Murka Tuhan terhadap Salomo (1 Raja-Raja 11:9-11)

Murka Tuhan terhadap Salomo (1 Raja-Raja 11:9-11)

Categories:

Khotbah Minggu 15 November 2020

Murka Tuhan terhadap Salomo

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang Salomo. Pada kesempatan berikutnya kita akan membahas tentang anaknya yaitu Rehabeam. Rehabeam ternyata menjadi raja yang lebih jahat daripada Salomo dan juga Daud. Kita juga akan membahas tentang Yerobeam yang telah kehilangan identitas serta komitmen rohani. Kali ini kita akan secara khusus membahas tentang murka Tuhan terhadap Salomo. Firman Tuhan yang akan kita baca adalah 1 Raja-Raja 11:9-11.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Jika Allah adalah kasih, maka mengapa Ia murka terhadap Salomo? Bukankah kasih Allah tidak ada batasnya? Mengapa dalam kisah ini tampak seolah kasih Allah memiliki batas? Mengapa murka Allah begitu besar sampai kerajaan Israel harus terbagi menjadi dua yaitu kerajaan Utara dan kerajaan Selatan? Jika Allah murka terhadap Salomo, maka apakah itu artinya Allah telah ingkar janji terhadap Daud? Allah tidak mungkin ingkar janji. Apakah janji Allah bersyarat atau tidak bersyarat? Janji Allah selalu bersyarat dan tidak murahan. Allah menuntut komitmen rohani penuh. Dalam bagian ini Salomo tidak memiliki komitmen rohani yang penuh. Mengapa Allah membangkitkan Hadad, Rezon, dan Yerobeam untuk melawan Salomo? Tuhan bisa membangkitkan orang jahat untuk menyatakan murka-Nya terhadap seseorang. Allah bisa menyerahkan Yehuda kepada kerajaan Media dan Persia. Jadi Allah memiliki kedaulatan dalam menyatakan murka-Nya. Mengapa Salomo tidak melakukan evaluasi diri dalam menyikapi murka Tuhan ini? Salomo memakai kekuasaannya sebagai raja untuk melawan para musuhnya yang dibangkitkan oleh Tuhan. Kita akan merenungkan mengapa semua itu bisa terjadi. Apakah Salomo binasa di masa tuanya? Apakah Salomo benar bertobat dan kemudian menulis kitab Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung? Kita akan melihat Alkitab untuk mengerti bagian ini.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Janji Allah yang Bersyarat

            1 Raja-Raja 11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Ada suatu teologi yang menyatakan bahwa Allah bisa tidak menggenapkan seluruh janji-Nya. Ini adalah teologi yang tidak benar. Janji Allah itu sempurna, teguh, dan pasti digenapi. Namun jika kita tidak taat dan tidak memiliki komitmen rohani, maka janji Allah tidak akan tergenapi. Ini bukan karena Allah gagal tetapi karena kita gagal. Ini berarti Allah yang berjanji juga menuntut kita untuk melakukan apa yang kita bisa. Di dalam bagian ini Tuhan sudah berbicara kepada Salomo bahwa kerajaannya akan tetap berdiri jika Salomo tetap memegang dan menghidupi Firman Tuhan. Janji yang sama sudah diberikan kepada Daud. Namun setelah Salomo memiliki kerajaan yang kuat, kaya, dan berkuasa, Salomo menjadi lupa diri. Akhirnya Salomo tidak menjalankan kewajiban rohani yang seharusnya ia lakukan. Ia sudah mendapatkan banyak anugerah namun ia tidak menuntut diri untuk melakukan kewajiban rohani. Minimal ia seharusnya menjaga komitmen rohani untuk merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Mengapa ia tidak menjaga komitmen rohani untuk menjalankan seluruh perintah Tuhan? Ini karena Salomo sudah kehilangan fokus. Ia mendua hati karena ia mencintai banyak wanita. Hati yang bercabang itu tidak bisa dilihat secara fisik. Itu bisa terlihat dari fokus hidup yang mulai terbelah dan dari prioritas hidup yang tidak mengutamakan Tuhan. Pada akhirnya Salomo lebih taat kepada para istrinya untuk menyembah berhala berhala. Ketaatan Salomo bersifat semu sehingga akhirnya Tuhan murka terhadap Salomo. Ini karena Salomo ingkar janji.

