Mengapa Yesus Datang? (Lukas 5:27-32)

Mengapa Yesus Datang? (Lukas 5:27-32)

Categories:

Khotbah Minggu 27 Desember 2020

Mengapa Yesus Datang?

Lukas 5:27-32

Vik. Tommy Suryadi, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan membahas mengapa Yesus datang. Ini mungkin pertanyaan yang terkesan sederhana, namun bagaimana kita menjawab pertanyaan ini? Banyak orang menjawab bahwa Yesus datang untuk menghapuskan dosa manusia. Itu adalah jawaban yang benar, namun apakah kita sudah tahu aspek-aspek yang lain? Kalau kita hanya mengerti satu jawaban saja, maka kita sudah gagal memahami kekayaan jawaban yang Alkitab sudah sediakan bagi kita. Kalau kita mengerti sebagian saja, maka kita tidak akan bisa menghargai kedatangan Yesus secara maksimal. Jika seorang perempuan bertanya kepada laki-laki yang mengasihinya “mengapa engkau mencintai saya?” lalu laki-laki itu menjawab “karena matamu indah” dan tidak ada jawaban yang lain, maka itu berarti ketika perempuan itu menutup mata, laki-laki itu akan kehilangan alasan untuk mencintai perempuan itu. Ketika perempuan itu sakit mata atau harus memakai kacamata maka alasan cintanya tidak akan ada lagi. Kita begitu miskin jika kita hanya mengerti satu jawaban mengapa Yesus datang. Kita mengucap syukur karena kita sudah mendengar berbagai aspek dari Natal misalnya nyanyian Natal dalam surat 1 Timotius yang dikhotbahkan oleh pak Tonny Sutrisno, pembahasan mengapa Yesus datang dari Yohanes 10:10 oleh Pdt. Stephen Tong, dan pembahasan tentang bagaimana Yesus membongkar kemunafikan agama oleh Pdt. Pdt. Tumpal.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Introduksi Lukas 5:27-32

            Kita akan membahas mengapa Yesus datang dari Lukas 5:27-32. Alkitab menyebutkan berbagai alasan mengapa Yesus datang. Salah satunya adalah bagian ini. alasan itu sendiri tercantum dalam ayat ke-32, namun kita harus mengerti satu perikop ini untuk dapat mengerti konteks ketika ayat ini diucapkan. LAI memberikan judul perikop ini “Lewi pemungut cukai mengikut Yesus”. Tuhan memanggil Lewi yang disebut juga Matius yang adalah pemungut cukai untuk mengikut-Nya. Sebelum perikop ini Lukas mencatat kisah penyembuhan fisik seperti “orang lumpuh disembuhkan” dan “Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta”. Perikop tentang Lewi mengikut Yesus juga disebutkan dalam Injil Matius dan Markus. Ada beberapa detail yang berbeda dalam catatan Lukas yang harus kita perhatikan.

 

2) Ayat 27

            Ketika membaca ‘pemungut cukai’ mungkin kita membayangkan orang-orang yang berkeliling dari rumah ke rumah dan meminta uang serta mengancam orang-orang yang tidak mau membayar pajak. Itu adalah gambaran yang benar, namun Lewi tidak bekerja seperti itu. Ayat ke-27 menyatakan bahwa ia sedang duduk di rumah cukai. Ia adalah pemungut cukai yang berdiam di satu tempat dan meminta uang dari orang-orang yang lewat tempat itu. Jadi ia seperti penjaga pintu tol. Setelah itu dikatakan bahwa Yesus datang dan mengundangnya untuk mengikut Dia. Cara ini begitu berbeda dengan konsep pada zaman itu. Biasanya para muridlah yang memilih gurunya, bukan sebaliknya. Namun Yesus datang dan Ia sendiri yang memanggil para murid-Nya. Jadi bukan manusia yang berinisiatif untuk datang kepada Allah tetapi Allah-lah yang datang dan memanggil manusia. Bukan Lewi yang memilih Yesus tetapi Yesus-lah yang memilih Lewi.

