Kita harus mencoba memosisikan diri kita pada tempat mereka dan mencoba mengerti kesulitan mereka. Jadi ketika mereka tidak hadir dalam ibadah fisik itu belum tentu karena mereka kurang beriman. Di sisi lain kita juga harus mengerti orang-orang yang memang secara tulus rindu untuk beribadah secara fisik. Masa pandemi ini sungguh berat, maka dari itu kita harus saling membangun. Kita tidak boleh saling menyalahkan dan saling menunjuk satu sama lain (pihak yang beribadah secara fisik menuduh orang lain tidak beriman dan pihak yang beribadah secara online menuduh orang lain terlalu berani dan tidak memikirkan orang lain). Kita harus berusaha untuk mengerti pergumulan orang lain.

 

            Kita tidak bisa dengan mudah menyimpulkan apakah ibadah online itu boleh atau tidak boleh. Beberapa hal tertentu memang jelas tidak boleh, misalnya membunuh, berzinah, dan mencuri, namun masalah ibadah online ini tidak sesederhana itu. Ada orang-orang yang beribadah, baik secara fisik maupun online, dengan motivasi yang salah. Hanya Tuhan yang paling tahu isi hati manusia. John Piper menyatakan bahwa sebelum kita menegur orang lain kita harus memastikan bahwa hati kita penuh dengan kasih sehingga kita menegur bukan karena benci, dendam, atau alasan negatif lainnya.

 

            Dalam Bible Camp Nasional yang lalu, ada sebuah video yang menampilkan tentang seorang remaja yang berdoa meminta umur panjang dan bebas dari Covid-19. Kemudian ada pertanyaan yang muncul: untuk apa kita meminta umur panjang? Untuk apa kita meminta kesehatan? Apakah semua itu kembali untuk diri kita sendiri? Hidup singkat yang semuanya dipersembahkan kepada Tuhan itu jauh lebih berarti daripada hidup panjang yang tidak berkenan kepada Tuhan. Ketika Yesus berkata bahwa kita harus memikul salib setiap hari, itu berarti bahwa kita harus siap mati setiap hari. Memikul salib berarti orang yang memikul salib tersebut harus berjalan menuju ke tempat di mana ia akan disalib, seperti Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mau semua pengikut-Nya memikul salib setiap hari, jika tidak maka mereka disebut tidak layak bagi-Nya. Mungkin kita kesulitan ketika mendengar perintah ini. Boleh saja kita berdoa meminta umur panjang dan kesehatan dengan motivasi yang benar, namun kita tetap harus siap untuk mati setiap hari.

 

            Kita harus memegang janji Tuhan dalam Roma 8:38-39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Kita juga harus melihat bagaimana teman-teman Daniel berserah kepada Tuhan ketika mereka akan dibakar karena tidak mau menyembah patung buatan Nebukadnezar dalam Daniel 3:17-18. Terjemahan yang lebih baik menyatakan bahwa mereka percaya bahwa Allah pasti sanggup melepaskan mereka, namun mereka menyerahkan keputusan tersebut kepada Tuhan. Mereka tetap tidak mau kompromi kalaupun Allah pada akhirnya memutuskan tidak mau menyelamatkan mereka dari api tersebut.

 

            Katekismus Heidelberg pertanyaan nomor 1 berbunyi: Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati? Jawabannya secara singkat adalah: bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati, bukan milikku, melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia. Ini ditulis hampir 500 tahun yang lalu namun pesannya masih signifikan sampai hari ini. Penghiburan kita yang sejati hanya ada di dalam Kristus, tidak ada yang lain.

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – TS)