Nyanyian Natal dalam Surat 1 Timotius (1 Timotius 3:16)

Nyanyian Natal dalam Surat 1 Timotius (1 Timotius 3:16)

Categories:

Khotbah Minggu 20 Desember 2020

Nyanyian Natal dalam Surat 1 Timotius

Bpk. Tonny Sutrisno, M.B.A.

 

 

PENDAHULUAN

 

Kita akan membahas tentang Natal dan inkarnasi dalam konteks tulisan Paulus. Mungkin Natal pada tahun ini adalah Natal yang paling menyedihkan. Kita tidak bisa berkumpul secara fisik dengan keluarga dan rekan-rekan kita seperti tahun-tahun yang lalu. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ini juga dibicarakan oleh Paulus sesuai dengan pengenalannya akan Tuhan. Kita akan membaca dari 1 Timotius 3:16. Apa yang sekarang menjadi tren dalam perayaan Natal bagi dunia? Dunia bisa memikirkan tentang pesta, perhiasan Natal, sinterklas, dan pacaran. Banyak hal yang tidak berhubungan dengan Natal justru dimunculkan pada saat Natal. Natal yang dirayakan dunia bisa bersifat liar. Namun bagi kita, apalagi kita yang dididik dalam keluarga Kristen, akan memahami Natal secara berbeda.

 

 

PEMBAHASAN

 

Apa yang Paulus sampaikan dalam ayat yang kita baca adalah satu berita tentang bagaimana Allah hadir dalam dunia untuk mengunjungi umat-Nya. Inilah yang menjadi inti dari apa yang Paulus sampaikan. Inkarnasi yang terjadi pada hari Natal adalah dasar dari apa yang Paulus sampaikan. Bagi Paulus, inkarnasi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan, penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke surga. 1 Timotius 3:16 merupakan satu lagu yang dinyanyikan setidaknya di Efesus di mana Timotius saat itu menjadi gembala Gereja. Surat Paulus kepada Timotius adalah surat pastoral. Surat ini merupakan pertolongan bagi Timotius dalam menghadapi pengajar dan ajaran sesat. Bangunan teologi Paulus tidaklah sembarangan. Paulus pernah menyatakan satu pertanyaan ironis dalam kehidupannya yaitu “siapakah Engkau, Tuhan?” (Kisah Para Rasul 9:5). Bukankah Paulus adalah seorang Farisi? Ia berkata: ‘Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat’ (Filipi 3:4-6).

 

Paulus adalah murid Gamaliel, seorang rabi yang sangat terkenal. Ketika Gamaliel meninggal, orang Israel berkata: lenyaplah kesalehan orang Yahudi. Gamaliel sangat terkenal karena kesalehannya. Paulus belajar di bawah orang seperti ini. Namun saat Tuhan mengunjungi Paulus, ia bertanya “siapakah Engkau, Tuhan?” Bukankah ini meruntuhkan presuposisi Paulus tentang Tuhan dalam kehidupannya? Bukankah Paulus menyatakan dirinya sebagai orang yang sangat mengenal Allah Yahweh? Ketika Stefanus dibunuh, ia hadir. Bukankah Paulus yang menganiaya orang Kristen karena ia percaya kepada Allah (berdasarkan pengertiannya sendiri)? Namun ketika Yesus menyatakan diri-Nya, Paulus bertanya “siapakah Engkau, Tuhan?” Paulus percaya bahwa ada satu Allah, namun ia tidak mengenal Yesus. Pada saat itulah Paulus membangun kristologinya. Yesus bertanya “mengapa engkau menganiaya Aku?” Di sana Paulus sadar bahwa Yesus yang disalibkan itu adalah Allah. Maka Paulus mengenal Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia yang menderita, mati di atas kayu salib, dikuburkan, bangkit, dan naik ke surga. Ini adalah satu bangunan kristologi Paulus yang dinyatakan dalam 1 Timotius 3:16. Ayat ini bukanlah penghubung antara pasal ketiga dan keempat. Ini seperti ayat yang diselipkan. Di sini Paulus mau menyatakan bahwa apa yang ia ajarkan itu berpusat pada kedatangan sampai kenaikan Tuhan ke surga. Inilah yang ditawarkan oleh Paulus. Paulus tidak membuang semua pengetahuannya tentang Yudaisme karena kekristenan memang memiliki akar di sana.

