Perjumpaan Salomo dengan Tuhan yang Kedua (1 Raja-Raja 9:1-9)

Perjumpaan Salomo dengan Tuhan yang Kedua (1 Raja-Raja 9:1-9)

Categories:

Khotbah Minggu 25 Oktober 2020

Perjumpaan Salomo dengan Tuhan yang Kedua

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Lagu “According to Thy Gracious Word” mengingatkan kita bahwa hal yang tidak boleh kita lupakan adalah salib Tuhan. Kita mau memiliki ingatan yang indah pada masa tua kita. Ingatan yang indah itu adalah yang mengandung iman. Salah satunya adalah peristiwa salib. Lagu itu mengajarkan kita untuk menghidupi dan menghayati peristiwa salib itu.

 

            Kita akan membahas tentang perjumpaan Salomo dengan Tuhan yang kedua kalinya. Pada bagian yang pertama, kita melihat bahwa Salomo mau mengerti kehendak Tuhan di dalam kerendahan hatinya. Ia membangun visi berdasarkan visi Tuhan, bukan dirinya sendiri. Bagian yang kedua merupakan pembahasan yang berdasarkan pada 1 Raja-Raja 9:1-9. Tuhan tidak memiliki mata atau hati fisik seperti kita. Istilah ini hanyalah suatu penggambaran atau bahasa figuratif.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Ketika kita berjumpa secara rutin dengan orang-orang tertentu, kita bisa kehilangan makna. Namun jika sudah 20 tahun tidak berjumpa, seperti Salomo dengan Tuhan, maka itu akan menjadi perjumpaan yang spesial. Kita bisa bertanya: mengapa 20 tahun? Apakah ini berkaitan dengan pertengahan masa pemerintahan Salomo di Israel (Salomo menjabat sebagai raja selama 40 tahun)? Kita tidak tahu pasti apa jawabannya. Namun kita percaya bahwa ketika Tuhan mengunjungi umat-Nya, selalu ada nilai kairos. Itulah yang mau kita mengerti bersama. Kita akan mendalami tentang perjumpaan Salomo dengan Tuhan yang kedua kalinya. Betapa indahnya ketika dikatakan bahwa Salomo mengajak seluruh umat Israel beribadah. Di sini ada keteladanan rohani. Karakteristik apa yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin? Apakah kepintaran, pengalaman, keberanian dalam mengambil keputusan, kajian yang sistematis dan komprehensif, atau keteladanan rohani? Selama 20 tahun Salomo menunjukkan keteladanan rohani. Tadi dikatakan bahwa Tuhan mendengarkan seluruh doa Salomo. Allah mendengar karena Salomo mengutamakan Tuhan di dalam kerajaannya. Keteladanan rohani itu sangat penting.

 

            Namun mengapa di zaman ini keteladanan rohani tidak lagi dianggap penting? Para pemimpin dunia tidak merasa ini penting. Ada pemimpin-pemimpin dunia yang menyetujui LGBT. Jika pemimpin politik menyetujui LGBT, maka kita melihat bahwa itu adalah hal yang wajar. Namun jika yang menyetujui adalah pemimpin-pemimpin Gereja, maka ini menjadi hal yang berbahaya. Ada Gereja-Gereja tertentu yang menerima dan mengesahkan pernikahan LGBT. Mereka memakai alasan kemanusiaan. Mereka tidak melihat itu sebagai dosa. Mengapa para pemimpin Gereja bisa seperti ini? Ketika Kristus sudah disingkirkan dan Alkitab tidak lagi menjadi dasar yang utama, maka manusia akan ditinggikan. Di saat itu Gereja menjadi tersesat. Banyak Gereja suku juga sudah mulai menerima pernikahan beda agama. Jadi kehancuran identitas rohani sudah terjadi. Itulah mengapa reformasi itu penting. Kita harus terus mengalami pembaruan rohani dalam mengenal Tuhan. Jadi reformasi tidak boleh hanya menjadi monumen. Reformasi harus menjadi momentum kita setiap hari. Kita bisa digeser oleh Setan sehingga bukan iman tetapi dosa kita yang dimunculkan. Inilah tangisan rohani kita. Banyak Gereja sudah tidak menganggap penginjilan sebagai tugas yang penting. Kristus tidak lagi diutamakan dan tidak dianggap sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Pada saat itu Gereja menjadi hancur. Di tengah masa pandemi ini kita melihat kematian Gereja. Di sini teologi Reformed begitu keras menyatakan bahwa pernikahan yang sesungguhnya adalah pernikahan beda jenis kelamin dan satu iman. Keteladanan rohani dalam zaman ini sudah digeser dan ternyata yang menggesernya adalah para pemimpin Gereja. Kompromi para pemimpin Gereja terhadap dosa pasti membuat Tuhan bersedih. Apakah ini tanda akhir zaman? Penyesat itu bukan berada di luar tetapi di dalam. Wahyu 13:11 menyatakan bahwa ada binatang yang keluar dari dalam bumi. Itulah penyesat yang dijelaskan oleh Alkitab.

