Menghancurkan Berhala di dalam Hati

Menghancurkan Berhala di dalam Hati

Categories:

Khotbah Minggu 16 Mei 2021

Menghancurkan Berhala di dalam Hati

Vik. Tommy Suryadi, M.Th.

 

 

            Kita akan merenungkan tema “Menghancurkan Berhala di dalam Hati”. Kita akan melihat Keluaran 20:1-6. Bagian yang pertama jelas menyatakan bahwa tidak boleh ada allah lain sama sekali. Meskipun Allah yang sejati ditinggikan lebih dari ilah yang lain, Allah tetap tidak akan menerima. Tidak boleh ada yang lain selain Allah yang sejati. Bagian yang lain menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang cemburu. Orang Israel, ketika menyembah yang lain, disebut telah membenci Allah yang sejati. Meskipun Allah yang sejati tetap disembah, keberadaan dewa atau ilah lain tetap tidak diterima dan orang itu disebut sudah membenci Allah yang sejati. Perintah Allah begitu jelas yaitu ‘jangan ada Allah lain’. Dalam Perjanjian Lama relasi Allah dan umat-Nya digambarkan dengan relasi suami-istri. Dalam Perjanjian Baru relasi Kristus dan Gereja-Nya digambarkan dengan relasi suami-istri juga. Pernikahan yang diajarkan Alkitab adalah monogami yaitu 1 suami dan 1 istri.

 

            Kita juga melihat Matius 6:24. Ayat ini masuk dalam perikop ‘hal mengumpulkan harta’. Dalam perikop ini Yesus membandingkan diri-Nya dengan Mamon. Tidak ada orang yang bisa mengabdi pada 2 tuan. Tidak ada cara atau hikmat untuk bisa menyenangkan kedua tuan yang berbeda. Pada akhirnya orang itu harus memilih. Ada seorang karyawan toko yang bingung harus mengerjakan apa karena kedua atasannya, yaitu pasangan suami-istri, berbeda pendapat dan menyuruhnya melakukan 2 hal yang berbeda. Akhirnya suami-istri itu berdebat di depan karyawan tersebut namun karyawan tersebut tidak tahu harus melakukan apa. Seperti yang Tuhan Yesus telah katakan, tidak mungkin seseorang bisa mengabdi pada 2 tuan. Suami-istri saja pun bisa menjadi 2 tuan yang berbeda. Dalam keluarga, anak bisa kebingungan jika orang tuanya memberi 2 ajaran yang berbeda. Pada akhirnya anak itu harus memilih mana yang ia mau ikuti karena ia tidak mungkin mengikuti keduanya. Dalam 2 kasus ini saja kita bisa tahu dengan jelas bahwa seseorang tidak mungkin mengabdi pada 2 tuan. Dalam hidup kita, kita harus memilih mau mengabdi pada siapa. Gereja juga demikian. Jika kita mengabdi pada Tuhan Yesus Kristus dan pada yang lain, maka hidup kita akan menjadi kompleks dan tidak mungkin bisa setia kepada Tuhan. Itulah mengapa Allah sudah menyatakan bahwa tidak boleh ada yang lain selain Allah yang sejati. Hidup yang memiliki 2 tuan akan terus menghadapi konflik dan berkompromi. Jadi orang yang suka berkompromi itu boleh ditanya: Allah mana yang kamu sembah?

 

            Apa itu berhala? Berhala bukan hanya patung atau gambar yang disembah. Kita harus menguji apakah kita sungguh tidak menyembah berhala atau tidak. Timothy Keller memberikan definisi berhala demikian:  segala hal (tidak hanya patung, gambar, atau barang, tetapi bahkan termasuk ideologi), termasuk hal yang baik, yang dijadikan lebih penting daripada Allah. Kita akan melihat Matius 10:37. Mengasihi orang tua itu jelas baik. Tuhan memang memerintahkan kita untuk menghormati orang tua. Orang tua juga adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Namun jika kita mengasihi orang tua kita lebih daripada Tuhan, maka kita tidak layak untuk Tuhan. Akhirnya kita akan lebih taat kepada orang tua daripada kepada Tuhan. Anak-anak adalah anugerah dari Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang memiliki banyak anak dianggap sungguh diberkati oleh Tuhan. Mereka yang mandul dianggap dikutuk oleh Tuhan. Anak-anak harus dikasihi, namun jika anak-anak dikasihi lebih besar daripada Tuhan, maka sebenarnya sudah memberhalakan anak. Jadi penyembah berhala tidaklah harus memiliki patung atau gambar untuk disembah. Penyembahan berhala bisa terjadi dalam keluarga Kristen dan Gereja. Mengasihi orang tua dan anak itu baik, namun kita harus menguji apakah kita mengasihi mereka lebih daripada Allah atau tidak.