 

Kristus adalah Allah yang menyatakan pribadi-Nya melalui salib. Inilah yang Paulus mau katakan. Kedua, ia mau menyatakan bahwa Kristus adalah Allah yang kekal. Paulus menulis surat 1 Timotius dalam perspektif bahwa seluruh Israel seharusnya percaya kepada Kristus. Apa yang ‘baru’ dalam pemberitaan Paulus? Paulus memecahkan keheningan dan ketersembunyian Allah dalam Perjanjian Lama dan menyatakan-Nya melalui diri Kristus dan salib. Dalam 1 Korintus 1:18 dan 22 Paulus menulis “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” dan “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat”. Orang Yahudi menghendaki tanda seperti apa? Mereka tidak percaya bahwa Kristus adalah Allah. Pernyataan Yesus yang menyamakan posisi-Nya dengan Allah Bapa adalah salah satu alasan yang membawa Yesus ke kayu salib. Orang Yunani percaya bahwa hikmat tidak mungkin memiliki tubuh materi seperti manusia. Jadi hal ‘baru’ yang Paulus nyatakan adalah kehadiran Kristus melalui salib. Kristus adalah Sang Pencipta dan Mediator di kayu salib yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang Israel selama ribuan tahun.

 

Frasa “dan sesungguhnya” lebih tepat jika diterjemahkan sebagai “dan tidak terbantahkan lagi”. Kehadiran Kristus di dunia ini adalah kebenaran yang tidak bisa dibantah. Itu benar-benar terjadi. Kebenaran itu datang dari Allah yang menjadi manusia dan mati di atas kayu salib. Inilah berita Natal yang Paulus mau sampaikan kepada orang-orang di sana. Ketika ia menulis “agunglah rahasia ibadah kita”, kita harus memerhatikan kata ‘agung’. Ini bukan kata yang sembarangan. Di Efesus ada kuil dewi Artemis (‘Diana’ dalam bahasa Yunani). Dewi inilah yang disembah paling banyak karena orang-orang di sana percaya bahwa patung dewi Artemis turun dari surga. Ketika Paulus menulis ‘agunglah’, ia sedang menyatakan keagungan dari “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia”. Ini merupakan suatu antitesis dari kepercayaan orang-orang Efesus bahwa Artemis berasal dari surga. Paulus sedang menyatakan bahwa hanya Kristus-lah yang berasal dari surga dan hanya Ia yang tahu jalan kembali ke surga (dalam konteks tulisan Yohanes).

 

Sebagai anak-anak, kita mungkin mengingat makanan dan mainan saat Natal. Sebagian dari kita mungkin belum benar-benar mengenal Allah saat itu. Mungkin ada dari antara kita yang baru mengenal Tuhan pada usia pemuda. Paulus menegaskan kepada Timotius yang masih muda bahwa hanya ada satu pribadi yang turun dari surga yaitu Kristus. Apa yang menjadi rahasia? Paulus menyatakan rahasia itu 22x dalam seluruh suratnya. Hampir semuanya berbicara dalam konteks Kristus. Lewat enam bait lagu ini (enam bait dalam struktur aslinya), Paulus sedang menyatakan rahasia yang sesungguhnya bagi kehidupan Kristen yaitu pribadi Kristus. Dia adalah pusat yang agung bagi iman dan kehidupan orang-orang percaya. Keenam bait ini merupakan blueprint bagi Paulus. Dalam bahasa Indonesia kita sering berkata “tidak mengenal maka tidak sayang”. Namun itu salah dalam konteks Alkitab. Kalimat yang benar adalah “tidak sayang maka tidak mengenal”. Tuhan mengasihi kita dan kita menerima kasih-Nya sehingga kita mau mengenal Tuhan. Pengajaran ini tidak sesuai dengan pemikiran Yunani yang mendahulukan logika: pengetahuan lalu kemudian pengenalan. Namun kepada Kristus, kita tertarik atau cinta (mula-mula) terlebih dahulu baru kemudian mengenal. Kita bisa saja mengenal terlebih dahulu baru kemudian mengasihi, namun ini jarang terjadi. Enam bait ini menyatakan pengenalan kita akan Kristus. Surat 1 Timotius ini dituliskan bukan hanya untuk konteks pada saat itu, tetapi juga konteks saat ini dan seterusnya sampai akhir zaman. Surat ini dituliskan juga untuk melawan pengenalan-pengenalan yang tidak benar akan Kristus. Calvin menyatakan bahwa 1 Timotius 3:16 juga bisa dikutip untuk melawan Arianisme, Ebionisme, dan lainnya.

