Mengerti Kehendak Tuhan di Saat-Saat Sulit (Nehemia 1:1-11)

Mengerti Kehendak Tuhan di Saat-Saat Sulit (Nehemia 1:1-11)

Categories:

Khotbah Minggu 18 Juli 2021

Mengerti Kehendak Tuhan di Saat-Saat Sulit (Nehemia 1:1-11)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan membahas tema ‘Mengerti Kehendak Tuhan di Saat-Saat Sulit’ dari Kitab Nehemia. Kita akan melihat ayat Nehemia 1:1-11. Mengapa Nehemia rela meninggalkan kenyamanan hidupnya sebagai juru minuman raja Persia? Ia mau pergi ke Yerusalem dan membangun dari nol. Biasanya orang-orang yang sudah dengan susah payah membangun kariernya sampai mencapai posisi puncak tidak mungkin mau meninggalkan itu semua. Mengapa Hanani melaporkan keberadaan umat Tuhan di Yerusalem kepada Nehemia? Mengapa Nehemia mengalami kesusahan hati ketika mendengar cerita Hanani? Ketika kita tidak berempati pada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, maka kita tidak memiliki kasih. Kita seharusnya memberikan bantuan. Nehemia mengerti tentang kesatuan iman sebagai umat Tuhan. Jadi kesusahan bangsanya menjadi kesusahan dirinya sendiri. Ia tidak memprioritaskan kenikmatan dalam istana raja. Bagaimana Nehemia bisa mengerti kehendak Tuhan dengan kesulitan umat Tuhan di Yerusalem? Di sini kita belajar untuk mengerti kehendak Tuhan dalam masa-masa sulit. Setelah mengerti kehendak Tuhan, kita harus menjalankan kehendak Tuhan. Dalam semua konteks kita harus menjalankan kehendak Tuhan dengan taat. Kita harus memiliki kesatuan iman dengan semua orang percaya di seluruh dunia untuk menggenapkan rencana Allah. Ada kehendak-kehendak Tuhan bagi hidup kita yang tidak tercatat yang kita juga harus genapkan. Kita akan belajar untuk mengerti kehendak Tuhan di saat-saat sulit melalui kitab Nehemia.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Nehemia sebagai juru minuman raja Persia

            Daniel dan teman-temannya harus belajar dahulu selama 3 tahun sebelum melayani raja. Ini agar mereka mengerti bagaimana melayani dalam budaya kerajaan pada saat itu. di sini kita mengerti bahwa Nehemia bukanlah orang sembarangan. Nehemia meskipun dibuang tidak merasa dibuang dan ditinggalkan oleh Tuhan. Nehemia memiliki hidup yang berkualitas secara iman, karakter, pengetahuan, dan hikmat. Kita melihat bahwa Nehemia dikasihi raja. Raja Persia pasti memiliki banyak sekali pegawai, namun ia secara khusus mengasihi Nehemia. Ini bukanlah hal yang mudah. Kualitas Nehemia pasti teruji. Maka dari itu Nehemia diperhatikan raja. Raja Persia tahu bahwa Nehemia sedang susah hati. Nehemia juga dipedulikan raja. Nehemia juga Ezra bisa bersaksi dengan baik di tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan.

 

2) Nehemia mengalami kesusahan hati

            Ketika kita mendengar bahwa orang-orang yang kita kasihi sakit, pasti kita menjadi susah hati. Empati itu menjadi baik ketika kita langsung mengingat Tuhan, tidak hanya orang itu. Tuhan Yesus juga bersusah hati ketika melihat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang tidak mau menerima kebenaran. Namun kesusahan hati itu tidak mengganggu Yesus. Ia terus memiliki kesabaran dan belas kasihan. Ia memberikan solusi bagi masalah dosa termasuk dosa agama pada saat itu. Nehemia mendengar dari Hanani tentang kesukaran besar dan keadaan tercela umat Tuhan di Yerusalem (ayat 1-3). Mereka ditertawakan oleh bangsa-bangsa lain. Tembok-tembok dan pintu-pintu Yerusalem rusak semuanya. Nehemia bisa saja menyatakan kepedulian dengan memberikan uang kepada Hanani untuk menyelesaikan masalah di Yerusalem namun tidak pergi ke Yerusalem, tetapi Nehemia sadar bahwa kehendak Tuhan tidak seperti itu. Nehemia mengalami kesusahan hati karena ia melihat bahwa saudara-saudara seimannya mengalami kesusahan.