 

            Pemungut cukai pada masa itu adalah orang yang sangat dibenci. Ada beberapa alasan mengapa mereka dibenci: 1) para pemungut cukai meminta uang untuk diberikan kepada kaisar Romawi yang menjajah Israel, 2) para pemungut cukai biasanya bergaul dengan orang Romawi sehingga sebagian dari mereka juga ikut menyembah dewa-dewa orang Romawi, dan 3) para pemungut cukai biasanya mengambil uang lebih dari yang seharusnya untuk kekayaan diri mereka sendiri. Saat itu tidak ada orang Israel yang bisa menuntut para pemungut cukai karena mereka dilindungi oleh otoritas Romawi. Dari keluarga yang tidak bisa membayar pajak, biasanya para pemungut cukai bisa mengambil anak-anak keluarga tersebut untuk dijual sebagai budak. Itulah mengapa mereka sangat dibenci oleh orang Israel. Bahkan orang Romawi sendiri pun memandang mereka rendah. Namun mengapa ada orang-orang yang mau menjadi pemungut cukai? Meskipun mereka dibenci, mereka bisa mendapatkan keuntungan finansial yang begitu besar. Bahkan ada orang-orang Yahudi yang sengaja mengejar jabatan ini demi uang.

 

            Bagaimana perasaan orang-orang saat itu ketika melihat Yesus memanggil seorang pemungut cukai untuk menjadi murid-Nya? Pemungut cukai itu bagaikan sampah masyarakat, bagaimana mungkin Yesus yang begitu suci mau menjadikan sampah masyarakat sebagai murid-Nya? Bukankah Yesus bisa memilih murid-murid lain yang lebih baik statusnya? Di sini kita melihat betapa besarnya anugerah Tuhan, salah satunya untuk Lewi.

 

3) Ayat 28

            Di sini dikatakan bahwa Lewi meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Berdasarkan bahasa Yunani, ‘meninggalkan; dituliskan dalam bentuk lampau (aorist). Jadi Lewi telah meninggalkan segala sesuatu. Kata ‘mengikut’ dituliskan dalam bentuk imperfect, jadi aktivitas itu masih terus berlangsung. Jadi mengikut Yesus itu merupakan suatu proses sampai mati atau kedatangan Tuhan yang kedua. Di dalam proses itu ada orang-orang yang setia sampai akhir dan ada juga yang mundur di tengah jalan. Salah satu orang yang meninggalkan Paulus adalah Demas. 2 Timotius 4:10a karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Sebelumnya Alkitab mencatat bahwa Demas itu begitu rajin melayani bersama dengan Paulus, namun ternyata ia tidak setia sampai akhir. Ia sudah menyaksikan mukjizat begitu banyak dan melihat jiwa-jiwa yang bertobat namun ternyata ia meninggalkan Tuhan karena mencintai dunia. Lewi mengikut Yesus di dalam proses, begitu pula kita.

 

            Dikatakan bahwa Lewi ‘meninggalkan segala sesuatu’. Apa maksud frasa ini? apakah secara literal semua miliknya ditinggalkan? Apakah Lewi mengikut Yesus dengan telanjang karena ia meninggalkan semua pakaiannya? Jika ini benar, maka mengapa pada ayat-ayat selanjutnya dikatakan bahwa Lewi bisa mengadakan perjamuan besar di rumahnya? Lewi masih memiliki uang untuk mengadakan perjamuan besar dan ia masih memiliki rumah. Dikatakan bahwa ia mengundang banyak orang, jadi rumahnya tidak mungkin kecil. Jadi apa maksud frasa itu? kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa Lewi meninggalkan identitasnya yang lama. Ia meninggalkan konsep-konsep berpikirnya yang lama. Dulu sebagai pemungut cukai ia berfokus mencari keuntungan pribadi, namun setelah dipanggil oleh Yesus ia memakai hartanya agar menjadi berkat. Ia mengundang Yesus dan banyak pemungut cukai agar bisa bertemu dengan Yesus. Jadi ia masih memiliki harta, namun hartanya saat itu dipakai untuk kemuliaan Tuhan.