 

            Uang adalah hal yang baik. Dalam Perjanjian Lama Tuhan bisa memberkati dengan harta yang melimpah. Jadi harta juga adalah anugerah Tuhan. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk anti terhadap uang. Namun uang itu tidak boleh kita anggap lebih penting daripada Tuhan. Sama halnya dengan pekerjaan, pencapaian, gedung, tempat usaha, rumah, kecantikan, dan lainnya. Semua itu adalah anugerah Tuhan yang kita tidak boleh anggap lebih penting daripada Tuhan. Jadi berhala tidak harus tampil dalam bentuk yang mengerikan atau menjijikkan. Perbedaan dari teologi yang sehat dengan teologi sukses adalah teologi yang sehat melihat Allah sebagai tujuan dan semua kemuliaan adalah bagi Allah. Semua anugerah Tuhan seperti uang, pekerjaan, dan lainnya adalah sarana untuk memuliakan Tuhan. Namun teologi sukses memakai Tuhan sebagai sarana untuk mencapai uang, kesenangan, dan lainnya. Setiap Gereja bisa mengaku menyembah Tuhan, namun kita harus bertanya: bagaimana Gereja tersebut menilai Tuhan? Apakah Tuhan sungguh-sungguh dianggap yang paling tinggi dan sungguh tidak ada berhala dalam Gereja tersebut?

 

            John Calvin menyatakan bahwa hati manusia berdosa adalah pabrik berhala. Segala sesuatu dalam dunia ini bisa dijadikan berhala oleh manusia berdosa. Ini adalah masalah dalam hati manusia. Jika kita, yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, tidak terus bergaul akrab dengan Tuhan dan membiarkan diri kita digoda oleh yang lain, maka kita bisa menjadi penyembah berhala. Siapapun bisa jatuh ke dalam dosa ini, termasuk pendeta, penatua, aktivis, jemaat, dan lainnya. Banyak berita sudah menyatakan tentang pendeta yang jatuh dalam dosa karena masalah seks, uang, dan lainnya. Pelayanan pun bisa menjadi berhala jika kita tidak menguji hati kita sungguh-sungguh. Ada orang-orang yang rajin melayani karena melihat pelayanan tersebut sebagai pelarian. Sebagian dari mereka mengaku bahwa mereka tidak dihormati di rumah namun dihormati di Gereja, maka mereka menjadi suka melayani. Jadi orang yang rajin melayani itu perlu diuji apakah orang itu memang sungguh-sungguh atau pelayanan hanya menjadi pelarian bagi dirinya, menjadi sarana untuk mencari pengakuan, pujian, dan lainnya. Orang-orang yang seperti ini biasanya bisa menginjili banyak orang di luar namun hidupnya sendiri tidak menjadi kesaksian bagi keluarganya.

 

            Tuhan Yesus berkata (Matius 7:22-23): Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! Jadi ada orang-orang yang sibuk melayani namun sebenarnya tidak punya relasi dengan Tuhan. Mereka selama ini hanya sibuk dengan diri mereka sendiri dan agenda mereka sendiri tetapi tidak memikirkan Tuhan dan tidak berelasi dengan Tuhan di dalam pelayanan.

