Nyanyian Debora (Hakim-Hakim 4:1-7 & 5:1-3)

Nyanyian Debora (Hakim-Hakim 4:1-7 & 5:1-3)

Categories:

Khotbah Minggu 25 April 2021

Nyanyian Debora (Hakim-Hakim 4:1-7 & 5:1-3)

Pdt. Handi Gunawan, M.Th.

 

 

            Kita akan mempelajari beberapa bagian dari nyanyian Debora dari Hakim-Hakim 5:1-3. Kita juga akan melihat dari Hakim-Hakim 4:1-7 agar kita dapat mengerti latar belakang dari nyanyian Debora. Nyanyian ini sesungguhnya dinyanyikan oleh Debora dan Barak. Alkitab memberikan kepada kita banyak nyanyian. Mazmur memiliki paling banyak lagu, namun ada pula lagu-lagu di kitab-kitab yang lain. Biasanya orang Israel bernyanyi setelah Tuhan memberikan kelepasan bagi mereka. Salah satu lagu yang terkenal adalah lagu Miryam yang dinyanyikan setelah bangsa Israel ke luar dari Mesir. Dalam Perjanjian Baru, orang-orang percaya juga memberikan nyanyian kepada Tuhan Yesus Kristus. Saat Yesus lahir pun ada lagu pujian misalnya pujian Zakharia, Maria, malaikat, dan Simeon. Semua ini adalah pujian yang menyatakan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.

 

            Debora dan Barak juga bernyanyi dan mengajak bangsa Israel bernyanyi karena mereka merasakan kelepasan yang dikerjakan oleh Tuhan, khususnya dari Yabin dan Sisera. Siapakah Debora? Kita bisa melihat pasal ke-4. Dalam kitab Hakim-Hakim ada suatu siklus yang terjadi. Bangsa Israel berdosa dengan menyembah berhala lalu kemudian Tuhan menyerahkan mereka ke tangan penjajah dari bangsa asing. Setelah mereka merasakan kesulitan, mereka berdoa kepada Tuhan memohon kelepasan. Jadi Tuhan menghukum dan juga memberikan keselamatan. Tuhan menyelamatkan mereka dengan memberikan hakim yang kemudian menyelamatkan mereka. Setelah para penjajah disingkirkan, bangsa Israel hidup benar selama hakim itu hidup. Namun setelah hakim itu meninggal, bangsa Israel kembali berlaku serong seperti dahulu. Siklus ini terus terjadi dalam kitab Hakim-Hakim.

 

            Sebelum Debora, bangsa Israel dipimpin oleh Ehud. Ehud membebaskan Israel dari Eglon, raja Moab. Ia membunuh Eglon saat mereka sedang berbicara. Namun setelah Ehud meninggal, bangsa Israel meninggalkan Tuhan. Jadi kehadiran pemimpin yang baik bisa memberikan efek yang baik. Dalam perusahaan yang sedang merugi biasanya pemimpinnya atau CEO-nya yang dipecat terlebih dahulu. Dalam sepak bola, manajer timnya-lah yang menentukan performa tim. Dalam peperangan, jenderal-lah yang memimpin dan menentukan menang atau kalahnya suatu bangsa. Pemimpin itu sangat menentukan. Dalam Gereja pun juga demikian. Pemimpin rohani yang baik bisa membuat Gereja bertumbuh dan berkembang. Pemimpin yang kurang baik bisa membuat pelayanan menjadi terhambat bahkan mundur.