 

            Murka Tuhan selalu beralasan. Janji Allah selalu bersyarat. Kita selalu memiliki kewajiban rohani. Kewajiban rohani hanya bisa dikerjakan jika kita memiliki komitmen rohani. Komitmen rohani pasti mengandung disiplin rohani. Tiga bagian ini tidak bisa dilepaskan jika kita sungguh-sungguh mau dipelihara oleh Tuhan dalam hidup kita dan mau dipakai oleh Tuhan. Disiplin rohani harus dijalankan setiap hari. Komitmen adalah keputusan hati dan mental untuk mengutamakan Tuhan di atas apapun juga. Kewajiban adalah nilai hidup dan gaya hidup. Masalahnya adalah kita mau menuntut Tuhan untuk memelihara kita tetapi kita tidak mau menggerakkan diri kita untuk melakukan kewajiban rohani, komitmen rohani, dan disiplin rohani. Di sini kita belajar bahwa janji Allah selalu menuntut ketaatan. Mengapa janji Allah menuntut ketaatan? Karena janji Allah tidak murahan. Allah adalah kasih, namun kasih itu tidak murahan. Allah memiliki kuasa, namun kuasa itu tidak sembarangan diberikan kepada siapapun juga. Jadi di dalam bagian ini Allah tidak mengkhususkan Salomo. Ketika Salomo mempermainkan kesucian Tuhan, ia dihukum.

 

            Jadi setelah Tuhan memberikan janji, harus ada ketaatan. Ketika ada ketaatan, janji Allah tergenapi (bandingkan dengan Yohanes 15:7-8). Pertama, Allah berjanji mengampuni kita. Ketika kita sungguh-sungguh bertobat, pengampunan itu diberikan. Kedua, Allah memberikan janji keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan kita tidak mungkin hilang karena kita berada dalam tangan Yesus. Tidak ada kuasa manapun yang bisa mengambil kita dari tangan Tuhan. Jadi janji ini pasti digenapkan. Ketiga, kita juga diberikan janji perubahan status dari orang berdosa menjadi orang benar. Status itu bersifat rohani. Kita bisa mengetahuinya dari hidup kita yang mengalami pembaruan (janji keempat). Fokus, cara berpikir, dan sikap kita diubahkan. Damai diberikan di dalam hidup kita. Kelima, Allah Roh Kudus juga membimbing kita dan menolong kita hidup dalam kebenaran dan menyatakan kebenaran. Kesanggupan kita menyatakan Firman Tuhan bukanlah karena kehebatan kita. Semua itu karena pertolongan Allah Roh Kudus. Keenam, Allah Roh Kudus akan memakai kita sebagai pemenang iman. Allah Roh Kudus akan menggerakan kita dan membimbing kita dalam peperangan rohani. Kemenangan iman itu pasti jika kita menggunakan pedang Roh yaitu Firman Tuhan. Allah berjanji menjadikan kita pemenang. Allah Roh Kudus menjaga kita dari setiap kuasa Setan yang mau menjatuhkan kita.

 