 

            Kita mungkin sering mendengar ‘injil’ berhala (bukan Injil yang sejati) di sekitar kita. Kita bisa mendengarnya di lagu-lagu cinta modern. Frasa ‘tidak bisa hidup tanpamu’ ditujukan kepada manusia dan bukan kepada Tuhan. Ini adalah pemberhalaan manusia. Manusia bisa hidup karena Tuhan memelihara, bukan karena perempuan/laki-laki yang disukainya atau dikejarnya. Frasa ‘kaulah makna hidupku’ juga adalah frasa pemberhalaan karena hanya Tuhan-lah yang memberikan makna hidup yang sejati kepada manusia. Hatinya diisi oleh manusia dan bukan Tuhan. Banyak orang mengambil filsafat hidup dari lagu-lagu seperti ini. Mereka bisa saja tampak menyembah Tuhan, namun sebenarnya Tuhan berada di tempat-tempat sisa dalam hati mereka, bukan tempat yang utama. Frasa ‘tidak ada yang lebih berharga darimu’ juga merupakan frasa pemberhalaan karena manusia dianggap lebih berharga daripada Tuhan. Paulus menyatakan (Filipi 3:7-8): Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. Kita tidak mungkin sama sekali tidak mendengar lagu-lagu dunia seperti itu, tetapi kita tetap harus menjaga hati kita agar tidak menyembah berhala.

 

            Yehezkiel 14:3a Hai anak manusia, orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya. Pemberhalaan dimulai dari hati. Orang Israel bukan melihat patung terlebih dahulu baru kemudian menjadi penyembah berhala. Hati mereka memang dari awal sudah tidak mau setia kepada Tuhan. Ketika mereka melihat yang lain, mereka langsung terpikat. Gregory K. Beale menulis buku ‘We Become What We Worship’ (kita menjadi apa yang kita sembah). Dalam bukunya ia menjelaskan bahwa Israel menjadi ‘tegar tengkuk’ seperti apa yang mereka sembah yaitu lembu (emas). Maka dari itu jika kita mau menjadi seperti Kristus, maka kita harus menyembah Kristus saja. Para nabi Perjanjian Lama menyatakan bahwa Israel telah menjadi seperti berhala mereka yang tidak bisa melihat dan mendengar kebenaran.

 

            Abraham mendapatkan janji keturunan dari Tuhan sendiri. Setelah Ishak lahir, Allah berkata: Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu (Keluaran 22:2). LAI-TB memberikan judul perikop ‘kepercayaan Abraham diuji’. Keller melihat bagian ini sebagai bagian di mana Abraham diuji untuk melihat apakah ia lebih mengasihi Allah atau anaknya. Ishak adalah anak perjanjian yang melaluinya Mesias dilahirkan kelak. Ishak adalah anak yang dijanjikan oleh Allah sendiri. Allah bahkan membuka rahim Sara secara khusus agar anak ini bisa ada. Namun kemudian Allah sendiri yang menyatakan bahwa anak itu harus dipersembahkan kepada-Nya. Anak yang dijanjikan oleh Tuhan sekalipun bisa menjadi berhala jika Abraham tidak menjaga hatinya. Allah tahu bahwa Ishak adalah anak satu-satunya yang dikasihi oleh Abraham. Sebagai bapa orang beriman, Abraham memilih untuk taat kepada Allah, meskipun Ishak adalah anak satu-satunya yang ia kasihi. Ishak adalah hal yang paling berharga di dunia bagi Abraham pada saat itu, namun Abraham telah menyatakan bahwa ia lebih mementingkan ketaatannya kepada Tuhan. Ia rela berpisah dengan anaknya agar ia bisa taat kepada Tuhan. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: apa atau siapa yang kita masih tidak mau korbankan demi ketaatan kita kepada Tuhan? Apa atau siapa yang kita anggap memberi makna terdalam dan harapan tertinggi dalam hidup kita? Hal apa yang kita anggap paling berharga bagi diri kita, yang di mana kita telah membayar harga yang mahal untuk itu?

 

