Mengarahkan Hidup kepada Tuhan sebagai Sumber Kekuatan Hidup (2 Tawarikh 27:1-8)

Mengarahkan Hidup kepada Tuhan sebagai Sumber Kekuatan Hidup (2 Tawarikh 27:1-8)

Categories:

Khotbah Minggu 18 April 2021

Mengarahkan Hidup kepada Tuhan sebagai Sumber Kekuatan Hidup

(2 Tawarikh 27:1-8)

 

 

            Kita akan membahas tentang Yotam. Bagian yang akan kita perhatikan adalah 2 Tawarikh 27:1-8. Ayat keenam: Yotam menjadi kuat, karena ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, Allahnya. Kita juga akan melihat Matius 6:22-24.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Orang berhikmat selalu belajar dari kesalahan diri sendiri dan dari orang lain. Yotam belajar dari ayahnya yang mengalami degradasi iman saat ia berada di puncak sampai ia menggeser Tuhan. Yotam tidak berani sembarangan masuk ke dalam Bait Suci. Apa pentingnya memiliki mata rohani yang selalu terarah pada kemuliaan Kristus? Apakah kita memiliki mata rohani ini dan mata rohani itu memimpin? Mata rohani yang terarah kepada Kristus itu sangat penting. Mengapa Yotam senantiasa mengarahkan hidupnya kepada Tuhan? Ia bisa dengan sangat mudah mengarahkan hidupnya kepada kekayaan, kenikmatan, dan lainnya, namun mengapa selama 16 tahun ia bisa konsisten mengikut Tuhan? Apa arti mengarahkan diri kepada Tuhan? Dalam evaluasi diri, pasti seseorang memiliki arah. Mengarahkan diri kepada Tuhan itu sangat penting. Apa yang membuat kita mudah berpaling dari panggilan Tuhan? Kapan Adam dan Hawa disebut berdosa? Matius 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Jadi menginginkan saja sudah berdosa. Dalam pencobaan di padang gurun, Setan pun mencobai Yesus dengan keinginan-keinginan yang salah.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Membentuk mata rohani

            Kita semua memiliki mata fisik, namun membentuk mata rohani itu tidak mudah. Hawa jatuh karena matanya digoda oleh buah itu. Jadi mata bisa menjadi pintu bagi dosa jika tidak dikuduskan. Kristus mengatakan bahwa mata adalah pelita tubuh. Ini berbicara tentang mata rohani. Kita sudah melihat 2 Tawarikh 27:2 dan Matius 6:22-24. Bagian ini berbicara tentang mata rohani. Implikasinya adalah kita tidak boleh mengabdi kepada 2 tuan. Harta tidak boleh mengikat kita. Ketika mata kita berpusat pada salib, maka mata kita akan melihat kemuliaan Kristus yang jauh lebih indah daripada semua yang ditawarkan oleh dunia. Orang yang tidak melihat kepada kemuliaan Kristus akan mencari kemuliaan dunia. Jadi mata kita harus senantiasa terarah kepada Kristus.

 

            Yotam bisa konsisten selama 16 tahun mengikut Tuhan karena ia belajar dari kesalahan ayah dan nenek moyangnya. Ia melihat bahwa mata yang belum dikuduskan akan membawa kepada dosa. Kita memiliki mata rohani ketika Kristus lahir dalam hati kita dan kita bertumbuh ke arah Kristus. Iman adalah kunci agar mata rohani kita selalu terarah kepada Kristus. Jadi kita harus memiliki iman yang percaya kepada Tuhan dan ketetapan-Nya. Jika kita percaya akan kedaulatan Tuhan, maka kita akan menerima semua yang Tuhan berikan karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik. Setelah kita percaya, maka kita harus menentukan tujuan hidup kita. Ketika kita mengarahkan mata kita untuk melihat kepada Tuhan, maka itu berarti kita sudah memiliki tujuan. Jika kita tidak menentukan tujuan, maka arah hidup kita tidak akan jelas. Kerohaniannya akan naik-turun dan tidak bisa konsisten naik.

 

            Kedua, kita harus memutuskan nilai tanggung jawab. Yotam tidak sembarangan masuk ke Bait Suci seperti ayahnya. Yotam sebagai raja sadar bahwa dirinya harus memimpin orang Yehuda untuk beribadah kepada Tuhan. Namun raja yang benar belum tentu memiliki rakyat yang benar. Tidak semua rakyat menyembah Tuhan meskipun rajanya sudah memerintahkan demikian. Dalam keluarga pun demikian. Orang tua bisa sungguh-sungguh mengikut Tuhan, namun belum tentu semua anaknya juga mengikut Tuhan. Yotam melakukan tanggung jawab yang bisa ia lakukan. Selama 16 tahun ia menghidupi tanggung jawab rohaninya sebagai raja. Hasilnya adalah Yotam menjadi semakin kuat karena Tuhan. Terkadang orang-orang menjadi sombong karena merasa dirinya kuat karena usahanya sendiri. Kita harus sadar bahwa kita bisa menjadi kuat karena Tuhan memberi kita kekuatan. Dalam hidup kita, kita harus memiliki komitmen dan tanggung jawab yang dijalankan dengan sepenuh hati. Ini harus menjadi gaya hidup kita. Kita menjalankan tanggung jawab bukan karena peraturan tetapi karena itu memang hidup kita. Yotam bisa secara konsisten mengikut Tuhan selama 16 tahun. Kita melayani dan bersekutu juga bukan karena dipaksa oleh peraturan tetapi karena kita memang punya kerinduan untuk itu.