 

            Ketika para pemimpin Gereja yang tertinggi memutuskan untuk menerima dosa, itu pasti menimbulkan perdebatan. Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa Allah menjadikan Adam dan Hawa itu laki-laki dan perempuan. Tuhan menyatukan mereka. Tuhan mau mereka hidup melayani dan memuliakan Tuhan. Mereka diberikan tujuan untuk beranak cucu dan menggenapkan mandat budaya. Pernikahan sesama jenis tidak mungkin menghasilkan anak. Itu sudah melanggar hukum Tuhan. Kita membutuhkan reformasi dalam bagian ini. Penginjilan perlu dilakukan terus menerus dan Gereja-Gereja harus kembali kepada Alkitab. Dalam zaman ini Gereja mengalami krisis identitas. Gereja-Gereja yang kehilangan identitas itu menjadi semakin terlihat. Mimbar seharusnya dipakai untuk menyatakan suara Tuhan. Namun kenyataannya banyak Gereja semakin dikikis oleh zaman. Mungkinkah Allah perlu mengunjungi kita lagi seperti Ia mengunjungi Salomo setelah 20 tahun? Allah sudah menyatakan kepada kita pandemi Covid-19. Perlukah Allah memberikan sesuatu yang lebih besar? Tuhan memakai Covid-19 juga untuk menguji kita.

 

            Mengapa Allah berinisiatif menemui Salomo? Mengapa Ia mengunjungi Salomo setelah 20 tahun? Apa makna perjumpaan Allah dengan Salomo yang kedua kalinya? Dalam perjumpaan yang pertama kita melihat belas kasihan Tuhan. Kita akan membahas perjumpaan yang kedua. Mengapa Allah menuntut adanya ketaatan perjanjian? Perjanjian itu berkaitan dengan iman dan ibadah. Perjanjian itu menyatakan bahwa kita adalah milik Tuhan dan bahwa kita harus beribadah kepada-Nya. Saat menyatakan pujian kepada Tuhan, kita juga menyatakan ketaatan perjanjian kita kepada Tuhan. Dalam pemberkatan nikah juga ada nilai perjanjian. Dalam peneguhan juga ada perjanjian. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah imamat rajani dan bangsa yang kudus (1 Petrus 2:9). Perjanjian dalam Perjanjian Lama itu menyatakan bahwa iman kita hidup. Orang yang melupakan janji itu sebenarnya memiliki iman yang mati. Orang yang hidup imannya akan terus menggenapkan janjinya. Dalam Perjanjian Baru, perjanjian itu tertulis di dalam, bukan luar. Yeremia 31:33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Tanpa ketaatan, kebobrokan rohani terjadi.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Keteladanan rohani Salomo

            1 Raja-Raja 8:62 Lalu raja bersama-sama segenap Israel mempersembahkan korban sembelihan di hadapan TUHAN. Gerakan yang penting dari seorang raja adalah gerakan transformasi rohani. Ketika Salomo memerintahkan kebaktian global, semua harus taat. Selama 20 tahun ia melakukan ini. Bisakah kita selama 20 tahun melakukan ini kepada anak-anak kita? Salomo bisa melakukan ini. Mengapa ia mengajak seluruh bangsa untuk selalu beribadah kepada Tuhan? Penahbisan rumah Tuhan itu dilakukan selama 7 hari. Bangsa Israel harus 1) membangun identitas sebagai umat pilihan Tuhan yang menyatakan iman. Umat yang beribadah kepada Tuhan punya ciri khusus yaitu menyatakan imannya di saat sulit maupun lancar. Kita tidak mencari Allah hanya ketika merasakan kesulitan. Bangsa Israel adalah bangsa yang kudus yang beribadah kepada Tuhan, bukan berhala. Jadi kerohanian mereka dibangun selama 20 tahun lebih. Salomo juga ingin 2) membangun kerendahan hati bangsa Israel sehingga mereka berani mengutamakan Tuhan. Pesta rohani itu jauh lebih penting dari apapun juga, termasuk pesta pernikahan. Jika poin pertama tidak beres maka poin kedua juga tidak akan beres. Kita tidak mungkin meminta orang yang belum beriman untuk mengutamakan Tuhan. Dalam bangsa Israel saat itu juga ada semangat untuk menabung dan mempersembahkan tabungan itu kepada Tuhan. Mereka diajarkan untuk menyadari bahwa semua berkat itu berasal dari Tuhan. Jadi uang itu dipakai bukan untuk mengutamakan diri sendiri. Jadi semangat kerja kita bukanlah untuk diri sendiri tetapi untuk Tuhan. Salomo memberikan contoh dalam mempersembahkan puluhan ribu hewan bersama bangsa Israel.