 

1 Korintus 2:7 Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Rahasia itu ditempatkan dalam himne kristologis. Apa rahasia itu? Paulus menjawab: rencana keselamatan dalam pribadi Kristus. Dia-lah rahasia yang dinantikan oleh orang-orang Israel selama ribuan tahun. Dia adalah Mesias atau Sang Juruselamat yang dinantikan sejak dari zaman Adam. Jadi rahasia ini tersimpan selama berabad-abad. Dua poin utama yang kita sudah bahas dari lagu dalam 1 Timotius 3:16 adalah 1) Kristus turun dari surga dan 2) lagu ini melawan ajaran palsu. Poin ketiga adalah: Kristus adalah Allah. Melalui ketiga poin ini, Paulus menyatakan keselamatan dari Tuhan—bahwa hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan dan mengangkat kita, orang-orang percaya, di dalam kemuliaan bersama dengan Tuhan. Efesus 4:10 – Ia (Kristus) yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. Dalam pemahaman orang Yunani, ada beberapa lapisan langit. Paulus di sini mau menyatakan bahwa hanya Kristus yang naik jauh lebih tinggi dari segala sesuatu. Jadi ayat ini mau menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Kolose 1:19 – Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Kristus). Melalui ayat ini Paulus mau menyatakan bahwa Kristus adalah Allah. Paulus sadar bahwa Yesus yang disalib adalah Pribadi yang ia temui dalam perjalanannya ke Damsyik. Inilah berita Natal. Natal bukanlah pohon Natal, kado, perapian, dan lainnya. Tidak ada Kristus dalam semua gambaran itu.

 

Hal lain yang mau dinyatakan Paulus adalah bagaimana Allah bisa mati di atas kayu salib. Ia menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dan mati di atas kayu salib. Salib itu juga menyatakan bahwa Kristus adalah Allah dan manusia. Melalui kalimat “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” Paulus mau menyatakan bahwa Kristus memiliki natur manusia yang utuh. Mengapa itu penting? Natur manusia Kristus memiliki kelemahan seperti kita namun tidak berdosa. Kita tidak mungkin bisa selamat dengan kekuatan kita sendiri karena kita berdosa. Allah menebus tubuh dan roh kita, tidak hanya salah satunya. Bagi orang Ibrani, manusia adalah tubuh yang memiliki roh atau roh yang bertubuh, bukan hanya salah satunya. Namun bagi orang Yunani, tubuh itu buruk karena bersifat materi. Tubuh dianggap sebagai penjara roh. Kita tahu bahwa ini adalah konsep yang salah. Kristus datang sebagai manusia dan menjadi wakil serta mediator kita. Seharusnya kitalah yang berada di atas kayu salib, namun Kristus menggantikan kita. Kita yang berdosa tidak mungkin bisa menebus manusia berdosa lainnya.

 

“Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” juga mau menyatakan bahwa Kristus bukan berasal dari Adam tetapi dari surga. Ia menanggung kelemahan-kelemahan kita melalui natur manusia-Nya. Kristus yang memiliki dua natur itu hanya memiliki satu pribadi yaitu Pribadi Allah. Pribadi itu menanggung kita melalui natur manusia-Nya. Yesus bukanlah manusia super seperti superman. Ia lemah seperti kita, namun tidak berdosa. “Dibenarkan dalam Roh” memberikan perbedaan antara Tuhan dengan kita. Paulus sedang menyatakan kesatuan antara pribadi Kristus dengan kita dalam sejarah keselamatan. “Dibenarkan dalam Roh” bukan hanya berbicara tentang bagaimana roh manusia Kristus dinaungi oleh Roh Allah. Frasa ini juga berbicara tentang nuansa penolakan. ‘dibenarkan’ berarti dibenarkan terhadap sesuatu yaitu penolakan. Ketika Yesus hadir dalam dunia ini, Ia ditolak. Injil Yohanes tidak memuat tentang kelahiran Yesus seperti yang tertulis dalam Injil Matius dan Lukas. Yohanes menampilkan post-easter anamnesis. Ini seperti suatu peringatan setelah Paskah. Yohanes menuliskan tentang Firman yang menjadi manusia tetapi kemudian ditolak dan disalibkan. Yesus berkata “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11). Inilah konteks yang mau ditampilkan oleh Yohanes dalam berita Natal. Jadi dalam bagi ini Paulus mau menyatakan bahwa kehadiran Kristus ditolak oleh manusia. Salah seorang yang menolak-Nya sesungguhnya adalah Paulus sendiri. Ia juga menolak orang-orang percaya dan membunuh mereka. Ketika kita dibenarkan oleh Roh Kudus lewat karya Kristus, maka sebenarnya kita sedang diperhadapkan dengan dunia dan kita harus siap ditolak. Filipi 2:7 menyatakan bahwa Kristus mengosongkan diri-Nya. Ini tidak berarti Ia bukan lagi Allah atau kehilangan atribut ilahi. Ia tetap Allah dan tetap memiliki kesetaraan dengan Bapa namun ia tidak menggunakan hak itu. Ia melakukan itu untuk kita.