 

            Ehud adalah pemimpin yang baik karena selama ia melayani, bangsa Israel hidup dengan baik. Namun setelah Ehud tidak ada, bangsa Israel dengan mudahnya meninggalkan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa iman orang Israel bergantung pada pemimpinnya. Kesetiaan kita kepada Tuhan tidak boleh bergantung pada pemimpin, situasi di luar, atau lingkungan. Ini adalah iman yang tidak sejati. Kita tidak boleh sampai menjadi seperti bangsa Israel dalam zaman Hakim-Hakim. Kita harus menguji apakah iman kita sungguh-sungguh murni atau bergantung pada faktor-faktor eksternal. Pemimpin dan situasi memang bisa memengaruhi iman kita, namun apakah harus selalu seperti itu? Bagaimana dengan Daud yang dikejar-kejar oleh Saul? Apakah ia meninggalkan Tuhan? Ia malah menjadi lebih bergantung kepada Tuhan. Daniel mengalami pembuangan, namun di Babel ia tetap setia kepada Tuhan. Ini karena iman mereka bergantung pada Tuhan. Kita harus menguji diri kita dalam hal ini. Kita harus tetap giat melayani Tuhan meskipun dalam situasi yang sulit. Orang yang setiap hari memupuk imannya tidak akan guncang karena perubahan situasi di luar. Bagaimana kondisi iman kita selama setahun ke belakang ini (selama masa pandemi)? Apa dasar iman kita selama ini? Ini harus kita renungkan.

 

            Setelah Ehud meninggal, siklus lama kembali terjadi. Bangsa Israel berdosa dan Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin dan Sisera. Mereka menindas Israel 20 tahun lamanya. Mereka sungguh menderita. Dalam situasi pandemi ini kita masih bisa melakukan berbagai macam aktivitas, namun bangsa Israel dalam situasi penjajahan tidak bisa melakukan banyak hal. Dalam masa Gideon sebelum ia menjadi hakim, orang-orang Israel harus hidup bersembunyi dalam gua-gua dan tempat pemerasan anggur. Kondisi mereka begitu sulit, namun Tuhan mau mengirim Debora untuk melepaskan mereka. Tuhan memakai Barak dan Debora bersama beberapa suku. Akhirnya mereka bisa menang. Sisera mati dengan tragis di tangan seorang wanita yaitu Yael. Di tengah ketidaksetiaan bangsa Israel Tuhan masih mau setia menyelamatkan Israel.

 

            Dalam ayat 1-2 kita melihat bahwa Barak dan Debora bersama-sama memuji Tuhan karena kelepasan-Nya. Isi nyanyian dalam ayat ke-2: Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang, karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN! Siapakah para pahlawan itu? Para pemimpin. Bangsa itu juga siap mendukung dalam peperangan. Kedua pihak mau ikut serta dalam peperangan itu. Pemimpin dan yang dipimpin harus sama-sama sinkron mengerjakan pekerjaan Tuhan yang dipercayakan. Terkadang di Gereja bisa terjadi hal yang buruk yaitu hanya pemimpin yang mau bergerak atau hanya pengikut yang mau bergerak. Hal yang paling parah adalah keduanya tidak mau bergerak mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kita memuji Tuhan jika baik pemimpin maupun yang dipimpin mau sama-sama sinkron bekerja untuk Tuhan. Kita harus berjuang untuk mencapai kesatuan. Tanpa kesatuan, Debora dan Barak tidak mungkin menang.

 

            Ada banyak alasan mengapa pemimpin dan rakyat tidak bisa sinkron. Pertama karena ada orang-orang yang berpikir: ‘ini bukan urusan saya’. Kedua karena ada orang-orang yang tidak mau ambil risiko. Ketiga karena ada orang-orang yang lebih memilih untuk mengurus urusannya sendiri. Keempat karena ada orang-orang yang kurang suka pada pemimpinnya. Kelima karena ada pemimpin yang kurang suka pada orang-orang yang dipimpinnya. Tadi kita sudah melihat sisi terang dari nyanyian Debora, namun ternyata ada juga sisi gelap dari nyanyian Debora. Kita bisa melihat Hakim-Hakim 5:14-17. Ayat 14-15 masih menyatakan tentang keikutsertaan beberapa suku dalam peperangan itu, namun dalam ayat 16 kita bisa melihat ada kabar negatif. Suku Ruben tidak mau ikut serta dalam peperangan itu. Mereka tinggal di seberang sungai Yordan dan mengembangkan peternakan mereka di sana. Mereka lebih memilih untuk mengurus peternakan mereka daripada ikut berperang bersama saudara sebangsa mereka. Dari ayat ke 17 kita bisa melihat bahwa ada juga suku-suku lain yang tidak mau ikut berperang. Mereka mengurus urusan mereka masing-masing.