 

            Uang bisa merusak sikap hati dan kerohanian kita. Namun uang itu sendiri tidak jahat. Uang itu benda mati. Hal yang menentukan adalah hati kita dan sikap kita dalam hal keuangan. Uang itu alat yang bisa dipakai secara mulia jika hati kita beres. Di dalam bagian ini Salomo mengajarkan kita bagaimana berusaha dan menabung untuk menyenangkan Tuhan. Kita bisa melihat kerendahan hati Salomo selama 20 tahun ini. Namun setelah itu ia terjebak karena cintanya kepada para istrinya. Masa emas 20 tahun itu menyatakan keteladanan rohani Salomo. Selama tujuh tahun ia membangun rumah Allah namun selama tiga belas tahun ia membangun istananya sendiri. Dari hal ini pun kita bisa melihat kalkulasi Salomo. Tuhan tidak melihat ini sebagai masalah pada saat itu namun ini berpotensi menjadi masalah di masa depan. Ini karena Salomo mulai berpusat pada diri sendiri dan bukan kepada Tuhan.

 

2) Peringatan hukum tabur-tuai

            1 Raja-Raja 9:2 maka TUHAN menampakkan diri kepada Salomo untuk kedua kalinya seperti Ia sudah menampakkan diri kepadanya di Gibeon. Ada orang-orang yang tidak mengakui prinsip tabur-tuai. Namun Alkitab jelas mengajarkan hal ini. Orang-orang yang tidak setuju biasanya mengutamakan kasih, kemurahan, dan belas kasihan Allah namun tidak melihat keadilan-Nya. Perjumpaan yang pertama kita bisa sebut sebagai ‘visitasi dalam kasih’. Mengapa demikian? Karena Tuhan melihat kerendahan hati Salomo yang beribadah dan mengutamakan Tuhan ketika ia menjadi raja. Tuhan mengunjungi Salomo dan menanyakan apa yang ia mau minta. Salomo hanya meminta hikmat. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan memberikan hikmat itu. Itu karena Tuhan melihat bahwa permintaan Salomo itu baik. Mengapa itu baik? Di dalamnya ada nilai penggenapan perjanjian yaitu Bait Allah harus dibangun oleh Salomo. Salomo memakai bahan-bahan terbaik untuk membangun rumah Tuhan. Daud berencana untuk membangun, namun Salomo-lah yang akhirnya melaksanakan. Pembangunan rumah Tuhan itu bukanlah akhir dari penggenapan perjanjian. Puncak penggenapannya adalah ketika Kristus datang dan mati di kayu salib serta bangkit pada hari yang ketiga. Puncaknya bukanlah bangunan. Ketika Kristus mati, tabir Bait Allah itu terbelah dua (Matius 27:51). Yesus pernah berkata: Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali (Yohanes 2:19). Jadi rumah Tuhan bukan lagi bangunan. Bait Allah sesungguhnya dalam Perjanjian Baru adalah orang percaya. Salomo menggenapkan pembangunan rumah Tuhan, namun puncaknya adalah Kristus. Namun mengapa pada saat itu bangunan rumah Tuhan itu penting? Bangunan itu menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan itu hidup. Tuhan hadir di sana karena Bait Allah itu sudah dikuduskan untuk Tuhan.