            Ketujuh, Allah berjanji senantiasa memberikan Firman Tuhan melalui Allah Roh Kudus dan sarana-sarana yang ada seperti orang-orang di sekitar kita dan khotbah. Firman Tuhan itu akan memberikan pertumbuhan iman. Tuhan menggembalakan kita melalui Firman Tuhan yang diberikan. Jadi relasi pribadi kita dengan Tuhan itu sangat penting. Firman Tuhan adalah Guru kehidupan kita. Janji kedelapan adalah kita bisa menikmati ikatan tubuh Kristus dalam kedamaian, kerukunan, dan keharmonisan. Allah berjanji bahwa kita bisa menikmati itu di dalam Gereja. Keharmonisan dan kerukunan itu bukan hanya untuk kita saja. Gereja dipanggil untuk menggenapkan kehendak Tuhan. Jadi kita bukan hanya penikmat tetapi juga pelaksana kehendak Tuhan yaitu penginjilan. Jika ada suara-suara yang mau mengambil kedamaian dari Gereja kita, maka kita harus tahu bahwa itu bukanlah suara dari Tuhan. Itu adalah cara Setan untuk mencegah penggenapan janji yang kedelapan ini. Setan mau agar kita tidak bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Janji kesembilan adalah janji eskatologi. Pada akhir hidup kita, kita akan bertemu dengan Tuhan. Kita kemudian akan menghakimi orang-orang berdosa dan menjadi anggota Kerajaan Allah di surga (janji kesepuluh). Sepuluh janji ini pasti digenapkan jika kita taat. Janji Allah bersifat masa kini dan masa depan. Ia tidak akan melupakan janji-Nya. “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5b). Janji ini juga berlaku dalam masa pandemi. Karena belas kasihan Tuhan-lah kita masih bisa hidup sampai sekarang. Kita harus mengingat bahwa Tuhan menuntut ketaatan total dari kita. Kita tidak boleh setengah-setengah.

 

            Ketika membaca Yohanes 15, kita tidak boleh berhenti pada ayat ketujuh. Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa apa yang kita minta haruslah berkaitan dengan kemuliaan Tuhan dan hidup yang berbuah banyak. Buah yang dimaksud adalah buah rohani yang kekal, bukan materi atau hal-hal duniawi. Kita bisa taat ketika kita sungguh-sungguh membuka hati kepada Kristus sehingga Ia menguasai seluruh hidup kita. Kedua, kita bisa taat ketika kita memulai hari kita dengan Firman Tuhan dan menghidupinya. Ketaatan bukanlah hasil kekuatan kita. Namun Salomo membiarkan dirinya dibujuk oleh kenikmatan dan para istrinya. Ia telah melupakan Tuhan dan tidak membuka hatinya untuk dipimpin oleh Tuhan. Ini berbeda dengan Daud yang berkata: Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24). Salomo tidak berdoa seperti ini. Daud memiliki pengalaman jatuh-bangun. Ketika ia berdosa, ia ditegur dan langsung menyesal. Setelah itu ia tidak mau lagi jatuh dalam dosa. Ia selalu membuka hatinya kepada Tuhan untuk memimpin hidupnya. Salomo membiarkan cinta wanita dan kenikmatan menguasai hidupnya. Di sana Tuhan disingkirkan. Sepuluh janji Tuhan itu diberikan kepada kita jika kita taat total. Ketaatan itu bisa dijalankan ketika kita membuka hati setiap hati terhadap Firman Tuhan. Ketidaktaatan akan mendatangkan hukuman. Murka Tuhan dinyatakan (bandingkan dengan Wahyu 14:9-12) kepada Salomo. Tuhan membelah kerajaannya. Keturunannya hanya mendapatkan suku Yehuda sedangkan sisanya diberikan kepada Yerobeam. Kerajaan itu dipecah setelah Salomo meninggal. Murka Tuhan begitu keras karena Salomo meninggikan diri. Ia merasa bisa menyatukan kerajaan itu.

 

            Setelah teguran datang kepadanya, ia tidak langsung mengevaluasi diri. ia mengalami ketumpulan rohani karena ia sudah jauh dari Tuhan. Ia sudah mengalami kemunduran iman dan tertidur dalam dosa. Maka dari itu ia tidak langsung menanggapi Firman Tuhan. Wahyu 14:9-12 menyatakan bahwa murka Tuhan akan nyata kepada setiap penyembah berhala. Para penyembah berhala akan meminum cawan murka Tuhan. Kita akan melihat mereka mendapatkan siksaan setiap hati. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah memiliki ketekunan orang kudus. Ini membuat kita tidak dihukum oleh Tuhan. Kita bisa saleh, rohani, dan tekun karena ketaatan. Kitab Wahyu sudah menyatakan bahwa melalui siksaan di dunia iman kita akan diguncang. Jika kita bertahan, maka kita akan terbukti telah tekun. Hamba-hamba Tuhan palsu akan berkhotbah dan melakukan mukjizat sehingga orang-orang disesatkan dan menyembahnya. Jika iman kita bertahan menghadapi penyesatan dari mimbar, maka kita memiliki ketekunan teologi. Kita pasti akan selamat. Kebenaran dan ketaatan tidak boleh dipisahkan. Kebenaran dan damai juga tidak mungkin dipisahkan. Jika hidup kita benar karena kita dikuasai kebenaran, maka ketaatan pasti muncul.