 

            Ada penafsir yang menyatakan bahwa terkadang umat Allah bisa begitu mengecewakan kita, baik itu hamba Tuhan maupun jemaat. Jika kita tidak mengetahui hal ini maka kita tidak akan bertahan dalam Gereja. Ada orang-orang Kristen yang berpikir bahwa Gereja itu sempurna tanpa ada cacat cela sedikitpun, namun sebenarnya tidak demikian. Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Kelemahan pasti ada. Tidak ada orang yang imannya sudah sempurna. Kita harus bertanya: apakah kekecewaan itu menghentikan pelayanan kita? Kekecewaan itu pasti akan datang, cepat atau lambat. Kita harus siap sedia dan terus mengerjakan pelayanan di tengah kekecewaan itu. Pdt. Stephen Tong pernah bercerita tentang seseorang yang mencari Gereja lain karena tidak puas dengan Gerejanya. Orang itu mau mendapatkan Gereja yang sempurna. Kalaupun orang itu menemukan Gereja yang sempurna, Gereja itu akan menjadi tidak sempurna ketika orang itu masuk ke dalam Gereja yang sempurna itu. Di dalam kekecewaan itu kita harus melihat kepada Kerajaan Allah dan mengerjakan apa yang dipercayakan kepada kita. Kita harus berusaha agar tidak sampai mengecewakan orang lain. Kita harus bisa melihat bahwa pekerjaan Tuhan itulah yang paling utama.

 

            Kita harus mengeluarkan kasih, menelan kesombongan, dan membuang keegoisan. Ketiga hal ini bisa dirangkum menjadi 1 kata yaitu: pengudusan. Pengudusan berarti kita menjadi semakin serupa Kristus. Adakah pengudusan dalam hidup kita? Jika Gereja tidak mengalami ini, maka itu bukanlah Gereja. Maukah kita mengalami penderitaan lebih banyak 10% demi nama Tuhan bisa lebih dimuliakan 20%? Mungkin kita mau. Namun maukah kita mengalami penderitaan lebih banyak 20% demi nama Tuhan bisa lebih dimuliakan 10%? Jawaban kita menyatakan seberapa besar kita sesungguhnya mengasihi Tuhan dan Gereja-Nya. Maukah kita membayar harga lebih? Kita ditebus untuk ikut serta membangun Gereja-Nya, bukan menghancurkannya. Kita harus bersatu hati seperti suku-suku yang mau ikut berperang sehingga akhirnya kemenangan itu bisa dicapai. Pekerjaan Tuhan begitu luar dan besar. Kita harus berbagian dan mendukung apa yang Tuhan sudah rencanakan dalam gerakan ini. Kita harus lebih melihat kepada pekerjaan Tuhan yang besar daripada diri kita sendiri. Ketika kita bisa bertumbuh, maka kita harus bertumbuh.

 

            Kita juga melihat ayat ke-31 Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. Tuhan bisa menyelesaikan pekerjaan-Nya tanpa peran dari umat-Nya, namun kita melihat bahwa Tuhan menegur suku-suku yang tidak mau terlibat dalam peperangan itu. Kita harus ikut berbagian dalam setiap pekerjaan Tuhan. Kita adalah tubuh Kristus. Jika tubuh itu terpecah, maka tubuh itu tidak akan bisa kemana-mana. Jadi kita harus kompak dan giat mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kita harus menyampingkan urusan pribadi, kenyamanan pribadi, kekecewaan, dan bersama-sama mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kita tidak boleh sampai mengulang kesalahan Israel di zaman Hakim-Hakim. Hakim-Hakim 21:25 Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Ini adalah zaman yang kacau. Kemuliaan Tuhan harus menjadi fokus kita bersama dalam kesatuan kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)