Not by Might, Nor by Power, but by My Spirit, Says the Lord of Hosts (Zakharia 4:1-14)

Not by Might, Nor by Power, but by My Spirit, Says the Lord of Hosts (Zakharia 4:1-14)

Categories:

Khotbah Minggu 31 Mei 2021

Not by Might, Nor by Power, but by My Spirit, Says the Lord of Hosts (Zakharia 4:1-14)

Pdt. Titus Ndoen, M. Div.

 

 

Kita akan membahas satu tema dari Zakharia 4:1-14. Ayat yang keenam adalah ayat yang terkenal, dipakai dalam sebuah lagu dan dihafal. Dalam masa Pentakosta kita mengingat bahwa Tuhan Yesus berjanji untuk mendirikan Gereja-Nya. Matius 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Bagaimana Ia membangun Gereja-Nya? Dari kapan Ia membangunnya? Dari dahulu sejak Perjanjian Lama. Sejak Allah Roh Kudus dicurahkan, Gereja Kristen dimulai dan terus ada sampai hari ini. Apa kaitan teks ini dengan pembangunan Gereja Tuhan? Ayat keenam ini datang dalam satu konteks. Ezra 4 menyatakan bahwa pada saat itu orang Israel boleh pulang ke Israel dari pembuangan atas perintah raja Koresh. Mereka pulang untuk membangun Bait Suci. Meskipun dicatat bahwa jumlah orang yang pulang ada puluhan ribu, sebenarnya jumlah ini sangat sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak pulang.

 

Ketika mereka membangun Bait Suci, ada tantangan yang mereka harus hadapi. Awalnya mereka menunda pembangunan Bait Suci pada selama 2 tahun, namun ketika mereka mulai membangun, ada tantangan dari luar. Kita bisa melihat Ezra 4:1-5. Pada awalnya orang-orang yang menyatakan akan ikut membangun ini kelihatannya baik, namun ketika mereka ditolak mereka langsung marah. Di sini kita bisa melihat bahwa mereka sebenarnya tidak tulus. Akhirnya setelah infiltrasi mereka gagal, mereka melakukan intimidasi. Mereka menekan bangsa Israel. Setelah itu mereka juga menyogok para penasihat sehingga Bait Suci tidak bisa dibangun. Mereka juga mengirim surat kepada raja Darius dan memfitnah bangsa Israel. Setelah membaca surat itu, raja Darius langsung menghentikan dana pembangunan untuk Bait Suci. Awalnya Koresh-lah yang menanggung dana pembangunan Bait Suci, namun setelah fitnah itu Israel tidak lagi mendapatkan dana.

 

Tidak hanya itu, ada hal lain yang terjadi. Ezra 4:23-24 Maka setelah salinan surat raja Artahsasta dibacakan kepada Rehum, dan Simsai, panitera, serta rekan-rekan mereka, berangkatlah mereka dengan segera ke Yerusalem mendapatkan orang-orang Yahudi, dan dengan kekerasan mereka memaksa orang-orang itu menghentikan pekerjaan itu. Pada waktu itu terhentilah pekerjaan membangun rumah Allah yang di Yerusalem, dan tetap terhenti sampai tahun yang kedua zaman pemerintahan Darius, raja negeri Persia. Karena tekanan ini, mereka berhenti membangun. Kitab nabi Hagai juga menyatakan bahwa orang Israel sibuk membangun rumah mereka sendiri dan mereka sudah lupa akan rumah Tuhan. Dalam kondisi inilah Zakharia mendapatkan penglihatan dari Tuhan. Dalam belas kasihan Tuhan, Ia mengirim malaikat-Nya utama berbicara kepada Zakharia. Pesan tersebut bukan hanya untuk Zakharia, Zerubabel, dan umat Israel tetapi juga kepada kita hari ini.

 

