Orang Benar Hidup oleh Iman… (Habakuk 2:4b)

Orang Benar Hidup oleh Iman… (Habakuk 2:4b)

Categories:

Khotbah Minggu 20 Juni 2021

Orang Benar Hidup oleh Iman… (Habakuk 2:4b)

Vik. Tonny Sutrisno, M. B. A., M. Th.

 

 

            Kita akan membahas dari Habakuk 2:1-5 dan Habakuk 3:16. Kitab Habakuk berisi percakapan antara nabi Habakuk dengan Tuhan. Nabi Habakuk berdoa dan Tuhan menjawab, itu terjadi beberapa kali. Habakuk diberitahu apa yang Tuhan akan lakukan di masa mendatang. Habakuk bingung mengapa Tuhan menghukum bangsa Yehuda yang lebih benar daripada bangsa Kasdim. Ia diberitahu bahwa bangsa Yehuda akan mengalami hal yang sama dengan kerajaan Israel yang sudah dibuang. Habakuk 1:4 Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Ini kondisi bangsa Yehuda pada saat itu. Kemudian Allah menjawab dengan menyatakan kedaulatan-Nya atas segala ciptaan dan semua kerajaan manusia. Allah memakai bangsa Kasdim untuk menghukum Yehuda karena dosa-dosanya. Habakuk tidak mengerti mengapa Tuhan memakai orang-orang yang fasik untuk menghukum orang-orang yang lebih benar. Kita pun sering memakai cara pikir seperti ini. Kita orang Kristen sering menempatkan diri seperti Habakuk. Bukankah Tuhan beserta kita? Mengapa Tuhan membiarkan orang yang tidak percaya menganiaya kita?

 

            Dalam hal ini kita sama seperti Habakuk yaitu mencari keadilan berdasarkan pikiran kita. Kita mungkin pernah berdoa dan berjanji bahwa kita akan melakukan ini dan itu ketika Tuhan mengabulkan doa kita. Namun Tuhan saja yang mahatahu dan Ia tahu yang terbaik. Apa yang kita pikir baik belum tentu benar-benar baik. Apa yang kita tidak mau sebenarnya bisa Tuhan pakai untuk mendidik kita sehingga kita lebih mengenal Dia. Kita akan melihat satu jawaban Tuhan terhadap doa Habakuk. Jawaban Tuhan dimulai pada ayat keempat. …Tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (Habakuk 2:4b). Ada empat terjemahan yang kita bisa bandingkan. Bagian ini menimbulkan banyak polemik dalam penafsiran. Paulus juga mengutip ayat ini dalam Roma 1:17 (Orang benar akan hidup oleh iman) dan Galatia 3:11 (Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman”). Apakah Habakuk mengerti tentang konsep pembenaran pada zamannya?

 

            LAI-TB menuliskan: orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. NLT: the righteous will live by their faithfulness to God. NIV: the righteous person will live by his (God’s) faithfulness. Brenton Septuagint Translation: the just shall live by my (God’s) faith. Jadi apakah orang benar hidup oleh imannya kepada Tuhan atau oleh kesetiaan Tuhan? Kedua terjemahan ini memiliki keindahan masing-masing. Kedua terjemahan akan memberikan kekuatan kepada kita dalam masa pandemi ini. Kita pasti rindu untuk bertemu secara fisik dengan orang-orang yang kita kasihi. Ketika kita melihat masing-masing terjemahan, kita bisa mendapatkan dua kesimpulan: 1) ketika orang itu mendapatkan pembenaran, ia juga hidup oleh iman, dan 2) orang benar akan melihat pertolongan Tuhan. Dalam zaman Habakuk hidup, kerajaan Israel sudah dibuang dan kerajaan Yehuda akan dihukum melalui bangsa Kasdim. Bangsa Kasdim bukanlah bangsa yang sembarangan. Mereka sangat maju namun sangat kejam. Mereka tidak ragu merobek perut wanita hamil. Janin atau anak-anak dibunuh tanpa belas kasihan. Orang-orang yang mereka tangkap bisa mereka kuliti dan biarkan mati.