 

“Dibenarkan dalam Roh” juga berarti bahwa Yesus-lah yang pertama kali dibenarkan. Abraham memang dibenarkan namun karena jasa Kristus. Jasa Kristus menaungi seluruhnya dari manusia pertama sampai manusia terakhir. Bagaimana Kristus dibenarkan itu juga berhubungan dengan hidup-Nya. Lukas menulis “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (2:52). Ini juga merupakan gambaran yang terjadi dalam hidup Samuel (1 Samuel 3:19). Yesus hidup sempurna dalam kekudusan dan ketaatan. Ini yang menjadi dasar pembenaran-Nya. Ini berbicara tentang kesalehan seorang pribadi yang takluk di bawah hukum Taurat. Yesus takluk dalam arti Ia menggenapkan, bukan membatalkan, semua hukum Taurat. Kebenaran yang dimiliki Kristus tidak membuat-Nya menolak kita tetapi sebaliknya Ia mau datang untuk kita. Inilah berita Natal yaitu Allah yang kudus, baik, kasih, dan benar mau datang bagi kita yang berdosa. Berita Natal ini tidak akan pernah menjadi usang, namun dunia menolak berita ini. Keberdosaan kita tidak menghalangi-Nya untuk hadir di tengah-tengah kita. Ia hadir untuk memanggil orang-orang berdosa supaya bertobat. Mereka yang ditolak oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dikunjungi oleh Yesus. Kehadiran Kristus dalam dunia merupakan suatu undangan bagi kita sehingga kita yang percaya kepada-Nya memiliki persekutuan dengan-Nya. Kita hanya mungkin disempurnakan di dalam Kristus. Di luar Kristus tidak akan ada perubahan dan pembenaran sejati yang dapat membawa kita ke dalam hadirat Tuhan.

 

Tuhan mau bangsa Israel dibawa ke luar dari Mesir agar mereka dapat beribadah kepada Tuhan. Kristus hadir pada hari Natal di tengah padang gurun keberdosaan. Ia seperti hadir ke tengah tumpukan sampah yang sudah berbau busuk. Tidak ada hal berharga yang Ia bisa dapatkan, namun Ia mau hadir. Calvin berkata bahwa kehadiran Tuhan adalah untuk membawa kita beribadah kepada Tuhan. Israel dikeluarkan untuk beribadah dan kita pun dikeluarkan dari keberdosaan kita sehingga kita juga beribadah kepada-Nya. Ibadah tersebut harus memiliki hadirat Kristus. Tanpa Kristus, ibadah tersebut akan menjadi tidak bermakna. Keselamatan kita bukan hanya berbicara tentang masuk ke surga dan hidup bahagia selama-lamanya. Dalam perspektif keluarnya Israel dari tanah Mesir, kita diselamatkan untuk beribadah kepada Tuhan. Jadi ibadah itu sangat penting. Masa pandemi ini menguji kesetiaan kita dalam beribadah. Kita harus bisa menjadi teladan. Tuhan kita jauh lebih besar daripada virus Covid-19. Ia lebih dari mampu untuk menjaga hidup kita. Kita tetap menjaga kesehatan karena kita tidak boleh mencobai diri, namun kita bergantung pada Tuhan. Ujung dari keselamatan adalah ibadah di dalam Kristus.

 

Kita tidak mau menjadi orang yang berstandar ganda. Kita harus mengingat bahwa kita dipanggil sebagai satu umat yang bersatu dan beribadah bersama-sama. Kita harus saling mendoakan dan menolong. Kita harus punya kerinduan untuk mendengarkan nyanyian pujian dari saudara-saudari seiman kita. Bisa memuji Tuhan adalah hal yang indah. Ada orang-orang yang berstandar ganda misalnya mereka bisa melayani dengan baik di Gereja namun mereka menindas staf di tempat kerja. Apa yang kita nyatakan di Gereja harus dihidupi dengan iman. Jika tidak, maka sebenarnya kita sedang berbohong di hadapan Tuhan.