Dikatakan bahwa Zakharia tertidur lalu malaikat membangunkannya dan memberitakan penglihatan ini. Dalam teks ini kita melihat bagaimana Tuhan membangun Gereja-Nya. Baik zaman dahulu maupun zaman sekarang, prinsipnya tetap sama. Dalam penglihatan itu ada kandil, pohon zaitun, tempat minyak, dan lampu yang menyala. Kandil seharusnya ada dalam Bait Suci, namun dalam penglihatan itu kandil tersebut tidak terletak dalam Bait Suci. Meskipun demikian, kandil itu tetap menyala. Umat Allah seharusnya menerangi dunia, bukan saja dalam Bait Suci tetapi jadi di luarnya. Meskipun tidak ada Bait Suci secara fisik, kandil itu tetap menyala. Zakharia bertanya apa arti semua ini dan malaikat menjelaskan kepadanya. Orang Israel dipilih oleh Tuhan untuk menjadi bangsa yang menerangi dunia. Tuhan Yesus juga berkata bahwa kita adalah terang dunia. Kandil itu bisa menyala karena ada minyak dari pohon zaitun itu. Bagaimana Tuhan membangun Gereja-Nya dalam Perjanjian Lama? Ayat 6: Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam. Roh Kudus digambarkan sebagai minyak dalam penglihatan ini. Namun dari mana minyak itu datang? Minyak itu berasal dari pohon zaitun dan melalui proses tertentu minyak itu bisa dihasilkan. Yohanes 2:19 Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Yesus berbicara tentang diri-Nya sendiri. Ia menyerahkan diri-Nya untuk mati dan bangkit kembali. Minyak yang keluar dari pohon zaitun itu sebenarnya menyatakan bahwa Gereja dibangun oleh Tuhan sendiri. Gereja itu dibangun melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Ia mencurahkan diri-Nya sendiri. Tanpa pencurahan darah tidak akan ada pengampunan dosa dan tanpa pengampunan dosa tidak akan ada Gereja Tuhan.

 

Teks ini memang tidak secara khusus berbicara tentang kematian dan kebangkitan Tuhan, namun dari kejadian di taman Getsemani kita tahu bahwa Tuhan mencurahkan diri-Nya. Ia mati dan bangkit supaya kemudian Gereja bisa dibangun. Jadi ada korban. Minyak itu bisa dihasilkan karena ada suatu proses. Setelah itu baru minyak tersebut kemudian bisa membuat kandil itu menyala. Gereja yang mau berdiri harus berfokus pada Injil Tuhan yaitu tentang kematian dan kebangkitan Tuhan. Kebangkitan secara implisit menyatakan bahwa ada kematian. Injil adalah Kristus sendiri menurut Roma 1. Gereja yang menjadi terang adalah Gereja yang terus setia kepada berita salib dan kebangkitan Tuhan. Kita harus terus berpegang pada berita ini. Ke manapun Paulus pergi, ia memberitakan Kristus yang tersalib. Ia pergi bukan untuk memberitakan budaya Yahudi. Dalam zaman ini pendekatan kepada generasi milenial itu berbeda dengan pendekatan kepada generasi yang dahulu, namun Injil tetap harus diberitakan. Gereja bisa dibangun karena Kristus mencurahkan diri-Nya.

 

Bukan hanya diri-Nya sendiri, Ia jadi mencurahkan Roh-Nya. Minyak itu keluar dari tempatnya. Tempatnya itu bisa merujuk kepada Kristus sendiri. Kolose 2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. Kisah Para Rasul 2:33 Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Hari Pentakosta adalah hari di mana Kristus mencurahkan Roh-Nya. Jadi pertama Ia mencurahkan diri-Nya sendiri dan kedua Ia mencurahkan Roh-Nya. Ada Gereja bidat yang menyatakan bahwa Roh Kudus tidak bisa dicurahkan jika Ia adalah Pribadi. Jadi mereka menyatakan bahwa Roh Kudus hanyalah kuasa tanpa pribadi. Ini mereka nyatakan untuk mempertahankan keesaan Allah. Jika yang dicurahkan itu bukan pribadi, maka bagaimana dengan Tuhan Yesus Kristus? Bagaimana dengan Paulus sendiri? Filipi 2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 2 Timotius 4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Dalam bahasa aslinya, tidak ada kata ‘darah’. Bagian ini seharusnya adalah ‘diriku dicurahkan’, bukan ‘darah’. Mazmur 22:15 Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku. Jadi kita tidak perlu khawatir jika ada bidat yang melawan ajaran ini. Setiap ajaran bidat pasti mengandung ketidakkonsistenan dalam ajarannya. Bidat adalah mereka yang mengajarkan doktrin dasar yang berbeda dari apa yang Alkitab sudah jelas nyatakan (misalnya tentang Allah Tritunggal, Alkitab, dan keselamatan).