 

2) Murka Allah terhadap Salomo

            Kita melihat 1 Raja-Raja 11:14, 23, dan 26. Jika kita terus taat, maka Tuhan tidak mungkin murka. Ia akan terus memberikan damai. Hidup Salomo sudah tidak benar. Ia tidak memiliki ketaatan. Ia tidak membiarkan Tuhan bertakhta dan menguasai dirinya. Maka dari itu Salomo kehilangan kedamaian karena Allah membangkitkan Hadad, Rezon, dan Yerobeam (utusan Tuhan melalui Nabi Ahia, bandingkan dengan Mazmur 32:3-5; Yohanes 14:27; Kolose 3:15). Orang-orang yang mengetahui banyak tentang Firman Tuhan belum tentu benar-benar menghidupi Firman Tuhan. Ia bisa hanya menjadi mesin rohani. Ia kelihatan baik dan benar karena dikondisikan. Namun dalam hatinya ia tidak sungguh-sungguh untuk Tuhan. Sebagai orang tua, kita harus memaksa anak-anak untuk taat. Namun cara yang kita pakai haruslah bijaksana. Kita harus mengajak anak-anak kita berpikir mengapa mereka harus taat. Mereka harus dicerdaskan terlebih dahulu sehingga mereka bisa mengambil keputusan yang tepat. Orang tua yang tidak pernah menegur kesalahan anak bukanlah orang tua yang baik. Cinta yang benar adalah cinta yang menegur agar orang yang ditegur bertobat. Jadi murka Tuhan itu bisa menjadi berkat. Murka Tuhan bisa membawa kita kembali ke jalan Tuhan.

 

            Tuhan membangkitkan Hadad, orang Edom. Ternyata ia melarikan diri ke Mesir dan tinggal di sana sampai ia menjadi orang penting di Mesir karena ia menikah dengan anggota keluarga kerajaan. Setelah itu Tuhan membangkitkan Rezon yang melarikan diri dari raja Zoba. Tuhan juga membangkitkan Yerobeam, kepala pembangunan kerajaan Salomo. Ia diteguhkan oleh Nabi Ahia. Ahia mengoyakkan sebuah kain baru menjadi 12 bagian dan berkata kepada Yerobeam: “Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku” (1 Raja-Raja 11:31). Hal itu pasti membuat Yerobeam bingung, namun ia taat. Ternyata perkataan Ahia terdengar oleh Salomo dan itu menggelisahkan hatinya. Dari ketiga musuh ini, musuh yang paling berat untuk dihadapi adalah Yerobeam. Ini karena ia adalah musuh dari dalam. Kedua, hal ini memang diatur oleh Tuhan melalui Nabi Ahia. Salomo bisa menghadapi Hadad dan Rezon, namun Yerobeam yang didukung oleh Nabi Ahia adalah musuh terberatnya. Mengapa Salomo tidak sadar bahwa ini adalah murka Tuhan? Mengapa ia masih menghadapi musuhnya secara fisik? Mengapa ia masih memakai kuasa kerajaannya? Salomo seperti sudah mati rohani. Ia tertidur dalam dosa kenikmatan. Kenyamanannya telah menjadi virus bagi kerohaniannya. Mengapa ia tidak belajar seperti Daud? Ketika Daud berdosa dan Tuhan menghukumnya, ia langsung mengevaluasi diri. Mengapa Salomo tidak memiliki kepekaan ini? Salomo tidak pernah melatih kepekaan rohaninya. Dari awal semua sudah dipersiapkan untuk Salomo. Namun Daud harus berjuang dari masa mudanya sampai ia menjadi raja. Jadi Salomo selalu mengalami kelimpahan dalam hidupnya. Semangat perjuangannya tidak pernah terlatih karena hal ini. Kita harus berhati-hati agar ini tidak terjadi pada anak-anak kita. Kita harus melatih anak-anak kita agar mereka mengandalkan Tuhan. Itulah yang Salomo tidak pahami. Saat itu Mazmur 32 sudah ada, namun Salomo tidak pernah membaca dan merenungkannya. Ia terlalu asyik dengan kenikmatan.