 

            Ada seorang teolog yang pernah menjelaskan bagaimana seorang Kristen seharusnya memegang harta dunia. Ia berkata bahwa seorang Kristen seharusnya memegang harta dunia secara longgar (loosely), bukan secara erat. Memegang secara longgar berarti masih memegang tetapi orang itu siap atau rela jika harta itu diambil oleh Tuhan. Jika orang itu memegang dengan erat, maka itu berarti bahwa orang itu tidak siap atau tidak rela jika harta itu diambil oleh Tuhan. Jadi kita harus memiliki kerelaan dalam hal ini. Itulah yang Lewi lakukan. Ia masih memegang harta dunia, namun ia rela jika itu semua dipakai untuk Kerajaan Allah. Ketika kita mau mengikut Yesus, maka kita harus meninggalkan segala sesuatu dengan arti bahwa kita punya kerelaan ketika Tuhan mengambil apa yang kita miliki demi kemuliaan-Nya.

 

4) Ayat 29

            Dituliskan bahwa Lewi mengadakan perjamuan besar di rumahnya. Jadi ia memakai rumahnya bukan untuk diri sendiri tetapi untuk Yesus dan jiwa-jiwa yang ia undang untuk bertemu dengan Yesus. Ada penafsir yang menyatakan bahwa para murid yang lain juga ikut makan dalam perjamuan besar itu. Perjamuan besar itu sebenarnya berbicara tentang table fellowship (persekutuan di meja). Ketika mereka duduk makan bersama, itu berarti juga ada persekutuan di antara orang-orang satu meja itu. Hal ini mungkin sedikit berbeda dengan kita pada masa kini yang bisa makan di satu meja dengan orang-orang yang kita tidak kenal. Kita bisa saja makan di satu meja dengan orang-orang yang tidak kita kenal karena terpaksa, misalnya karena tempat makan itu terlalu ramai atau karena dalam suatu pesta, pemimpin acara tidak mengatur tempat duduk para tamunya secara khusus bersama dengan orang-orang yang para tamunya kenal. Namun pada masa saat Yesus datang, persekutuan di meja itu sangat penting. Itu menentukan identitas orang-orang yang makan di meja itu. Jika pada saat itu kita makan bersama orang-orang terhormat, maka kita akan dianggap terhormat. Yesus melakukan table fellowship dengan Lewi, mantan pemungut cukai, dengan banyak pemungut cukai lain. Ini membuat reputasi Yesus dipertanyakan. Bagaimana mungkin Yesus yang suci makan bersama dengan orang-orang berdosa dan sampah masyarakat? Ayat ke-30 menunjukkan bahwa respons orang-orang Farisi dan ahli Taurat begitu negatif.

 

            Frasa ‘perjamuan besar’ juga memiliki nuansa eskatologis, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kedatangan Yesus yang kedua kali. Lukas 12:36 dan 14:16 memakai frasa ini dan membahas tema eskatologi. Wahyu 19:9 Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” ada frasa ‘perjamuan kawin’ dalam ayat ini. Jadi pada saat konsumasi nanti ada gambaran table fellowship. Dalam table fellowship ini kita bersekutu dengan Tuhan dan orang-orang seiman. Matius 8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. Dalam ayat ini juga disebutkan tentang table fellowship. Intinya bukan pada makanan tetapi pada persekutuan yang erat dengan Tuhan dan orang-orang seiman. Ayat ini bahkan menyebutkan nama-nama bapa-bapa leluhur Israel. Jadi ‘perjamuan besar’ ini bukanlah hal yang sepele, misalnya hanya sekadar makan-makan, tetapi ini menggambarkan persekutuan dan menunjuk kepada eskatologi.

 

            Lewi makan tidak hanya bersama dengan Yesus seorang diri. Ia tidak eksklusif dan tidak hanya mementingkan relasi dengan Tuhan tetapi mengabaikan sesamanya. Ia mengundang rekan-rekannya, yaitu sesama pemungut cukai. Kita pun juga seharusnya tidak hanya mementingkan relasi dengan Tuhan secara pribadi. Ketika Lewi dipanggil untuk mengikut Yesus, ia mengalami pemulihan tidak hanya dalam relasinya dengan Tuhan tetapi juga dengan sesama. Ia mengundang rekan-rekannya agar mereka bisa mendengarkan Yesus karena dalam table fellowship biasanya ada perbincangan. Jika Yesus ada dalam table fellowship itu, maka kita yakin bahwa Ia pasti mengatakan hal-hal yang penting. Lewi punya kerinduan agar orang-orang bisa mendengarkan Yesus seperti ia sendiri telah mendengar Yesus.