 

            Habakuk menuliskan nubuat ini kepada orang-orang Yehuda yang masih tinggal di tanah perjanjian. Ini sebenarnya mau menyatakan bahwa Tuhan tidak akan menoleransi dosa-dosa yang terjadi dalam bangsa Yehuda, terutama ketika mereka menindas keadilan. Ini juga merupakan peringatan bagi kita. Dalam kondisi apapun, Tuhan tidak akan menoleransi dosa-dosa kita. Kesulitan bukanlah alasan bagi kita untuk boleh berbuat dosa. Habakuk berdoa kepada Tuhan karena ingin menolong bangsa Yehuda, namun Tuhan menjawab seperti yang dituliskan dalam kitab Habakuk. Situasi pandemi ini begitu sulit bagi kita semua, namun kita tahu bahwa Tuhan berdaulat atas semua ciptaan, termasuk virus Covid-19. Apa yang kita pelajari dari kitab Habakuk? Habakuk mengajarkan kita untuk tetap beriman dalam situasi yang begitu sulit dan situasi di mana mereka belum bisa melihat pertolongan Tuhan. Mereka harus beriman pada tulisan Habakuk yang isinya adalah penghakiman. Habakuk 3:16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.

 

            Apa maksudnya ‘gemetar hatiku, mendengar bunyinya’? Habakuk mendengar bunyi kereta orang-orang Kasdim dan teriakan orang-orang Yehuda yang dijajah. ‘Menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri’ merupakan respons Habakuk ketika ia melihat penglihatan yang Tuhan berikan, sebagai seorang nabi yang berharap agar Tuhan melepaskan bangsa Yehuda. Namun Tuhan malah memberitahu apa yang akan terjadi pada bangsa itu. Kita memang belum melihat pertolongan Tuhan pada masa ini, namun kita sudah melihat pertolongan di dalam Kristus. Pada masa itu orang-orang Yehuda hanya bisa mengetahui tentang kehancuran Yehuda dan Yerusalem. Mereka tidak memiliki pengharapan. Jadi untuk beriman pada saat itu begitu sulit. Situasi kita saat ini, meskipun tidak kecil, tetapi tetap tidak seburuk situasi yang dialami oleh bangsa Yehuda pada saat itu. Tuhan menghukum mereka demi kebaikan mereka sendiri. Kita menghadapi situasi pandemi ini juga agar kita melihat dan mengingat kembali tentang pertumbuhan iman kita. Situasi pandemi ini bisa membawa orang-orang Kristen lebih dekat kepada Tuhan. Namun ada jebakan-jebakan yang harus kita waspadai. Ada orang-orang yang berkata bahwa diberkati Tuhan berarti tetap sehat, kaya, dan lainnya. Ada orang-orang yang merasa bahwa diberkati Tuhan berarti diberikan pengetahuan teologi. Namun memiliki pengetahuan teologi belum tentu berarti mengenal Tuhan. Orang itu mungkin hanya mengenal tentang Tuhan.

 

            Ketika aku mendengarnya’ merupakan titik pusat kitab Habakuk. Apa yang ia dengar? Semua hal yang Tuhan sudah nyatakan kepadanya, yang akan terjadi. Respons Habakuk setelah itu adalah ‘namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami’ dan Habakuk 3:17-18 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Habakuk melihat bahwa ada keselamatan. Ia tahu bahwa Allah yang membiarkan semua itu terjadi juga adalah Allah yang memelihara umat-Nya. Ia yakin bahwa Allah tidak akan berdiam diri dan meninggalkan ciptaan-Nya. Habakuk diberikan iman dalam situasi yang begitu sulit. Bukankah iman yang menjaga kita pada saat ini?

 

            Dalam segala hal yang kita lakukan pasti ada ‘iman’ (iman ini belum tentu iman yang berhubungan dengan Tuhan). Ketika kita pergi ke restoran, kita langsung memakan apa yang sudah diberikan. Kita tidak memeriksa apakah makanan itu beracun atau tidak. Kita langsung memakan dengan ‘iman’. Dalam situasi ini, kita dilatih untuk beriman lebih daripada itu. Kita dilatih untuk berjalan bersama dengan Tuhan di padang gurun. Situasi yang Habakuk alami itu jauh lebih besar daripada yang kita alami pada saat ini. Habakuk belum melihat bahwa bangsa Kasdim akan jatuh dan bangsa Israel akan kembali dipulihkan. Iman itu diberikan namun iman juga harus dinyatakan dalam perbuatan baik. Efesus 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Iman bukanlah percaya kepada sesuatu yang abstrak atau tidak jelas. Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Siapakah yang dimaksud? Kristus. Kristus sudah datang dan memberikan diri-Nya untuk mati di atas kayu salib bagi keselamatan kita. Hal ini tidak dilihat oleh Habakuk, namun iman Habakuk begitu hebat. Iman merupakan komponen yang paling penting dalam kehidupan Kristen. Kita tidak dapat membeli dan memberikan iman. Di dalam keadaan yang tenang, kita tetap harus berhati-hati karena mungkin saja iman kita menjadi rapuh atau lemah. Iman kita harus terus bertumbuh.