            Pada masa krisis moneter, banyak pengusaha bunuh diri karena kehilangan usaha dan uang. Mereka menganggap bahwa uang dan usaha mereka adalah segala-galanya sampai mereka merasa bahwa ketika semua itu hilang maka hidup mereka tidak ada artinya lagi. Banyak artis Korea bunuh diri padahal mereka memiliki banyak uang dan penggemar. Salah satu dari artis Korea yang bunuh diri menulis sebuah surat sebelum ia mengakhiri hidupnya. Ia menyatakan bahwa ketika ia berada di panggung, ia begitu senang mendengar pujian dan teriakan dari para penggemarnya, namun setelah ia turun dari panggung ia merasa kosong dan merasa hidupnya tidak berarti. Ada banyak kasus di mana pemuda/pemudi bunuh diri karena harus berpisah dengan pacarnya. Di sini jelas terlihat bahwa berhalanya adalah pacar mereka. Tuan yang kita pilih akan menentukan arah hidup kita sampai mati. Jadi kita harus menguji hati kita: apakah Kristus sungguh adalah satu-satunya dalam hati kita? Apakah ada yang lain? Jawabannya akan menentukan arah hidup kita. Apa yang membuat kita berani kompromi? Sangat mungkin hal itu dekat dengan berhala kita. Di dalam hidup ini, kita akan terus digoda untuk menyembah yang lain selain Kristus. Maka dari itu kita harus berjaga-jaga.

 

            Orang yang masih menyimpan berhala dalam hatinya tidak mungkin diberkati dan dipimpin oleh Tuhan. Kita bisa berdoa memohon berkat dan pimpinan Tuhan, namun ketika kita masih menyimpan berhala dalam hati kita, maka doa kita tidak akan dijawab oleh Tuhan. Sebelum Gideon pergi berperang, Tuhan mau Gideon menghancurkan berhala ayahnya terlebih dahulu. Hakim-Hakim 6:25 Pada malam itu juga TUHAN berfirman kepadanya: “Ambillah seekor lembu jantan kepunyaan ayahmu, yakni lembu jantan yang kedua, berumur tujuh tahun, runtuhkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah tiang berhala yang di dekatnya. Kita harus menyingkirkan berhala dalam hati kita terlebih dahulu baru kemudian kita mendapat pimpinan dan penyertaan Tuhan.

 

            Filipi 3:7-8 merupakan ‘obat’ bagi dosa penyembahan berhala. Seumur hidup kita, kita berjalan dalam proses mengenal Kristus. Pengenalan akan Kristus itulah yang lebih mulia dari semuanya. Jika kita menyadari bahwa ada berhala dalam hati kita, maka kita tidak cukup hanya menyingkirkan berhala tersebut. Jika kita hanya menyingkirkan berhala namun tidak mau mendekat kepada Tuhan, maka kita akan mendekat pada berhala yang lain. Jadi kita hanya akan lari dari satu dosa untuk pergi kepada dosa yang lain. Jika kita sungguh-sungguh mau menjauhi dosa maka kita juga harus mendekat kepada Tuhan. Jadi kita harus mendekat kepada Kristus jika kita mau menyingkirkan berhala dalam hati kita. Mengapa kita menyimpan berhala dalam hati kita? Ini karena kita, baik secara sadar maupun tidak sadar, masih menilai bahwa berhala kita masih lebih berharga, lebih menarik, dan lebih indah daripada Kristus. Kita membuat perbandingan dalam hati kita. Namun ketika kita semakin mengenal Kristus dalam kemuliaan, keindahan, kasih-Nya, dan lainnya, maka kita akan menjadi semakin tertarik pada Kristus. Kita akan cenderung menginginkan Kristus jauh lebih besar daripada yang lainnya. Jadi kita harus berani membayar harga lebih besar agar bisa lebih mengenal Kristus. Kita harus konsisten bergaul dengan Tuhan.

 

            Paulus berkata (Filipi 3:10-11): Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Pengenalan akan Kristus bukan saja bersifat kognitif. Dalam ayat ini disebut ‘persekutuan dalam penderitaan-Nya’. Tuhan bisa memberikan anugerah melalui penderitaan agar kita semakin bersekutu dengan Kristus di dalam penderitaan. Jadi kita akan menjadi semakin mengenal Kristus. Kita akan menjadi semakin sadar bahwa pengenalan akan Kristus itu lebih mulia daripada semuanya. Para rasul bersukacita setelah dianggap layak menderita penghinaan karena nama Kristus (Kisah Para Rasul 5:41). Dalam penderitaan orang Kristen, berkat rohani bisa dinyatakan oleh Tuhan. Itulah yang menghibur kita. Kita harus terus bertumbuh dan berharap agar kita bisa bersaksi seperti Paulus yang menyatakan bahwa pengenalan akan Kristus itu lebih mulia dari semuanya.

 

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – TS)