 

            Saudara-saudara kita bukan hanya mereka yang terikat secara darah atau lokasi dengan kita. Orang-orang yang kita anggap sebagai saudara bukanlah hanya mereka yang berbuat baik kepada kita. Nehemia tidak melihat seperti itu. Ia melihat saudara seiman. Lukas 8:21 Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” Penghiburan bagi kita ketika kita percaya adalah kita memiliki saudara-saudara seiman dalam Kristus. Kita bisa memiliki saudara-saudara secara daging yang tidak percaya kepada Tuhan dan tidak melakukan kehendak-Nya. Mereka tetap kita anggap sebagai saudara namun secara daging saja. Nehemia melihat saudara juga dari segi iman. Dalam komunitas orang beriman, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah. Nehemia tidak mementingkan statusnya sebagai juru minuman raja. Ia lebih mementingkan bagaimana Yerusalem harus dibangun. Ini bukanlah pekerjaan yang kecil, namun Nehemia percaya kepada Tuhan yang besar yang memiliki rencana yang besar. Iman akan memimpin kita untuk melihat dan mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar.

 

            Jika kita tidak memiliki kesusahan hati ketika melihat pekerjaan Tuhan yang belum selesai, maka kita harus evaluasi diri. Hidup kita merupakan peperangan rohani yang terus menerus berlangsung sampai kita mati. Daud jatuh ke dalam dosa ketika ia tidak memimpin peperangan dan bersantai di istana raja. Kesusahan hati kita bisa menunjukkan siapa diri kita. Orang yang tidak memiliki kesusahan hati sama sekali mungkin hati nuraninya sudah mati. Ada orang-orang yang sering mengalami kesusahan hati namun tidak memberikan solusi dan menanggapi dengan emosi belaka. Ketika Nehemia mengalami kesusahan hati, ia menyikapi masalah secara rohani. Ia tidak termakan emosi.

 

3) Nehemia mengalami pergumulan rohani (bandingkan dengan Matius 5:4)

            Nehemia tidak hanya memberikan uang tetapi memberikan hidupnya untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Ketika kita bersikap secara rohani, maka kita akan mengalami pergumulan rohani seperti Nehemia. Apakah kita sudah menyikapi Covid-19 dengan kewaspadaan rohani? Kita bisa waspada secara fisik, namun kita tidak boleh lupa mementingkan kewaspadaan rohani. Jika kita tidak waspada secara rohani, maka kita bisa dimakan oleh ketakutan. Matius 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Ini berbicara tentang dukacita rohani. Yesus pernah menangisi Yerusalem karena mereka tidak sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan. Yesus juga menangis sebelum Lazarus dibangkitkan karena orang-orang di sana tidak percaya kepada-Nya. Yesus juga pernah menangis ketika ia akan mati di atas kayu salib. Pergumulan secara fisik maupun rohani itu wajar, namun kita harus mengerti solusinya. Yesus menjawab masalah dosa ke atas kayu salib.

 

            Nehemia pertama-tama menanggapi dengan menangis, berkabung, berpuasa, dan berdoa (ayat 4). Ini dilakukannya tidak hanya beberapa jam tetapi berhari-hari. Di sini kita melihat bahwa Nehemia sungguh membawa ini semua sebagai pergumulan pribadinya. Ia bergumul selama beberapa hari untuk memberikan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan ini. Setelah Daud ditegur oleh nabi Natan, ia juga berkabung dengan sungguh-sungguh. Ia mengganti mahkotanya dengan debu. Ia sadar akan dosa-dosanya. Pernahkah kita berkabung, berpuasa, berdoa secara khusus karena dukacita rohani dan pekerjaan Tuhan? Orang yang hidup secara rohani pasti memiliki pergumulan rohani. Apakah kita pernah berdoa dan menangis untuk anak-anak kita? Apakah suami-istri saling mendoakan? Jika selama ini kita merasa biasa-biasa saja, maka mungkin saja kita sedang mengalami kematian rohani. Yesus berdoa di taman Getsemani sampai keringat-Nya menetes seperti darah. Pergumulan rohani adalah suatu perasan hati yang kadang tidak terlihat secara fisik. Ada orang-orang yang bahkan tidak bisa lagi menangis ketika bergumul begitu berat. Yesus berdoa agar cawan itu berlalu, namun Ia tetap mau agar kehendak Bapa terjadi. Nehemia dalam bagian ini juga bersikap secara rohani. Kita pun harus demikian.

 

4) Mengerti kehendak Allah melalui doa (bandingkan dengan 2 Raja-Raja 20:1-11 dan Mazmur 25)

            Kita berdoa bukan untuk memaksa Tuhan mendengarkan kita. Kita berdoa bukan untuk mengubah ketetapan Tuhan. Kita berdoa agar kita tunduk di hadapan Tuhan dan mengerti kehendak Tuhan. Raja Hizkia juga berdoa ketika menghadapi pergumulan yang begitu berat. Tuhan mengizinkan Sanherib mendatangi kerajaan Yehuda agar mereka belajar menyatakan iman mereka di hadapan Tuhan. Orang-orang fasik bisa datang dan mengancam kita dalam izin Tuhan. Di sana kita belajar bersikap dengan benar. Kemudian Tuhan mengizinkan Hizkia mengalami sakit keras. Yesaya menyatakan bahwa ia pasti mati. Apa respons kita ketika kita mengalami hal yang sama? Hizkia kemudian berdoa memohon belas kasihan Tuhan dan Tuhan menjawab doanya. Tuhan memberikan umur 15 tahun lagi kepada Hizkia. Ternyata setelah itu Hizkia berbangga diri. Ia tidak menjaga kerohaniannya. Akhirnya Tuhan mengingatkannya dan ia bertobat. Daud sebagai hamba yang benar juga berkali-kali diancam dengan kematian, namun ia mencari kehendak Tuhan dalam masa-masa itu. Mazmur 25 mengingatkan kita bahwa Daud mau sungguh-sungguh dipimpin oleh Tuhan. Pengharapannya sepenuhnya ada di dalam Tuhan. Ia mengaku dosanya dan mau belajar untuk taat. Banyak tokoh iman dalam Alkitab mengalami pergumulan yang begitu besar namun mereka menang karena bergantung pada Tuhan.