 

            Iman bukan hanya berbicara tentang percaya dan menyembah Allah. Tanpa iman, kita tidak memiliki tempat di hadapan Tuhan. Semua hal dalam hidup kita harus dilihat dalam kacamata iman. Hidup kita tidak boleh terpecah-pecah (ada bagian yang beriman dan ada bagian yang tidak). Dunia sedang menghancurkan konsep kita tentang tubuh Kristus, belas kasihan terhadap sesama, dan kedaulatan Tuhan di atas segala sesuatu. Banyak orang Kristen menjadi terlalu ketakutan sampai tidak berani keluar ke manapun. Kita memiliki sarana yang begitu baik agar kita tetap bisa berkomunikasi tanpa tatap muka dan kita harus memakai itu juga untuk menjaga relasi dengan sesama. Habakuk diminta oleh Tuhan untuk menyampaikan nubuat penghakiman itu kepada bangsa Yehuda. Kita tidak tahu apakah ke depannya kita akan bisa beribadah seperti dahulu lagi atau tidak. Namun kita harus berhati-hati agar iman kita terus bertumbuh. Ibrani 11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Dalam situasi ini, Tuhan tetap mau kita mencari Dia dengan sungguh-sungguh.

 

            Iman yang dimaksud Habakuk adalah iman terhadap kesulitan di masa depan. ‘…Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya’ (Habakuk 2:2). Tulisan yang dibuat tidak mengandung pesan yang indah. Tulisan itu memuat tentang nubuat bagaimana bangsa Yehuda akan dihancurkan oleh bangsa Kasdim. Iman yang dimaksud Habakuk adalah iman yang melihat pertolongan Tuhan bahkan di dalam kesulitan yang Tuhan berikan. Inilah yang diperhitungkan sebagai kebenaran. Kejadian 15:6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Kita bisa merenungkan kalimat Habakuk 2:4b yang dibalik: ‘oleh percayanya itu, orang benar akan hidup’. Bagian ini berparalel dengan kalimat Abraham. Beriman berarti tetap melihat janji Tuhan. Habakuk berada dalam situasi iman tanpa pengharapan, namun kita di masa ini sudah melihat Kristus. Kita seharusnya memiliki iman yang jauh lebih besar daripada Habakuk. Habakuk belum mengalami pertolongan Tuhan, namun kita sudah. Kita sudah mengalami kelahiran baru di dalam Kristus. Dibuang ke Babel itu bukan sekadar berpindah tempat. Bangsa Israel tidak boleh memakai bahasa mereka, mereka harus mengubah nama mereka, dan kebiasaan hidup mereka harus berubah. Mereka juga dipaksa untuk kawin campur dan melupakan Tuhan. Ini dipaksakan oleh orang Kasdim agar bangsa Israel tidak memberontak. Nama Daniel dan teman-temannya diubah oleh raja Babel. Makanan mereka juga diganti. Jadi kehidupan mereka diubah agar menjadi sama seperti orang Babel. Namun Daniel tetap beribadah kepada Tuhan (Daniel 6:11). Pada saat itu Daniel seperti beribadah secara online. Ia beribadah ke arah Yerusalem meskipun tidak bersama-sama dengan seluruh umat Tuhan. Ia yakin bahwa kelak Tuhan akan kembali membangun Yerusalem.

 

            Perjanjian Lama mengalami kontekstualisasi karena bangsa Israel telah melupakan bahasa yang mereka pakai. Ini terjadi dalam kedaulatan Tuhan sehingga wahyu-Nya menjadi lengkap. Proses penerjemahan Alkitab dari satu bahasa ke bahasa lain itu tidak mungkin sempurna. Bahasa Inggris bisa menyatakan ‘love others’. Namun terjemahan Indonesia sebenarnya lebih baik yaitu ‘mengasihi sesama’. Kita memakai istilah ‘sesama’ dan bukan ‘others’ (orang lain). Setiap bahasa memiliki keunikan masing-masing. Jadi kontekstualisasi pun juga merupakan bagian dari pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak pernah melupakan umat-Nya. Hal-hal kecil pun Tuhan tetap pelihara. Dalam situasi ini pun kita melihat penyertaan Tuhan menjadi semakin nyata. Kita tidak akan menerima jawaban kecuali kita menerimanya dalam iman. Pada saat ini kita juga mengalami pembuangan. Kita terpisah dari keluarga, Gereja, dan lainnya, namun Tuhan tetap memberikan iman seperti iman Habakuk yang bertumbuh dan menjadi semakin kuat. Habakuk tahu bahwa orang Kasdim akan datang dan menyerang mereka namun Habakuk tetap percaya akan pertolongan Tuhan. Ketika Tuhan mengizinkan kesulitan, iman akan bertumbuh. Situasi kita memang berbeda dengan situasi bangsa Yehuda, namun kita tetap harus melihat dengan kacamata iman. Kacamata iman kita harus melebihi kacamata iman Habakuk. Ini karena kita sudah mengenal Kristus.