 

            Ketiga, Yotam secara konsisten menjalankan perintah Tuhan. Ia mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan. Ia berjalan secara konsisten sampai ia mencapai tujuannya. Kita harus memiliki komitmen dan berjalan secara konsisten menuju hal yang ingin kita capai. Tanggung jawab rohani kita akan menjadi hal yang indah ketika kita berani melangkah dengan iman. Iman membuat kita bisa melihat pimpinan Tuhan yang indah. Setiap orang Kristen pasti memiliki keraguan, namun keraguan itu harus dikalahkan oleh iman. Jalan Tuhan itu sempit namun menuju kehidupan. Jalan dunia begitu lebar namun ujungnya adalah maut. Kita harus menentukan tujuan hidup kita dengan iman dan berjalan dalam iman. Ini bukan hal yang instan. Semuanya membutuhkan pergumulan dan peperangan rohani. Mata rohani kita membuat kita bisa melihat mana jalan yang terbaik, yang Tuhan sudah sediakan. Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup (Yohanes 14:6). Hidup dalam jalan Tuhan itu mengandung damai dan kairos Tuhan. Orang benar akan konsisten berjalan terus naik dalam jalan Tuhan. Ia bisa jatuh namun ia akan bangkit dan terus berjalan naik. Dosa Yotam tidak dicatat oleh Alkitab. Selama 16 tahun ia terus mengikut Tuhan dan mengarahkan matanya kepada Tuhan. Mata rohaninya begitu kuat dan fokusnya tidak pernah berpindah dari Tuhan. Ini hal yang luar biasa.

 

2) Mata rohani dan mata fisik

            Mata rohani kita harus senantiasa diarahkan oleh iman. Yesus mengatakan bahwa mata adalah pelita tubuh. Matius 6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. jika masih masih berstandar ganda, maka kita tidak akan bisa sepenuhnya mengikut Kristus. Hati nurani kita harus dikuduskan untuk mengarahkan pikiran kita ke arah yang benar. Kita dikuduskan oleh darah Yesus, Allah Roh Kudus, dan Firman Tuhan. Di sana kita akan memiliki pelita tubuh. Mata rohani memimpin kita untuk menghadapi segala sesuatu dengan benar. Hidup kita tidak akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Di dalam menghadapi godaan dunia, iman harus menerangi mata dan tubuh kita. Mazmur 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Jadi setiap hari kita harus bergaul dengan Firman Tuhan. Kita tidak bisa mengharapkan kerohanian kita bertumbuh ketika kita tidak mau merenungkan Firman Tuhan. Itu membuat kita memiliki terang. Di sana kita bisa membedakan mana yang suci dan mana yang tidak suci.

 

            Iman yang memimpin mata rohani kita adalah pengarah tubuh. Yotam mengarahkan hidupnya secara konsisten karena ia terus beriman kepada Tuhan. Hidup kita harus diarahkan oleh Allah Roh Kudus. Ia akan mengarahkan hati nurani kita untuk terus mencari Tuhan. Firman Tuhan yang kita baca setiap hari akan mengarahkan hidup kita. Hal ketiga yang mengarahkan hidup kita adalah anggota tubuh Kristus. Keempat, Tuhan bisa mengarahkan kita dengan pukulan Tuhan yang keras yang menyadarkan kita. Yunus diarahkan Tuhan dengan memakai ikan yang menelannya. Selama 3 hari ia berada di dalam perut ikan untuk mengevaluasi diri. Kita bisa mengalami cara yang keempat, namun jauh lebih baik jika kita langsung bertobat ketika Allah Roh Kudus sudah menegur hati nurani kita. Yotam senantiasa bergaul dengan Firman Tuhan sehingga ia terus mengikut Tuhan. Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Jadi kita tidak perlu khawatir. Tuhan pasti memelihara kita. Filipi 3:13-14 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Ini harus menjadi arah hidup kita.

 

            Hidup kita perlu diarahkan oleh komunitas, maka dari itu Alkitab menyatakan: Ibrani 10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Komunitas dunia bisa memberikan pengaruh yang negatif, maka dari itu kita harus senantiasa dekat dengan komunitas Gereja. 1 Korintus 15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

 

            Pengarah tubuh dan pelita tubuh ini menjadi pengendali keinginan dan penyaring segala godaan (Matius 4:1-11; Lukas 12:15, 16:15). Yotam memiliki hal ini sehingga ia bisa konsisten mengikut Tuhan dengan setia selama 16 tahun. Ia memiliki konsep cukup. Ia mau hidupnya diarahkan oleh Allah Roh Kudus, Firman Tuhan, dan komunitas rohani. Kita pun harus demikian. Tuhan Yesus Kristus sudah membebaskan kita dari dosa, namun godaan dosa masih terus ada. Keinginan yang berdosa adalah musuh kita. Kita harus menang sebelum jatuh ke dalam dosa dengan tidak memberikan tempat bagi keinginan berdosa tersebut. Semua keinginan kita harus diarahkan untuk kemuliaan Tuhan. ketika Setan mau menjatuhkan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus menyatakan Firman Tuhan untuk melawan semua godaan itu. Setan bisa menggoda kita dengan banyak hal, namun kita harus senantiasa waspada.

 

 

KESIMPULAN

 

            Efesus 4:15-16 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. Jadi kita harus senantiasa mengikut dan melayani Tuhan seperti Yotam.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).