 

            Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kehadiran Tuhan itu identik dengan damai sejahtera. Tuhan pergi ke surga, namun damai itu tetap ada. Salomo tidak peka ketika damai itu sudah hilang dari kerajaannya. Ia kurang mengevaluasi diri. Damai itu merupakan janji Tuhan bagi kita. Jadi kita harus senantiasa mengevaluasi diri agar hidup kita berkenan kepada-Nya. Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hati Salomo tertutup karena ia tidak membiarkan hati dan pikirannya dipenuhi oleh damai Tuhan. Ia mengisi hidupnya dengan kenikmatan, kekuasaan, dan hal-hal yang semu. Semua itu menjadi virus bagi kerohaniannya. Ketika damai itu tidak ada dalam hidup kita, kita harus mengevaluasi diri. Kita memiliki damai dengan Tuhan dan dengan diri. Setelah itu kita harus memberitakan damai itu kepada orang lain. Damai itu diberitakan agar orang lain memiliki damai dan masuk ke dalam komunitas yang damai. Hal ini tidak ada dalam hidup Salomo. Akhirnya zona nyaman Salomo dicabut dan Salomo terus terganggu serta terancam hidupnya. Ini semua baik untuk dirinya karena ini merupakan teguran.

 

3) Bagaimana sikap Salomo ketika ia dimurkai oleh Tuhan?

            1 Raja-Raja 11:40 Lalu Salomo berikhtiar membunuh Yerobeam, tetapi Yerobeam bangkit dan melarikan diri ke Mesir, kepada Sisak, raja Mesir, dan di Mesirlah ia tinggal sampai Salomo mati. Respons Salomo adalah mencari Yerobeam untuk membunuhnya, seperti Saul ingin membunuh Daud. Padahal, Yerobeam adalah utusan Tuhan. Mengapa Salomo tidak melakukan evaluasi diri atas semua yang terjadi? Matanya sudah menjadi gelap dan ia tidak lagi cerdas dalam berpikir. Salomo sudah kehilangan identitas dirinya sampai ia memakai kuasanya untuk melawan kehendak Tuhan. Salomo tidak sadar bahwa ia sudah melawan kehendak Tuhan. Ini karena ia sudah tertidur dalam dosa. Ia tidak lagi mengutamakan Tuhan. Kerohaniannya terhilang karena dosa. Warisan yang terpenting dari orang tua adalah warisan iman. Salomo seharusnya mempelajari tulisan-tulisan Daud dalam kitab Mazmur. Di sana tertulis warisan iman yang sungguh luar biasa. Salomo sudah menjadi sama seperti Saul yang mau menyelesaikan masalah dengan kekuasaan dan pembunuhan.

 

4) Bagaimana akhir hidup Salomo?