 

Kristus mencurahkan diri-Nya sendiri dan Roh-Nya untuk membangun Gereja. Zakharia menyatakan bahwa bukan karena kekuatan tetapi karena Roh Tuhan. Orang-orang pada saat itu sudah menunda pembangunan Bait Suci begitu lama dan mereka tidak memiliki pengharapan. Jadi keadaan rohani Israel pada saat itu begitu menyedihkan. Tuhan mau menyatakan bahwa meskipun bangsa Israel tertidur secara rohani, kandil itu tetap menyala. Hanya karena Roh Tuhan-lah Bait Suci itu bisa dibangun. Ketika kita mengingat Pentakosta, kita harus tahu bahwa kita sungguh-sungguh membutuhkan Allah Roh Kudus. Ada Gereja yang banyak membicarakan tentang Allah Roh Kudus namun mereka tidak mengerti siapa Roh Kudus. Kita bisa menyatakan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi Allah namun seringkali kita mendukakan Dia. Jika Allah Roh Kudus diam dan tidak mau berbicara dalam hati kita, maka kita akan terus hidup dalam dosa. Para rasul menyaksikan Tuhan yang mati dan bangkit, namun mereka tetap harus menantikan Allah Roh Kudus dicurahkan. Allah Roh Kudus adalah Pribadi yang berdaulat. Kita tidak bisa mengendalikan-Nya. Ia bisa bekerja secara tidak terduga.

 

Suatu kali ada ibadah penginjilan di sebuah sekolah. Murid-murid di sana begitu nakal, namun setelah mendengar khotbah mereka bisa berdoa sampai menangis dan memohon ampun kepada Allah. Allah Roh Kudus bisa bekerja secara tidak terduga. Suatu kali ada orang awam yang berkhotbah di satu sekolah dan setelah khotbah itu ada guru yang berkata “Tuhan Yesus telah datang ke sini”. Jadi Tuhan bisa bekerja secara tidak terduga dan menyatakan kuasa-Nya. Jadi ini bukanlah karena kekuatan kita atau karena kehebatan kita tetapi karena Roh Tuhan. Sampai hari ini kita tetap membutuhkan kuasa dari Allah. Ada seorang pendeta tua, yang ketika ditanya apa rahasia ia bisa membangun gedung Gereja yang besar ia menjawab: “doa berlutut dan air mata”. Kita bisa menemukan banyak kisah tentang Gereja yang gedungnya bisa dibangun meskipun menghadapi kesulitan yang begitu banyak. Tuhan bekerja dengan cara-cara yang tidak terduga. Kita perlu terus berdoa dan berharap kepada Tuhan. Gereja bisa bertumbuh bukan karena kuasa manusia tetapi karena kuasa Allah. Kita tidak perlu meniru cara-cara dunia untuk menarik orang-orang datang ke Gereja. Injil adalah kekuatan Allah. Kita bisa merasa telah menemui jalan buntu, namun Tuhan bisa membuka jalan secara tidak terduga. Di sana kita menjadi lebih sadar bahwa Tuhan-lah yang bekerja dan semua kemuliaan adalah bagi Tuhan.

 

Zakharia 4:10a Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Tuhan bekerja melalui peristiwa-peristiwa kecil. Gereja dimulai dari 12 murid yang dipanggil satu pernah satu. Dari 12 murid, Tuhan menambahkan sehingga jumlahnya menjadi puluhan. Setelah itu Tuhan menambahkan lagi sehingga jumlahnya menjadi ratusan dan ribuan. Tuhan bisa bekerja dari hal-hal yang kecil. Jadi kita tidak boleh menghina hal-hal kecil yang dikerjakan oleh Tuhan. Ketika Israel ditindas di Mesir, Tuhan memakai seorang bayi yaitu Musa dan memimpinnya sampai ia menjadi dewasa dan menjadi pemimpin bangsa Israel. Tuhan juga memakai Samuel yang masih kecil dan memimpinnya sampai dewasa sampai ia menjadi hakim dan pemimpin untuk bangsa Israel. Allah juga mengirim seorang bayi bernama Yesus Kristus ke dalam dunia untuk menjadi Juruselamat. Jadi kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil. Kita tidak boleh memerhatikan dan menginginkan hal-hal yang besar saja. Goliat yang besar dikalahkan oleh Daud yang kecil. Tuhan juga memakai Rahab yang bukan siapa-siapa. Kita mengharapkan hal-hal yang besar, namun kita tidak boleh meremehkan cara-cara Tuhan ketika Ia memakai hal-hal yang kecil. Kita yang mengharapkan Gereja menjadi besar harus memakai cara-cara yang berkenan di mata Tuhan, bukan cara dunia yang instan namun berdosa.