 

            Setelah 20 tahun, Tuhan mengunjungi Salomo untuk kedua kalinya. Kunjungan ini bukanlah kunjungan kasih. Ini adalah visitasi dalam keadilan. Jadi Tuhan tidak lagi menanyakan permintaan Salomo. Pada saat itu Tuhan menuntut Salomo dan mengingatkan akan hukum tabur-tuai. Apa yang dituntut Tuhan? Ketaatan perjanjian. Ini adalah ketaatan rohani yang mengandung disiplin rohani. Salomo diingatkan bahwa yang terpenting adalah bangunan iman dan karakter rohani umat Allah, bukan gedung. Tuhan tahu bahwa masa kejayaan Salomo akan turun di masa tuanya. Saat itu Salomo lebih mengutamakan istri-istrinya. Namun setelah itu dia bertobat. Tuhan memberikan peringatan yang serius kepadanya. Maka dari itu kita harus berhati-hati terhadap racun rohani ketika semuanya lancar. Masa kejayaan Salomo bertahan selama 34 tahun dari total 40 tahun masa pemerintahannya. Setelah Salomo mati dan digantikan oleh anaknya, kemerosotan itu terjadi. Setelah 34 tahun semua itu hilang. Padahal Tuhan sudah mengingatkan tentang hukum tabur-tuai. 1 Raja-Raja 9:4-5 Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud, ayahmu, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel. Jadi dalam ketaatan perjanjian Salomo harus terus mempertahankan identitasnya sebagai raja yang mengutamakan Tuhan. Ketika kita mau taat dan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, Tuhan pasti memberkati kita.

 

            Penyertaan yang paling penting bukanlah uang tetapi Tuhan. Kita harus mengalami transformasi rohani agar hidup kita tidak dibuat tidak efektif oleh Setan dan dunia. Keluarga kita harus mengutamakan Tuhan dan berjalan dalam jalan Tuhan. Kita harus waspada terhadap hal-hal yang bisa menyita fokus kita dari melayani Tuhan. Jadi yang terpenting dalam hidup dan keluarga kita adalah penyertaan Tuhan yang melampaui akal dan pikiran, rencana, dan keterbatasan kita. Penyertaan Tuhan itu ajaib. Tuhan mau agar bangunan rohani Salomo dan keturunannya terus kokoh. Mengapa setelah Salomo kerajaan itu menjadi hancur? Ini karena Salomo kurang menegakkan disiplin rohani di tengah kelancaran hidupnya. Ia terlalu menikmati istri-istrinya dan tidak memberikan pendidikan iman. Ketaatan perjanjian itu menunjukkan kualitas iman kita. Sebagai orang tua kita tidak boleh kendur dalam mendisiplin anak. Dunia berkata bahwa anak-anak harus diberikan kebebasan karena itu hak mereka, namun Alkitab justru mengatakan bahwa kita harus membatasi kebebasan anak. Jadi kita sedang melakukan peperangan zaman dalam aspek pendidikan anak. Disiplin ketat itu harus dijalankan. Jika orang tua memaksakan hal yang baik maka itu adalah mulia. Orang tua yang tidak pernah memaksa sebenarnya tidak bisa mengarahkan rumah tangga. Salomo melaksanakan ketaatannya, tetapi hanya sampai masa tertentu.

 

            1 Raja-Raja 9:6-7 Tetapi jika kamu ini dan anak-anakmu berbalik dari pada-Ku dan tidak berpegang pada segala perintah dan ketetapan-Ku yang telah Kuberikan kepadamu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, maka Aku akan melenyapkan orang Israel dari atas tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, dan rumah yang telah Kukuduskan bagi nama-Ku itu, akan Kubuang dari hadapan-Ku, maka Israel akan menjadi kiasan dan sindiran di antara segala bangsa. Ini terbukti pada saat Tuhan benar-benar menghancurkan Israel. Setelah 34 tahun masa kejayaan Salomo, semuanya mengalami penurunan. Ini karena mereka kehilangan semangat dan identitas. Mereka tidak mengutamakan Tuhan dan melupakan identitas mereka. Ketaatan perjanjian itu tidak hanya bersifat pribadi tetapi komunal. Tuhan mengikat perjanjian dengan Salomo tetapi Tuhan juga meminta Salomo mengikat perjanjian dengan seluruh bangsa Israel. Tuhan memberikan perjanjian sunat kepada Abraham. Sunat menjadi perjanjian dan tanda bahwa orang tua menyerahkan anak itu kepada Tuhan. Dalam konteks Perjanjian Baru, orang tua Kristen memberikan anak-anaknya untuk dibaptis. Sunat dan baptis memiliki makna yang sama di mana iman orang tua mendorong untuk mempersembahkan anak kepada Tuhan. Orang tua berjanji untuk mendidik anak-anak di dalam Tuhan. Sunat dan baptisan tidak menyelamatkan. Hanya iman setiap orang secara pribadi yang menyelamatkan.