 

5) Ayat 30

            Ayat ini menyatakan bahwa ada orang-orang yang mengkritik Yesus dan para murid-Nya. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut. Mereka memberikan label ‘orang berdosa’ kepada para pemungut cukai dan orang-orang tertentu. Bagi mereka, bersekutu bersama orang-orang berdosa adalah hal yang najis. Ketika mereka memberikan label ‘orang berdosa’ kepada orang lain, pada saat yang sama mereka memberikan label kepada diri mereka sendiri ‘orang benar’. Mereka merasa bahwa mereka adalah kelompok elit yang derajatnya lebih tinggi daripada pada ‘pendosa’. Mereka tidak mau makan bersama dengan orang-orang yang berlabel ‘berdosa’ tersebut. Namun Yesus datang dan merobohkan tembok pemisah sosial itu. Yesus sebagai Yang Benar ternyata datang dan makan bersama orang-orang yang disebut berdosa itu. Yesus datang dan menyatakan konsep-konsep yang tidak bisa diterima pada zaman itu. Para pemimpin agama mengurung pemikiran mereka sendiri dengan konsep-konsep yang salah sehingga mereka tidak bisa menyatakan Injil kepada orang lain. Jadi Yesus membawa terobosan yang mengagetkan banyak orang pada masa itu.

 

            Yesus mau menjangkau orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada seorang misionaris yang pernah bersaksi tentang panggilannya dalam melayani PSK. Ia pernah mengatakan bahwa tidak banyak Gereja yang mau menjangkau para PSK. Mungkin memang tidak semua Gereja harus melayani dalam bagian itu, namun apakah kita pernah terpikir untuk menjangkau kaum-kaum yang tertolak di masyarakat? Melayani seperti Yesus melayani itu tidak mudah dan menggentarkan. Yesus berani melawan konsep-konsep pada masa itu dan menjangkau orang-orang yang tertolak. Kita bersyukur karena GRII juga melakukan pelayanan kepada orang-orang di penjara yaitu orang-orang yang dianggap jahat dan seringkali ditolak oleh masyarakat. Injil harus diberitakan kepada semua orang.

 

            Dalam perjamuan besar yang diadakan Lewi, tidak ada pembatasan atau larangan untuk datang dan bergabung. Lewi tidak membuat perjamuan yang bersifat eksklusif. Undangan Injil itu begitu terbuka bagi semua orang. Tuhan menerima jiwa-jiwa bukan berdasarkan ras, kekayaan, atau status. Tuhan bahkan memerintahkan agar semua bangsa dijadikan sebagai murid-Nya (Matius 28:19). Namun para pemimpin agama tidak bisa menerima hal ini. mereka bersungut-sungut melihat Yesus makan bersama dengan para ‘pendosa’. Jadi mereka sudah terkunci dalam konsep mereka sendiri yang salah. Mereka terlalu bebal dan tidak bisa menerima orang lain. Kita harus memeriksa diri kita dalam hal ini. Apakah kita masih memegang konsep-konsep tertentu sehingga kita menolak orang-orang dari denominasi atau golongan tertentu? Pada faktanya, ada orang-orang yang bisa terlihat rohani di Gereja namun memperlakukan karyawan di tempat kerjanya seperti binatang. Di Gereja-Gereja tertentu ada pembagian kelompok atau komunitas menurut tingkat kemapanan finansial. Hal ini bisa terjadi secara disadari atau tidak disadari. Ini adalah masalah sosial yang masih terjadi dalam Gereja. Padahal ketika Yesus datang, semua itu seharusnya sudah tidak ada dalam Gereja. Dalam surat 1 Korintus, Paulus menegur dengan keras orang-orang yang membuat kelompok-kelompok dalam Gereja yang akhirnya membawa perpecahan. Paulus juga menegur orang-orang yang tidak memikirkan orang lain saat Perjamuan Kudus. Mereka makan terlebih dahulu dan mabuk-mabukan sehingga orang lain yang datang belakangan tidak bisa makan sama sekali.