 

Kebangunan rohani datang dari Tuhan dan bukan manusia. Manusia tidak bisa mengatur hal ini. Inilah yang kita butuhkan karena manusia harus kembali kepada Tuhan. Ini harus menjadi doa kita. Khotbah sebagus apapun tidak akan berguna ketika Tuhan tidak bekerja. Kita harus rindu akan kehadiran Tuhan dalam ibadah dan pelayanan kita. Poin ketiga adalah tentang mencurahkan umat-Nya. Zakharia 4:12-14 Untuk kedua kalinya berbicaralah aku kepadanya: “Apakah arti kedua dahan pohon zaitun yang di samping kedua pipa emas yang menyalurkan cairan emas dari atasnya itu?” Ia menjawab aku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: “Tidak, tuanku!” Lalu ia berkata: “Inilah kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!” Bagian ini berbicara tentang Yosua dan Zerubabel. Tuhan melibatkan manusia. Jadi Allah memakai Kristus, Roh Kudus, dan juga kedua orang ini. Mereka berdiri di samping Tuhan. Mereka berada dalam posisi yang siap melayani. Tuhan bekerja melalui para hamba-Nya. Zerubabel mewakili orang awam dan Yosua mewakili rohaniawan. Kedua kategori orang ini harus ada dalam Gereja. Gereja bertumbuh bukan hanya karena ada rohaniawan. Orang awam pun harus ada dan juga harus sama-sama berjuang.

 

Zakharia 4:7-9 Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang bersorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!” Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, demikian: “Tangan Zerubabel telah meletakkan dasar Rumah ini, dan tangannya juga akan menyelesaikannya. Maka kamu akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu. Tuhan memakai Zerubabel dan Yosua, dua orang yang tidak sempurna. Zakharia 3 menyatakan tentang imam besar Yosua yang memakai pakaian kotor. Ia tidak sempurna. Namun Tuhan memakai mereka. Ia menetapkan bahwa tangan Zerubabel-lah yang akan menyelesaikan Bait Suci. Tuhan memakai hamba-hamba-Nya dan mencurahkan mereka. Paulus mencurahkan dirinya. Gereja bisa bertumbuh ketika orang-orang di dalamnya mau mencurahkan dirinya seperti Kristus mencurahkan diri-Nya. Namun kita tidak mati seperti Kristus mati untuk menebus dosa. Kita mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup bagi Tuhan. Bait Suci bisa dibangun karena seluruh orang Israel bersatu hati untuk mencurahkan diri mereka untuk membangun rumah Tuhan. Jika kita tidak mau mencurahkan diri kita, Tuhan bisa memakai orang lain. Hal yang terpenting dari Gereja bukanlah gedungnya tetapi fungsinya sebagai terang Tuhan. Kita harus berbagian dalam setiap bagian yang dipercayakan kepada kita. Gereja tidak mungkin berkembang jika tidak ada orang-orang yang mau mencurahkan dirinya.

 

Hagai 1:14 TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka. Tuhan bekerja bukan tanpa menggerakkan manusia. Ia memberikan semangat kepada Zerubabel dan semuanya untuk menggerakkan mereka sehingga mereka membangun rumah Tuhan. Tuhan membangun melalui kita dan orang-orang yang dipakai oleh Tuhan. Ada orang-orang yang bersedih karena melihat Bait Suci yang telah dibangun tidak semegah Bait Suci yang dibangun oleh Salomo. Mereka melihat kemuliaan yang tampak di masa lalu. Namun hal yang terpenting adalah kehadiran Tuhan. Kita harus melihat proses dari Tuhan dan mengucap syukur. Kita memandang ke depan dan bukan ke belakang. Kita melihat kepada Kristus yang sudah berjanji untuk menyertai Gereja-Nya. Sampai hari ini Tuhan Yesus terus membangun Gereja-Nya. Gedung gereja yang masih dalam proses itu masih terlihat kurang indah. Namun kita harus menghargai proses dan tidak hanya melihat bentuk yang sudah jadi saja. Gereja adalah milik Tuhan seburuk apapun isi di dalamnya. Sebagai orang Kristen kita harus menghargai Gereja sebagaimana mestinya. Gereja bukanlah tempat yang hanya dianggap penting pada waktu tertentu saja. Tuhan mengirim para hamba-Nya untuk melengkapi orang-orang kudus. Kita datang ke Gereja untuk dilengkapi demi pelayanan kepada Tuhan. Fokus kita adalah untuk Kristus. Jika kita belum pernah mencurahkan diri kita maka kita tidak perlu mengkritik dan marah terhadap Gereja. Kita harus mengambil komitmen untuk mau mencurahkan diri kita sehingga Gereja menjadi terang bagi dunia.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)