 

            Ulangan 6:6-7 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Mengapa perlu berulang-ulang? Karena kita orang berdosa dan kita terus diingatkan akan Firman Tuhan. Dunia dan internet terus menawarkan hal-hal duniawi setiap detik. Jadi kita harus terus menerus mengisi hati kita dengan Firman Tuhan. Kita harus mendidik kerohanian anak secara keras. Jika anak sudah taat, maka kita hanya perlu memakai disiplin yang lembut. Jika anak sudah mandiri dalam kerohanian dan menghasilkan buah rohani, maka ia menjadi partner kita untuk membangun ketaatan perjanjian. Jadi ada tiga langkah dalam bagian ini. Inilah yang diingatkan oleh Tuhan kepada Salomo. Perjumpaan Tuhan dengan Salomo itu penting karena mengandung kairos. Ini mengandung kebaikan untuk Salomo dan kerajaannya. Israel mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Salomo, namun Salomo terjebak dalam kenikmatan. Iman Salomo merosot dalam kesuksesan. Iman kita juga bisa merosot dalam masa pandemi. Jadi kita harus waspada.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Keteladanan rohani adalah alat untuk mempersaksikan Tuhan melalui kehidupan kita. Kekuasaan dan wibawa kita bukanlah karena mulut kita tetapi karena keteladanan kita secara rohani. Salomo diperintahkan untuk tulus, taat, dan berjalan di jalan yang benar. Di sana Tuhan kemudian memberikan janji penyertaan bagi kerajaannya. Sebagai pemimpin di rumah, tempat kerja, atau lainnya kita harus mementingkan keteladanan rohani.

 

2) Keberhasilan Salomo membangun Bait Allah dan istana kerajaan bukanlah hal yang terpenting di mata Allah. Hal yang terpenting dari sebuah Gereja bukanlah bangunannya. Bangunan itu adalah salah satu sarana untuk menyatakan iman dan kebesaran Tuhan. Semua yang terbaik harus diberikan kepada Tuhan. Gedung Gereja dibangun juga untuk generasi-generasi penerus. Namun itu bukanlah yang terpenting. Hal yang terpenting adalah bangunan rohani umat Allah. Itulah yang tersulit, namun itu harus ada.

 

3) Bangunan iman dan karakter rohani adalah fondasi yang terpenting dalam hidup seseorang untuk bisa konsisten dalam melayani Tuhan. Kekonsistenan kita bisa dilihat dalam iman dan karakter kita. Jika iman dan karakter kita beres, maka kekonsistenan itu akan terlihat. Setelah kerajaan itu dipegang oleh Rehabeam, anak Salomo, semuanya mengalami penurunan. Masa kejayaan itu hanya bertahan selama 34 tahun. Setelah itu kerajaan Israel menjadi semakin hancur. Ini karena tidak ada bangunan iman dan karakter rohani. Kita harus berjumpa dengan Tuhan setiap hari melalui Firman Tuhan. Ia mau mengunjungi kita senantiasa. Ini adalah hal yang luar biasa. Hal ini juga harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Maka dari itu kita harus mendisiplin anak-anak kita. Kita tidak mau generasi masa depan terhilang begitu saja. Rumah kita harus menjadi tempat pemulihan fisik dan rohani. Tidak boleh ada kefasikan di rumah. Kita harus mempersiapkan generasi yang taat kepada Tuhan.

 

            Ada banyak reaksi terhadap Gereja-Gereja yang mengesahkan pernikahan LGBT. Banyak reaksi yang melawan pengesahan ini. Pengesahan ini bisa membuat orang-orang yang tadinya takut dengan dosa LGBT menjadi menerima dan melakukan dosa LGBT. Ini membuat Tuhan bersedih. Jadi reformasi itu harus ditegakkan. Gereja harus kembali kepada Alkitab dan iman yang benar. Gereja harus kembali melihat kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat serta mementingkan kemuliaan Allah. Kita harus kembali kepada lima sola reformasi. Pengesahan LGBT bisa saja berkaitan dengan politik serta pemilihan presiden. Namun apapun yang bertentangan dengan Alkitab adalah dosa. Standar kita yang paling tinggi adalah Alkitab, bukan kata pemimpin Gereja. Kita membangun keteladanan rohani dan memberikan disiplin rohani berdasarkan Alkitab. Jika kita sudah hidup mandiri, maka kita harus mendisiplin diri sendiri dengan keras. Penyertaan Tuhan itu lebih penting daripada apapun juga.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).