 

            Para pemimpin agama mencemooh Yesus, namun Yesus tidak terganggu oleh hal itu dan tetap berfokus memberitakan Injil. Yesus tidak menjadi minder dan tidak menaati perkatan para pemimpin agama dalam hal itu.

 

6) Ayat 31 dan 32

            Yesus memberikan jawaban dalam ayat ini. Yesus memakai gambaran tabib dan orang sakit. Gambaran ini menyatakan beberapa hal. Hal pertama, yang tidak berhubungan dengan bagian ini, adalah orang sakit memang seharusnya mencari tabib atau dokter. Hal ini penting untuk kita mengerti karena pada masa pandemi ini ada pengajar-pengajar yang berkata bahwa darah Yesus bisa menyembuhkan semua penyakit. Mereka mengajarkan bahwa kita tidak perlu memakai masker dan mengikuti protokol kesehatan. Mereka juga menyatakan bahwa vaksin Covid-19 itu tidak perlu karena kita sudah percaya kepada Yesus. Ada orang-orang yang mendengarkan ajaran ini dan sangat bergumul. Mereka mengalami dilema karena jika mereka mau menerima vaksin itu maka mereka diejek ‘tidak beriman’ dan jika mereka tidak mau menerima vaksin itu maka mereka dianggap tidak mau mengikuti peraturan pemerintah. Dalam kasus ini, pilihannya bukanlah beriman atau tidak beriman. Hal yang menjadi masalah adalah apakah itu iman yang dipegang itu benar atau tidak. Alkitab tidak pernah sekalipun menyatakan bahwa pekerjaan tabib atau dokter itu ilegal atau melawan iman. Yesus jelas menyatakan bahwa orang yang sakit itu membutuhkan tabib atau dokter. Paulus menyarankan agar Timotius meminum sedikit anggur untuk kesehatan pencernaannya (1 Timotius 5:23). Paulus tidak berkata: ‘Timotius, kamu sudah mendapatkan darah Yesus. Percaya saja agar kelemahan di pencernaanmu langsung sembuh’.

 

            Dalam konteks perikop ini, ‘orang berdosa’ dikaitkan dengan gambaran ‘orang sakit’. Pada dua perikop sebelumnya, Yesus menyembuhkan secara fisik. Namun dalam bagian ini Yesus membawa kesembuhan relasi sehingga orang berdosa bisa kembali berelasi dengan Allah dan sesama dengan benar. Jadi Yesus datang membawa restorasi spiritual, fisik, dan sosial juga. Ketika Yesus menyebut ‘orang benar’, itu bukan berarti bahwa di dunia ini ada orang benar yang tidak memerlukan penebusan Yesus. Seluruh bagian Alkitab menyatakan bahwa tidak ada orang yang sungguh-sungguh benar tanpa dosa. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat merasa bahwa diri mereka adalah orang-orang benar yang tidak membutuhkan Yesus. Mereka merasa bahwa pencapaian spiritual mereka sudah jauh di atas orang-orang pada umumnya. Namun pada kenyataannya mereka masih hidup dalam dosa.

 

            Yesus tidak pernah menolak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk datang dan percaya kepada Yesus. Yesus menerima Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea. Hal yang terjadi adalah orang-orang menolak Yesus, bukan sebaliknya. Orang muda yang kaya itu datang kepada Yesus dan menanyakan tentang hidup kekal kepada-Nya. Pada akhirnya Yesus menjawab ‘juallah seluruh hartamu’. Setelah itu orang muda yang kaya itu langsung pergi meninggalkan Yesus. Yesus tidak pernah menolaknya. Orang itu sendiri yang pergi dengan sedih karena hartanya sungguh banyak. Yesus tidak pernah menolak siapapun untuk datang kepada-Nya.