            1 Raja-Raja 11:42-43 Lamanya Salomo memerintah di Yerusalem atas seluruh Israel ialah empat puluh tahun. Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Yerobeam melarikan diri ke Mesir dan hidup di sana sampai Salomo meninggal. Kitab Tawarikh tidak menceritakan pertobatannya, jadi pertanyaan kita adalah: apakah Salomo mengalami pertobatan di masa tuanya? Ada yang menyatakan bahwa Salomo mati dalam dosa, jadi ia masuk ke neraka walaupun ia sudah menulis kitab Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung. Namun ada pendapat yang menyatakan bahwa ia bertobat di masa tuanya seperti yang jelas tampak pada tulisannya dalam kitab Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung. Jika kita hanya memerhatikan ayat ke-40, maka kita akan mendapatkan kesan bahwa sangat kecil kemungkinan Salomo sudah bertobat. Tetapi jika kita melihat ayat 42-43, maka kita akan melihat jeda waktu Salomo bertobat di masa tuanya. Alkitab tidak menjelaskan berapa lama Yerobeam pergi dari Israel. Banyak penafsir menyatakan bahwa pada jeda waktu yang dinyatakan dalam 42-43 Salomo bertobat. Ketika Rehabeam memimpin, tidak disebutkan bahwa masih ada istana untuk para istri Salomo. Alkitab tidak menulis bahwa Rehabeam sibuk mengurus para istri ayahnya. Ada kemungkinan bahwa semua itu sudah dibubarkan. Ketika murka Tuhan sudah dinyatakan, manusia tidak mungkin bisa meredamnya. Murka Tuhan bisa diredam jika kita bertobat sungguh-sungguh. Tanpa Kristus, Allah akan terus memurkai kita karena kita berdosa. Kristus menjadi mediator yang menanggung semua hukuman kita di kayu salib. Pertobatan tanpa Kristus bukanlah pertobatan sejati. Namun pertobatan yang mengarah kepada Kristus itu pasti sejati.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Jika Allah murka dan kita mulai kehilangan damai sejahtera maka lebih baik kita segera melakukan evaluasi diri. Kita harus menilai segala aspek hidup kita dan segera memperbaiki bagian-bagian yang tidak berkenan kepada Tuhan. Ketika hidup kita berfokus pada diri sendiri, kita sudah berdosa di hadapan Tuhan. Kita harus berdoa seperti Daud yang meminta Tuhan menyelidiki hatinya. Setelah ditegur, Daud tidak lagi berzinah seperti yang ia pernah lakukan. Kita harus mengevaluasi diri setiap hati. Kita bukanlah manusia sempurna. Daud dan Salomo tidaklah sempurna. Orang-orang yang tidak sempurna bisa menjadi sempurna dalam tangan Tuhan. Kita bukanlah orang-orang hebat. Namun ketika Tuhan memberikan kualitas dalam hidup kita, maka itu adalah anugerah dari Tuhan. Kita ini begitu kecil dan tidak bisa apa-apa. Ketika kita ingin menjalankan kehendak Tuhan yang besar, kita perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan.

 

2) Murka Tuhan itu baik agar kita bertobat dan murka-Nya mendidik iman kita. Jadi ada berkat dalam murka Tuhan. Mengapa Yesus tidak memurkai Yudas namun murka terhadap Petrus? Yudas tidak pernah dimarahi, namun Petrus dimarahi beberapa kali. Yudas memang dipersiapkan untuk mati dalam dosa, namun Petrus dipersiapkan sebagai orang pilihan. Jadi teguran adalah berkat untuk kita. Murka Tuhan juga bisa mendidik iman kita yang sedang tertidur. Jadi murka Tuhan bisa membuat kita sadar agar kita kembali kepada Tuhan.

 

3) Menghidupi janji Allah haruslah dengan sepenuh hati (bandingkan dengan Filipi 2:12 “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir”). Kita harus hidup dengan sungguh-sungguh menghormati Tuhan. Kita harus memiliki hati yang takut akan Tuhan dan sikap beribadah yang sungguh berserah di hadapan Tuhan.

 

4) Menghidupi anugerah Allah dengan kerendahan hati yaitu dengan sikap mengutamakan pelayanan kepada Tuhan. Semua yang diberikan kepada Salomo merupakan anugerah Tuhan. Ia seharusnya hidup dalam kerendahan hati dan mau melayani, bukan dilayani. Apakah kita sudah melayani Tuhan secara fisik di masa pandemi ini? Apakah kita masih memiliki semangat pelayanan itu? Pandemi ini merupakan bagian dari murka Tuhan, namun di dalamnya juga ada berkat. Mereka yang pernah terjangkit Covid-19 tidak perlu merasa kecil hati dan mereka yang belum pernah terjangkit tidak boleh sombong. Kita harus mengingat bahwa semua ini adalah anugerah Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).