 

            Kita juga bisa melihat Habakuk 2:4b dan berfokus pada kesetiaan Allah. Iman dan kesetiaan bagaikan dua sisi uang logam. Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan. Bahasa aslinya yaitu ‘emunah’ (Ibrani) atau ‘pistis’ (Yunani). Di dalam kesetiaan ada iman dan iman hanya bisa bertumbuh di dalam kesetiaan Tuhan. Jadi sumber iman adalah Tuhan. Awal (alfa) dan akhirnya (omega) adalah Tuhan. Ini tidak boleh kita lupakan. Dalam kesetiaan ada kekokohan, ketabahan, dan ketaatan. Dalam kekokohan janji Tuhan kita hidup. Janji Tuhan itu tetap kokoh dan akan terus digenapkan sampai akhir zaman. Kekokohan itu juga berbicara tentang Tuhan yang panjang sabar menantikan umat-Nya bertobat. Keluaran 34:6 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya. Ada panjang sabar dalam kasih dan kesetiaan Tuhan. Allah kita adalah Allah yang tidak pernah tidur. Mazmur 121:4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhan tidak pernah gagal memberikan manna setiap hari di padang gurun. Ia tidak pernah lelah memberikan tiang awan dan tiang api yang senantiasa memimpin bangsa Israel. Ia tidak pernah gagal memberikan apa yang kita butuhkan pada masa ini. Habakuk menerima semua yang Tuhan nyatakan dalam iman, karena itulah ia boleh disebut sebagai orang benar. Ia hidup berdasarkan imannya sendiri dan kesetiaan Allah. Kita juga harus seperti ini.

 

            Habakuk 3:17-18 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Ini merupakan doa dan pernyataan iman yang begitu indah. Kita melihat kesetiaan Tuhan yang memberikan iman kepada Habakuk. Kita tidak mengalami hal yang sama parahnya dengan yang dialami oleh Habakuk. Kita sudah mendapatkan janji Tuhan dan Tuhan hadir bersama dengan kita. Kita diberikan Firman Tuhan, anugerah, dan kasih di antara kita dan sesama. Kita bukan mengasihi diri terlebih dahulu tetapi mengasihi orang lain terlebih dahulu. Sebelumnya Tuhan sudah mengasihi kita terlebih dahulu sehingga kita bisa mengasihi orang lain. Relasi kita dengan Tuhan akan memimpin segala tindakan kita dalam situasi ini. ‘Namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan’ (Habakuk 3:16) bukanlah kalimat sembarangan. Kita bisa menyimpulkan bahwa orang benar adalah orang yang menantikan situasi apapun, termasuk kesulitan, dengan tenang. Ini karena kita percaya bahwa Kristus berdaulat atas segala sesuatu. Kesetiaan Tuhan merupakan jaminan dan kekuatan bagi orang benar. Allah yang memberikan nubuat kehancuran juga adalah Allah yang setia, memberikan kekuatan, memberikan penghiburan, dan tetap mendampingi umat-Nya. Habakuk menantikan hari kesusahan, namun kita menantikan hari sukacita yaitu hari di mana kita bertemu dengan Tuhan tatap muka. Namun sebelum hari itu kita harus tetap menyatakan sukacita kita berdasarkan iman yang Tuhan berikan kepada kita. Kita tidak mungkin bisa melakukan apapun tanpa kesetiaan Tuhan. Kita tidak bisa merasakan penghiburan dari saudara-saudara seiman kecuali Tuhan hadir bersama dengan kita. Kita bisa menghibur saudara seiman kita karena Tuhan sudah menghibur kita terlebih dahulu. Allah dalam kesetiaan-Nya akan terus memimpin dan memelihara Gereja-Nya.

 

            Yakobus 2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku. Iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan. Ketika kita beriman kepada Allah Tritunggal, maka itu berarti kita akan melakukan apa yang Kristus lakukan, yaitu melakukan apa yang Bapa perintahkan. Allah Bapa ingin kita tidak takut karena Ia senantiasa memelihara kita dan berjalan di depan kita. Kita harus menantikan hari depan dengan tenang dan terus saling mengasihi sebagai Gereja Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)