 

            Mengapa Yesus datang? Ia memanggil orang berdosa supaya bertobat. Jadi dalam bagian ini ada konsep pertobatan. Jika kita mengerti kedatangan Yesus hanya dari sisi menghapuskan dosa, maka kita belum sungguh mengerti tentang pertobatan. Ada orang-orang yang mengejek iman Kristen ‘keselamatan kalian begitu gampangan. Bagaimana mungkin dengan percaya saja kalian bisa selamat?’ Apa yang kita mengerti tentang keselamatan itu sendiri? Banyak orang mengerti keselamatan hanya sebagai jaminan masuk surga. Namun apakah kita menyadari bahwa keselamatan itu mencakup pertobatan? Jika kita tidak mengerti bahwa Yesus datang untuk memanggil orang berdosa agar bertobat, maka kita belum benar-benar mengerti tentang keselamatan. Mungkin kita sering mendengar kalimat ‘kita selamat karena anugerah. Tetap berdosa pun tidak mengganggu keselamatan kita’. Ini adalah kalimat yang berbahaya. Kalimat itu seperti tidak mengandung prinsip pertobatan. Di dunia ini memang tidak ada manusia sempurna yang sama sekali tidak berdosa, namun hal penting yang harus kita tanya adalah: adakah pertobatan dalam hidupnya? Dalam Teologi Reformed, soteriologi (doktrin keselamatan) itu mencakup iman dan pertobatan (faith and repentance). Itu adalah bagian yang mutlak dari keselamatan. Yesus jelas berkata ‘supaya mereka bertobat’. Lewi dipanggil Yesus dan ia bertobat. Ia tidak hanya memanggil Lewi lalu membiarkan Lewi dalam hidupnya yang lama. Lewi menunjukkan pertobatannya dalam meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Ada metanoia atau berbalik arah dalam hidup Lewi. Dari tidak mencari Yesus, ia berubah dan mengikut Yesus. Yesus datang bukan untuk sekadar makan-makan tetapi untuk menggenapkan misi Allah.

 

            Bagaimana kita mengerti pertobatan itu? banyak orang berpikir bahwa pertobatan adalah satu momen dalam hidup ketika baru percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pertobatan itu bukan sekadar satu titik di dalam hidup kita. Kita seharusnya mengalami pertobatan senantiasa dalam hidup kita sampai kita mati atau Tuhan Yesus datang kembali. Kita harus mengalami pengudusan senantiasa di mana kita terus menerus dibersihkan dari dosa. Dalam proses itu ada keterlibatan pertobatan.1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Ini bukanlah doa yang perlu dinaikkan sekali saja dalam hidup kita tetapi doa ini harus sering kita panjatkan. Setiap hari Minggu dalam ibadah umum kita menaikkan doa pengakuan sebelum masuk ke dalam doa syafaat. Ini bukan karena kita hobi berdosa tetapi karena kita mengakui bahwa kita bukan orang-orang sempurna dan kita senantiasa memerlukan pengampuan serta pengudusan dari Tuhan. Jadi pertobatan itu harus terjadi terus menerus. Apakah kebangunan rohani itu? Apakah itu terjadi hanya saat ada kebaktian dengan banyak pendengar? Kita harus mengerti tentang kebangunan rohani secara pribadi. Ketika kita diingatkan dan diubahkan oleh Firman Tuhan saat kita bersaat teduh atau mendalami Alkitab secara pribadi, di sana kita sebenarnya sedang mengalami kebangunan rohani.

 

 

KESIMPULAN

 

            Sudahkah kita memahami Natal sebagai momen di mana kita dipanggil untuk bertobat? Apakah pengertian kita berakhir pada penghapusan dosa saja? Kita harus mengevaluasi diri kita. Kita harus bertanya: pada bagian mana saya belum bertobat? Bagian apa dalam hidup kita yang kita belum rela untuk serahkan kepada Tuhan supaya disucikan? Kita harus memahami kedatangan Yesus juga dalam aspek panggilan-Nya untuk membawa kita kepada pertobatan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – TS)