 

            Dalam doanya, Nehemia menyatakan siapa Allah (ayat 5). Dalam Doa Bapa Kami kita belajar mengenal Allah. Nehemia menyatakan bahwa Allah itu setia dan besar. Jadi doanya dimulai bukan dengan dirinya terlebih dahulu tetapi dimulai dengan menyatakan siapa Allah. Doa bisa mengevaluasi pengenalan kita akan Tuhan. Setelah menyatakan siapa Allah, Nehemia merendahkan dirinya dengan mengaku dosa bangsa Yehuda, keluarganya, dan dirinya sendiri (ayat 6-7). Nehemia yang hidupnya begitu berintegritas pun berdoa mengaku dosa karena umat Tuhan tidak lagi taat kepada perintah Tuhan. Nehemia sadar bahwa tanpa kesucian ia tidak akan bisa melihat pimpinan Tuhan. Ibrani 12:14b sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Itulah mengapa ia berdoa seperti ini. Kepekaan Nehemia mendorongnya untuk melakukan reformasi dalam hati terlebih dahulu. Reformasi hati akan menyadarkan kita bahwa kita ini lemah, kecil, dan berdosa. Pandemi Covid-19 ini menyadarkan kita bahwa manusia itu sungguh lemah. Tidak ada yang bisa menyombongkan diri. Kita yang sudah mengenal Allah harus sadar bahwa kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mengejar kekudusan. Kita bisa mengerti kehendak Tuhan dari membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Nehemia menyatakan siapa Allah berdasarkan pengertiannya akan Firman Tuhan. Imanlah yang membuat kita mengerti.

 

            Setelah itu Nehemia membuat permohonan doa sesuai dengan janji Allah (ayat 8-10). Jadi dasar permohonannya adalah Firman Tuhan. Daud juga berdoa sesuai dengan janji Tuhan. Mereka sadar bahwa mereka hidup dalam perjanjian dengan Tuhan. Jadi kita harus menaikkan doa permohonan kita sesuai dengan janji Tuhan. Kemudian Nehemia mengerti kehendak Allah (ayat 11). Jadi melalui doa kita bisa mengerti kehendak Tuhan. Doa mendorong kita untuk tunduk di hadapan Tuhan. Nehemia menangkap visi untuk mengembalikan fokus dan hati umat Tuhan kepada Tuhan. Dalam masa pandemi ini kita pun harus memiliki visi yang sama. Banyak orang melihat peluang bisnis dalam masa ini, namun kita harus bisa mengerjakan kehendak Tuhan. Dalam masa pandemi ini kita harus belajar memberi, bukan mengambil untuk keuntungan diri. Kebahagiaan kita adalah ketika kita bisa menjadi berkat dengan memberi kepada orang lain. Nehemia mau diutus seperti Yesaya juga mau diutus. Dalam doa kita berelasi dengan Tuhan dan menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Nehemia bisa saja tetap hidup dengan nyaman di istana raja, namun ia tidak melakukan itu. Setiap hari kita harus bergumul dan berdoa memohon belas kasihan Tuhan dan pimpinan Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

            Menjalankan kehendak Tuhan tidak membuat hidup kita pasti berjalan dengan mulus. Terkadang jalan yang kita harus tempuh itu berliku-liku dan penuh dengan tantangan. Namun dengan iman kita tahu bahwa Tuhan memimpin kita. Tuhan Yesus tahu bahwa dalam jalan salib itu Ia menggenapkan kehendak Bapa. Sudahkah kita bangkit untuk terus berjalan dalam jalan Tuhan? Yohanes 12:26b Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehormatan terbesar adalah dari Allah. Itu bisa kita dapatkan ketika kita sungguh-sungguh mau melayani Tuhan. Amsal 3:5-6 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Kita tidak boleh menempatkan rasio kita lebih tinggi daripada Tuhan. Kita harus lebih percaya kepada Tuhan daripada rasio kita. Dalam setiap hal yang kita kerjakan kita harus mengingat bahwa segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. Segala keputusan yang kita ambil harus dipertimbangkan secara teologis, bukan antroposentris. Setiap inci hidup kita adalah milik Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).