 

Yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia”. Ada tiga pihak di sini yaitu para malaikat, bangsa-bangsa, dan dunia. Dalam peristiwa Natal kehadiran Tuhan diberitakan oleh malaikat kepada bangsa-bangsa. Orang-orang yang pertama kali mendengar tentang kelahiran Yesus adalah para gembala, Herodes, dan para orang majus. Mereka mewakili berbagai golongan, suku, dan bangsa. Herodes adalah orang Arab. ‘Dunia’ mewakili seluruh bangsa. Dalam peristiwa Pentakosta, nama Tuhan juga diberitakan ke seluruh dunia. “Yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat” tidak hanya berbicara tentang kenaikan tetapi juga tentang kebangkitan. Dari sejak awal kelahiran Tuhan, tidak ada yang tersembunyi, meskipun ada penolakan seperti yang dituliskan oleh Matius dan Lukas. Namun pada saat itu pun sebenarnya Yesus sedang diberitakan ke seluruh dunia namun dunia menolak-Nya. “Yang dipercayai di dalam dunia” dalam konteks Efesus sebenarnya sedang melawan penyembahan dewi Artemis. Tiga pihak yang disebutkan di atas juga menggambarkan ‘uninterrupted position of the kingdom’. Kerajaan Allah tidak terganggu atau terpecah. Dari sejak awal sampai kekekalan, kerajaan itu adalah milik Kristus. Dalam inkarnasi-Nya Yesus sedang menyatakan bahwa Kerajaan Allah adalah milik-Nya dan bahwa kita yang percaya kepada-Nya adalah milik Kristus. Inilah yang Kristus mau sampaikan.

 

Diangkat dalam kemuliaan” berbicara tentang Kristus yang bertakhta, yang menerima kembali apa yang Ia tinggalkan, dan kemudian duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ini adalah suatu inaugurasi yang juga menyatakan bahwa kita akan diangkat dalam kemuliaan-Nya. Matius 25:21 – Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Berita Natal adalah berita inkarnasi yang juga berbicara bagaimana kita seharusnya hidup. Kristus yang digambarkan dalam enam bait ini, dari kedatangan-Nya sampai kenaikan-Nya merupakan suatu cetak biru bagaimana kita seharusnya hidup. Paulus menuliskan dalam seluruh suratnya bagaimana kita menjadi sama seperti Kristus. Karakter Tuhan yang digambarkan dalam surat Galatia harus kita miliki dalam kehidupan kita. Kita harus hidup saleh seperti Kristus. Kesalehan itu bukan berbicara tentang kejujuran. Kita bisa jujur berkata bahwa kita adalah orang berdosa, namun pertanyaan harus ditanyakan adalah “lalu kemudian apa?” Tanpa pertobatan, kita tidak akan kemana-mana. Dari enam bait ini, kita diajak untuk hidup dalam kesalehan. Kesalehan itu berbicara tentang Kristus yang hidup dalam diri kita. Kristus harus dianggap besar dan kita harus dianggap kecil. Kristus datang untuk merobohkan tembok-tembok pemisah di antara manusia.

 

 

KESIMPULAN

 

Sekali lagi pesan yang mau disampaikan adalah tentang ibadah. Dalam ibadah kita semua dipersatukan, apapun ras dan pekerjaan kita. Ibadah bukanlah ritual yang berpusat pada manusia tetapi berpusat pada kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kita ditempatkan dalam konteks ibadah saat ini. Kita sedang mengalami sabat kekal. Jadi kita harus mempersembahkan semua kemuliaan bagi Tuhan. Semua itu bisa terjadi karena Kristus datang dari surga sebagai manusia, mati disalib, dan bangkit bagi kita. Jadi kehadiran Kristus yang diberitakan Paulus bukanlah tanpa salib. Dari awal perjumpaannya dengan Tuhan, Paulus tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan Kristus yang naik ke atas kayu salib. Paulus mengerti bahwa ketika kita mau mengenal Tuhan, maka kita harus melihat kepada salib Kristus. Kemuliaan Allah yang tersembunyi terdapat pada kayu salib yang hina. Allah yang tersembunyi dan Allah yang hadir dinyatakan dalam kayu salib. Inilah berita Natal yang Paulus mau sampaikan kepada kita. Kristus memberikan semuanya ketika Ia datang ke dunia bagi kita semua. Hanya mereka yang mengerti nyanyian Natal inilah yang akhirnya akan diangkat dalam kemuliaan bersama dengan Tuhan. Berita ini menjadi kekuatan bagi kita. Kita yang dikasihi oleh Tuhan harus mengenal pribadi itu. Jika kita tidak mau mengenal-Nya, maka kita sebenarnya tidak mengasihi-Nya. Banyak hal baik sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Ia bahkan memberikan diri-Nya bagi kita. Kita bisa berkata bahwa kita mengasihi-Nya, namun sejauh apa kita sudah mengasihi-Nya? Sudah sejauh apa kita taat kepada Tuhan yang mati bagi kita?

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)